LNCrawler

Korban Keganasan

Bintang Milik Angkasa — gooddreamer.id · All chapters

Korban Keganasan

“Awww sakit banget,” adu Angkasa pada Sean. Pria itu berjalan tertatih-tatih sembari memegangi pusat tubuhnya.

Bintang benar-benar kurang ajar, Bintang menginjak pusat bawahnya dengan kencang. Untungnya tidak sepenuhnya mengenai benda pusaka turunan kakek moyangnya. Injakan Bintang mengenai paha atasnya dan kesenggol dikit sama sang pusaka.

“Lo sih aneh-aneh, gue kan sudah bilang kalau gadis itu gak suka didekati laki-laki,” ucap Sean membantu Angkasa berjalan.

“Sakit banget, kalau ternyata putus bagaimana?” rengek Angkasa lagi. Sadar akan apa yang dia ucapkan, Angkasa segera menatap tubuh bawahnya. Pia itu berubah jadi panik, Angkasa ingin menurunkan reseting celananya. Namun, tangannya ditepis oleh Sean.

“Lo mau buka-bukaan di sini?” tanya Sean melotot.

“Mau ngintip dikit,” jawab Angkasa.

Sean menarik napasnya dalam-dalam, mencoba menyetok lagi kesabarannya saat menghadapi Angkasa. Ngintip sih ngintip, tetapi tidak di tempat umum juga. Yang ada Angkasa akan mendapatkan cap pria mesum.

“Gue takut kalau putus,” ujar Angkasa.

“Kalau putus diganti tytyd sapi,” jawab Sean menarik paksa tubuh Angkasa untuk pulang. Pasalnya Sean ingin nebeng Angkasa karena tadi dia naik taksi.

Angkasa masih berjalan tertatih-tatih, Angkasa bertekad dalam hati, setelah ini dia tidak akan melepaskan Bintang. Malu rasanya dia diperlakukan seperti ini dihadapan Sean. Tadi setelah Bintang menginjaknya, Bintang langsung kabur, sedangkan Sean berlari menolongnya.

Harga diri Angkasa runtuh diinjak-injak oleh Bintang. Selama ini Angkasa sudah berpetualang dengan banyak wanita. Angkasa juga tahu berbagai jenis wanita, ada yang sok polos, baik, suka menggoda, perhatian dan berbagai jenis lainnya. Namun, yang seperti Bintang baru Angkasa temui satu orang.

“Seumur-umur gue kenal wanita, pasti wanita itu akan melemparkan tubuhnya suka cita buat gue sentuh. Tapi ini orang, malah menendangku,” oceh Angkasa menggebu-gebu.

“Gue kan sudah bilang kalau dia begitu. Lo sih ngeyel,” jawab Sean.

“Gue kirain hanya cuek doang, ini namanya sudah masuk kekerasan. Kalau sampai tuh bocah menikah, pasti suaminya jadi suami-suami takut istri,” ujar Angkasa.

“Lo sendiri yang minta taruhan, lo harus selesaikan ini.”

“Ya, hanya sekadar taruhan. Kalau untuk beneran, gue gak sudi. Kalau di dunia ini hanya ada satu cewek yang tersisa, gue pilih menjomblo seumur hidup,” oceh Angkasa seraya membuka pintu mobilnya.

“Dia juga belum tentu mau sama lo,” ucap Sean menjitak kepala belakang temannya.

Angkasa memasuki mobilnya dan membanting pintu dengan kencang. Area sensitifnya cenat-cenut membuat Angkasa kesal. Daripada diinjak, padahal lebih baik kalau dielus. Namun, Bintang memang bukan sembarang gadis.

Berbeda dengan Angkasa yang marah-marah di mobil, Bintang tengah berada di halte bus yang berada di samping kampus. Perempuan itu mengusap biolanya yang satu senarnya terlepas, juga sudut badan biola itu terlihat rusak. Biola itu sudah berumur belasan tahun karena itu biola milik mamanya.

Bintang selalu menjaga peninggalan mamanya, tetapi hari ini dia tidak bisa menjaganya. Biola yang sangat dia sayangi harus rusak seperti ini.

“Ma, maafin Bintang,” ujar Bintang dalam hati. Perempuan itu mencoba menyambungkan lagi senarnya, tetapi tidak bisa karena senar yang putus menjadi pendek.

Sebuah mobil berhenti tepat di depan Bintang, Bintang mendongak, seorang pria paruh baya yang sangat dia kenal turun dari sana.

“Pa,” panggil Bintang. Senyum tersungging di wajah Bintang, Bintang yakin kalau papanya datang untuk memberinya selamat atas penampilannya tadi.

“Ikut papa!” Revano menarik tangan Bintang, tetapi Bintang menahan tubuhnya.

“Mau kemana, Pa?” tanya Bintang.

