LNCrawler

Penjahat Kelamin

Bintang Milik Angkasa — gooddreamer.id · All chapters

Penjahat Kelamin

Suara musik yang disetel keras membuat pengunjung di sebuah klub malam berjoget ria. Para pemuda asik meliuk-liukan tubuh mereka di tengah hingar bingar dunia malam.

Harta, tahta, wanita, tiga hal itulah yang senantiasa diidamkan lelaki. Kalau sudah punya harta dan tahta, tidak mungkin kalau tidak ingin wanita. Begitu pula seorang pria tampan yang saat ini duduk di sudut ruangan klub malam itu.

"Sean, apa menurut lo yang itu cantik?" tanya Angkasa pada teman prianya.

"Semua wanita di mata lo juga cantik. Mau apa lagi lo? Mau narik wanita dan lo ajak ke hotel?" sentak Sean yang sudah hafal dengan kelakuan temannya.

Angkasa tertawa pelan, pandangan pria itu masih menyorot ke salah seorang wanita yang menarik perhatiannya.

Angkasa Putra, seorang kepala produksi di MG Entertainment, sebuah agensi hiburan yang saat ini menaungi model dan artis terkenal. Pria dua puluh lima tahun itu seorang player sejati, tidak ada satu hari pun tanpa Angkasa bersama wanita.

"Lo gak mau?" tanya Angkasa pada Sean.

"Gue masih waras buat ngikutin jejak lo," jawab Sean seraya menyesap air putihnya.

Sean dan Angkasa bagai langit dan Bumi. Kalau Angkasa seorang playboy ulung dan suka mabuk-mabukan, Sean kebalikannya. Seumur-umur Sean tidak pernah mabuk, ke klub malam pun hanya menemani Angkasa.

"Terus lo ke sini buat apa? Buat pajangan doang?" tanya Angkasa.

"Ya udah gue pulang." Sean segera berdiri, pria itu mengeratkan jaket yang dia kenakan.

"Eh enak saja. Baru juga lima menit sudah pulang aja." Angkasa menarik tangan Sean dan memaksa pria itu duduk. Namun, Sean menepis tangan Angkasa.

"Gak, gue mau pulang. Kalau gue lama-lama sama lo, yang ada gue masuk ajaran sesat. Besok gue ada pertunjukan musik di Universitas Jakarta. Gue gak mau tau, pokoknya besok lo harus ikut!" oceh Sean memberikan satu kartu ke meja.

"Gue gak suka musik," jawab Sean.

"Gue udah nemenin lo berkali-kali ke klub malam, sekarang giliran lo. Tuh bisa baca informasinya sekalian lo larisin tiket gue," ucap Sean menunjuk kartu kecil di meja. Setelahnya pria itu melenggang pergi meninggalkan Angkasa.

Angkasa menatap punggung Sean yang menjauh, dalam hati pria itu mengumpati temannya yang sudah meninggalkannya. Angkasa beralih menatap kartu berwarna pink. Di kartu itu tertera informasi pertunjukan seni.

Seumur-umur, Angkasa tidak suka dengan yang namanya musik, apa lagi orkestra yang membuatnya ngantuk. Sean adalah pemain cello yang handal, kerap kali pria itu melakukan konser baik tunggal maupun Grup. Akan tetapi Angkasa juga tidak pernah nonton.

"Eh eh.... Aku gak mau!" Suara teriakan nyaring terdengar di telinga Angkasa.

Pria itu mendongak, dahinya berkerut tatkala ia melihat seorang gadis berambut pendek, memakai anting di sisi telinga, baju oversize dan celana sobek-sobek. Penampilan gadis itu sangat aneh. Angkasa menggeleng pelan, sedang pandangannya tetap mengarah ke objek itu.

"Ini tempat apa sih? Bau banget." Gadis itu tampak mendorong teman yang menyeretnya.

"Ayolah, Bintang. Kamu sudah dewasa, kamu harus menikmati dunia yang indah ini. Jangan hanya mendekam di kamarmu saja, kamu gak lebih dari kura-kura yang takut manusia," oceh Sheila menarik Bintang agar lebih masuk ke klub Alexy itu.

Bintang membuntuti Sheila, gadis itu baru pertama kali menginjakkan kaki di tempat itu karena dipaksa oleh temannya. Bintang Putri Candrakirana, seorang gadis berusia dua puluh dua tahun yang saat ini menginjak semester akhir fakultas seni.

Meski penampilan Bintang layaknya seorang preman dengan celana sobek-sobek, gadis itu adalah gadis pendiam. Dunia malam bukanlah kesenangan Bintang. Daripada di klub ini, Bintang lebih memilih tidur di kamarnya. Namun, hari ini merupakan hari apesnya, di mana setelah latihan musik, ia ditarik paksa oleh Sheila.

