Pria Perkasa
“Bintang, kamu gak apa-apa, Kan?” tanya Sheila menatap kaki Bintang yang memerah.
“Nggak apa-apa,” jawab Bintang. Meski di bibirnya mengatakan tidak apa-apa, Bintang merasa kakinya lumayan sakit. Bahkan saat ini kakinya memerah.
“Dasar si Bunga bangkai, sehari saja gak cari masalah sama kamu apa gak bisa. Awas saja setelah pulang dari kampus, aku tabrak dia kayak kemarin,” omel Sheila menggebu-gebu.
“Eh jangan, kamu bisa masuk ke kantor polisi lagi!” tegur Bintang.
“Gak peduli. Mau masuk ke kantor polisi atau nusa kambangan sekalipun, asal aku bisa nabrak tuh bocah, pasti aku lakukan,” ucap Sheila menggebu-gebu. Soal menabrak Bunga, Sheila benar-benar melakukannya. Dulu dia menabrak Bunga karena Bunga menghina Bintang. Alhasil, Sheila sampai dilaporkan ke polisi. Untung saja permasalahan berlangsung damai karena Bunga tidak terluka.
“Udah udah gak apa-apa.”
“Gak apa-apa bagaimana, sih? Gara-gara dia, kamu jadi kena salah sama Pak Ari. Pak Ari juga gak bijaksana, main lempar biola orang saja. Memangnya dia pikir beli tidak pakai uang.” Sheila masih memaki menggebu-gebu. Perempuan itu sangat kesal saat temannya diperlakukan tidak adil.
“Sheila,” panggil seorang perempuan membuat Sheila menoleh.
Sheila mendapati perempuan paruh baya yang masih cantik di usianya yang sudah berkepala empat. Di tangan perempuan itu membawa satu buket bunga mawar.
“Ibu,” pekik Sheila menghampiri ibunya. Perempuan itu memeluk sang ibu dengan erat.
Dara tersenyum mendapat pelukan anaknya, “Penampilan kamu sangat hebat,” puji Dara pada sang anak.
Bintang tercenung menatap itu, hal yang tidak pernah dia dapatkan adalah pelukan orang tuanya. Melihat Sheila yang dibawakan dan mendapat pujian dari ibunya membuat Bintang iri. Gadis itu berbalik, Bintang memilih meninggalkan Sheila karena tidak ingin mengganggu sahabatnya.
Bintang bersandar di tembok belakang kampus. Perempuan itu ingin cepat pulang dari sana, tetapi masih ramai orang berlalu lalang. Bintang menengadahkan kepalanya ke atas, menghela napasnya berkali-kali.
“Bunga yang manis untuk orang yang manis.” Sebuah suara pria mengalun tepat di telinga Bintang. Bintang membuka matanya, sebuah buket bunga yang sedikit acak-acakan tepat berada di hadapannya.
“Bunga glory biru bermakna perhatian dan kasih sayang, serta bunga lavender bermakna kesetiaan. Saat pertama mengenalmu, aku ingin mencurahkan kasih sayangku untukmu, dan setia kepadamu saja,” ujar Angkasa. Pria itu mengedipkan sebelah matanya menggoda pada Bintang.
“Cuih!” maki Bintang segera pergi dari sana.
Namun, Angkasa tidak menyerah, pria itu mengejar Bintang dan menghadang gadis itu, “Bunga ini untukmu,” ucap Angkasa.
“Aku gak butuh,” jawab Bintang.
“Ini bunga bagus, ini-”
“Dari mana kamu mendapatkan bunga itu, hah? Jadi cowok modal dikit, kek. Bunga glory ini ada di taman kampus, dan bunga lavender juga ada di depan. Bawa aja bunga itu pulang buat ngusir nyamuk,” oceh Bintang menyela ucapan Angkasa.
Angkasa terkesiap, seketika pria itu menggaruk pipinya yang tidak gatal. Memang bunga itu dia ambil asal dari taman kampus.
“Setidaknya hargai usahaku, ini bunga cukup bagus,” desak Angkasa memberikan bunga pada Bintang.
“Usaha apanya? Kayak gini usaha? Kenapa gak sekalian bunga bangkai?”
“Kamu mau bunga bangkai? Di kebun raya bogor ada, nanti aku-”
“Dasar pria aneh,” maki Bintang segera pergi dari hadapan Angkasa.
“Kamu tidak mengingatku?” tanya Angkasa membuat Bintang menghentikan langkahnya. Bintang menatap wajah Angkasa seksama, Bintang merasa tidak asing dengan pria itu.
“Ingat, kan? Rugi banget kalau kamu gak ingat pria tampan sepertiku.” Angkasa menyugar rambutnya, bertingkah sok keren di hadapan Bintang.
“Nggak penting ingat kamu,” jawab Bintang.
