Mengalah Untuk Menang
"Cepat pergi dari sini! Jangan membuat rumah kami kotor! Pergi!" Sekarang gantian ibu mertua yang bertindak, dia menyeretku keluar dan menjatuhkanku di atas tas besar warna ungu yang isinya pun telah banyak yang berhamburan di teras.
"Aduh! Kenapa sih kalian jahat sekali!? Sejak kapan surat itu telah berganti nama kamu, Mas? Ini tidak sah! Aku tidak percaya dengan semua ini!" Tak menghiraukan pakaian yang berserakan di lantai, aku pun kembali berucap.
Karena seingatku aku selama ini menyimpan berkas penting itu secara lengkap tempatnya tak pernah aku ubah sejak berganti dengan namaku tiga tahun yang lalu. Jika sekarang tiba-tiba hilang dan malah ada yang atas nama Mas Andre, kurasa ada sesuatu hal yang janggal disini.
"Tidak sah? Hahaha. Jika kamu bisa menunjukkan yang katanya atas nama kamu itu, maka baru bisa bilang tidak sah. Tetapi sekarang mana coba buktinya? Nggak ada kan? Dasar pelupa, kamu sendiri yang dulu memberikan semua ini padaku kok." Mas Andre berkata lagi dengan entengnya.
"Tidak! Aku tak pernah melakukan hal itu! Meski selama ini aku memang terlalu menurut, tapi aku bukan wanita bodoh yang akan memberikan semua untuk lelaki seperti kamu, Mas!" jawabku tak terima.
"Aduh, dasar nggak tahu malu ya! Sudah nggak punya apa-apa masih ngeyel juga sih? Sudahlah cepat pergi dari sini, rumah ini tak butuh wanita yang mandul seperti kamu ini juga! Sana cepat pergi!" Ibu mertua pun semakin berani saat ini.
Kulihat saat ini para tetangga sudah banyak yang melihat ke arah rumah kami. Kurasa kamu ini aku harus mengalah terlebih dahulu, karena berontak pun percuma. Aku kalah dalam segala hal saat ini, aku pun tak punya bukti apa pun yang menunjukkan jika mereka berbuat curang.
"Ngapain masih melihat begitu pada kami? Dasar tak tahu malu! Cepat pergi sekarang juga!" Sely kali ini melempar sebuah taplak meja ke arahku.
Tanpa banyak cakap aku pun langsung mengemasi pakaian dan segera pergi membawa tas itu keluar dari area rumah ini.
"Nah gitu dong! Dasar benalu! Pergi yang jauh ya dan jangan pernah kembali lagi!" Sely berteriak dan masih dapat kudengar tawa kemenangan dari keluarga benalu itu.
"Kenapa ini, Wit? Kamu mau pergi kemana?" Seorang tetangga mulai bereaksi.
"Kenapa kamu pergi dari rumah!?" Bu Beti tetangga yang lain pun ikut berucap.
Bahkan ada yang mengajakku untuk tinggal di rumahnya. "Jangan pergi, Wit. Tinggalah di rumah kami."
Aku tetap melangkah pergi sambil terus tersenyum, tanpa menjawab satu kali pun ucapan para tetangga yang sepertinya simpati padaku. Biarlah kali ini aku terlihat kalah dan membiarkan mereka merasa menang untuk sesaat. Mengalah bukan berarti kalah. Tetapi aku akan kembali dengan membawa kekuatan baru, tetapi pasti aku akan merebut semua yang menjadi hakku. Membuat mereka menyesal karena telah melakukan hal ini padaku, itu pun pasti akan aku lakukan, segera!
***
Kuangsurkan sejumlah uang pada ibu pemilik kost. "Terima kasih banyak ya, Bu. Ini uang untuk sewa satu bulan."
Dengan wajah ramah beliau pun kemudian menjawab. "Baik, Mbak. Semoga saja betah tinggal disini ya. Jika butuh apa-apa langsung saja hubungi saya ya, Mbak. Saya berada di rumah depan kok."
Aku pun kali ini hanya tersenyum mengangguk dan menutup pintu setelah ibu pemilik kost pergi. Segera kubaringkan badan, karena memang rasanya hari ini aku capek sekali. Capek hati, pikiran dan otak tentunya.
