LNCrawler

AWAL MULA PERTEMANAN

Alina — gooddreamer.id · All chapters

AWAL MULA PERTEMANAN

"Papa tanya, sedang apa kamu di sini?" Laki-laki yang baru saja masuk ke ruang guru itu, memandang Richard dengan tatapan menyelidik.

"Papa?" tanya Pak Nardi. Ia tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Bergantian, dipandanginya Richard dan laki-laki yang mengaku sebagai papanya Richard.

"Richard Alendra. Jawab pertanyaan Papa," desak laki-laki itu. Laki-laki yang diberi nama Anggara Dwi Putra oleh orang tuanya itu, memandang Richard dengan tajam.

Richard meremas jemarinya. Ia hafal betul, jika papanya sudah memanggil dengan nama lengkap, itu artinya papanya ingin dipatuhi.

"Ale ada urusan, Pa," jawab Richard lirih. Ia sengaja memelankan suara, karena tak ingin orang-orang mengetahui nama panggilannya ketika berbicara dengan orang tuanya.

"Urusan apa? Lebih penting daripada pelajaranmu?" tanya Pak Anggara. Kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celananya.

"Ini, Pak. Bocah ini menawarkan untuk membiayai sekolah anak saya. Tadinya saya ingin menolak. Tapi, setelah melihat penampilan Bapak, saya mungkin bisa mempertimbangkan untuk menerima bantuannya." Diran tersenyum.

"Tidak, Pak." Alina mendekati Diran.

Tatapannya singgah di mata Richard. Ada luka dan keteguhan di mata Alina.

"Alina akan menuruti kemauan Bapak. Alina akan berhenti sekolah. Alina tak mau menjadi beban buat orang lain," ujar Alina.

Perkataan Alina barusan menorehkan sedikit luka di hati Richard. Ternyata, selama ini, Alina masih menganggapnya sebagai orang lain. Bukan sahabat seperti yang pernah mereka ikrarkan.

Ingatan Richard kembali ke peristiwa 4 bulan lalu.

Saat itu, Richard sedang menyendiri di halaman belakang sekolah. Bagian belakang gedung yang berbatasan dengan sebuah sungai kecil itu, jarang didatangi oleh siswa. Tak ada yang bisa dilihat di situ kecuali deretan pohon pisang di seberang sungai.

Richard tengah asyik tiduran di bawah pohon akasia, ketika telinganya mendengar suara nyanyian lirih seorang perempuan. Awalnya, Richard sempat merasa takut. Mitos pohon pisang yang menjadi sarang setan, kerap ia dengar.

Mata Richard mencari-cari. Meski sedikit takut, ia putuskan untuk mencari asal suara. Langkahnya menuju ke rerimbunan bougenville di sisi kirinya.

Terlihat sebuah sepatu hitam bertempel kain bermotif kupu-kupu sedang terjulur dari rerimbunan bougenville di depannya. Richard mendekat. Dengan cepat, ia menyibak dahan-dahan bougenville dan menemukan seorang siswi sedang bernyanyi lirih sambil menulis sesuatu di buku yang ia bawa.

"Alina?" tanya Richard cepat. Gadis itu mengernyitkan hidungnya. Ia tidak menjawab, malah meneruskan kegiatannya.

"Hei, kenapa kamu sendirian di sini?" Richard duduk di sebelah Alina tanpa permisi.

"Kamu sendiri, kenapa ada di sini? Nggak takut dekat-dekat aku? Ntar ketularan miskin lho," ujar Alina.

Richard menoleh. Mendapati wajah manis di sebelahnya yang sedang fokus pada bukunya. Iseng, ia mencuri pandang pada buku yang dipegang Alina.

"Kamu nulis apa?" tanya Richard ingin tahu. Alina menutup bukunya dengan kasar. Matanya terpejam sebelum ia menoleh ke arah Richard.

"Bukan urusan kamu, Richard Alendra. Kamu sendiri, belum menjawab pertanyaanku. Ngapain kamu di sini?" Mata Alina membesar. Namun, Richard malah terpesona melihatnya.

Richard tersenyum tipis. "Lagi bosen aja di kantin. Pengen cari suasana baru. Kamu sering ke sini? Adem, ya suasananya," ucap Richard.

"Kamu kenal aku, 'kan? Tahu apa panggilan teman-teman sekelas padaku? Amis. Alina Miskin. Itu sebabnya mereka menjauhiku. Mending kamu juga jauhi aku deh. Nanti kamu bisa ketularan miskin," ujar Alina. Napasnya sedikit memburu pertanda apa yang ia ucapkan itu, menyakiti perasaannya.

"Emangnya kemiskinan itu penyakit menular? Ada-ada aja. Kamu tahu, tidak ada satu pun manusia yang mau terlahir miskin. Tapi, kita tidak bisa memilih, terlahir dari orang tua seperti apa. Kaya atau miskin, semua sudah digariskan oleh Allah." Richard mencabut sebatang rumput dan menggigitnya.

"Gampang buatmu bicara seperti itu, karena kamu terlahir dari keluarga berada. Kamu nggak pernah ngerasain ketika tidur di malam hari, dalam cuaca dingin dan kamu hanya punya selembar selimut tipis, tiba-tiba atap rumah kamu bocor sehingga rumah kamu kebanjiran," ujar Alina

Richard hanya mendengarkan sambil menatap wajah Alina

"Aku juga yakin, seumur hidup kamu nggak pernah ngerasain lapar. Dimana kamu hanya bisa makan satu kali satu hari. Itu pun dengan lauk yang sangat sederhana seperti tempe goreng. Anak sultan seperti kamu nggak akan mengerti arti kemiskinan," lanjut Alina lagi.