"Mas, Cocktail mojito satu!" pinta Sheila pada bartender.

Pria tampan yang berprofesi sebagai bartender itu mengedipkan sebelah matanya tanda mengiyakan.

"Lalu, temannya yang sexy ini, mau dibuatkan apa?" tanya bartender itu melirik Bintang.

Ucapan dari sang bartender membuat Bintang mengepalkan tangannya. Dipandang mesum, dan disebut sexy, bagi Bintang itu sangat merendahkan.

"Aku tidak ingin apa-apa," jawab Bintang.

"Padahal aku ingin membuatkanmu netgori yang terbuat dari vermouth manis dengan campuran jeruk. Elegant, sexy dan manis seperti kamu," ucap bartender menyodorkan tangannya pada Bintang. Bintang enggan menanggapi, gadis itu segera pergi dari sana.

"Bintang, mau kemana?" teriak Sheila mengejar temannya.

"Jangan pergi dulu, kita sudah capek latihan sejak tadi. Setidaknya istirahat sebentar!" pinta Sheila memaksa.

"Aku tunggu di sofa itu," kata Bintang menunjuk salah satu sofa. Sheila pun mengiyakan.

Bintang menuju ke sofa, tetapi belum juga ia sampai sana, seorang pria mendekati Bintang.

"Hei, Nona!" sapa pria asing itu. Bintang mendongak, menatap sang pria yang sangat tampan.

"Boleh berkenalan?" tanya pria itu lagi.

"Maaf," jawab Bintang segera menghindar. Nyatanya tidak sekali dua kali Bintang didekati pria. Banyak pria asing yang mencoba menarik perhatiannya.

Bintang bagai gula yang dikelilingi semut. Senang? Tentu saja Bintang risih melihat para lelaki yang dia yakini lelaki tidak baik. Godaan, rayuan, bahkan sentuhan Bintang dapatkan. Bintang menepis tangan-tangan nakal orang yang terus mengganggunya.

"Nona, boleh bertukar nomor?"

"Nona, mau minum bersama?"

"Manis, ayo temani aku!"

Kalimat-kalimat menjijikkan itu terus Bintang dengar. Bintang mengepalkan tangannya kuat. Sudah cukup kesabaran yang ia miliki.

"Manis, duduk sini!" titah seorang pria yang duduk tidak jauh dari Bintang. Dengan kurang ajarnya pria itu menepuk pahanya, mengisyaratkan agar Bintang duduk di sana.

Bintang rasa ini sudah keterlaluan, gadis itu bersiap pergi. Namun, tangannya dicegah oleh Sheila.

"Hei, duduk dulu!" titah Sheila.

"Tempat apa ini, hah? Sejak tadi banyak orang yang mendekatiku, merayuku dan bahkan mau menyentuhku. Aku gak habis pikir sama kamu, Shei. Udah tau aku gak pernah keluar, sekali keluar kamu ngajakin aku ke tempat para lelaki hidung belang. Kalau kamu mau duduk, duduk saja sendiri!" teriak Bintang menggebu-gebu. Bintang menghempaskan tangan Sheila dan segera pergi dari sana.

Namun, semesta seolah tidak berpihak pada Bintang. Saat berbalik badan, tubuhnya menabrak sesuatu yang keras. Seluruh orang yang berada di sana terkesiap.

Bintang mendongak, matanya bersih tubruk dengan pria yang lebih tampan dari lainnya. Pria itu berpotongan rapi dengan hidung mancung dan iris mata hitam legam.

Angkasa menjilat bibir bawahnya, "Hai!" sapanya.

"Mau apa, hah? Mau apa?" sentak Bintang mendorong tubuh Angkasa dengan kencang.

"Kamu mau berulah kayak lelaki-lelaki itu? Kamu pikir kamu tampan? Kamu pikir dengan menjilat bibir bawah gitu terlihat sexy? Enggak sama sekali. Kamu persis seperti penjahat kelamin!" teriak Bintang seraya menunjuk-nunjuk wajah Angkasa.

Angkasa membulatkan matanya mendengar cercaan gadis di hadapannya.

"Enyah kau dari muka bumi!" maki Bintang mendorong tubuh Angkasa kencang. Tubuh Angkasa sedikit limbung, pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya. Seumur hidup, ia baru dikatai penjahat kelamin hari ini, oleh gadis tomboy yang menarik perhatiannya.

“Apa-apaan ini? Aku nggak ngapa-ngapain,” ujar Angkasa menatap punggung Bintang yang sudah menjauh.