Apa Aku Kurang Sabar?
"Wit, beliin pulsa untuk Sely seratus ribu dong!" titah Mas Andre dengan entengnya.
"Loh, bukanya baru empat hari yang lalu aku sudah membelikan dia pulsa seratus ribu juga loh, Mas. Masak sih sekarang sudah habis?"
"Banyak omong banget sih! Perintah suami itu mutlak harus kamu lakukan! Jangan lupa transfer juga uang satu juta untuk Ibu. Dia mau ke mall sama Sely. Cepat nggak pakai lama!"
"Mas, kamu tahu kan jika saat ini toko yang aku bangun ini baru merintis dan masih sepi? Jika terus menerus kita peras, kapan sih akan berkembang?" Kali ini aku mulai sedikit meradang.
Mas Andre yang tadi sudah akan beranjak pergi, kini kembali menoleh padaku. Seperti biasa dia akan menunjukkan wajah garangnya. Sesuatu hal yang selalu dilakukan ketika aku protes terhadap sebuah perintahnya.
"Kamu tadi bilang apa? Sudah berani kamu berkata seperti itu? Mau menolak perintahku?"
Mas Andre mengangkat tangannya ke atas dan telah siap untuk menampar aku. Aku pun dengan cepat berdiri dan menghalau tangan itu. Kini mata kami saling beradu.
"Wiwit! Mau jadi istri durhaka kamu!"
"Mulai kali ini aku tak akan membiarkan tangan kamu itu menyakitiku, Mas! Tidak akan!"
Kedua tangan Mas Andre kali ini pun mengepal sempurna, sepertinya antara kaget dan sangat emosi itu yang kali ini dia rasakan. Karena memang selama dua tahun menikah aku belum pernah seperti ini sebelumnya.
"Kenapa kamu diam saja, Mas?! Kaget?" Melihatnya diam membuatku semakin geram saja.
Mas Andre mendengus kasar kali ini,"cepat belikan pulsa untuk Sely!"
Entah apa yang saat ini ada dalam pikiran suamiku itu, hingga dia pun kini langsung menyelonong pergi begitu saja. Satu yang pasti, dia pasti akan sangat marah padaku. Terserahlah, mungkin memang sudah saatnya aku bangkit dari semua keterpurukan ini.
Seperti biasa Mas Andre akan langsung pergi menuju ke teras atau ruang keluarga, untuk apa lagi jika tidak untuk meneruskan bermain game online. Suami yang sungguh tak bertanggung jawab. Jika saja tak karena wasiat dari almarhum Ayah, maka sudah dari dulu aku meninggalkan dia dan keluarganya yang benalu itu.
***
"Mbak, mana kok belum juga dibelikan pulsa sih? Aku ini butuh banget loh! Atau kalau kamu memang lagi malas ya sudah berikan mentahannya saja!"
Tanpa ada sedikit pun sopan santun, adik cantik Mas Andre ini selalu meminta segala hal padaku dengan seenak hati. Seperti kali ini ketika aku tengah melayani pembeli. Tetapi kurasa tetangga sekitar pun tahu kelakuan Sely ini.
"Uangnya lima puluh ribu, total belanjaan tadi empat puluh ribu jadi kembaliannya sepuluh ribu ya, Mbak. Terima kasih,” ucapku dengan ramah pada Mbak Dara, salah satu tentangga yang kini sedang berbelanja ke tokoku.
Mbak Dara pun menerima uang kembalian itu. "Sama-sama Mbak Wit."
"Mbak Wit! Dengar nggak sih apa yang aku katakan dari tadi? Bukannya segera dilakukan eh malah sibuk sendiri!" Sely menegaskan lagi perintahnya, meski pembeliku itu belum keluar dari toko.
"Sely! Bisa nggak sih kamu itu kalau ngomong sama orang yang lebih tua pakai sedikit sopan santun?" Kali ini emosiku langsung saja terpantik.
"Jangan banyak ngomong deh, sudah cepat sini uangnya biar aku beli sendiri pulsa di luar! Lelet banget." Seperti biasa, Sely berucap tanpa sopan santun.
