FITNAH
Wajah gadis di hadapan Richard dan Alina itu, memerah. Tangannya terkepal di samping tubuhnya. Tanpa mengatakan apapun, ia berbalik meninggalkan Alina dan Richard yang terpaku di tempat mereka.
Alina bergegas meninggalkan Richard. Ia berjalan terburu-buru menuju kelas. Tepat saat Alina menuju kursi, bel berbunyi. Alina merasakan tatapan tajam teman-teman mengiringi langkahnya.
Alina memberanikan diri menatap ke arah kirinya. Tatapan Alina berhenti kala melihat wajah Rahma yang menatapnya dengan sinis. Seperti ingin menelannya bulat-bulat. Alina membuang muka. Namun, ketika ia tak sengaja melihat ke arah Ratna dan Putri, mereka juga ternyata tengah menatapnya dengan pandangan jijik.
Alina menarik napas. Sepertinya akan ada kesulitan baru yang akan ia hadapi. Ia tahu, Rahma pasti akan melakukan sesuatu.
"Teman-teman, ada sedikit pengumuman," teriak Hadi-sang ketua kelas-sambil memegang selembar kertas di tangannya. Ia berdiri di depan kelas dengan wajah sedikit berkeringat.
"Hari ini, Pak Bachri tidak masuk." Hadi belum sempat meneruskan pengumumannya karena dipotong oleh teriakan teman-temannya.
"Tapi, Pak Bachri titip pesan, agar mengerjakan tugas di halaman 145," ucap Hadi, yang disambut keluhan.
Alina segera mengeluarkan buku tugas Biologi dari tas kainnya. Baru saja meletakkan buku itu di atas meja, sebuah gumpalan kertas mendarat di mejanya.
Alina mematung. Sudut matanya melihat siapa yang melempar gumpalan kertas itu. Namun, Alina memilih untuk mengabaikannya. Seperti yang selama ini, ia lakukan. Richard mengambil gumpalan kertas di hadapan Alina. Lantas membukanya.
'Dasar perempuan murahan.' Kalimat itu membuat wajah Richard memerah menahan amarah. Netranya singgah pada Rahma. Yang ditatap, hanya memberikan senyum simpul.
Alina menahan lengan Richard yang hendak bangkit. Ia menggelengkan kepalanya pertanda agar Richard tak usah menggubris perbuatan Rahma.
"Kamu diam aja dihina begini, Li?" tanya Richard dengan suara tercekat.
"Ini bukan sesuatu yang baru lagi. Aku udah biasa. Biarin aja," tegas Alina. Richard kembali duduk di kursinya. Ia mengikuti Alina yang mencoba konsentrasi pada buku tugasnya.
Rahma tak melakukan apapun setelah melemparkan gumpalan kertas tadi. Namun, telinga Alina sempat mendengar bisik-bisik yang sepertinya sengaja dikeraskan agar Alina mendengarnya.
"Jadi perempuan kok murahan banget ya. Mau aja diajak mojok ama laki-laki." Rahma mencibir ketika tahu, Alina mencuri dengar. Alina menunduk. Memandangi huruf demi huruf di buku Biologinya.
"Najis banget deh, ketemu orang kayak gitu. Nggak tahu diri banget, 'kan. Udah miskin, akhlaknya juga miskin." Nora menyumbang suara. Terdengar suara-suara yang mengamini.
Alina mencoba tak peduli. Ia sudah terlalu biasa dengan cemoohan Rahma dan teman-temannya. Richard menatap Alina dengan perasaan kasihan.
Tak lama, Richard berdiri dan menuju kursi dimana Rahma dikerubuti siswi-siswi lain.
"Ayo, aku mau bicara," ajak Richard sambil memberi kode pada Rahma agar keluar kelas. Rahma menurut dan mengikuti Richard.
