KEPUTUSAN BAPAK
Alina menghentikan langkahnya. Ia mengucek mata. Berharap ia salah melihat. Namun, sosok dua orang yang baru saja memasuki gerbang sekolah, benar-benar orang yang ia kenal. Hal itu membuat Alina merasa tak tenang.
"Alina, sedang apa Kamu?" Bu Dira, guru Matematika, melotot menatap Alina yang mematung di tempatnya.
"I-iya, Bu." Alina mempercepat langkahnya menuju kelas, mengikuti langkah Bu Dira.
"Lama amat. Pak Nardi ngomong apa?" Richard berbisik ketika Alina duduk di sampingnya. Mereka memang duduk semeja. Karena tidak ada murid lain yang bersedia menjadi teman semeja Alina.
Alina hendak menjawab, tapi pelototan Bu Dira, membuat ia mengurungkan niatnya.
"Nanti aja ceritanya," bisik Alina ketika Bu Dira tengah membuka tasnya.
Richard tak memaksa. Mereka semua tahu, betapa tak sukanya Bu Dira pada murid yang mengobrol saat pelajaran berlangsung.
"Hari ini, kita akan mengulang pembahasan mengenai persamaan linear. Tapi, sebelumnya, coba buka halaman 130." Bu Dira memberi perintah.
Baru saja murid-murid melaksanakan perintah Bu Dira, terdengar suara pintu diketuk. Pak Nardi muncul di depan pintu. Lalu segera bicara dengan Bu Dira dengan suara lirih. Alina gelisah. Ia mempunyai firasat buruk dengan kedatangan Pak Nardi.
"Alina. Silakan ke ruang guru." Bu Dira berseru sambil membetulkan letak kacamatanya.
Alina menutup bukunya. Ia segera berdiri dan mengikuti langkah Pak Nardi. Richard juga ikut-ikutan berdiri.
"Mau kemana Kamu, Richard?" tanya Bu Dira.
"Anu, Bu, saya minta izin mau ke toilet. Perut saya mulas, Bu." Richard berkata sambil memegangi perutnya. Wajahnya meringis.
"Jangan lama-lama," ujar Bu Dira.
Mendengar izin itu, Richard segera melesat keluar kelas setelah mengucapkan terima kasih pada Bu Dira. Kakinya menuju toilet sekolah. Ketika merasa tak ada orang yang melihat, Richard berbelok menuju ruang guru. Sayup-sayup, terdengar suara Pak Nardi, bicara dengan seseorang.
Richard memutuskan mengintip lewat jendela. Di dalam ruangan, Pak Nardi tengah duduk membelakangi Richard. Di depannya, duduk seorang laki-laki berkulit hitam, berperawakan sedang. Laki-laki itu asyik menghisap rokoknya, meski jelas terpampang tulisan untuk tidak merokok di ruangan itu.
Seorang perempuan berwajah kemerahan, mengenakan jilbab yang warnanya mulai pudar, duduk di sebelah laki-laki itu. Sementara Alina, berdiri di samping mereka. Tak ada orang lain di ruangan itu, selain mereka berempat.
"Kalo boleh saya tahu, apa maksud dan tujuan Bapak dan Ibu datang kemari? Apakah ingin melunasi uang ujian Alina?" Pak Nardi membuka pembicaraan.
Diran menjentikkan ujung rokoknya. Abu dari rokok tersebut mengotori lantai. Pak Nardi terlihat mengeraskan rahangnya.
"Langsung aja, Pak. Kami kemari, mau menjemput anak kami. Si Alina ini, mulai besok, dia tidak akan sekolah lagi," jawab Diran.
Sinta yang tengah menunduk, sontak mengangkat wajahnya. Begitu pun Alina. Ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Pak, kenapa jadi begini?" Sinta menoleh pada suaminya.
"Begini gimana?" tanya Diran santai.
"Bukan ini tujuan kita datang ke sini, Pak." Sinta mengingatkan suaminya.
"Dengar ya, Sinta. Alina itu udah besar. Dan sekolah itu butuh banyak biaya. Dari pada dia ngabisin duit buat hal yang nggak penting begini, lebih baik dia bantuin kita nyari duit," jawab Diran.
Alina menatap ibunya. Mata besarnya berkaca-kaca. Sinta balas menatap anaknya. Matanya pun sama seperti Alina. Berkaca-kaca.
"Pak, bukannya tadi Bapak janji, mau melunasi uang ujian Alina? Makanya Ibu bersedia datang ke mari bersama Bapak," ujar Sinta dengan suara sedikit tercekat. Tangannya menyentuh lengan Diran.