Sely adalah seorang gadis muda yang sangat cantik dari penampilannya dia sangat lembut, tetapi memang semua itu berbanding terbalik dengan kelakuannya. Entah siapa yang salah dalam hal pengasuhan, hingga membuat dia sepertinya sama sekali tak punya sopan santun.
"Nggak ada uang pulsa! Kemarin kan sudah aku belikan. Jangan boros-boros lah. Itu jatah untuk satu bulan, kalau sekarang sudah habis, ya sudah terserah kamu!" teriakku.
Segera aku mengunci laci tempat penyimpanan uang dan menaruh kuncinya di saku, lalu duduk dengan santainya. Mata cantik Sely membulat sempurna demi mendengar apa yang baru saja aku katakan itu. Karena memang aku pun sama sekali belum pernah membentak dia sebelumnya.
"Jangan pelit dong, Mbak! Aku adukan loh sama Mas Andre!" Wajah cantik itu terlihat makin kesal.
Kini aku tersenyum tipis. "Begitu ya? Silahkan. Mau adukan pada Mas Andre atau mau adukan sama Ibu pun terserah, silahkan saja. Tetapi tetap satu yang pasti, mulai saat ini jatah uang pulsa kamu tiap bulan hanya seratus ribu, jika di awal bulan seperti ini sudah habis, ya itu urusan kamu! Mengerti?!"
Sely menggeram sempurna saat ini, "awas ya kamu, Mbak! Aku akan laporkan semua ini pada Mas Andre! Siap-siap saja dia pasti akan memukuli kamu!"
Aku hanya tersenyum makin lebar saja saat ini, sebagai suatu tanda mempersilahkan jika dia melakukan ancaman itu. Ancaman yang biasanya pasti membuat aku ciut dan langsung menuruti apa yang dia mau. Istri mana sih yang tak merasa takut jika memang sang suami sangat ringan tangan?
Adik ipar cantikku itu pun segera berlalu dari sini, tentu saja kali dia sudah pasti akan mengadu pada pada ibu mertua dan Mas Andre, terserah saja apa yang akan dia lakukan. Hari ini mereka akan melihat seorang Wiwit yang berbeda.
***
"Dre, si Wiwit itu sudah mulai berani berontak loh sepertinya. Tuh tadi saja Sely dia pun tak mau memberikan uang pulsa." Suara ibu mertua terdengar manja pada anaknya itu, khas sekali saat mereka menginginkan jika Mas Andre menghukumku.
"Iya, Mas. Malah dia itu sudah berani mengancam dan membentak aku loh. Sebel deh! Apa lagi tadi itu kan sedang ada pembeli, malu dong aku!" timpal Sely yang tak sesuai dengan kenyataan.
Saat ini aku hanya tersenyum dari balik tembok ruang keluarga, mendengarkan perbincangan keluarga benalu itu. Mereka pasti saat ini tak sadar jika aku tengah menguping. Aku memang telah menutup toko, rencananya kali ini aku memang ingin istirahat sebentar. Entah kenapa rasanya sejak pagi lemas dan ingin muntah saja.
"Ya, Wiwit hari ini itu memang nampak berbeda sekali. Tadi pagi dia pun sudah berani menatapku dan juga bicara dengan keras." Mas Andre nampak menjawab sambil masih memainkan ponselnya.
"Sudah jadi istri durhaka ternyata dia itu, Ndre. Saran ibu sih beri pelajaran dia agar tak berani sama suami, kalau perlu hajar sampai dia mau mengerti dan minta maaf. Istri kok nggak punya sopan santun kayak gitu sih!" Suara ibu mertua itu terdengar sangat kesal sekali.
"Iya, Mas. Beri pelajaran atau pukul dia itu. Beraninya dia menolak apa yang aku mau." Si ular kecil itu pun ikut menambah panas suasana saja.
"Mulai saat ini bilang padanya jika uang hasil toko biar ibu atau kamu saja yang pegang. Biar dia itu nggak makin ngelunjak. Ingat Ndre, semua yang dimiliki oleh Wiwit itu adalah mutlak milik kamu, dan dia harus menyerahkan semua uangnya pada kamu loh. Jangan jadi suami lemah!" Ibu mertuaku berkata dengan lantang.
Apa? Perintah macam apa itu?