“Eh tunggu!” Angkasa mencekal tangan BIntang, pria itu memaksa sang gadis untuk menatapnya.
“Ayo ingat-ingat lagi. Kita pernah bertemu sebelumnya,” ucap Angkasa. Pria itu sungguh percaya diri, memaksa Bintang untuk mengingatnya.
“Klub malam,” ucap Angkasa lagi.
Mata Bintang membulat saat mengingat Angkasa adalah pria yang kemarin hampir dia ajak berantem.
“Dasar penjahat kelamin, kenapa kamu di sini, hah?” teriak Bintang memukuli tubuh Angkasa.
“Dasar tidak tahu diri, penjahat, suka godain wanita, rasakan ini!” teriak Bintang lagi.
Bugh!Jrot!Tak!Pukulan, tinjuan dan tendangan Bintang berikan pada Angkasa. Angkasa memekik meminta ampun pada Bintang. Namun, Bintang tidak ada niatan untuk menghentikan kegiatannya. Semalam adalah pengalaman buruk bagi Bintang, berada di klub malam dan bertemu banyak pria hidung belang.
“Penjahat kelamin, kamu mau menguntitku, hah?” sentak Bintang.
Angkasa menarik kedua tangan Bintang dan menahan ke belakang tubuh gadis itu, kini Bintang tidak berkutik karena ulah Angkasa.
“Lepasin!” titah Bintang menatap Angkasa tajam.
“Sekarang giliranku, Nona,” ucap Angkasa tersenyum penuh kemenangan.
“Apa yang kamu lakukan” tanya Bintang yang mulai takut saat Angkasa mendekatkan wajahnya.
“Menurutmu apa yang bisa dilakukan penjahat kelamin sepertiku?” tanya Angkasa menaikkan sebelah alisnya.
“Apa-apaan, lepasin!” Bintang memberontak dari kuncian tangan Angkasa, tetapi dia kalah tenaga.
Bintang terlihat cantik saat dilihat dari kejauhan, tetapi gadis itu berkali-kali lipat lebih cantik saat dilihat dari dekat. Angkasa menatap lekat wajah Bintang, cantik dengan polesan make up tipis.
“Kenalin, namaku Angkasa. Namamu Bintang, bukan?”
“Aku tidak butuh kenalan sama pria sepertimu. Gak penting!”
“Tapi aku akan menjadikannya penting,” jawab Angkasa.
“Apa maksudmu?”
“Lihat wajahku! Seluruh wajahku lebam karena ulahmu. Kamu harus tanggung jawab!”
“Dasar lemah, aku hanya menonjokmu pelan, tapi kamu sudah mengeluh,” sinis Bintang.
Angkasa tersenyum kecil, pria itu menahan dua tangan Bintang dengan tangan kirinya, bahkan pria itu mendorong tubuh Bintang hingga gadis itu terhimpit tembok. Bintang terus memberontak, tetapi Angkasa tidak membiarkan Bintang kabur. Angkasa sudah ditonjok berkali-kali oleh Bintang, sekarang giliran Angkasa yang mendominasi.
Tangan Angkasa dengan lancang merogoh saku jas Bintang untuk mengambil hp Bintang. Bintang berteriak tidak terima, privasinya sudah diganggu oleh Angkasa.
“Apa yang kamu lakukan dengan hpku, hah? Jangan aneh-aneh!” teriak Bintang.
Angkasa mengotak-atik hp Bintang yang tidak terkunci, pria itu memasukkan nomornya sendiri, tidak lupa ia mengirimkan pesan ke nomornya agar nanti bisa dia simpan. Dalam hati Angkasa tersenyum puas, hanya mendapatkan mangsa kecil, tidak sulit melakukannya.
Dari kejauhan, Sean menatap Angkasa, pun dengan Angkasa yang menatap ke arah temannya, “Aku mendapatkannya,” ucap Sean dalam hati.
Dugh!“Akhhh!”
Angkasa tersungkur ke lantai tatkala Bintang menendang tubuh bagian bawahnya dengan kencang. Angkasa meringis kesakitan, sedangkan Bintang segera menarik hp dari tangan pria itu.
“Bintang, kenapa kamu menendangku?” pekik Angkasa tidak terima. Angkasa berguling-guling di lantai saking sakitnya pusat tubuhnya.
“Hakikatnya pria itu perkasa, tapi kamu nggak sama sekali. Saat aku tonjok sedikit saja sudah mengeluh. Sekalian aku hancurin pusat keperkasaan kamu,” ucap Bintang menatap tajam Angkasa. Bahkan gadis itu mengangkat kakinya tinggi-tinggi dan ingin menginjak tubuh bawah Angkasa
“Aaaaa … Bintang, ampun!” teriak Angkasa sekuat tenaga.