LNCrawler

Apa Ini?

Bukan Pohon Uang — gooddreamer.id · All chapters

Apa Ini?

"Cukup kalian semua sudah keterlaluan sekali! Sekarang juga kemasi barang kalian dan pergi dari rumahku ini!" Aku berteriak karena sudah tak tahan lagi dengan semua yang mereka lakukan. Rasanya ancaman untuk mereka pun hanya akan percuma saja, mereka sama sekali tak pernah menghargai aku sebagai pemilik rumah. Mereka tak pernah memanusiakan aku sama sekali.

Mas Andre langsung bereaksi dengan ucapanku tadi."Wiwit!----"

Kupotong segera ucapan Mas Andre itu. "Apa? Apa kamu nggak dengar apa yang baru saja aku katakan? Sekarang juga bawa keluarga kamu pergi dari sini! Ini rumahku, ini adalah peninggalan orang tuaku. Jadi kalian tak ada hak sama sekali, cepat pergi dari sini!" Emosi ini tak lagi bisa terbendung.

Tangan Mas Andre kembali mengepal sempurna, biasanya jika sudah seperti ini dia pasti akan langsung memukul aku. Entah kenapa kali ini dia tak berani melakukan hal itu. Apa mungkin ancamanku tadi siang berlaku?

"Wit ... jangan usir kami dari sini ya. Kalau kamu usir kami mau tinggal dimana? Ibu janji deh akan menuruti apa yang kamu perintahkan." Tanpa aku duga, ibu mertuaku mendekat dan mulai merengek.

"Iya, Mbak. Aku minta maaf jika mungkin selama ini kurang sopan pada Mbak Wiwit . Tetapi aku janji mulai sekarang akan jadi seorang adik ipar yang baik. Uang pulsa seratus ribu satu bulan cukup kok, Mbak. Aku juga bakal bantuin di toko kok, Mbak. Yang penting jangan usir kami dari sini ya." Sely pun menirukan apa yang dilakukan oleh sang ibu.

Aku pun tersenyum dengan malas melihat sandiwara mereka ini. "Maaf aku tak akan menarik lagi ucapanku. Sayangnya kata maaf yang kalian ucapkan itu sungguh sangat terlambat. Jadi sekarang juga tolong segera kemasi baju-baju kalian. Tapi ingat, tolong jangan ada satu pun barang dari rumah ini yang ikut terbawa ya!"

Mungkin ada sebagian orang yang berpikir bahwa apa yang kulakukan ini sangat jahat. Tetapi tolong jangan lihat saat ini, lihatlah ke dua tahun mundur. Mereka lah yang mengajarkan aku menjadi orang jahat seperti ini. Sabar itu ada batasnya, dan aku pun tak ingin terus menerus menjadi orang yang b***h.

"Wit! Tolong jangan bilang begitu ya. Mohon maaf karena selama ini ibu terlalu keras sama kamu dan kami memang khilaf. Terima kasih karena kamu sudah mengingatkan kami saat ini. Ibu janji akan menjadi mertua yang baik, mulai sekarang kamu tak perlu mengerjakan semua pekerjaan rumah ya. Biar ibu dan Sely saja yang akan mengerjakan. Benar begitu kan?" Ibu mertua kembali berucap dengan wajah yang memelas dan dibalas anggukan secara cepat oleh Sely.

Aku tak tahu apa yang ada dalam pikiran mereka berdua saat ini. Apa benar mereka meminta maaf hanya karena takut tak punya rumah lagi? Sedangkan Mas Andre sejak tadi hanya diam saja sambil terus menatapku. Menurut cerita mereka, sebenarnya mereka dulu mrmiliki sebuah rumah sangat besar sekali malahan. Tetapi setelah ayahnya Mas Andre meninggal, mereka malah terjerat banyak hutang. Jadi Semua harta yang mereka miliki dan termasuk rumah itu pun hilang sudah. Saat kami menikah dan mereka memasuki rumahku ini, hanya beberapa potong baju saja yang dibawa.

"Mas, jangan diam saja dong. Ayo minta maaf sama Mbak Wiwit. Ini semua hanya salah paham bukan?" Sely pun mulai mengguncang bahu sang kakak.

"Benar, Ndre. Ayo sekarang juga minta maaf pada Wiwit ya. Jangan sampai keluarga ini tercerai berai," timpal ibu mertua.

