LNCrawler

Tega

Cinderella Tanpa Nama — gooddreamer.id · All chapters

Tega

Tawa dan ucapan Audy terus saja menggema di kepala Naknak, sehingga dia semakin gemetar ketakutan dan mengompol kembali untuk kedua kalinya.

“Bi! Apa yang Bibi lakukan?” tanya Audy dengan marah.

“Apa Non? Bibi benar-benar tidak paham,” katanya lagi.

“Bibi sudah memberikan kesenangan kepada anak sial itu. Aku bahkan tidak akan bisa menerima dia bisa merasakan kesenangan walaupun hanya sedikit saja,” kata Audy dengan wajah merah padam.

“Astaga Non, ingat Non dia itu anak Non,” kata Sumi.

Dia mengingatkan Audy agar mau menerima Naknak, walau hanya sesaat saja.

“Aku tidak bisa Bi, tidak akan. Aku tidak mengharapkan dirinya dan aku tidak akan pernah bisa menerimanya karena dengan melihat dirinya aku akan teringat kembali kehancuranku sendiri,” kata Audy dengan kesal.

“Bibi, tidak memberikan dia kesenangan sama sekali. Bibi tidak pernah memikirkannya Non,” terangnya lagi.

“Kalau Bibi tidak memberikan dia kesenangan, jadi apa namanya ketika dia menikmati es krim. Aku sama sekali tidak ingin memberikan makanan yang paling disukai anak seusianya dan kalau perlu kurung saja dia, jangan bawa kemana-mana,” kata Audy tanpa perasaan.

“Non, sadar Non. Dia itu darah daging Non sendiri. Jangan seperti itu Non, dosa itu namanya,” kata Sumi kembali.

Sumi menatap wajah Audy dengan rasa kesal yang kentara, walaupun dia tahu Audy adalah majikannya namun Audy telah di luar batas kemanusiaan.

“Aku tidak mempedulikannya sama sekali, aku bahkan ingin menghapus dia dalam kehidupanku. Kalau saja dia itu bisa kuhapus mengapa tidak kuhapus saja?” kata Audy dengan teganya.

“Astaga Non, jangan begitu. Pantang memikirkan hal jahat seperti itu, karena bagaimana pun aku sama sekali tidak ingin kalian melihat Naknak seperti kuman di dalam kehidupan kalian, termasuk Tuan Brata dan Ibu Brata, Ibu dan Bapak Nona sendiri. Jangan Non, jangan nambah dosa lagi,” pinta Sumi dengan cemas.

“Bibi kira aku suka melakukan hal ini? Tidak tetapi aku harus melakukannya karena aku masih belum bisa menerimanya, kecuali ada satu penyelesaian masalah ini…,” katanya dengan licik.

Dia menatap Audy dengan curiga karena dari tatapan matanya Audy terlihat sangat licik dan menyeramkan.

“Kalau saja aku membuangnya dari kehidupanku, misalnya aku mencampakkannya,” kata Audy dengan senang.

Baru kali ini Sumi melihat Audy tersenyum sejak dia mengurung dirinya dan tidak ingin kembali ke lingkungannya kembali.

“Astaga Non, jangan Non. Itu namanya dosa Non. Ingat Tuhan, Non,” kata Sumi dengan cemas.

“Bibi harus mengikuti perintahku kalau tidak aku akan mengusir Bibi dari rumah ini. Bibi harus bekerja sama denganku, kalau tidak maka Bibi akan menerima akibatnya,” ancam Audy kembali.

Audy sama sekali tidak melihat ada yang salah dari ucapannya dan kini melihat Sumi kembali.

“Lebih baik dia menjauh dari kehidupanku daripada dia tersiksa melihatku demikian juga sebaliknya aku menderita karena dia,” kata Audy.

“Bagaimana Bi?” tanyanya lagi.

Sumi sangat kebingungan bagaimana mungkin dia tega membuang Naknak jauh dari dirinya sementara dia yang membesarkan Naknak sejak dia masih bayi.

“Aku sudah menganggap dia seperti cucuku sendiri. Aku tidak akan tega meninggalkannya karena dia sangat mempercayai aku. Aku bahkan tidak akan sanggup melakukannya, ya Tuhan walaupun Non Audy tidak menyayanginya namun aku menyayangi dia seperti bagian dari diriku sendiri. Non Audy bahkan tidak menyayangi putrinya sendiri, bagaimana mungkin dia merasa bersalah?” pikir Sumi dengan sedih.

“Nak, cucuku. Aku tidak mungkin melakukan rencana gila ibumu. Aku tidak akan melakukannya,” tekad Sumi lagi.

