LNCrawler

Kacau

Cinderella Tanpa Nama — gooddreamer.id · All chapters

Kacau

Sumi memandang wanita itu kembali, karena dia tahu wanita itu sama sekali tidak mempercayai Sumi.

“Bi, yang benar Bi. Mana ada orang tua tidak memberi dia nama? Bagaimana dia bisa sekolah? Kalau namanya saja tidak ada. Jadi mengapa dia menyebut namanya Naknak?” tanya wanita itu dengan keheranan.

“Karena saya tidak tahu namanya Nyonya, maka saya selalu memanggilnya dengan Nak. Kadang kala saya sering memanggil nama itu berulang. Misalnya ketika saya menyuapinya ketika dia sedang makan dan saat itu dia baru bisa bicara,” kata Sumi kembali.

Sumi membayangkan ketika gadis kecil itu sedang makan ketika dia masih balita.

“Ahh, ayo Nak. Buka dong mulutnya. Nak, nak. Itu baru pintar,” kata Sumi sambil bertepuk tangan.

Sumi kembali menatap wanita itu, mamanya Lila.

“Dia tidak seperti bayi yang lain. Kalau anak yang lain dia akan menyebut Mama atau Papa sebagai kata pertama yang mereka ucapkan tetapi gadis kecil ini, kata pertama yang dia ucapkan adalah Naknak, hanya saja karena dia masih cadel orang yang mendengarnya berpikir dia salah bicara. Jadi mereka kemudian mengambil kesimpulan sendiri namanya Nana,” terang Sumi lagi.

“Oalahh Bi, kok ada orang tua aneh seperti itu. Ya, sudah sayang kita makan es krim bersama Nana saja ya,” kata wanita itu dengan perasaan iba.

“Ayo mari, gandengan sama Kak Lila,” kata wanita itu lagi.

Lila kemudian menggandeng Naknak dengan sayang, karena dia menganggap Naknak sudah seperti adiknya sendiri. Mereka kemudian singgah ke kedai es krim yang ada di dekat taman tersebut. Wanita itu kemudian mengijinkan mereka memilih rasa yang mereka sukai. Termasuk Naknak.

“Sayang kamu mau rasa apa?” tanya wanita itu kemudian.

“Naknak, nggak tau ante. Naknak nggak tau apa itu es klim,” katanya dengan lugu.

“Astaga Bi, mengapa ibunya begitu kejam. Es krim saja pun tidak pernah dia berikan kepada anaknya. Terlalu sekali Bi,” omel wanita itu dengan gemas.

“Tante akan memberikan rasa yang akan kamu mau, ada cokelat, stroberi, vanila. Sepertinya ada lagi ini juga boleh ada rasa buah Nangka. Tante saja yang pilih ya, Mas berikan rasa cokelat dua. Bibi mau?” tawar wanita itu.

“Tidak Nyonya terima kasih,” katanya dengan sopan.

“Nana masih mau? Tante beliin satu lagi ya. Rasa vanila, bagaimana?” tanya wanita itu lagi.

“Nak usah ante, atu aja cukup,” kata Naknak.

“Lho apa tidak enak?” tanya wanita itu lagi.

“Enak ante. Naknak cuka, tapi atu aja cukup,” katanya kembali.

Wanita itu terenyuh melihat sikap Naknak.

“Wah Bi, sikapnya sangat baik Bi. Tidak tamak, aku kok jadi sedih Bi,” bisik wanita itu dengan iba.

Setelah mereka menghabiskan es krimnya maka akhirnya mereka berpisah, Lila kemudian melambaikan tangannya.

“Daaa, Nana. Besok sore kita jumpa lagi di sini ya,” katanya kembali.

“Daa, akak Lila. Daaa, ante. Telima aci ya,” katanya sambil tersenyum manis.

Naknak kemudian tersenyum menggenggam tangan Bi Sumi dengan bahagia, mereka kembali pulang. Begitu Sumi membuka pagar rumah dia mendengar suara Audy yang menjerit keras.

“Astaga, Non. Apalagi ini?” bisiknya dengan cemas.

“Mama, malah lagi Bi?” tanyanya dengan takut.

“Sayang, tidak apa-apa. Mama tidak marah Kok, kamu ikut Bibi saja ya,” kata Sumi lagi.

Naknak kemudian bersembunyi di belakang Sumi, ketika dia tahu Sumi akan berjalan ke kamar Audy.

“Bi!!” jeritnya marah.

“Iya Non,” katanya dengan tergesa-gesa.

Dia lupa menggandeng Naknak, sehingga Naknak hanya diam membeku di tempatnya. Karena dia tahu di depannya adalah kamar ibunya sendiri. Dia tidak ingin memasuki kamar itu lagi karena dia tahu setiap kali dia masuk kamar itu maka Audy akan mengamuk sejadi-jadinya.