"Apa sih untungnya kamu menyebar berita bohong soal aku dan Alina?" Richard bicara sambil melirik ke kiri dan ke kanan. Berharap tak ada satu guru pun yang memergoki mereka berada di depan kelas saat pelajaran tengah berlangsung.
"Ya, karena aku membencinya. Sesimpel itu. Aku benci kepintarannya, aku benci kemiskinannya. Dan yang paling penting, aku benci dia dekat ama kamu." Rahma menatap tepat ke manik mata Richard.
"Rahma, aku udah jelasin, 'kan. Meskipun orang tua kita bersahabat, bukan berarti kita juga harus dekat. Aku nggak suka ama sikap kamu yang suka merendahkan orang lain. Aku harap kamu meluruskan berita bohong yang kamu sebar. Tanpa sadar, kamu juga udah mencemarkan nama baikku," ujar Richard.
Rahma menelan saliva. Menahan dongkol yang bercokol karena Richard langsung masuk dan meninggalkannya.
Sudah lama, Rahma cemburu pada Alina. Ayahnya kerap memuji Alina yang kerap membantu ibunya saat Sinta masih bekerja di rumah Rahma. Apalagi rangking Alina, selalu berada di atas Rahma. Meski Rahma sudah ikut les mata pelajaran, tetap saja belum bisa menyamai rangking Alina.
Kecemburuan Rahma berimbas pada pekerjaan Sinta di rumah itu. Suatu hari, Rahma memergoki ayahnya memuji resep baru yang dimasak Sinta. Rahma mengadu yang tidak-tidak pada ibunya.
Ibunya Rahma, yang parasnya juga tak secantik ibu Alina, merasa tersaingi. Maka, terjadilah peristiwa yang tak akan dilupakan Alina. Ibunya dituduh mencuri perhiasan milik ibu Rahma.
Alina tak akan bisa melupakan tangisan ibunya. Bukan kehilangan pekerjaan yang ditangisi ibunya. Namun, harga diri. Harga diri mereka sebagai orang miskin, lagi-lagi terkoyak. Tak ada satu pun yang percaya, kalau Sinta tak bersalah. Ayahnya Rahma, tampak sangat terpukul. Ia bahkan tak mau menatap Alina yang memapah ibunya, saat dipecat dengan tidak hormat dari rumah itu.
Rahma masuk dan menuju ke kursinya. Tampak Alina tengah menjelaskan sesuatu pada Richard. Rahma menarik tangan Kiky yang duduk di sebelahnya.
"Aku punya tugas buatmu," ujar Rahma.
Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Kiky. Setelah membisikkan sesuatu, Kiky menatap Rahma dan tersenyum simpul.
"Kalo kamu berhasil, akan ada hadiah buatmu," ujar Rahma. Kiky mengacungkan jempolnya.
Pagi itu, Alina berjalan pelan menuju perpustakaan. Bel istirahat baru saja berbunyi. Kerumunan siswa-siswi berjalan menuju kantin. Hanya Alina yang memasuki perpustakaan.Kalau Richard tidak mentraktirnya, Alina mungkin tak akan pernah memasuki kantin.
Hari ini, Richard berhalangan masuk. Mamanya sakit dan harus masuk rumah sakit. Richard harus menemani karena papanya masih di luar kota.
Alina berjalan melewati lorong yang berisi rak buku di kiri dan kanannya. Tangannya meraih sebuah buku bersampul hitam. Sebuah buku antologi bergenre horor. Saat membuka lembar pertama buku tersebut, tak sengaja, Alina mendengar namanya disebut-sebut.
"Ah, yang bener kamu? Maksudnya Si Amis itu? Alina Miskin? Dia begituan ama Richard di halaman belakang?" suara seorang perempuan terdengar dari balik rak buku. Alina menajamkan pendengarannya.
"Iya. Rahma lihat sendiri kok. Mereka gelagapan waktu dipergoki Rahma. Gila ya, si Richard. Kok mau sih ama cewek kayak Si Amis itu? Padahal kan, cantikan Rahma kemana-mana," timpal satu suara lain.
