LNCrawler

Hubungan Tidak Baik

Bintang Milik Angkasa — gooddreamer.id · All chapters

Hubungan Tidak Baik

Bintang tersenyum seorang diri seraya menatap dirinya di cermin. Gadis itu sudah siap dengan kemeja putih, dibalut jas hitam dan rambut yang disisir rapi. Make up tipis juga ada di wajahnya. Meski perpotongan pendek, tetapi Bintang terlihat cantik dengan kulit seputih susu. Gadis itu hampir tidak pernah memakai make up, hanya saat acara tertentu dia memakainya.

“Hai Bintang, sudah siap hari ini?” tanya Bintang melambaikan tangannya di depan cermin. Bintang tengah menyapa dirinya sendiri.

Senyuman manis terus tersungging di bibirnya, hari ini Bintang akan hadir di pertunjukan seni sebagai pemain biola. Hari ini sudah lama dinanti-nanti oleh Bintang, di mana ia bisa menunjukkan pada papanya bahwa ia bisa sukses di bidang Seni.

Setelah puas mematut dirinya di cermin, Bintang menarik tas biolanya dan segera pergi dari kamar. Perempuan itu melangkahkan kakinya menuju dapur untuk mencari papanya. Bintang tinggal hanya berdua dengan papanya, sedang mamanya sudah lama meninggal.

“Pa!” panggil Bintang saat melihat papanya duduk di meja makan.

Revano mendongak, pria paruh baya yang masih tampan di usianya yang sudah berkepala empat itu pun menatap sang putri yang berpakaian rapi.

“Ada apa?” tanya Revano. Suara pria itu sangat datar, tidak pernah hangat pada putrinya.

Bintang memberanikan diri mendekati papanya, gadis itu mengambil sebuah kertas kecil dan meletakkan tepat di samping kopi sang papa.

“Aku sudah membelikan tiket untuk papa. Aku harap papa datang ke pertun-”

“Papa gak minat,” sela Revano memotong ucapan anaknya.

“Pa, tapi aku tampil,” ujar Bintang.

“Papa gak minat. Ambil kembali tiketmu!” titah Revano.

Dalam sekejap mata Bintang sudah berkaca-kaca, papanya tidak pernah sudi hadir di pertunjukan seninya. Sejak kecil papanya tidak pernah mendukung impian Bintang. Bintang suka di bidang seni musik, tetapi papanya memaksa untuk masuk kuliah di fakultas bisnis. Sejak kecil Bintang tidak akur dengan papanya, tetapi semuanya bertambah parah saat Bintang nekat masuk di jurusan seni.

“Pa, aku anak papa. Tidak bisakah sekali saja papa nyenengin aku?” tanya Bintang yang nada suaranya sudah naik beberapa oktaf.

“Memangnya kamu pernah nyenengin papa? Saat papa minta kamu kuliah di fakultas bisnis, kamu juga nggak mau. Masuk di jurusan seni adalah keputusan kamu, jangan pernah lagi memberi papa tiket seperti ini,” oceh Revano melempar tiket anaknya.

“Sudah berapa kali kamu gagal dalam musikmu? Terakhir kali kamu tampil waktu SMA, kamu malah malu-maluin satu sekolah,” tambah Revano.

“Itu sudah lama, Pa. Saat itu aku beberapa kali bolos latihan karena sakit. Sekarang aku sudah bisa, aku yakin hari ini aku gak akan buat malu siapapun lagi,” ucap Bintang memungut tiket itu, Bintang memegang tangan papanya dan memaksa papanya menerima tiketnya.

“Pa, aku mohon. Papa datang, ya. Setidaknya sekali saja!” pinta Bintang memohon. Mata gadis itu berkaca-kaca tatkala papanya sama sekali tidak peduli.

“Kamu selalu gagal dalam pertunjukanmu, kamu pikir kamu hebat dengan apa yang kamu tekuni saat ini? Nggak sama sekali, Bintang. Bahkan papa jijik kalau harus menontonmu,” ucap Revano.

“Dasar anak tidak berguna, sama seperti mamamu,” tambah Revano lagi. Pria itu menarik kursinya ke belakang dan segera pergi dari hadapan sang anak.

