Ide Gila
Sumi kemudian keluar begitu Sumi mengiyakan ide Audy, maka Audy membiarkan dia pergi menemui Naknak.
“Sayang kamu tidak apa-apa?” tanya Sumi.
Naknak segera merentangkan tangannya meminta agar Sumi menggendongnya. Sumi kemudian menggendong Naknak dan membuat Naknak nyaman dalam gendongannya.
“Astaga Nak, bajumu kok jadi basah begini. Berapa kali kamu ngompolnya? Tubuhmu sampai kedinginan begini. Tidak apa-apa sayang, jangan takut lagi ya Nak,” kata Sumi.
Dia kemudian menghangatkan air mandi dan membersihkan tubuh Naknak. Kemudian dia memberikan bedak bayi dan cologne bayi di tubuh Naknak. Sekarang Naknak sudah bersih dan wangi seperti bau bayi.
“Sekarang Tuan Putri sudah cantik dan wangi, Bibi sangat suka mencium wangi Naknak kalau begini,” katanya sambil mencium kepala Naknak.
“Bibi panasin sup untuk Naknak ya, tunggu di sini sampai Bibi datang,” katanya.
Naknak dia tinggalkan di kamarnya sendirian. Tiba-tiba dia mendengar suara Audy memanggil nama Bi Sumi. Secara refleks Naknak segera turun dari pembaringannya dan segera bersembunyi di antara lemari baju dan meja belajar ada sebuah celah diantara kedua dinding lemari dan meja. Celah itu cukup untuk tubuh mungil Naknak. Sebenarnya celah itu muat untuk tong sampah. Lemari dan meja belajar itu memang di buat Audy sewaktu dia sukses untuk kamarnya sendiri, dia bercita-cita sambil bernyanyi sambil belajar di bangku kuliah. Naknak selalu bersembunyi di sana dan dia dapat merasakan kenyamanan di sana.
Ternyata Audy tidak memasuki kamar Naknak, dia terus saja ke dapur mencari Sumi. Naknak tetap di sana sambil memeluk lututnya. Karena ruangan itu cukup kalau dia menekuk kedua kaki kecilnya. Naknak tetap di sana menunggu Sumi, sampai akhirnya dia tertidur di sana karena lelah. Setelah beberapa saat Sumi masuk membawa sepiring makan malam yang telah dikuahi dengan kuah sup dan segelas air untuk minum Naknak.
Sumi kemudian masuk kamarnya dan heran ternyata dia tidak menemukan Naknak dimanapun. Bahkan Naknak menghilang.
“Nak, sayang. Kamu ada dimana?” panggil Sumi dengan heran.
Sama sekali tidak terdengar suara apapun. Naknak tidak juga dia temukan sampai akhirnya dia sadar tempat persembunyian Naknak. Sumi kemudian berjalan ke celah tersebut, dia melihat tubuh kecil Naknak telah terkulai karena tertidur. Dia kemudian mengangkat Naknak menuju pembaringannya. Ternyata dia terbangun dan menatap Sumi kemudian memeluknya.
“Bibi, kok lama?” tanyanya sambil menahan kantuknya sendiri.
Naknak kemudian memeluk Sumi. Dia akhirnya makan sambil disuapi oleh Sumi. Naknak kemudian menunggu Sumi kembali membersihkan peralatan makannya. Akhirnya Sumi pun selesai dan dia melihat di tangan Naknak terdapat sebuah cerita lama, Cinderella. Hanya itu satu-satunya yang dia miliki. Itu pun karena Sumi mengambil milik Audy semasa kecil. Ketika Sumi membersihkan gudang Tuan Brata dia menemukan buku tersebut dan menyimpan buku itu sebagai kenang-kenangan untuk Audy. Tetapi akhirnya buku itu dia berikan kepada Naknak.
“Bi! Bibi bisa membaca apa tulisan di buku ini?” tanya dengan rasa penasaran.
Sumi kemudian mengangguk.
“Sudah pasti Bibi tahu, Bibi yang menuliskannya. Di sini tertulis Audy Princess Cinderella,” katanya kembali.
Naknak menatap buku itu dengan sedih.
“Loh kok sedih? Ada apa?” tanya Sumi.
“Naknak juga mau nama Naknak ditulis di sini. Nama Naknak jadi plincess,” katanya dengan getir.
Sumi langsung terdiam, bagaimana dia bisa memberikan nama kepada Naknak.
“Maafkan Bibi, karena Bibi belum bisa menuliskan nama Naknak di sini. Naknak belum punya nama sayang,” kata Sumi kemudian.
