Sedikit Perlawanan
"Mulai saat ini bilang padanya jika uang hasil toko biar ibu atau kamu saja yang pegang. Biar dia itu nggak makin ngelunjak. Ingat Ndre, semua yang dimiliki oleh Wiwit itu adalah mutlak milik kamu, dan dia harus menyerahkan semua uangnya pada kamu loh. Jangan jadi suami lemah!" Bu Dewi berkata dengan sok benar.
Apa menurut kalian apa yang dikatakan oleh ibu mertuaku itu benar? Bahwa semua harta dan uang yang dimiliki istri itu mutlak milik suami? Halo ... Apa aku tak salah dengar? Benar-benar keluarga yang toxic ternyata.
"Benar itu Mas. Selama ini kan kamu bekerja dan selalu memberikan uang belanja buat dia. Nah, meski sudah enam bulan kamu nggak bekerja, harusnya Mbak Wiwit itu memberikan semua uang itu kepada kamu dong. Pasti ada uang kamu juga disana!" timpal Sely.
"Kalian memang benar, sepertinya selama ini aku memang terlalu sabar pada Wiwit. Mulai sekarang akan lebih tegas pada dia biar tak kurang ajar lagi!" Suara Mas Andre terdengar berat saat ini.
Seorang suami yang notabene memang adalah seorang kepala rumah tangga, harusnya tak lembek seperti ini dong. Dia harus bisa memilih dan memilah mana yang benar dan mana yang salah. Tetapi mau bagaimana lagi, memang sejak dulu Mas Andre ini seorang anak mama. Apa yang diucapkan oleh sang ibu, mutlak menjadi benar meski mungkin itu salah.
"Ehemmm ... Aku mau tidur dulu ya, Mas. Enak mungkin ya tidur siang begini sebentar." Aku pun akhirnya keluar dari tempat persembunyianku dan melewati ruang keluarga tempat para keluarga toxic itu tengah asyik berbincang. Karena memang rasanya badanku ini lemas sekali, toh aku pun bisa menebak apa lagi yang akan mereka katakan tentang aku selanjutnya.
"Wiwit! Apa benar kamu tadi tak memberikan uang pulsa pada Sely!" Seperti yang telah kuduga sebelumnya, kini Mas Andre telah berdiri tepat di depanku dengan wajah yang marah.
Aku pun mengangguk sambil tersenyum,"yup itu memang benar sekali, Mas! Kenapa memangnya?"
"Tuh kan, Mas. Dia itu sudah kurang ajar sekali sekarang. Malah jawab sambil tersenyum. Padahal aku tadi lihat di laci itu banyak loh uangnya! Benar kan?" Sely si tukang drama pun semakin membakar api kemarahan sang kakak.
"Benar sekali. Alhamdulillah hari ini toko memang sedang laris. Ya biasa lah awal bulan sedang banyak uang karena habis gajian," jawabku dengan enteng.
"Mas Andre dengar sendiri bukan. Toko itu sedang rame, kenapa dia tak mau memberikan uang pulsa yang hanya seratus ribu itu saja?" Sely pun kembali merengek di lengan Mas Andre.
Mas Andre memandang lekat padaku. "Sekarang juga cepat belikan pulsa untuk Sely. Sekalian berikan uang untuk ibu juga! Atau kalau tidak aku akan memukulmu!"
Sekilas aku bisa melihat senyum kemenangan di wajah ibu mertua dan juga Sely. Hal yang selalu aku lihat ketika pertengkaran besar akan terjadi antara aku dan Mas Andre. Yang memang biasanya berakhir dengan tindakan KDRT dan aku yang menangis sembari menuruti apa yang mereka mau.
Eits ... tapi itu dulu, dan sekarang ini tak akan pernah terjadi lagi. Kupastikan itu. Dulu aku memang lemah dan terus mengalah, sebuah kebo**han yang sangat aku sayangkan saat ini.
