Bohong
Pagi ini Naknak sudah berpakaian rapi, dia memakai pakaian terbaiknya yang dia punyai. Naknak tersenyum bahagia. Dia sama sekali tidak menyangka kemana dia sebenarnya akan dibawa.
“Bi, sini. Bawa uang ini, berikan anak sial ini makanan enak. Kemudian lakukan seperti yang kubilang semalam,” katanya lagi.
Sumi kemudian menganggukkan kepalanya dan menerima uang tersebut. Dia kemudian menuntun tangan Naknak untuk segera pergi dari sana. Tetapi Naknak menatap rumah tersebut dengan lama, seolah-olah dia tahu dia tidak akan kembali ke sana lagi. Sumi telah memberikan Naknak sebuah tas ransel kecil, di dalamnya terdapat beberapa potong pakaian usangnya dan sebuah buku cerita. Sumi juga menuliskan sebuah surat di dalam ransel tas Naknak dan mengatakan Naknak sudah tidak diinginkan ibunya lagi. Sumi terpaksa melakukannya karena dia berharap Naknak bisa menemukan orang baik yang akan merawatnya.
“Ayo, Nak. Kita berangkat, sebaiknya tidak usah melihat rumah itu lagi,” katanya kepada Naknak.
Rambut Naknak dikucir dua kali ini dia memakai sepatu usangnya.
“Bi, sandal Naknak boleh dibawa?” tanyanya.
Seolah-olah dia sudah mempunyai firasat akan dibuang jauh dari keluarganya. Sumi sampai tercekat mendengar perkataan Naknak. Kemudian dia menganggukkan kepalanya dan mengambil sandal tersebut dan menyimpannya ke dalam ransel kecil Naknak. Sumi kemudian menggandeng tangan Naknak dan menuntunnya ke jalan raya. Mereka akan menaiki angkutan umum, sementara punggung kecilnya memanggul ransel kecil berwarna pink muda. Sumi melirik ke arah pintu berharap Audy memanggilnya dan membatalkan rencananya. Tetapi bukan panggilan yang dia harapkan untuk membatalkan kepergiaan Naknak malah ucapan sinis yang menyakitkan hatinya yang dia terima.
“Bi, ingat! Jangan sampai gagal!” perintahnya dengan sinis.
“Astaga Non, Bibi harap Non tidak akan menyesalinya,” bisiknya dengan sedih.
“Nak, Bibi doakan semoga Naknak dilindungi Tuhan, ya,” kata Sumi sambil mengelus kepala Naknak dengan lembut.
Sekarang mereka sedang menunggu angkutan umum untuk membawa Naknak jauh dari tempat ini.
“Iya Bi, Tuhan pasti akan melindungi kita kalau kita baikkan Bi?” tanyanya balik.
Sumi kemudian menganggukkan kepalanya, dia tahu di dalam diri Naknak terdapat sifat yang baik. Karena itu sudah kelihatan sejak dari dia kecil.
“Bi, kita mau kemana?” tanyanya heran.
Bi Sumi memang tidak pernah ke pasar, karena selama ini dia akan membeli sayur dari penjual sayur keliling. Penjual sayur itu akan berkeliling komplek dan Sumi merupakan pelanggan setianya. Pagi ini dia heran tidak menemukan Sumi di antara langganannya yang sedang mengantri untuk membayar.
“Ibu-ibu, Bi Sumi kok ngak kelihatan. Kemana dia pagi ini? Apa sakit?” tanya penjual sayur tersebut.
“Huss, si Abang. Jangan doain orang sakit dong! Tidak baik, memangnya ada apa?” tanya mereka.
“Aku hanya mau memberikan kue ini kepada Naknak. Walaupun dia kaya tetapi sepertinya tidak pernah memakan makanan yang lain selain nasi. Istilah anak sekarang jajan, nach aku membagi jajan anakku ke Naknak,” katanya lagi.
“Wahh, Abang ini ternyata orang baik ya. Iya, aku juga heran. Kasihan Naknak,” kata ibu yang memakai daster biru.
“Aku tadi lihat Bi Sumi keluar naik angkutan umum bersama Naknak. Naknak cantik wuih seperti anak gedongan,” pujinya lagi.
“Loh mereka kemana ya, pagi-pagi begini,” kata ibu itu lagi.
“Memang Naknak anak gedongan bukan? Hanya saja hidupnya ya kere seperti kita ini,” sahut mereka lagi.
Memang ibu-ibu yang berkumpul itu adalah para asisten rumah tangga.
