LNCrawler

Sudah Keterlaluan

Bukan Pohon Uang — gooddreamer.id · All chapters

Sudah Keterlaluan

"Begitu ya? Mohon maaf, ibu dan Sely kan nggak ada kerjaan selama ini. Semua aku yang handle mulai dari nyali, ngepel, nyuci, setrika, masak dan lain sebagainya bukan? Mulai sekarang aku tak akan lagi melakukan hal itu! Karena aku saat ini bekerja! Ini rumahku, dan jika ada yang tak suka dengan peraturan yang kubuat, silakan angkat kaki dari rumah ini!" Kali ini aku berucap dengan sangat tenang.

Segera aku pun menutup pintu dengan kasar dan menguncinya dari dalam. Entah sayang kulakukan kali ini benar atau salah. Tetapi aku pun sebenarnya tak akan pernah berbuat seperti ini jika mereka tak keterlaluan sekali kepadaku.

Selama ini aku bekerja seperti pembantu di rumahku sendiri, bekerja dari sebelum subuh bahkan hingga jam sebelas malam. Mereka seakan tak pernah sekali pun membiarkan aku istirahat. Bahkan kadang ketika sedang berada di toko pun aku harus sambil menyetrika semua pakaian mereka, jika tak ingin aku tidur terlalu larut nanti.

Beberapa saat kemudian, mulai terdengar suara ketikan pintu yang keras."Wiwit cepat buka pintunya!" Tak kuhiraukan panggilan dari Mas Andre itu, kini aku pun merebahkan badan sebentar tadi. Seusai melaksanakan shalat di toko, aku pun merasa lega dan ingin istirahat sebentar.

"Wiwit! Cepat buka pintu! Jangan membuat kesabaranku habis!" Mas Amdre ternyata tak menyerah juga.

"Dasar istri nggak tahu terima kasih! Suami baru juga enam bulan nggak kerja, kamu sudah sok kuasa seperti ini!" Suara ibu mertua terdengar lebih nyaring dari pada suara Mas Andre.

Aku mencoba memejamkan mata saat ini, tak menghiraukan suara-suara di luar kamar itu. Tetapi nyatanya aku tetap tak bisa tidur juga, tetap memikirkan apa yang dikatakan mereka. 'Apa benar aku ini istri yang durhaka dan sok berkuasa?' Kalimat itu berputar-putar saja di benakku saat ini.

Tidak, aku tidak seperti itu. Selama dua tahun menikah, setiap bulan Mas Andre hanya memberikan aku uang belanja sebesar satu juta rupiah saja. Itu pun sudah termasuk listrik dan air. Apa menurut kalian uang itu cukup untuk makan saja empat orang dewasa selama satu bulan? Aku harus menambal semua kebutuhan dengan uang simpanan, warisan dari orang tuaku.

Dulu Mas Andre bekerja menjadi seorang supervisor di sebuah perusahaan swasta. Gaji yang dia dapat lebih dari lima juta rupiah tiap bulan. Satu juta untuk aku, satu juta untuk Sely dan dua juta untuk ibu mertua. Bukankah itu sangat tak adil sekali? Ketika aku harus menanggung biaya hidup semua keluarga.

Flashback On

"Mas, bukankah kemarin itu sudah waktunya kamu gajian?" tanyaku sembari membantu melepas sepatu Mas Andre yang malam ini pulang amat larut karena sedang lembut katanya

"Iya. Kenapa memangnya?" jawabnya singkat sambil langsung membaringkan badan di kasur.

"Kamu belum memberikan aku jatah bulanan loh?" kataku dengan sedikit takut-takut.

Tadi siang aku sempat melihat ibu mertua dan juga Sely baru pulang dari belanja. Hal yang selalu mereka lakukan setiap awal bulan ketika Mas Andre membagikan jatah mereka. Pakaian baru, sepatu baru, tas baru dan aneka bungkus barang baru pasti akan bertebaran di rumah. Tetapi Mas Andre belum memberikan jatahku jadi sekarang aku hanya mengingatkan siapa tahu dia lupa.

"Jatah apa?" Sambil memejamkan mata Mas Andre malah berkata dengan entengnya.