"Mungkin Richard cuma main-main. Si Amis itu kan pintar. Kali aja, Richard deketin dia buat manfaatin kepintarannya." Satu suara lain ikut menyumbang suara.
Alina mengembalikan buku yang ia pegang ke rak buku. Telinganya panas mendengar gosip barusan. Meski sudah berusaha untuk tak peduli, tapi Rahma sudah kelewatan. Nama baiknya dan Richard, sudah dicemari oleh gosip yang disebarkan Rahma.
Keluar dari perpustakaan, Alina berpapasan dengan beberapa murid lain. Tatapan mereka mengandung tuduhan. Terdengar bisik-bisik kala Alina melewati mereka. Bahkan ada yang menunjuk-nunjuk. Alina mempercepat langkahnya.
Langkah Alina mengarah ke toilet wanita. Semua bilik terisi. Hanya ada satu yang kosong, bilik yang berada di tengah. Alina memutuskan untuk masuk meski ia tak punya kepentingan. Ia hanya butuh tempat untuk sendiri.
"Akhirnya, berhasil juga, 'kan, Ma." Kiky tertawa pelan.
Terdengar suara air mengalir dari keran wastafel. Diikuti suara cekikikan Rahma.
"Kamu memang hebat, Ky. Satu sekolah pasti percaya kalau gosip itu benar. Tinggal tunggu waktu, Si Amis itu akan mendapat hukuman karena sudah berani bersaing denganku," puji Rahma.
Alina memegang tepian toilet duduk dengan perasaan yang campur aduk. Pantas saja, orang-orang membicarakannya. Ternyata benar, Rahma sudah menyebarkan berita bohong soal dirinya dan Richard.
Alina memutuskan keluar ketika telinganya tak lagi mendengar suara Rahma dan Kiky. Sepanjang jalan menuju kelas, Alina harus mendapat pandangan tak mengenakkan dari semua orang yang ditemuinya. Apalagi, setiap langkahnya pasti diikuti bisik-bisik yang membuat telinganya sakit.
Sebuah batu kerikil ditendang Alina. Langkahnya gontai menyusuri jalan menuju rumahnya. Di perempatan dekat perkebunan sawit, tampak seseorang sedang berdiri di pinggir jalan. Alina menghentikan langkahnya ketika mengetahui siapa orang itu.
"Lagi nunggu angkot? Angkotnya hari ini libur," celetuk Alina.
"Siapa yang lagi nunggu angkot. Aku lagi nunggu bidadari kok. Tapi, bidadarinya nggak turun dari khayangan. Dia sukanya jalan kaki," jawab Richard. Senyum jahil terbit di bibirnya.
Alina menunduk. Richard berjalan di sisinya. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.
"Aku tahu soal gosip yang beredar di sekolah tentang kita. Ada yang memberitahuku. Kamu nggak apa-apa, 'kan?" tanya Richard.
"Kamu kenapa nggak masuk sekolah tadi? Aku seperti berjuang sendirian. Semua orang menyalahkanku dan makin memandangku dengan jijik." Alina kelihatan sangat terluka
"Aku minta maaf, Li. Ibuku masuk rumah sakit dan aku harus menjaganya karena Ayahku sedang keluar kota. Tapi, bukan berarti aku membiarkanmu menanggung semua ini sendiri. Aku juga punya andil dalam terciptanya gosip itu." Richard berhenti melangkah. Ia menarik tangan Alina agar tidak melanjutkan langkahnya.
"Aku tahu kamu merasa sakit hati ama Rahma. Dan aku tahu, tidak gampang untuk memaafkannya. Aku harap, ini bisa sedikit menghiburmu," ujar Richard.
Tangannya memberikan satu paperbag kepada Alina. Alina sama sekali tak melihat jika Richard memegang benda apapun sejak tadi.
"Apa ini?" tanya Alina.
"Lamaran buatmu." Richard tersenyum