LNCrawler

Naknak

Cinderella Tanpa Nama — gooddreamer.id · All chapters

Naknak

Semua kawula muda sedang mengelu-elukan seorang penyanyi di atas panggung, dia sedang menyanyi dengan penuh perasaan hingga akhir lagunya. Semua penggemarnya memanggil namanya dengan penuh cinta.

“Audy! Audy! Audy!” jerit mereka dengan antusias.

Audy sangat bahagia, karena bakat menyanyinya telah menghantarkan dirinya menjadi seorang penyanyi muda yang sedang populer dan selalu dinantikan penggemarnya. Kemudian berhembus kabar Audy seorang penyanyi muda yang sedang naik daun terkenal karena berhasil menembus angka satu juta copy lagu, tiba-tiba saja menghilang dan tidak ada kabar sama sekali bahkan media saja tidak dapat menemukan jejaknya. Semua kontrak yang dia buat telah diputuskan secara sepihak oleh pihak manajemen. Bahkan managernya, Lina juga ikut menghilang tidak tahu rimbanya.

Tiga tahun kemudian.

Di sebuah rumah mewah, di dalam komplek perumahan yang tenang tampak Audy sedang melamun dengan wajah dingin dan terlihat sangat kejam.

“Sudah bertahun-tahun aku bersembunyi, tetapi luka hatiku tidak pernah sembuh,” pikirnya dengan marah. Setiap saat kemarahan bisa saja meledak di dalam dirinya sendiri.

Dia mengambil semua benda-benda yang ada di sekelilingnya dan melemparkannya dengan membabi buta. Audy bahkan menangis tersedu-sedu seperti orang gila. Dia bahkan menjambak rambutnya sendiri dengan rasa kesal yang mendalam. Audy tidak menyukai dirinya sendiri. Bukan hanya tidak menyukai tetapi membenci dirinya sendiri.

“Hiks, hiks, hiks. Mengapa nasibku seperti ini? Mengapa? APA DOSAKU? Mengapa cobaanku belum berakhir. Semuanya seolah-olah menghujatku! Aku membenci anak itu! Setiap kali aku melihatnya aku semakin gila!” jeritnya histeris.

Audy tidak menyadari di depan pintu kamarnya telah berdiri seorang anak kecil berumur tiga tahun dan seorang asisten rumah tangga yang sudah berumur tua menatapnya dengan heran.

“Ma-ma!” panggil anak itu dengan wajah takut.

“Mama! Siapa Mamamu! Pergi dari hadapanku!” jeritnya dengan marah.

Audy kemudian melempar berbagai barang hingga hampir saja mengenai gadis kecil itu. Untung saja pelayan itu segera melindungi gadis cilik itu dan menarik tangannya hingga menjauh dari kamar tersebut.

“Ayo, Nak. Kita harus menjauh dari Mamamu!” kata wanita tua itu.

“Bi, Sum! Jangan pernah membawa anak kecil itu ke kamarku lagi! Aku tidak menyukainya!” perintahnya dengan marah.

Audy kemudian menatap wanita tua itu dan anak kecil tersebut dengan nada marah. Sementara Bi Sum menganggukkan kepalanya dan meninggalkan kamar Audy bersama gadis kecil itu. Wajah gadis kecil itu terlihat pucat pasi. Bi Sum kemudian membawa gadis kecil itu ke kamarnya sendiri dan gadis kecil itu dari tadi tidak bergerak sama sekali karena takut, dia memandang Audy yang sedang mengamuk. Sehingga Sumi segera merangkul dan memeluknya.

“Cup, cup sayang. Tidak apa-apa, Bibik di sini melindungimu ya,” katanya kembali.

Gadis kecil itu memeluk Bi Sumi dengan sangat erat. Dia tidak ingin melepaskan pelukannya.

“Nak, Nak. Sudah, jangan menangis lagi,” katanya lagi sambil menepuk lembut punggung gadis kecil itu.

Gadis itu dengan suara cadelnya balas memeluk wanita tua itu kembali.

“Bibik, apa calah Naknak? Mengapa Mama benci Naknak?” tanyanya dengan sedih.

“Ya, Tuhan. Aku tidak sanggup melihat wajahnya yang sedih. Kalau saja Non Audy mau menerimanya,” pikirnya kembali.

Sumi adalah wanita tua yang telah bekerja di rumah Audy cukup lama. Bahkan sejak Audy masih kanak-kanak. Bi Sumi adalah asisten yang paling setia. Ketika Audy sukses menjadi penyanyi terkenal kemudian dia pindah dari rumah orang tuanya ke rumahnya sendiri. Sumi ikut bersamanya. Setelah kejadian malam itu, Audy akhirnya harus dijauhi keluarganya sendiri. Bahkan Audy harus menghindar dari mereka semuanya, karena mereka membiarkan Audy terpuruk dengan nasibnya sendiri. Bahkan kedua orang tuanya pun menjauh dan tidak mau tahu keadaan dia sekarang. Sumi satu-satunya yang masih memperhatikannya.

