LNCrawler

Taruhan

Bintang Milik Angkasa — gooddreamer.id · All chapters

Taruhan

Aula besar kampus kini sudah dipenuhi oleh ratusan orang yang hadir melihat pertunjukan seni. Pun dengan panggung megah yang sudah banyak alat musik di sana. Seluruh orang tampak antusias menantikan pertunjukan itu mulai. Namun, berbeda dengan seorang pria yang baru masuk di aula.

Semua orang berpakaian rapi, pun dengan pria itu yang memakai jas navy dan dasi senada. Angkasa mengambil duduk di bangku paling depan sesuai nomor tiket. Beberapa kali Angkasa menghela napas berat, kalau bukan demi Sean, dia tidak mau terdampar di tempat ini. Apalagi kebanyakan dari pengunjung adalah laki-laki. Kalau di sana banyak perempuan, mungkin Angkasa tidak keberatan.

Angkasa duduk dengan tenang, pria itu tertawa saat melihat Sean yang masuk ke panggung lebih dahulu.

“Itu Kak Sean, tampan sekali!” pekik seorang perempuan di belakang Angkasa.

Lalu, disusul teriakan-teriakan perempuan lainnya yang memuji ketampanan Sean. Angkasa memutar bola matanya jengah, dia yakin seratus persen kalau Sean menyuruhnya datang karena Sean ingin memamerkan pada Angkasa bahwa pria itu digandrungi banyak wanita.

Acara pertunjukan seni dimulai saat para pemain musik itu membunyikan musik masing-masing. Suara indah mengalun merdu memenuhi aula yang mengundang tepuk tangan meriah.

Lampu sorot menyorot tepat pada sang bintang, Sean. Sejak masa kuliah, Sean selalu menjadi idola anak-anak kampus. Kini meski ia sudah lulus dan bekerja, tetap aura bintangnya tidak memudar. Pertunjukan seni itu sangat indah, hingga lampu sorot menyorot tepat pada salah seorang pemain biola.

“Itu Bintang, cantik banget,” puji pria di samping Angkasa sembari menunjuk Bintang.

Pandangan Angkasa menatap tepat ke arah gadis yang ditunjuk orang asing di sampingnya. Angkasa terpaku di tempatnya, gadis itu adalah gadis yang sama yang menyebutnya penjahat kelamin tadi malam.

“Bintang, i love you!” Suara teriakan-teriakan dari para lelaki pun saling bersahutan menyoraki Bintang.

Angkasa tidak bisa berpaling dari perempuan itu. Tangan yang menggesek biola terlihat sangat piawai, beberapa kali gadis itu memejamkan matanya seolah menikmati alunan musik yang sangat merdu.

Angkasa terus mendengar orang-orang yang memuji Bintang, mengatakan Bintang cantik dan pujian lainnya. Angkasa rasa Bintang adalah primadona di kampus ini.

Bintang memejamkan matanya seraya menggesek biolanya mengikuti irama dari pemandu. Tangan Bintang bergetar hebat karena deg-degan, saat matanya terbuka, Bintang melihat banyaknya orang yang hadir di sana. Di barisan depan, Bintang melihat mama Sheila yang membawa bunga. Pun dengan beberapa orang tua temannya yang turut hadir seraya membawa bunga masing-masing di tangan.

Air mata Bintang tanpa sadar menetes, sedih, iri, dan kecewa menjadi satu di hati Bintang. Sedih saat papanya tidak mau datang, dan iri pada teman-temannya. Kecewa karena seberapa keras usaha yang ia lakukan, ia tidak pernah mendapat perhatian dari papanya.

Mata Bintang bersih tubruk dengan seorang pria tampan, pandangan keduanya saling mengunci satu sama lain. Tiba-tiba Bintang merasa ada yang menginjak kakinya.

“Akhh ….”

Bintang memekik kecil saat kakinya diinjak kencang dengan sepatu berhak. Irama musik yang semula merdu, kini hancur karena satu kesalahan. Biola yang digesek Bintang pun jadi fals dimana sangat terdengar jelas.

Seluruh orang yang tadi menyoraki dengan penuh pujian, kini menjadi sebuah sorakan penuh hinaan. Pertunjukan orkestra yang berjalan lancar, kini menjadi ricuh. Seluruh orang menatap Bintang sang pembuat ulah. teman-teman satu panggung pun mulai menghardik Bintang dengan tatapan matanya.

“Huuu ….” Suara sorakan itu membuat malu seluruh tim orkestra. Di mana wajah mereka yang dipertontonkan harus mendapatkan malu.

“Maaf,” bisik Bintang pada teman-temannya.

Pertunjukan itu pun usai diiringi sorakan dan tawa mengejek. Seluruh tim orkestra meninggalkan panggung. Wajah Bintang sudah memerah, pun dengan matanya yang berkaca-kaca.