Kuhembuskan nafas kasar dan kembali berucap. "Maaf ya, Mas. Sama seperti yang aku bilang tadi pagi dan masih sama juga dengan apa yang aku katakan pada Sely. Tak ada lagi uang untuk itu, Ok?! Tiap bulan Sely hanya akan mendapatkan jatah pulsa seratus ribu. Dan, bukankah awal bulan kemarin ibu juga baru saja meminta uang dua juta? Ini baru tanggal lima loh, masak iya sudah habis? Buat apa? Seharusnya uang itu cukup buat satu bulan, karena semua keperluan sudah aku penuhi."
Kali ini aku menyilangkan tangan di depan dada, dan dengan setenang mungkin aku mengatakan semua ini panjang lebar.Pernyataan yang pasti tak pernah mereka duga sebelumnya.
"Hey Wiwit! Kamu itu mau jadi apa? Mau jadi istri durhaka yang tidak menuruti perintah suami ya? Pasti ibu dan bapak kamu yang sudah mati itu akan sangat kecewa dan sedih melihat puterinya seperti ini, istri yang durhaka! Kasihan loh orang tua kamu itu nanti juga akan dapat dosanya!" Ibu mertua pun kini ikut berdiri di samping kedua anaknya.
"Tetapi aku kok nggak setuju ya dengan apa yang baru saja ibu katakan itu. Justru jika aku masih menjadi seorang Wiwit yang lemah seperti dua tahun kebelakang ini, mereka pasti sangat sedih. Karena putrinya tak bisa membela diri. Lagian ya Bu, istri itu memang wajib mengikuti apa yang dimau oleh suami, tetapi sebatas jika itu benar. Dan, menurut saya hal ini sudah tidak benar,” ucapku sambil menautkan kedua alis.
Benar atau salah hal ini kadang memang pandangan setiap manusia itu berbeda. Tetapi bagiku semua ini salah, dan sudah saatnya aku memberontak. Tak benar sekali jika aku terus menjadi lilin yang habis terbakar demi memberi kebahagiaan untuk orang lain.
"Wiwit! Jaga mulut kamu! Kamu ini memang harus diberi pelajaran sepertinya!" Mas Andre kembali naik pitam saat ini, gerakan tangannya sepertinya memang sudah siap untuk memberikan pukulan untukku.
"Kamu mau mukul aku lagi, Mas? Silahkan! Selama ini aku memang terlalu b***h karena terus diam, tetapi tidak untuk saat ini. Ada polisi yang akan menyelesaikan setiap KDRT yang terjadi, dan juga banyak kok tetangga yang akan datang jika aku berteriak!" ucapku seakan menantangnya.
Sesungguhnya saat mengatakan hal ini aku pun merasa sedikit takut, bagaimana jika Mas Andre tak takut dengan ancamanku dan tetap saja memukulku. Tetapi ternyata ketakutanku itu salah, nampak sekali jika saat ini dia takut.
Kembali aku mengenal nafas panjang. "Ah sudahlah ... Aku ngantuk dan capek rasanya. Pamit mau istirahat tidur siang dulu ya. Yang pasti kali ini tak ada lagi tambahan uang pulsa dan belanja!" Karena mereka bertiga masih diam saja, aku pun segera melangkah menuju ke kamar. Rasanya badanku ini memang semakin lemas sekali hari ini.
"Wiwit! Enak saja kamu mau tidur! Cepat sekarang juga kamu masak dulu, ini sudah waktunya makan siang. Tadi pagi saja cuma makan nasi goreng saja kok! Jangan lupa itu cucian juga sudah numpuk!" Ternyata ibu mertua tak juga merelakan aku pergi.
"Jadi kalian semua lapar karena ini sudah waktunya jam makan siang?" Aku yang telah masuk kamar pun kini menyembulkan kepala di ambang pintu.
"Ya jelaslah lapar! Sudah sekarang juga cepat masak yang enak, jangan kebanyakan ngomong!" Mas Andre ternyata ikut menimpali juga saat ini.
"Begitu ya? Mohon maaf, ibu dan Sely kan nggak ada kerjaan selama ini. Semua aku yang handle mulai dari nyali, ngepel, nyuci, setrika, masak dan lain sebagainya bukan? Mulai sekarang aku tak akan lagi melakukan hal itu! Karena aku saat ini bekerja! Ini rumahku, dan jika ada yang tak suka dengan peraturan yang kubuat, silakan angkat kaki dari rumah ini!"