“Ke kantor. Sudah cukup kamu main-main dengan masa depan kamu, Bintang. Kamu hanya buat papa malu dengan penampilan kamu. Sekarang ke kantor, dan papa akan mengajarimu bisnis,” ujar Revano.

“Aku nggak mau,” jawab Bintang.

“Mau nggak mau, dan suka tidak suka, kamu harus ikut papa!” sentak Revano.

“Aku mau ke makam mama, Pa,” rengek Bintang mencoba menarik tangannya dari cekalan papanya.

Revano menatap anaknya tajam, tangannya semakin erat mencekal Bintang. Hari ini wajah Revano seolah disayat-sayat dengan pisau tatkala kolega bisnisnya membicarakan anaknya yang tampil di pertunjukan seni, tetapi gagal membawakan lagu. Seluruh orang kantor membicarakan Bintang, image Bintang dan image Revano dipertaruhkan

“Buat apa kamu ke makam mama kamu? Berkali-kali pun kamu datang, mama kamu gak akan hidup lagi,” ucap Revano dengan kejam.

“Pa, meski begitu mama tetaplah mamaku dan istri papa.”

“Papa tidak peduli, cepat masuk!” titah Revano menarik anaknya dengan paksa. Pria itu ingin membawa anaknya ke kantor untuk dia ajari berbisnis. Percuma anaknya terus berada di seni musik kalau hanya membuat malu.

Bintang mendorong tubuh papanya dengan kencang membuat tubuh belakang Revano membentur mobil.

“Papa gak mengerti apa yang aku inginkan, papa selalu menyuruhku ini dan itu tanpa memperdulikan perasaanku. Sekarang papa bilang malu kalau aku sudah gagal dalam pertunjukan seni tadi. Apa papa tidak bertanya kenapa aku gagal? Saat di atas panggung, aku menatap seluruh orang tua temanku yang datang membawa bunga untuk anak mereka. Sedangkan aku? Jangankan bunga, kehadiran papa yang selalu aku tunggu saja tidak ada,” cerca Bintang bertubi-tubi.

“Jangan hanya menuntut seorang anak untuk memenuhi keinginan orang tua, tapi pernah gak papa menuruti apa yang aku inginkan? Nggak sama sekali, Pa,” tambah Bintang lagi. Bintang sudah lelah bertengkar dengan papanya, tetapi papanya selalu mencari ribut dengannya.

Revano menatap biola yang tergeletak di bawah, dimana biola itu rusak bagian sudutnya. Tanpa sepatah kata, Revano segera memasuki mobilnya dan membanting pintunya kasar.

Pria itu mengambil hp di dashboard mobilnya, menghubungi Arham, sekretarisnya. Satu kali panggilan, Arham mengangkat panggilannya.

“Halo, ada yang bisa saya bantu?” tanya pria di seberang sana.

“Belikan biola untuk anak saya!” titah Revano.

“Baik,” jawab Arham.

Revano mematikan sambungan teleponnya, pria itu menatap anaknya yang saat ini memungut biola yang sudah rusak. Tanpa mengajak anaknya lagi, Revano segera menjalankan mobilnya menjauh dari halte bus.

Bintang memasukkan kembali biola ke tasnya, tidak peduli apapun hambatan yang dilaluinya. Tidak peduli meski papanya mengatakan berkali-kali kalau dia tidak akan berhasil, tetapi Bintang tidak akan menyerah pada impiannya.

Bus yang tidak kunjung datang membuat Bintang memilih berjalan kaki, gadis itu sedikit berlari kecil untuk menuju tukang ojek yang berada di ujung jalan.

Tin tin!

Suara klakson mobil membuat Bintang menoleh, kaca mobil itu perlahan turun, memperlihatkan dua pria di dalamnya.

“Bintang kecil, butuh tumpangan?” tanya Angkasa menggoda.

“Nggak,” jawab Bintang ketus.

“Aku tidak keberatan kalau kamu naik. Yang penting naik mobilku, bukan naik tubuhku,” ujar Angkasa lagi.

Bintang mengetatkan rahangnya keras, ucapan Angkasa sangat mesum membuatnya kesal. Bintang menoleh ke tumbuhan di sampingnya, buru-buru Bintang memetik beberapa bunga kantil dan melemparnya tepat ke mobil Angkasa hingga bunga kecil-kecil itu mengenai tubuh pria itu.

“Nih bunga kantil biar kamu gak mesum lagi. Kalau pun mesum, sama kuntilanak sana. Karena bunga itu bunga pemanggil kunti,” ujar Bintang yang tidak bisa santai sama sekali.

“Ini bunga kantil bukan pemanggil kunti, tapi bunga kantil yang bisa buat aku makin terkintil-kintil sama kamu,” jawab Angkasa.