“Bintang!” panggil Pak Ari menyuruh Bintang menghadap. Bintang pun mendekat dengan takut-takut. Seluruh teman-temannya pun langsung mengerumuni.

Pak Ari menarik kasar biola yang dipegang Bintang, tanpa rasa bersaah pria itu membanting biola bintang dengan kencang.

Brakk!

Suara dari biola yang terbentur lantai sangat keras, membuat seluruh orang terkesiap.

“Sudah berapa kali aku mengatakan untuk tidak membuat malu, hah?” bentak Pak Ari menggebu-gebu. Bintang menunduk dalam.

“Kamu sudah latihan lama, aku dan teman-temanmu juga sudah berbaik hati mengijinkan kamu ikut tim untuk tampil. Tapi apa yang kamu lakukan hari ini? Gladi bersih tidak ikut, saat di panggung membuat malu satu tim. Gara-gara kamu, semuanya rugi, Bintang!” teriak Pak Ari lagi.

“Maaf,” cicit Bintang.

“Di barisan penonton banyak investor yang siap berinvestasi dengan grup orkestra kita. Gara-gara kamu, mereka mundur melakukan investasinya. Kalau sudah begini, siapa yang akan tanggung jawab, hah?” Pak Ari terus menghardik Bintang.

Bintang seolah dihakimi karena kesalahan yang berat. Pak Ari memarahinya habis-habisan, sedang teman-temannya turut menghinanya.

“Maafkan aku, Pak. Aku tidak sengaja,” ucap Bintang. Yang dikatakan Bintang benar adanya, kalau kakinya tidak diinjak, ia tidak akan berteriak dan kehilangan kestabilan nadanya.

“Saat kamu berada di atas panggung, seratus persen kamu harus siap. Sekarang sampai dua bulan kedepan, kamu gak boleh ikut latihan atau pertunjukan apapun lagi,” ujar Pak Ari menarik kartu nama di leher Bintang dengan kencang. Bintang tersentak, seketika lehernya langsung sakit karena ulah orang itu.

“Dasar tidak berguna!” maki Bunga mendorong bahu Bintang.

Sheila menepis tangan Bunga kasar, “Lo jauh gak berguna!” maki Sheila.

“Lo pikir gue gak tahu kalau lo yang menginjak kaki Bintang? Dasar brengsek!” maki Sheila lagi.

Namun, apa yang Sheila katakan dianggap angin oleh teman-teman mereka. Mereka tidak peduli, karena bagi mereka, tetap Bintang lah yang salah. Bintang menunduk, menatap kakinya yang merah karena ulah Bunga. Bintang merasa tidak pernah punya salah apapun pada Bunga, tetapi Bunga selalu membuat ulah dengannya.

“Sean, gadis itu cantik,” bisik Angkasa menyenggol lengan Sean yang berdiri sambil menatap Bintang.

“Memang, meski dia korban bully para perempuan, tetapi dia primadona di hati para laki-laki,” jawab Sean.

“Kenalin gue sama dia!” pinta Angkasa.

Sean tertawa mendengar ucapan Angkasa, “Lo mau kenalan sama dia? Yang ada diajak duel di lapangan. Gadis itu terlalu dingin untuk lo yang panas,” oceh Sean.

Angkasa mengangguk-angguk, Sean tidak tahu saja kalau semalam Angkasa sudah jadi korban dari gadis itu. Semalam Bintang mendorongnya dan mengatakan dia penjahat kelamin. Padahal perempuan di luaran sana yang memuji Angkasa.

“Gue pasti bisa dapetin gadis itu,” ucap Angkasa yakin.

“Gak akan bisa. Mending lo lupain aja gadis itu. Lo lupa kalau selera lo gadis yang tinggi kayak model, sexy, dan menonjol kanan kiri. Gadis itu tipis, bukan selera lo,” kata Sean.

“Dan lagi, saat lo deketin dia, saingan lo satu kampus. Dia juga terlalu kaku, gak asik untuk ukuran cewek,” tambah pria yang berprofesi sebagai CEO itu.

“Gue bisa buat Bintang itu jatuh cinta!” kata Angkasa.

“Bintang gak akan jatuh cinta,” elak Sean.

“Mau taruhan?” tanya Angkasa menaikkan sebelah alisnya.

“Jangan bercanda!” tegur Sean.

“Dalam dua bulan gue pastikan gue bisa dapetin gadis itu. Mulai dua bulan dari sekarang, gue dan Bintang pasti bisa pacaran,” ujar Angkasa.

“Kalau lo berhasil dapetin Bintang, gue kasih saham dua puluh lima persen Adiyaksa Group. Kalau lo gak bisa, mobil sport milik lo jadi milik gue,” ucap Sean.

Angkasa mengulurkan tangannya yang langsung disambut Sean, “Deal,” ucap keduanya tersenyum.