Wajah Naknak terlihat sangat kecewa, dia menahan air mata yang hampir saja lolos dari pelupuk matanya. Wajahnya memerah menahan kesedihannya, bahkan Naknak terlihat sangat tabah. Malah Sumi menitikkan air mata melihat ketabahan Naknak. Dia belum pernah melihat anak seusia Naknak bisa begitu tegar dan tabah. Naknak kemudian melihat Sumi dan memeluknya.
“Nggak apa-apa Bi, Naknak nggak nangis kok. Bibi jangan nangis ya. Naknak tidak apa-apa,” katanya sedih.
Sementara kedua tangan mungilnya menepuk lembut punggung Sumi dengan perasaan sayang.
“Oalahh, Nak. Kamu tidak tahu kamu mau dibuang ibumu sendiri. Kalau saja Bibi sanggup membiayaimu maka Bibi akan merawatmu, tetapi Bibi juga tidak sanggup sama sekali,” katanya di dalam hati.
Sumi sampai meneteskan air matanya. Kemudian Naknak mengusap air mata Sumi dengan jari-jari mungilnya.
“Cup, cup,cup, Bi. Jangan nangis lagi ya,” kata Naknak.
Sumi kemudian memeluk Naknak dengan perasaan sayang, karena dia tidak menyangka Naknak bisa bersikap sangat dewasa di usianya yang sekarang.
“Begini saja Nak. Bibi akan menuliskan nama kamu di sini. Kamu mau sayang?” tanyanya lagi.
“Mau, Bi.”
Naknak langsung bersemangat mendengar perkataan Sumi, dia melihat Sumi menuliskan beberapa kata di buku tersebut.
“Bibi, tulis apa?” tanyanya penasaran.
“Bibi tulis, Princess Cinderella tanpa nama. Kalau Naknak sudah besar, maka Naknak bisa mengisinya sendiri. Tanpa namanya diganti jadi nama Naknak,” katanya kembali
“Apakah anak seusia Naknak mempunyai nama Bi?” tanyanya lagi.
Sumi menganggukkan kepalanya.
“Tapi mengapa Naknak tidak punya nama? Memangnya ciapa yang membelikan nama, Bi?” tanyanya lagi dengan cadelnya.
“Memberikan nama, maksud Naknak bukan? Mama atau Papa anak tersebut,” kata Sumi.
“Tapi Mama tidak mau membelikan Naknak nama Bi,” katanya sedih.
“Naknak tahu dari mana?” tanya Sumi heran.
“Naknak dengar waktu Bibi celitakan ke Mama Lila. Kalau Mama tidak mau, apakah Papa mau belikan nama untuk Naknak, Bi?” tanya Naknak lagi.
“Ya Tuhan, aku tidak sanggup melihat dia. Sampai hati kamu Non, bicara saja Naknak masih belum sempurna tapi kamu sudah mau membuangnya,” pikir Sumi dengan miris.
“Bi, apa itu Papa?” tanyanya bingung.
Sumi mengelus kepala Naknak dengan sedih.
“Naknak sayang sebaiknya kita tidur saja ya, besok Bibi ceritain lagi. Sambil tidur Bibi bacain Cinderellanya ya,” kata Sumi sambil tersenyum.
Naknak kemudian mengangguk setuju karena memang dia juga sangat lelah. Naknak kemudian menyerahkan buku ceritanya kepada Sumi dan mulai membaringkan tubuhnya di pembaringan.
Sumi kemudian menceritakan cerita kisah Cinderella untuk kesekian kalinya. Sampai akhirnya dia sampai kepada akhir cerita dimana Cinderella menemukan pangerannya dan hidup bahagia.
“Bibi akan mendoakan Naknak, bukan hanya pangeran yang Naknak temui tetapi keluarga istana yang baik dan sangat mencintai Naknak. Selalu bahagia malaikat kecilku,” bisik Sumi dengan sedih.
Naknak seperti sadar ini adalah malam terakhir dia bersama Sumi, dia memeluk Sumi dengan erat dan tidak membiarkan Sumi kembali ke kamarnya. Sumi mengangkat tangan kecil Naknak agar dia dapat pindah ke kamarnya sendiri. Naknak ternyata menyadari gerakan Sumi, dia tidak membiarkan Sumi pergi dan semakin memeluk erat Sumi. Sumi kemudian pasrah ketika tangan kecil itu kembali memeluknya dengan erat. Naknak bahkan tersenyum dalam tidurnya. Naknak bermimpi dia masih menikmati es krim bersama Lila, di taman.
Sumi kemudian mencium pucuk kepalanya.
“Selamat jalan Nona kecilku, semoga kamu dapat bertahan di luar sana,” pikir Sumi. Dia merasa sangat kejam terhadap Naknak.