“Ayo cepatin, nanti majikan kita marah,” sahut ibu itu lagi.
Mereka kemudian bergegas meninggalkan abang penjual sayuran karena bagaimanapun kalau majikan mereka marah selalu menyakitkan hati. Bicara tidak pernah memikirkan perasaan orang lain.
Sementara itu Sumi membawa Naknak untuk makan jajanan yang kelihatannya menarik.
“Naknak mau itu?” tanyanya kepada Naknak.
Kemudian Sumi memberikan penganan yang tidak pernah di makan Naknak. Dia menikmati itu semua dengan senang dan terus saja berceloteh dengan riang. Akhirnya pasar itu semakin ramai, bahkan mereka berdesak-desakan karena sangking ramainya.
“Ya, Tuhan maafkan hambamu ini. Aku harus meninggalkan Naknak sekarang karena semakin banyak orang maka semakin banyak orang yang akan menolongnya,” pikir Sumi dengan polosnya.
Sumi kemudian celingukan dan memikirkan tempat yang cocok untuk meninggalkan Naknak. Sumi berusaha mencari tempat yang aman agar Naknak tidak celaka. Hingga akhirnya Sumi melihat di depan penjual buah, tempat itu lebih sepi dari tempat penjual sayur dan lauk.
“Ini tempat yang cocok agar Naknak tidak celaka,” pikir Sumi.
Dia kemudian berjongkok dan meraih tubuh Naknak.
“Nak, kamu sekarang sudah besar bukan?” tanya Sumi dengan sedih.
Naknak menganggukkan kepalanya dengan bangga.
“Kalau Naknak sudah besar, maka Naknak Bibi tinggalkan sebentar ya. Bibi mau ke toilet umum yang ada di sana. Bisakah Naknak menunggu Bibi sebentar di sana?” tanya Sumi dengan suara tercekat.
Tanpa dia sadar sebulir cairan bening meluncur dari matanya. Naknak mengusap air mata itu kemudian menatap wajah Sumi dengan menangkupkan kedua tangan mungilnya di wajah Sumi.
“Bibi, jangan menangis. Jangan takut Naknak sudah besar. Bibi pergi saja ke toilet ya, Naknak akan menunggu Bibi di sini,” katanya sambil tersenyum penuh pengertian.
Sudah pasti apa yang di katakan Naknak semakin membuat hatinya sangat sedih, ingin rasanya Sumi menangis untuk mengubah keadaan Naknak. Namun dia tidak berdaya sama sekali. Hatinya masih saja belum rela meninggalkan Naknak sendirian di sana. Bagaimana kalau orang jahat yang menemukannya?
“Ya, Tuhan. Pertemukan Naknak dengan orang baik. Aku benar-benar tidak berdaya sekarang,” pikir Sumi.
Kemudian dia memeluk Naknak dengan erat, memberikan ciuman terakhirnya. Kemudian Sumi bangkit dan dia menatap Naknak sekali lagi dan mengelus kepalanya untuk yang terakhir kali. Dada Sumi terasa sesak.
“Ya Tuhan, tidak adil rasanya melihat Naknak merasakan kejadian ini. Dia masih kecil ya Tuhan,” pikir Sumi dengan sedih.
Hatinya sangat sakit berpisah dengan Naknak seperti ini, ada sesuatu di dalam dirinya yang memberontak ingin mencegah agar Naknak jangan ditinggalkan di sini. Sumi kemudian melambaikan tangannya dan di balas oleh Naknak. Sumi mengarah ke toilet dan kemudian ketika Naknak tidak melihatnya dia pergi ke arah lain dan mencari tempat persembunyian. Dia ingin melihat Naknak dan mengawasinya dari jarak jauh. Sumi sangat sedih sekali, dia telah menyakiti Naknak dengan mencoreng kepercayaan Naknak kepadanya.
“Hanya kepadaku Naknak percaya, apalagi dia sadar Audy membencinya,” pikir Sumi dengan sedih.
Sumi kemudian menatap Naknak dari tempat persembunyiannya. Dengan patuh Naknak menunggu Sumi kembali, tubuh kecilnya masih berdiri di sana. Dia memandang ke kiri dan ke kanan, menunggu kedatangan Sumi. Naknak sudah mulai gelisah, tempat penjualan buah sudah mulai ramai. Banyak orang sekarang mengunjungi tempat itu, Sumi mulai cemas. Sudah sejam lebih tapi Naknak tidak menangis sedikitpun, wajahnya yang pucat mulai memandang sekitarnya dengan cemas.