PAGI YANG KELABU
Hujan yang turun sejak malam tadi, masih menyisakan gerimis. Sayup-sayup, terdengar suara azan dari musholla di tengah kampung. Alina membuka mata dengan susah payah. Namun, tak urung ia segera bangkit dari dipan bambu beralas kasur tipis, yang selama ini menjadi tempat tidurnya.
"Alina, bangun!" perintah seorang perempuan berusia tiga puluhan sambil membuka pintu yang terbuat dari tripleks.
Perempuan yang Alina panggil dengan Ibu itu, menyembulkan kepalanya. Ketika ia melihat Alina sudah bangun, langkahnya langsung berbalik ke arah dapur.
Perempuan bernama Sinta itu, mengambil periuk dan memasukkan beras yang tak seberapa ke dalamnya. Mencuci, lalu meletakkan periuk itu di atas tungku kayu bakar yang sudah menyala. Asap memenuhi dapur. Menurut standar kesehatan, asap itu tak baik bagi kesehatan paru-paru. Namun, keluarga mereka tak mampu membeli kompor minyak.
"Ibu, sudah salat?" Alina yang baru keluar dari kamar mandi, menegur ibunya.
"Sudah. Kamu cepat salat. Setelah itu, bantu Ibu masak. Kamu hari ini tidak piket, 'kan?" tanya Sinta. Tangannya cekatan memotong kangkung yang kemarin sore ia petik di selokan di dekat sawah tempat ia bekerja menjadi buruh tani.
"Nggak, Bu. Jadwal piket Alina besok," jawab Alina. Setetes air wudu jatuh dari dagunya. Ia segera masuk ke kamar dan melaksanakan kewajiban yang sudah diajarkan Sinta sejak ia kecil.
Selesai melaksanakan salat, Alina bergegas keluar kamar. Di ruang tengah, di atas sebuah kursi kayu yang mulai lapuk dimakan usia, duduk seorang laki-laki berkulit hitam bermata sayu. Laki-laki itu, Diran. Ayah Alina.
"Sinta, kopiku mana?" jerit Diran. Asap mengepul dari rokok yang terselip di bibir yang sehitam kulitnya.
Sinta yang tengah menumis kangkung, terkejut mendengar teriakan Diran.
"Na, kamu teruskan menumis sayur ini ya. Ibu mau bikin kopi buat bapakmu," ujar Sinta sambil menyerahkan sendok pengaduk sayur pada Alina.
Gadis berusia empat belas tahun itu, mengambil benda yang disodorkan ibunya. Sinta menuju rak piring yang terbuat dari bambu dan mengambil sebuah gelas belimbing dan piring kaca kecil sebagai tatakan. Tak lama, segelas kopi kental, dibawa Sinta menuju ruang tengah, di mana Diran berada.
Diran hanya melirik saat Sinta meletakkan gelas kopi di atas meja di depannya. Mulutnya masih sibuk menghisap gulungan tembakau yang tampak setia mengeluarkan asap.
"Lama banget sih. Bikin kopi apa bikin candi?" Diran meletakkan rokoknya di atas meja. Lantas menjangkau gelas di depannya.
"Sinta!" Diran berteriak memanggil istrinya setelah memuntahkan kopi yang baru disesapnya. Matanya melotot pertanda ia sedang dilanda kemarahan.
Sinta yang baru saja masuk ke dapur, buru-buru kembali ke ruang tengah. Baginya, panggilan suami adalah sabda raja yang harus segera ditunaikan.
Sinta melirik wajah suaminya yang memerah. Lantas melirik gelas kopi yang tak lagi berada di atas tatakan. 'Pasti ada sesuatu yang salah', pikirnya.
"Dasar bodoh. Bikin kopi aja nggak becus!" maki Diran yang melihat Sinta hanya terpaku di tempatnya.
"Ma-maaf, Pak. Apa yang salah dengan kopinya?" Sinta memberanikan diri bertanya. Meski ia tahu, pertanyaan itu hanya akan menambah kemarahan suaminya.
"Apa yang salah katamu? Sejak kapan aku suka minum kopi pahit?" jerit Diran. Sinta menunduk mendengar teriakan suaminya. Dalam hati ia berdoa, mudah-mudahan tak ada tetangga yang mendengar jeritan suaminya.
Alina meletakkan mangkuk berisi sayur yang baru saja matang ke atas meja kayu di samping rak piring. Tepat di sebelah piring berisi tempe goreng. Ia menajamkan telinganya. Kali ini, apa lagi penyebab kemarahan ayahnya.