"Ya jatah bulanan yang satu juta itu Mas." Aku kembali bicara dengan lirih, takut sekali aku jika nanti suamiku ini akan marah.

Mas Andre tak menjawab, tetapi dia tak mungkin tidur saat ini, karena sejak tadi kedua telapak kakinya terus saja digoyangkan.

Kujelaskan semua yang dibutuhkan saat ini. "Isi kulkas sudah habis, Mas. Besok aku akan ke pasar. Jadi aku minta jatah bulanan itu. Listrik dan air juga waktunya dibayar."

Tiba-tiba saja Mas Andre duduk dan menatap wajahku lekat. Aku yang saat ini duduk di sampingnya pun menjadi sangat takut. Tak berani aku menatap mata Mas Andre.

"Hey Wiwit, sekarang kamu itu kan punya toko, jadi ngapain masih minta aku? Apa yang habis ya tinggal ambil aja kan? Jika di toko kamu tak ada ya tinggal beli aja. Sudah punya yang sendiri kok masih minta sih? Mulai sekarang tak ada lagi uang jatah bulanan untuk kamu." Mas Andre berkata dengan penuh penekanan.

"Jangan begitu, Mas. Toko itu baru saja berdiri sekitar dua minggu. Jika uangnya dipakai maka tak akan ada perputaran. Lagian jatah bulanan itu kan memang kewajiban seorang suami. Jadi tolong tetap berikan uang itu Mas." Aku mulai merengek sambil menautkan semua jari-jari.

Wajah mas Andre pun nampak mengeras kini. "Kamu ceramah? Mau jadi sok pintar kamu ya!? Pokonya tak ada lagi uang bulanan untuk kamu! Tetapi ingat, makanan harus tetap selalu tersedia sehari tiga kali di meja makan. Kalau sampai telat, maka aku akan menghajar kamu. Ingat, jangan pernah jadi istri durhaka. Turuti semua yang aku katakan! Mengerti?!"

Sesungguhnya hati nuraniku saat ini bertentangan dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Mas Andre. Tetapi mau bagaimana lagi, aku tak ingin dihajar, aku tak ingin disebut istri durhaka. Jadi, tentu aku harus selalu menuruti apa yang dia katakan.

Flash back Off

Aku membangun toko sekitar satu tahun yang lalu. Saat itu uang peninggalan orang tuaku sudah hampir menipis. Jadi aku berpikir untuk mengembangkannya saja. Tetapi hasilnya malah Mas Andre tak pernah memberikan uang. Enam bulan kemudian dia malah terkena PHK. Dan, semua kini malah harus menjadi tanggung jawabku.

***

"Wah si Nyonya besar sudah bangun nih? Ayo cepat masak kami masih menunggu kamu dari tadi. atau beri saja kami uang untuk makan diluar!" Kali ini aku memang mau kembali membuka toko. Ternyata keluarga benalu itu saat ini sedang duduk bersama di ruang makan. Sepertinya memang mereka belum makan siang kali ini.

"Maaf aku mau buka toko, ada barang yang mau datang ini, Bu. Ibu atau Sely saja yang masak ya. Di dapur banyak mie instant, di kulkas juga ada daging, ayam, ikan. Semua sayuran dan bumbu serta telur pun lengkap. Nasi tinggal dicolok juga bukan? Gampang, kenapa harus beli dan menunggu aku masak?" jawabku dengan enteng.

"Wiwit kamu makin berani saja sih?! Kurang ajar sekali kamu sama ibuku! Sekarang juga lakukan apa yang ibu perintah. Sini biar mulai sekarang toko aku dan Sely saja yang jaga!" Mas Andre tentu merasa tak terima dengan perkataanku.

Entah kenapa mendengarkan perkataan Mas Andre itu membuat emosi yang ada dalam hati ini meluap. Keluarga seperti pa sih mereka itu yang sangat tak tahu malu? Jadi kurasa semua ini harus segera diakhiri, aku sudah capek dengan semu ini.

"Cukup kalian semua sudah keterlaluan sekali! Sekarang juga kemasi barang kalian dan pergi dari rumahku ini!"