"Tadi sih iya. Tapi di jalan, aku berubah pikiran. Alina ini udah waktunya balas budi pada kita, orang tuanya. Aku sudah capek menghidupi dia. Jadi, kita keluarkan saja dia dari sekolah," ujar Diran dengan entengnya.
"Pak, Alina masih ingin sekolah. Alina mau jadi guru, Pak," erang Alina.
Diran mencebik. Di matanya, Alina adalah aset. Ia sudah punya rencana atas Alina. Dan itu, bukanlah sesuatu yang akan menghabiskan banyak uang seperti sekolah.
"Maaf, Pak, Bu. Ada baiknya, masalah ini Bapak Ibu bicarakan dulu di rumah. Ini sekolah. Tidak pantas masalah keluarga, dibicarakan di sini." Pak Nardi berujar ketika ia melihat Diran hendak bicara pada istrinya.
"Oke, Pak. Masalah ini sudah selesai. Aku akan bawa anakku pulang. Mulai besok, Alina tidak akan masuk sekolah lagi," jawab Diran dengan suara sedikit meninggi.
"Richard, sedang apa Kamu di sini?" Suara seseorang mengagetkan mereka yang ada di ruang guru. Richard menghambur masuk. Pak Nardi mengerutkan keningnya.
"Maaf, Pak. Kalo boleh tahu, berapa jumlah uang ujian yang harus dilunasi Alina?" Richard bicara pada Pak Nardi. Ia menghindari tatapan tajam Alina.
"Kamu mau apa, Richard? Mau bertindak sebagai pahlawan?" Pak Nardi menatap Richard dengan intens.
"Bisa dibilang begitu, Pak. Saya yang akan membayar semua uang ujian dan uang SPP Alina mulai sekarang," tegas Richard. Pak Nardi terkekeh.
"Lihat itu, Alina. Teman laki-laki kamu ini, sangat gentleman. Dia bahkan bersedia membiayai kamu." Pak Nardi masih terkekeh geli.
Alina melotot memandang Richard. Bocah laki-laki itu, lagi-lagi menghindari tatapan Alina.
Richard tahu, Alina tak sudi dikasihani. Namun, kali ini situasinya berbeda. Bukan lagi sekedar traktiran bakso di kantin sekolah, atau tawaran memakai uangnya kala Alina sedang mengalami kesulitan. Namun, ini demi kelangsungan pendidikan Alina.
Diran bangkit. Mendekati Richard. Ia memandangi Richard dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.
"Kamu naksir anakku?" tanya Diran tanpa tedeng aling-aling.
Richard yang mendapat pertanyaan tak terduga itu, mendadak tergeragap.
"Bu-bukan begitu, Pak. Saya hanya ingin membantu teman," jawab Richard. Setitik keringat keluar di dahinya.
"Mustahil kamu menganggap anakku hanya sebagai teman. Teman tidak akan mungkin mau menanggung biaya sekolah temannya. Kecuali kamu punya niat lain," bantah Diran. Tangannya mengacak-acak rambut Richard.
"Sumpah, Pak. Saya dan Alina hanya berteman. Saya nggak mau melihat Alina putus sekolah." Richard masih berusaha membela diri.
Diran tertawa keras. Wajah Sinta merah padam melihat ulah suaminya. Luka bakar akibat siraman kopi panas tadi pagi, masih memerah.
"Heh, bocah ingusan! Udah deh. Nggak usah berlagak sok pahlawan. Alina itu anakku. Aku punya hak melakukan apapun padanya. Kalo saja Kamu anak seorang juragan besar, mungkin akan kupertimbangkan Kamu jadi menantuku," ucap Diran.
Richard menatap Alina yang salah tingkah. Gadis itu menunduk. Richard tahu, Alina pasti merasa tak enak atas perkataan ayahnya barusan.
Richard menebalkan muka. Ia tak ingin kehilangan Alina di sekolah ini. Hanya Alina yang memperlakukannya berbeda. Dan Richard bisa merasakan ketulusan yang Alina punya.
"Richard Alendra. Apa yang kau lakukan di sini? Bukannya kau ada kelas?" Satu suara bariton penuh wibawa memecah keheningan yang sempat tercipta karena perkataan Diran tadi.
Richard terperanjat. Begitu pun Pak Nardi. Wali kelas itu buru-buru bangkit dari duduknya dan menyongsong sosok yang baru saja masuk ke ruang guru. Pak Nardi sampai sedikit membungkuk saat menyalami laki-laki itu.
Laki-laki yang mengenakan jas berwarna biru dongker dan sepatu pantofel itu, mendekati Richard yang pias.