Alina terkejut mendengar Sinta menjerit dengan suara pilu.
Alina gegas menuju ruang tengah. Di lantai semen yang sudah banyak terkelupas di sana sini, ibunya tengah bersimpuh dengan tangan menutupi wajah. Sebuah gelas tergeletak di sampingnya. Ceceran air berwarna hitam, tampak mengotori lantai. Diran baru saja menyiramkan kopi panas ke tubuh istrinya.
"Ibu!" pekik Alina.
Diran memandang Alina dengan tajam. "Kau urus ibumu itu. Dasar perempuan tidak berguna!" maki Diran. Ia lalu melangkah menuju kamar. Bayangnya hilang ditelan pintu kamar yang penuh dengan corat-coret hasil karya Dino, adik laki-laki Alina.
"Sebentar ya, Bu. Na ambilkan pasta gigi." Alina mendudukkan Sinta di kursi lalu gegas menuju dapur.
Tak lama, ia kembali dengan pasta gigi di tangannya. Dengan telaten, ia mengoleskan pasta gigi ke wajah dan leher ibunya yang terkena kopi panas yang disiramkan ayahnya. Sebenarnya, luka bakar seperti yang diderita Sinta, harus mendapat penanganan dokter. Namun, kondisi keuangan mereka tidak memungkinkan untuk melakukan itu.
"Kamu sudah selesai masak, Na? Segera mandi. Jangan sampai kamu terlambat sekolah," ujar Sinta lirih sambil menahan perih.
"Sebentar lagi, Bu. Na olesin dulu luka Ibu." Alina menjawab sambil menatap wajah ibunya.
Wajah itu terlihat kuyu. Beberapa kerutan mulai terlihat di sekitar mata dan mulutnya. Padahal Sinta baru berumur tiga puluh empat tahun. Namun, karena terlalu sering terkena sinar matahari, kondisi tubuh Sinta menua dengan cepat. Ia tak mampu membeli krim perawatan kulit. Kebutuhan rumah tangga menjadi prioritasnya.
"Bapak, mau kemana?" tegur Alina ketika melihat ayahnya berjalan menuju pintu depan. Laki-laki itu menoleh.
"Aku mau ngopi di warung kopi Yu Narti. Dia pasti bisa bikin kopi yang enak buat aku," jawab Diran. Seulas senyum melecehkan ia layangkan ke arah Sinta.
"Tapi, Pak. Bukannya Bapak harus ke sawah Haji Nurdin pagi ini?" Sinta mengingatkan suaminya.
"Bodo amat. Kalo kamu mau, kamu aja yang ke sana. Aku mau ngopi." Diran membanting pintu yang sudah kelihatan sangat rapuh itu.
"Bu, Na aja yang ke sawahnya Haji Nurdin," tawar Alina. Matanya menatap ibunya. Ada sinar kesungguhan di mata kecil itu.
"Tidak, Na. Tugasmu adalah belajar. Ibu tidak mau membebanimu dengan tanggung jawab mencari nafkah. Cepat mandi, terus sarapan dan berangkat sekolah." Sinta menatap tegas Alina.
Alina tak berani membantah. Ia segera masuk ke kamar mandi yang dindingnya terbuat dari bilik bambu. Alina menggapai sehelai kain yang biasa dipakai jika akan mandi. Berjaga-jaga jika ada orang jahil yang mengintip.
Selesai mandi dan mengenakan seragam, Alina mengambil piring dan gelas. Sinta sudah meletakkan wadah nasi di atas meja. Mereka sarapan dalam diam.
"Bu, kata wali kelas Na, besok hari terakhir bayar uang ujian. Selama ini, Na mau bilang ke Ibu, tapi Na takut. Na tahu, Ibu lagi nggak punya uang," ujar Alina takut-takut.
"Kenapa harus takut? Demi pendidikanmu, apapun akan Ibu lakukan. Sebentar. Ibu ambilkan uangnya," ujar Sinta lantas beranjak dari duduknya.
Alina meneruskan sarapannya dengan lahap. Meski hanya dengan lauk sederhana. Tadinya, ia tak berselera untuk sarapan. Bayangan dirinya tidak diperbolehkan ikut ujian, membuat selera makannya hilang.
Alina terhenyak ketika mendengar suara benda jatuh di dalam kamar orang tuanya. Gegas ia meninggalkan kursi makan. Sesampainya di kamar itu, Alina melotot. Perasaannya tak karuan. Di lantai, Sinta tengah terduduk dengan wajah menahan sakit.