“Bagaimana Bi? Apa Bibi mau melakukannya?” tanya Audy dengan jengkel.

Dia terus saja tidak memberikan jawaban kepada Audy dan dia tidak menanggapi ucapan Audy karena Sumi menganggap ucapan Audy sangat tidak masuk akal dan benar-benar gila.

“Non, aku mohon sekali lagi! Jangan lakukan hal itu. Dosa, Non,” katanya lagi sambil mengiba.

Tidak dapat dia bayangkan kalau dia berjauhan dari gadis kecil itu, Sumi benar -benar tidak tega.

“Lakukan Bi, kalau tidak Bibi akan saya minta tidak lagi di sini dan Bibi harus kembali ke kampung Bi. Karena sudah pasti Papa dan Mama tidak akan menerima Bibi kembali. Mereka tidak akan pernah mau menerima semua yang berhubungan denganku. Mereka membenciku walaupun sebenarnya mereka menanggung biaya hidupku namun aku ini sudah seperti kotoran yang harus mereka singkirkan. Aku ini bukan lagi orang yang pantas hidup bersama dengan mereka Bi,” kata Audy.

Sumi terdiam.

“Ya, Tuhan apa yang harus kulakukan sekarang? Apakah aku harus mengalah kepada keinginan Audy? Aku bahkan tidak sanggup kalau tidak maka aku harus kembali ke kampung. Bagaimana aku bisa melakukannya? Aku juga mempunyai tanggungan keluarga sendiri. Kalau saja dia mau memberikan kesempatan kepada Naknak, padahal gadis kecil itu sangat lucu dan sangat cantik, menggemaskan lagi. Apa Non Audy tidak dapat melihat itu semuanya?” pikir Sumi dengan kesal.

“Ya Tuhan, aku sudah meninggalkan Naknak terlalu lama, dia pasti ketakutan sekarang,” kata Sumi.

Dia kemudian berniat keluar dari ruangan tersebut dan meninggalkan Audy sendirian, namun Audy tidak membiarkan dia pergi begitu saja. Audy tidak akan membiarkan Sumi meninggalkannya kalau Sumi masih belum mengikuti keinginannya.

“Bi, jawab dulu pertanyaanku,” katanya sambil menahan Sumi dengan tangannya.

Sumi hanya bisa menarik napasnya dengan kecewa.

“Aku tidak menyangka kamu berubah sangat mengerikan Non, aku bahkan tidak tahu kamu bisa sekejam itu. Apakah hatimu terbuat dari batu?” pikir Sumi.

“Bi! Jawab sekarang juga!” katanya lagi.

Sumi kemudian menatap Audy dengan tatapan marah.

“Kalau memang Non mau melakukannya terserah Non saja. Bibi sudah mengingatkan Non karena dia adalah putri Non sendiri. Kalau bisa Bibi akan mencegah Non melakukannya dan mengambil Naknak bersamaku tetapi aku juga hidup susah Non, semua keluargaku di kampung berharap kepada gajiku saja. Kalau aku tidak mengikuti Non maka seluruh keluargaku akan mati kelaparan, jadi kuharap Non pertimbangkan kembali. Aku tidak ingin menanggung dosa yang Non lakukan. Lakukan saja, sesuai dengan hati nurani Non,” kata Sumi dengan putus asa.

“Nah begitu dong, aku akan senang sekali kalau Bibi mau menolongku! Kalau Bibi tidak menolongku aku tetap meninggalkannya dan membuang dia ke tempat dimana dunia ini berada. Jadi sebaiknya Bibi segera membawanya,” ancam Audy lagi.

Sumi hanya bisa mengelus dadanya dengan perasaan sedih, tidak dia sangka Audy yang baik dan lemah lembut telah berubah menjadi orang kasar dan tidak berperasaan sama sekali.

“Sebaiknya aku segera menjumpai Naknak, karena bisa saja Non Audy akan membuangnya besok. Aku harus memeluknya malam ini sebagai malam terakhir kami. Dasar Ibu sableng, membuang anak ke neraka dunia, tidak bisa kubayangkan wanita seperti itu diberikan berkah menjadi seorang ibu. Sementara banyak ibu-ibu di luar sana menginginkan seorang anak bahkan terus saja berusaha walaupun belum ada rejekinya sama sekali,” pikir Sumi dengan kesal.

“Bi, besok pagi kamu menjumpai aku! Sebelum itu kamu mandikan dan pakaikan baju terbaiknya,” kata Audy dengan senyum manisnya.

“Non, non. Anda itu melebihi Ibu tiri Cinderella saja,” pikir Sumi dengan marah.