Mas Andre tak menghiraukan sama sekali ke dua wanita itu. Dia tetap menatapku dan sesaat kemudian masuk kamar. Aku mengira jika saat ini dia akan tidur karena pusing mendengarkan perkataanku. Atau mungkin malah dia akan mengemasi seluruh pakaiannya dan pergi dari rumah ini?

"Mas, kamu mau kemana?" Sely pun sepertinya khawatir sama sepertiku.

"Bu, sepertinya Mas Andre sudah mengerti dengan apa yang aku katakan, jadi sekarang dia telah mengemasi pakaiannya. Sebaiknya ibu dan juga Sely segera melakukan hal itu juga ya. Sebelum aku memanggil satpam komplek!" Aku pun mengatakan hal ini dan berharap rumah ini bisa segera menjadi tenang.

Kali ini kedua wanita itu memandangku dengan tatapan yang tajam, mungkin karena usaha yang tadi mereka lakukan hanya sia-sia belaka. Ketika mereka akan beranjak pergi, justru Mas Andre kembali datang dan kali ini dia membawa tas besar berwarna ungu. Itu adalah tas milikku.

"Kenapa kamu membawa tasku?" tanyaku, nampak sekali jika saat ini tas itu terima amat penuh.

Mas Andre membuang tas itu dengan kasar tepat di depanku. "Nih, sudah aku masukkan semua baju kamu! Sekarang juga cepat angkat kaki dari rumah ini!"

Aku kini yang malah menjadi kaget, kenapa bisa Mas Andre kini malah yang mengusirku? Malah wajah suamiku itu saat ini nampak sangat sumringah sekali. "Apa maksud kamu, Mas? Ini rumahku, jadi kamu dan keluarga kamu lah yang harus segera pergi dari sini!"

"Rumah kamu? Apa benar ini rumah kamu? Coba mana buktinya?" Mas Andre malah berucap dengan entengnya.

Semakin bingung saja aku saat ini, bukankah dia tahu jika ini rumah warisan orang tuaku yang sudah berganti dengan namaku? Dari ekor mata nampak sekali jika saat ini ibu mertua dan Sely sedang dalam kebingungan. Sepertinya mereka juga sedang tak tahu akting apa yang dilakukan oleh Mas Andre.

"Jangan bercanda kamu, Mas! Sekarang juga kemasi barangmu dan pergi dari sini! Atau aku akan memanggil Pak Satpam untuk membawa kalian keluar!" Rasanya aku sudah semakin hilang kesabaran.

"Hahaha sudah sana cepat panggil satpam, karena justru dia yang akan menyeret kamu keluar dari rumahku ini. Bisa baca kan? Milik siapa rumah ini sekarang?" Mas Andre menunjukkan sebuah kertas besar padaku, aku pun melihat dengan seksama. Ternyata ini adalah surat rumah ini, dan yang sangat membuatku kaget adalah bukan atas namaku, tetapi atas nama Mas Andre.

Kubaca dengan teliti isi kertas itu. "Apa ini Mas? Rumah ini adalah milikku, atas namaku! Kamu jangan mengada-ada! Ini semua palsu!"

Mas Andre malah tertawa dengan keras kini. "Palsu? Apa kamu punya buktinya? Ini adalah surat yang asli, terima saja deh Wit jika sekarang rumah ini memang sudah menjadi milikku--"

"Tunggu, aku akan mengambilkan untuk kamu yang asli! Itu palsu!" Aku pun segera berlari ke kamar dan menuju laci nakas, tempat dimana aku memang meletakkan surat penting itu. Tetapi ternyata yang kucari tak ada, bahkan di seluruh kamar ini. Segera aku pun kembali menuju ruang makan.

"Gimana? Nggak ada kan? Karena memang ini surat yang asli! Paham? Sekarang juga pergi dari rumah ini!" Ketiga orang benalu itu kali ini tersenyum licik.

"Iya sana pergi! Rumah kami tak menerima gelandangan seperti kamu!" Sely berkata dengan sombongnya sambil membuang tasku keluar rumah.

"Cepat pergi dari sini! Jangan membuat rumah kami kotor! Pergi!" Sekarang gantian ibu mertua yang bertindak, dia menyeretku keluar dan menjatuhkanku di atas tas besar warna ungu yang isinya pun telah banyak yang berhamburan di teras".