"Kamu salah kalau mengira aku tidak pernah merasakan kelaparan." Richard menggaruk hidungnya.

"Memangnya kamu pernah kelaparan?" tanya Alina, tak yakin.

"Tentu saja. Saat kelas 5 SD, aku pertama kali berhasil puasa penuh. Saat buka puasa, aku benar-benar kelaparan. Aku ngabisin sepiring nasi dan 4 gelas teh hangat," ujar Richard. Ada nada bangga dalam suaranya.

"Pletak." Buku yang ada di tangan Alina, singgah ke kepala Richard. Richard yang tak mengira akan perbuatan Alina, tak sempat mengelak dan hanya bisa mengaduh sambil mengusap-usap kepalanya.

"Kejam, ih," omel Richard. Namun, matanya menyiratkan rasa bahagia. Karena ia melihat seulas senyum di wajah Alina.

"Geblek. Udah sana, pergi. Aku nggak mau ada orang yang melihat kita di sini dan akhirnya salah paham. Udah cukup banyak kesulitan yang kuterima di sekolah ini," terang Alina sambil mendorong lengan Richard.

"Karena Rahma?" desak Richard. Ada kabut di mata Alina ketika Richard mengatakan itu. Biasanya Alina tak akan banyak bicara ketika di sekolah. Namun, ada sesuatu di diri Richard yang membuat ia merasa aman untuk menceritakan apa yang ia rasakan.

Alina menggeleng. "Bukan. Karena aku miskin. Aku seperti penyakit menular yang harus dihindari. Pertama kali aku masuk ke kelas, tak ada satu pun anak yang mau duduk semeja denganku. Itu terjadi sebelum kamu menjadi murid pindahan di kelasku." Alina memandang hamparan pohon pisang di seberang sana.

"Apa karena itu, Pak Nardi menyuruhku duduk semeja denganmu?"

Alina mengangguk. "Lagipula, saat itu hanya kursi di sebelahku yang kosong," ujarnya.

"Aku heran, deh, kenapa Rahma kelihatannya benci banget ama kamu?" Richard menyilangkan kakinya.

"Mungkin, karena aku lebih cantik dan lebih pintar," ujar Alina. Sedetik kemudian, tawanya pecah.

Richard melongo. Selama menjadi teman semeja Alina, ia belum pernah melihat gadis itu tersenyum, apalagi tertawa lepas seperti tadi. Alina lebih sering memasang wajah murung. Dan hal itu, membuat Richard penasaran.

"Kamu kenapa? Kayak ngeliat setan gitu?" Alina mengerutkan keningnya ketika Richard hanya diam sambil memandanginya lekat.

"Ketawamu renyah banget. Kayak kerupuk," ucap Richard. Alina terdiam. Namun, Richard terkejut ketika Alina malah tertawa terbahak-bahak.

Richard cepat-cepat menutup mulut Alina. "Ssst. Jangan keras-keras. Ntar ada yang denger, dikira kuntilanak sungai lagi keluar nyari mangsa," ujarnya.

Alina berusaha melepaskan tangan Richard. Hidung gadis itu sedikit berkerut.

"Kamu makan apaan sih tadi? Tanganmu bau amis," ucap Alina.

"Aku makan gorila goreng crispy," jawab Richard sambil mengendus-endus tangannya. Lantas menampakkan ekspresi seperti mau muntah. Alina terkikik geli melihat ulahnya.

"Ternyata, kamu bisa ketawa juga, Li," ujar Richard.

"Ya, bisa dong. Aku juga bisa nangis, sedih, marah. Kan aku juga manusia. Sayangnya, nggak ada yang mengerti itu." Alina menghembuskan napas pelan.

"Kamu hanya berada di tempat yang salah, Li. Orang-orang di sekolah ini, hanya memandang orang lain dari apa yang dimiliki. Tak banyak yang bisa menghargai apa yang kita pikirkan, apa yang kita impikan. Kamu akan dihargai kalo kamu punya jam tangan harga puluhan juta. Orang-orang akan mendekat, kalo kamu pergi sekolah diantar mobil dengan logo kuda sedang mengangkat kaki depannya. Atau, kamu pake tas yang ada sertifikatnya. Tanpa itu semua, kamu bukan siapa-siapa." Richard menoleh pada Alina yang tengah menatapnya.

"Bahkan di desa seperti ini, orang-orang bersikap seperti itu?" tanya Alina tak yakin.

"Ya. Kamu udah ngerasain sendiri kan? Hanya karena orang tuamu bukan dari kalangan berada, kamu dikucilkan. Padahal aku yakin, orang-orang yang terpengaruh omongan Rahma, juga bukan orang berada," jawab Richard cepat.

Ada sesuatu yang berkembang di dada Alina saat itu. Rasa percaya. Tadinya, ia hanya merasa aman bicara pada Richard. Sekarang, ia menaruh kepercayaan pada teman semejanya itu.

"Udah mau bel. Kita harus masuk ke kelas." Richard bangkit dari duduknya setelah melihat jam tangannya sekilas. Ia mengulurkan tangan, membantu Alina untuk berdiri.

Mereka berjalan bersisian menuju kelas. Namun, baru saja mereka akan meninggalkan halaman belakang sekolah, seseorang tegak menghadang langkah mereka. Wajah orang itu memerah.