Air mata lolos dari kedua sudut mata Bintang. Gadis itu tidak bisa menahan air matanya lagi. Acap kali dia meminta papanya datang ke pertunjukan seni, papanya selalu menolak. Yang membuat Bintang lebih sakit lagi adalah saat papanya mengatakan kalimat jijik, tidak berguna seperti mamamu. Bibir papanya selalu mulus mengatakan hal itu, tetapi sukses membuat Bintang sakit hati.

Bintang memukul dadanya yang terasa sesak, berharap rasa sakit hati itu akan hilang. Namun, semakin ia memukulnya, semaki pula rasa sakit itu bertambah. Bintang mempunyai sosok ayah, tetapi tidak pernah melindunginya, yang ada terus menyakitinya.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Bintang mengusap air matanya yang masih menetes. Tanpa sarapan lebih dahulu, Bintang bergegas keluar dari rumahnya. Saat menuju mobilnya, Bintang menghentikan langkahnya karena ban depan mobilnya kempes. Bintang beralih menatap sang papa yang akan naik di mobil lainnya.

“Pa, aku ikut papa!” pinta Bintang bergegas menghampiri papanya.

“Papa tidak searah sama kamu,” jawab Revano.

“Pa, papa bisa mengantarku sebentar. Aku akan terlambat kalau menunggu taksi online, belum lagi nanti kalau macet,” ujar Bintang.

“Kamu punya mobil sendiri, pakai itu!”

“Pa, tapi ban mobilku kempes. Satu kali saja papa bantu aku!” Bintang memohon pada papanya. Gadis itu sudah merengek meminta belas kasihan, tetapi Revano tidak menanggapi. Revano membuka pintu mobilnya dan bergegas masuk.

Bintang membuka pintu belakang, tetapi tidak berhasil. Bintang tidak menyerah, gadis itu mengetuk kaca mobil papanya membabi buta.

“Pa, bukain, Pa. Kalau aku terlambat, semua tim akan kena marah!” pekik Bintang.

“Pa, sekali saja, Pa, Bintang mohon!” teriak Bintang lagi.

Namun, rengekan dan permohonan Bintang tidak bisa meluluhkan Revano. Pria itu memundurkan mobilnya dan pergi dari pekarangan rumahnya. Bintang mengeratkan cekalan pada tas biolanya, gadis itu mengambil hp untuk memesan taksi online. Akan tetapi tidak ada taksi yang jaraknya dekat, statusnya mengatakan untuk menunggu sepuluh menit lagi.

Bintang berlari keluar dari pekarangan rumahnya, gadis itu berlari tergesa-gesa karena jam sudah mepet. Pertunjukan diadakan jam delapan, tetapi ia harus sampai setengah delapan untuk gladi bersih. Bintang berlari menyusuri jalanan yang padat, karena jam berangkat kerja membuat jalanan macet parah.

Langkah kaki Bintang sangat lebar menapaki trotoar, keringat bercucuran di kening perempuan itu. Dandanan dari rumah yang rapi, kini sudah acak-acakan. Baru di tengah perjalanan, Bintang mendapatkan ojek. Bergegas ia meminta tukang ojek untuk mengantarnya ke kampus.

Pukul delapan kurang lima belas menit Bintang baru sampai kampus, perempuan itu berlari di koridor kampus untuk menuju ke ruang seni. Saat sampai sana, seluruh mata menatapnya.

“Oh, kamu ikut tampil?” Satu pertanyaan lolos dari bibir teman Bintang, Bunga.

“Jelas Bintang ikut lah, dari awal juga sudah latihan,” serobot Sheila segera menghampiri Bintang.

“Oh, sudah merasa hebat sampai gladi bersih saja terlambat,” sinis Bunga yang seolah ingin mencari keributan.

Bintang diam, gadis itu menghapus keringat yang bercucuran di keringatnya. Dia juga tidak ingin insiden ban kempes terjadi, tetapi itu di luar dugaannya.

“Bintang, jaga kestabilan nada, jangan sampai membuat malu satu grup!” ujar Pak Ari, guru musik mereka. Pria itu memberikan kartu nama pada Bintang.

“Baik, Pak,” jawab Bintang.

Kesempatan ini tidak datang dua kali, Bintang akan melakukannya sebaik mungkin. Papanya mungkin tidak menginginkannya, tetapi ia ingin membuat papanya bangga dengan jalannya sendiri.