Jangan kira aku akan menangis tersedu-sedu seperti istri yang ada di sinetron ikan terbang itu. Meski telah diusir dengan cara tak hormat dari rumahku sendiri, aku masih bisa tersenyum saat ini. Mungkin para benalu itu lupa jika saat ini aku telah membawa semua uang dalam tas selempang mungil yang memang sudah kubawa sejak keluar dari kamar. Bahkan kunci toko dan motor pun ada bersamaku saat ini.
"Sepertinya nyaman juga ya tinggal sendirian disini? Jauh dari suara-suara toxic yang selama dua tahun ini selalu mengganggu telingaku,” gumamku sendiri membesarkan hati.
Terkadang memang kesadaran itu baru didapatkan setelah sebuah kejadian besar terjadi. Seperti apa yang kualami saat ini, justru dengan kejadian ini aku yakin pasti bisa segera mengakhiri semua ini.
Rasanya geram sekali jika aku mengingat merrka. “Lihat saja, Mas. Aku Pasti akan kembali. Sekarang silahkan bersenang-senang dahulu. Tetapi pesta itu pasti akan segera berakhir, Mas."
Saat ini aku telah menyewa sebuah kamar kost dengan fasilitas lengkap, yang letaknya mungkin sekitar setengah jam dari rumahku. Tak memiliki siapa pun bukan berarti aku lemah, justru hal ini akan membuat aku semakin semangat untuk bisa menang. Nada dering ponselku pun kini membuyarkan lamunanku.
"Mas Dewa? Tumben sekali dia meneleponku." Nama itu kini nampak di layar ponselku. Mas Raka adalah anak dari teman almarhum Ayah. Sejak menikah dengan Mas Andre kami tak lagi berkomunikasi. Segera aku pun menerima panggilan itu. "Assalamualaikum, Mas. Ada apa?"
"Waalaikumsalam, Wit. Kamu nggak apa-apa kan? Kamu berada dimana sekatanh?" Suara Mas Raka saat ini terdengar sangat khawatir.
Tunggu, kenapa sepertinya dia mengetahui apa yang sedang terjadi padaku? Padahal rumah kami pun lumayan jauh jaraknya.
"Wit, kamu nggak apa-apa kan? Jika kamu butuh bantuan bilang saja, aku akan langsung datang. Kamu baik-baik saja bukan?" Mas Raka terdengar semakin khawatir saat ini.
"Aku nggak apa-apa kok, Mas. Jangan khawatir seperti itu. Bagaimana kamu bisa tahu?" Aku harus menyembunykan kesedihan ini darinya.
"Tak penting bagaiman mana aku bisa tahu hal itu. Yang penting untuk saat ini adalah kamu. Jika kamu mau maka sekarang juga aku akan memberi pelajaran pada mereka!" Suara mas Raka terdengar makin geram saja.
"Tidak, Mas. Aku nggak apa-apa kok. Tolong jangan khawatir seperti itu ya Mas. Sudah dulu ya, Mas. Aku ingin istirahat. Assalamualaikum."Tanpa menunggu jawaban salam dari Mas Dewa, aku pun segera mengakhiri panggilan itu. Untuk saat ini aku bisa sendiri, tak ingin rasanya ada orang lain yang ikut campur dalam urusan rumah tanggaku ini.
Entah kenapa mual ini kembali mendera dan dengan segera aku pun ke kamar mandi. Beberapa hari terakhir ini hal seperti ini terus menderaku. Sesuatu hal yang sangat aku takutkan adalah saat ini aku hamil. Karena apa yang aku alami, sama persis seperti tanda-tanda orang hamil. Seperti yang aku cari di google kemarin.
"Tidak! Aku tidak ingin hamil disaat seperti ini! Aku tak boleh hamil!" Dengan cepat aku pun mengambil alat test kehamilan yang telah kubeli kemarin di dalam tas. Kurasa kali ini aku harus segera mengetahuinya, karena semua ini pasti akan berimbas pada diriku.
"Bismillah, kali ini tolong jangan buat aku hamil ya Allah!" Meski memang selama ini aku sangat mengharapkan kehadiran seorang buah hati dalam rumah tangga kami. Tetapi kini, rasanya bukanlah saat yang tak tepat. Saat aku ingin berpisah dengan Mas Herman.
Dua garis pelan tetapi pasti mulai tampak, tak terasa air mata pun menetes semakin deras saat ini. Entah apa aku harus bersyukur atau harus menerima semua ini sebagai hukuman.
"Apa yang harus aku lakukan ya Tuhan?!"