BERITA BOHONG
"Ibu, kenapa?" Alina membantu Sinta untuk bangun. Ia mendudukkan perempuan yang sudah melahirkannya itu ke tepi kasur.
Sinta meringis. Sebelah tangannya memegang pinggul kanan. Ia melirik pada lemari reot di depannya. Alina mengikuti arah pandang Sinta. Lemari itu sedikit acak-acakan. Beberapa pakaian, tampak berserakan di kaki lemari.
"Uang Ibu hilang, Na. Padahal, uang itu, Ibu kumpulkan dari hasil menjadi buruh di sawah orang. Uang itu, Ibu persiapkan untuk sekolahmu." Sinta mengusap matanya.
Perih. Perkataan ibunya barusan membuat batin Alina nelangsa. Tanpa diberi tahu pun, Alina tahu, siapa yang sudah mengambil uang Ibu.
Alina lemas. Bayangan teguran dari wali kelas, menari-nari di kepalanya. Belum lagi rasa malu yang akan ia dapat. Dari seluruh kelas, hanya Alina yang belum membayar uang ujian. Sinta tahu, apa yang dipikirkan putri sulungnya.
"Berangkatlah, Na. Ibu akan mencari cara untuk membayar uang ujianmu. Nanti akan Ibu antarkan uangnya," janji Sinta.
Dengan berat hati, Alina meninggalkan kamar Sinta. Setelah memakai sepatu yang bertempelkan kain bermotif kupu-kupu, Alina menyambar tas kainnya. Netra Alina singgah pada sepatu di kakinya. Kain bermotif kupu-kupu itu, adalah hasil jahitan Sinta. Melihat sobekan di ujung sepatu Alina kian membesar, Sinta berinisiatif menempelnya dengan kain.
Semua yang melekat di diri Alina, adalah wujud kemiskinan. Namun, ia tak pernah merasa mereka miskin meski kadang harus makan sekali sehari. Alina masih sangat bersyukur, meski hidup serba kekurangan, ia masih dapat berkumpul bersama ibu, ayah dan adiknya, Dino, di bawah lindungan rumah berdinding separuh papan separuh bilik.
"Alina berangkat, Bu. Assalamualaikum." Alina mencium tangan Sinta yang terulur.
Perempuan itu mengusap pucuk kepala anaknya. Dalam hatinya, terbersit setitik rasa bangga. Alina bisa mengenyam pendidikan hingga ke bangku SMU. Tidak seperti dirinya yang hanya sempat mengecap pendidikan hingga kelas lima SD.
Kondisi orang tua yang miskin, yang tinggal di gubuk reot yang hampir roboh, membuat Sinta harus rela melupakan impiannya menjadi seorang guru. Di usia muda, Sinta sudah menjadi buruh tandur di sawah orang lain. Pekerjaan yang ia geluti hingga kini.
Alina berjalan dengan langkah gontai. Jarak 3 kilometer dari rumah menuju sekolah, harus ia tempuh dengan berjalan kaki. Ia tak pernah mendapat uang saku. Sinta mewajibkan Alina untuk selalu sarapan di rumah. Agar tak perlu jajan di sekolah. Namun, Alina tetaplah seorang anak. Sering ia harus menelan ludah kala melihat teman-temannya berebut membeli makanan atau minuman yang dijual di kantin sekolah.
"Alina, tunggu!" panggil seseorang ketika Alina baru saja melewati perkebunan sawit. Alina enggan menoleh. Ia pernah mendengar soal keangkeran kebun kelapa sawit di tepi desa itu.
"Tap." Sebuah tepukan singgah di bahunya. Alina terkejut. Refleks ia menoleh.
"Ricat. Ngagetin aja kamu!" umpat Alina ketika tahu siapa yang menepuk bahunya.
"Richard, Alina. Namaku Richard. Bukan Ricat." Bocah laki-laki berambut belah tengah itu merengut. Ia lantas mensejajari langkah Alina.
"Nama kamu susah disebut. Kenapa sih kamu harus dikasi nama Ricat?" Alina memiringkan kepalanya saat menoleh pada Richard.
"Kata Ibuku, Mbah tergila-gila pada penyanyi Inggris zaman dulu. Cliff Richard. Dan beliau ngotot ngasi nama Richard waktu aku lahir. Walau banyak yang ngeledek, wong ndeso kok namanya Richard, tapi Mbah ngotot. Dan ibu serta bapakku diancam, kalo sampe berani ganti namaku, bakal nggak dianggap anak ama Mbah." Richard menjelaskan dengan sedikit senyum
Alina terkekeh mendengar penjelasan Richard. Bocah itu adalah satu-satunya anak yang bersikap baik pada Alina. Di saat semua teman menjaga jarak dengannya karena kemiskinannya, tapi Richard berbeda. Ia tetap berteman dengan Alina. Mengajak ngobrol, bahkan tak jarang mentraktir Alina. Meski lebih sering Alina menolak.
"Dih. Kecil-kecil udah pacaran," ujar Yu Biah ketika berpapasan dengan Alina dan Richard.
Alina yang terlanjur memberikan senyumnya, tak urung mengerutkan kening mendengar ucapan Yu Biah. Ia memandang Richard yang juga tengah memandangnya.
"Kok malah pada liat-liatan? Aku ngomongin kalian berdua. Masih kecil begitu sudah pacaran. Bahaya lho. Apalagi kamu, Alina. Kamu bisa hamil duluan seperti ibu kamu," ucap Yu Biah berapi-api.
"Astaghfirullah, Yu. Nggak baik ngomong begitu. Itu namanya ghibah," ujar Alina.