“Audy, Bibi sangat prihatin denganmu. Kalau saja kejadian itu tidak terjadi Non, maka kamu tidak akan hidup susah seperti ini,” katanya lagi.

Sementara gadis kecil yang masih saja ketakutan itu tidak akan melepaskan pelukannya dari Sumi wanita tua itu.

“Kamu juga, Nak. Bahkan ibumu saja tidak memberi nama untukmu. Kamu yang selalu mendengarku memanggilmu dengan Nak, maka kamu kemudian memanggil namamu sendiri dengan Naknak. Aku tahu seharusnya Non Audy memberikanmu nama,” kata Bi Sum dengan sedih.

Gadis kecil itu masih saja memeluk Sumi dengan penuh perasaan sayang, dia berusaha untuk memeluk Sumi terus. Isak tangis masih saja terdengar dari mulutnya yang kecil.

“Sudah, jangan menangis lagi. Mama tidak membencimu, hanya Mama lagi marah saja,” kata Sumi kembali.

“Malah? Mama tiap hali malah,” isaknya dengan sedih.

Suara cadelnya membuat Sumi merasakan kesedihan, karena Sumi tidak sanggup melihat dirinya menangis tersedu-sedu.

“Sudah, jangan menangis lagi ya. Bibi akan membawa kamu ke taman untuk bermain. Mau Bibi gendong?” tanyanya lagi.

Sumi kemudian melihat gadis cilik itu dan akhirnya gadis itu menyetujui keinginan Sumi, dia mengangkat kedua tangannya agar Sumi menggendongnya. Sumi bahkan merasakan kedua tangan mungilnya melingkar di lehernya. Sumi dapat merasakan kekecewaan gadis kecil ini karena gadis itu sama sekali tidaklah bersalah.

“Nona Audy, jangan Nona terus saja melakukan dosa kepada makhluk kecil ini. Dia tidak bersalah apa-apa Nona,” bisik Sumi kembali.

Sumi kemudian membawa gadis kecil itu ke taman di depan komplek, di sana banyak gadis kecil yang sedang bermain. Seorang bocah perempuan kecil mendekati mereka dan meminta agar gadis kecil itu mau bergabung dengannya. Tapi gadis kecil yang ada di dalam gendongan Sumi menolaknya, dia kemudian memalingkan wajahnya menjauhi bocah cilik itu. Sumi membujuknya dan akhirnya gadis kecil itu meminta agar dia di turunkan dari gendongan Sumi dan akhirnya dia dapat bermain dengan mereka. Sumi melihat Nona kecilnya tesebut sedang bermain dengan salah satu anak di sana.

“Halo, nama kamu siapa?” tanya bocah itu.

Nona cilik itu menatap Sumi dengan bingung.

“Namaku Naknak,” katanya lagi.

“Oh, Naknak. Kalau aku Lila,” sapanya dengan ramah.

“Kamu tinggal dimana Naknak?” tanya anak itu kembali.

Gadis kecil itu kemudian menunjukkan ke arah kanan, dimana rumahnya berasal. Bibi Sumi kemudian mendekatinya.

“Bi, adik kecil ini lucu dan cantik ya,” kata Lila.

Dengan gemasnya dia mencubit pipi gadis kecil yang menyebut dirinya dengan Naknak.

“Siapa nama gadis kecil ini sebenarnya Bi?” tanya Lila kembali.

Setidaknya Lila lebih tua sedikit dari Naknak. Sumi benar-benar kebingungan karena tidak mungkin dia menjawab nama gadis kecil itu tidak mempunyai nama.

“Haloo! Kamu temannya Lila, ya?” tanya pasangan suami istri yang mendekati mereka.

Ibu Lila segera mendekati mereka dan mencubit gadis kecil itu dengan gemas.

“Iya, ante,” jawab gadis cilik itu kembali.

“Wahh, kamu sangat cantik ya. Aku rasa kalian hanya selisih beberapa tahun saja, soalnya Lila selalu meminta adik kepada saya. Ini Lila ada adik, lucu banget ya. Mama ingin kalian kenalan ya sama adik ini, selain adik ini juga sangat cantik,” kata Mama Lila kembali.

Lila kemudian menatap ke arah mereka.

“Ma, boleh ya kita beli es krim dan membaginya kepada adik kecil itu ya,” pinta Lila kembali.

“Boleh, sudah pasti boleh,” kata Mama Lila.

“Siapa nama kamu dik?” tanya mama Lila.

“Naknak, ante,” terdengar suara cadelnya.

“Apa? Naknak? Nama apa itu? Kok aneh?” tanyanya heran.

Kemudian dia menatap Sumi dengan keheranan.

“Nona kecil ini belum mempunyai nama Nyonya, karena ibunya belum memberikan dia nama sejak lahir,” katanya kembali.

“Apa? Astaga, yang benar Bi? Bagaimana dengan akta lahirnya?” tanya wanita itu kaget.