“Bi!” jeritnya kembali.

“Mana setan kecil itu?” tanyanya dengan suara keras.

Naknak membeku ditempatnya hingga tanpa dia sadari dia sampai ngompol. Padahal dia sama sekali tidak pernah mengompol lagi. Raut wajahnya tampak pucat pasi, dia bahkan menahan tangisnya dengan sedih. Hanya isak tangis yang terdengar karena jika Audy mendengar suara tangisnya maka Audy akan semakin memarahinya. Naknak bahkan tidak sadar selain dia mengompol tubuhnya juga bergetar hebat menahan rasa ketakutan yang dia alami.

“Ma-ma,” isaknya dengan sedih.

Naknak tahu bahwa setan kecil yang dimaksudkan ibunya adalah dirinya. Naknak bahkan tidak dapat menguasai ketakutannya. Selain mengompol tubuhnya dingin seperti es.

“Mana setan kecil itu, Bi?” tanya dengan kasar.

“Di-luar Non,” kata Sumi dengan cemas.

Audy langsung keluar dan menatap Naknak dengan penuh kebencian. Dia melihat gadis kecil itu berdiri di antara ruang keluarga dan kamarnya. Dia memperhatikan mata besar anak kecil itu yang memandang dia dengan penuh rasa ketakutan. Audy mendekatinya, tetapi sebelum dia sempat menyentuh Naknak, Sumi terlebih dahulu meraih Naknak ke dalam pelukannya. Dia menatap Audy dengan tajam.

“Bibi lihat? Betapa kotornya anak itu. Mengompol sembarangan dan wajahnya belepotan seperti anak gelandangan saja. Pantas saja dia seperti itu, dia itu anak pembawa sial!” maki Audy dengan marah.

“Cukup Non, jangan sakiti dia lagi. Sudah cukup Nona menyakitinya,” kata Sumi dengan cemas.

“Sudah cukup? Bagaimana dengan kehidupan aku sendiri, Bi? Apakah sudah cukup? Tidak, bahkan hidupku semakin kacau sejak dia ada. Aku tidak meminta dia untuk ada Bi, jadi sudah pasti dia tidak akan kuterima,” kata Audy.

“Aduh Non, Naknak juga tidak minta dilahirkan Non,” bisiknya sedih.

“Sini kamu!” perintah Audy lagi.

“Untuk apa Non?” tanya Sumi masih tetap memeluk Naknak.

“Sini!” perintah Audy.

Dia mengabaikan perkataan Sumi dan menatap Naknak dengan tatapan benci. Audy kemudian mendekati Naknak dan langsung menarik tubuh kecil Naknak melepaskannya dari pelukan Sumi dan menarik tubuh kecilnya ke arah dirinya sendiri. Audy menutup hidungnya karena bau pesing bekas ompol Naknak. Tentu saja Audy sangat membencinya sambil memencet hidungnya menahan napas dia kemudian memarahi Naknak.

“Kamu ini seperti setan kecil saja, karena kamu aku harus hidup menderita,” katanya dengan penuh kebencian.

Naknak yang sadar betapa Audy membencinya hanya bisa diam mematung, tubuhnya bergetar dengan hebat. Tangan dan kakinya sudah kaku karena kedinginan sampai bibirnya bergetar hebat.

“Jangan coba-coba menangis!” perintahnya dengan kesal.

Naknak menatapnya dengan takut, kemudian dia memperhatikan Audy melihat wajahnya yang kotor.

“Apa ini?” tanyanya sambil mencolek pipi Naknak dengan ujung jarinya.

Kemudian dia melihat jarinya dan sisa noda di sana dia perhatikan.

“Astaga apa ini? Cokelat?” tanyanya dengan pandangan curiga.

Kemudian dia menatap Sumi dengan pandangan marah.

“Bibi, apa yang Bibi lakukan?” tanyanya marah.

“Apa Non,” tanya Sumi kebingungan.

“Bi sudah berulang kali aku katakan jangan memberikan kesenangan kepada setan kecil ini, aku tidak rela dia merasakan kesenangan walaupun hanya makan es krim. Sementara aku di sini merasakan penderitaan!” katanya dengan penuh kebencian.

“Bi! Kamu harus ikut aku sekarang juga, aku akan memberikan pelajaran yang tidak akan dia lupakan seumur hidupnya. Hahahaha,” tawanya.

Naknak masih diam di tempatnya dan sama sekali belum bergerak sedikitpun.

“Astaga Non, hukuman apa lagi yang akan kamu lakukan,” pikir Sumi dengan cemas.