"Heleh. Tahu apa kamu soal ghibah? Nggak usah sok suci. Ibu kamu itu menikah ama bapakmu, karena terlanjur hamil. Jangan-jangan, kamu juga bakal seperti itu." Yu Biah melanjutkan sambil mengunyah potongan nanas di tangannya.
Alina menggelengkan kepalanya. Ia menahan air mata yang tiba-tiba mendesak ingin keluar. Hatinya merasa sakit ketika ada orang yang membicarakan ibunya. Richard menarik tangan Alina agar meninggalkan Yu Biah.
"Nggak usah diambil hati, Li. Kata Ibuku, Yu Biah memang suka bicara aneh-aneh," ujar Richard.
Alina membenarkan ucapan Richard. Di kampung mereka, Yu Biah terkenal sebagai biang gosip. Cerita apapun, soal siapapun, ia pasti tahu. Namun, Alina masih tak terima, Yu Biah mendoakannya yang tidak-tidak.
"Aku sedih, Cat. Yu Biah sudah menjelek-jelekkan Ibuku." Alina menunduk.
"Cieee … pasangan abad ini sudah datang," tegur satu suara cempreng. Suara cekikikan turut menimpali.
Tanpa sadar, Alina dan Richard sudah sampai di halaman sekolah. Alina mencari-cari asal suara tadi. Rahma and the genk. Kumpulan anak-anak juragan di kampung mereka.
"Apa-apaan sih kalian? Kita masih kecil. Belum pantas pacar-pacaran," tegur Richard dengan wajah yang nampak tak senang. Ia lebih memikirkan perasaan Alina.
"Lho. Nyatanya memang kalian pacaran, 'kan? Kemana-mana selalu berdua. Kayak sandal jepit aja," tukas Rahma.
"Sandal jepit yang hampir putus." Wita menimpali. Mereka semua tertawa mendengar celetukan Wita.
Alina menatap Rahma. Orang tua Rahma adalah juragan sawit. Sinta-ibunya-pernah bekerja di rumah Rahma. Namun, kecemburuan ibu Rahma pada ibunya, membuatnya gelap mata. Sinta dituduh mencuri perhiasan milik ibu Rahma, dan dipecat dari pekerjaannya. Saat itu, Alina hanya menangis melihat ibunya dipermalukan di depan warga desa. Alina yakin, ibunya tak akan pernah melakukan perbuatan tercela seperti itu.
"Memangnya nggak boleh ya, aku berteman dengan Alina? Apa salah dia sampai kalian semua menjauhinya?" Richard buka suara.
"Salahnya, karena dia miskin. Lihat aja bajunya, kusam. Sepatu juga, pake ditempel-tempel. Bilang ama bapakmu, Alina, daripada Bapakmu ngopi seharian di warungnya Yu Narti, mending kerja. Biar bisa belikan kamu seragam," ujar Rahma dengan sinis.
"Brengsek kamu." Alina tak tahan. Ia merangsek maju. Tangan kanannya sudah singgah di kerah seragam Rahma.
"Alina!" Satu suara keras mengagetkan mereka. Alina melepaskan cengkeramannya. Tampak seorang laki-laki berbaju batik, melangkah mendekati mereka. Wajahnya mengeras.
"Kamu, ikut Bapak ke kantor," perintahnya.
Laki-laki berbaju batik itu adalah Pak Nardi. Wali kelas Alina. Rahma dan teman-temannya, tertawa senang melihat Alina yang menunduk.
Richard menyentuh pelan bahu Alina. Ia mengangguk, memberikan semangat pada Alina yang hanya tersenyum getir. Langkah Alina mengarah ke kantor guru, mengikuti wali kelasnya.
"Duduk!" perintah Pak Nardi. Tak lama, terdengar suara bel pertanda jam pelajaran pertama akan dimulai. Beberapa orang guru memperhatikan mereka. Sebagian lagi, tak ambil pusing. Mereka bergegas keluar dari ruangan itu, menuju kelas masing-masing.
"Ada apa itu tadi?" tegur Pak Nardi sambil duduk di depan Alina. Gadis itu masih menunduk.
"Alina. Saya ada di depan kamu. Bukan di bawah situ," ujar Pak Nardi dengan suara sedikit keras. Alina mengangkat wajahnya.
"Saya marah karena Rahma menjelek-jelekkan orang tua saya, Pak," jelas Alina.
"Memangnya tidak bisa dibicarakan baik-baik? Harus dengan kekerasan seperti itu?" Pak Nardi menatap Alina dengan intens.
"Saya khilaf, Pak. Itu karena, Rahma sudah terlalu sering mengolok-olok saya." Alina menjelaskan.
"Namanya juga berteman, Alina. Mereka paling hanya bercanda. Nggak usah diambil hati. Hari ini, Bapak mau mengingatkan, besok hari terakhir untuk membayar uang ujian. Kalo kamu tidak bisa membayar, kamu tidak bisa ikut ujian. Artinya, kamu akan tinggal kelas. Satu lagi, Bapak tidak mau peristiwa seperti ini terulang lagi. Kamu mengerti?"
Alina hanya mengangguk pasrah. Bagaimanapun, ia tak akan menang melawan Rahma dan teman-temannya. Pak Nardi adalah pamannya Rahma. Wali kelas Alina itu pasti akan membela keponakannya.
Alina berjalan keluar dari ruang guru. Lorong sekolah sepi karena semua murid sudah berada di dalam kelas. Tanpa semangat, Alina menyusuri lorong. Namun, pemandangan di gerbang sekolah membuat jantungnya nyaris berhenti.