RAYA ELMIRA AALIYAH
Raya berjalan terburu-buru. Gadis itu baru saja mengajar ngaji anak-anak di TPA dekat dengan tempat tinggalnya.
Sepasang kakinya terus melangkah menuju ke sebuah rumah sederhana yang selama ini menjadi tempat tinggalnya dan sang ibu.
“Assalamualaikum,” sapanya saat menginjakkan kaki di ruang tamu.
“Sudah pulang, Ra?" tanya sebuah suara diikuti batuk kecil usai menjawab salam itu.
Seorang wanita berumur lima puluh tahunan muncul dari arah dapur. Terlihat beberapa bekas noda minyak di kaos lengan panjang yang sedang dipakainya.
Dengan takzim, gadis bernama lengkap Raya Elmira Aaliyah itu mencium punggung tangan ibunya.
“Sudah Solat?” tanya wanita paruh baya itu.
“Sudah, Bu. Solat di masjid tadi. Raya mandi dulu, ya?”
Melihat anggukan kepala ibunya, Raya pun segera berlalu ke kamar dan berlanjut ke bagian belakang rumah menenteng handuk dan pakaian ganti.
Dari dalam kamar mandi, dada Raya begitu sesak saat mendengar suara batuk ibunya dari arah dapur. Namun demikian, Raya tak pernah mau memperlihatkan kesedihan itu pada ibunya karena Bu Rahmi biasanya tak suka dengan itu. Gadis cantik bermata indah itu pun hanya bisa menghembuskan napas panjang beberapa kali di sela mandi sorenya guna meredakan gejolak di dada.
Usai membersihkan diri, Raya kembali ke kamarnya. Perlahan dia pun mendudukkan diri di tepi tempat tidurnya yang sudah tak begitu empuk. Lalu, dikeluarkannya sebuah amplop yang tadi dia terima dari pengurus TPA tempatnya mengajar.
Kedua sudut bibirnya segera tertarik ke atas, menandakan bahwa dia sedang bahagia saat itu. Meski jumlah rupiah di dalam amplop itu tak seberapa, tapi setidaknya dia bisa menggunakannya untuk membantu sang ibu membeli kebutuhan sehari-hari.
Kecintaan Raya mengajar ngaji, walau hanya di lingkup kecil tetangga dan kenalan, mampu mengaburkan cita-citanya yang dulu ingin sekali menjadi seorang guru. Ada satu hal yang dia syukuri hingga detik ini. Walau tak banyak, uang yang didapatnya dari mengajar ngaji anak-anak di TPA dan les privat itu sudah cukup untuk menopang hidup sehari-harinya dan Bu Rahmi yang kini sudah tak mampu lagi bekerja berat.
Bekal yang dia dapat saat menuntut ilmu di Sekolah Madrasah selama beberapa tahun, membuatnya mampu mengajar baca tulis Al Quran anak-anak kecil di sekitar rumah. Bahkan beberapa kenalan tetangga memintanya untuk mengajar les privat untuk para balita mereka.
Raya selama ini tak pernah khawatir tentang rezeki yang sudah ditakar Allah untuknya. Hanya satu hal saja di dunia ini yang membuatnya masih selalu khawatir, yaitu jodoh.
***
“Jangan pernah kamu ungkit lagi tentang lelaki itu! Sampai kapanpun aku dan ibumu tidak akan pernah setuju kamu rujuk dengan dia. Kalian sudah bercerai selama bertahun-tahun dan anakmu juga tidak pernah lagi menanyakan tentang ayahnya itu. Jadi jangan ceritakan kisah menyedihkan itu pada anakmu!" Suara lelaki tua itu terdengar bergetar, seperti sedang menahan sejuta amarah.
“Tapi dia itu ayahnya Raya, Pak!” ucap Rahmi sambil tersedu.
“Laki-laki macam itu tidak pantas disebut ayah. Apa belum cukup kamu menderita atas apa yang telah dilakukannya pada kalian dulu? Untung saja waktu itu kamu berhasil membawa Raya ke sini. Jika tidak, entah sudah jadi perempuan apa anakmu itu sekarang."
Pria paruh baya yang biasa Raya panggil dengan sebutan kakek itu terus saja mencerca ibunya.
“Tapi, Pak ....” Terdengar suara Rahmi ingin membela diri.
“Tidak ada tapi-tapi. Pokoknya Raya tidak boleh berhubungan lagi dengan dia!”
Raya tersentak saat sebuah tangan lembut menyentuh pundaknya. Membuat semua ingatannya tentang masa lalu itu seketika buyar. Kejadian yang masih begitu jelas terekam dalam benaknya walau sudah belasan tahun berlalu.
Rahmi dan Setyo—ayah Raya—tak mendapat restu dari orangtua Rahmi saat menikah. Pria yang menurut Pak Wiro ugal-ugalan dan tidak tahu agama itu dirasa tak pantas mempersunting putri tunggalnya yang berparas ayu dan sangat lembut perilakunya. Namun apa hendak dikata, Rahmi telah menambatkan hatinya pada pemuda yang sering disebut berandalan oleh bapaknya itu, hingga dia pun kemudian memilih pergi dan kawin lari dengan sang pujaan hati.
Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Kehidupan rumah tangga Rahmi ternyata tak berjalan sesuai harapan. Selain sering berlaku kasar padanya, Setyo juga tak pernah memberikan nafkah untuk istrinya. Padahal keduanya saat itu sudah memiliki buah hati pertama mereka, Raya.
Tak tahan dengan perlakuan suaminya yang kerap membuatnya babak belur saat sedang mabuk, Rahmi pun lari dari Setyo dan kembali ke rumah orangtuanya. Beruntunglah dia sempat membawa putri semata wayangnya, hingga sampai saat ini Raya tetap dalam pengasuhannya.
Beberapa tahun setelah itu, Setyo kembali datang dalam kehidupan Rahmi untuk mengajak rujuk. Namun Pak Wiro menentangnya habis-habisan. Lelaki tua itu tak pernah mau menyerahkan kembali anak perempuannya, walau saat itu Setyo mengaku sudah banyak berubah.
***
“Kamu sedang apa?” tanya Bu Rahmi, seraya memandangi putrinya yang terlihat masih gelagapan.
“Eng-nggak kok, Bu.” Raya melempar senyum termanisnya seperti biasa. Tak ingin ibunya tahu jika hatinya saat ini sedang kembali merasakan trauma pada kejadian yang menimpa kedua orang tuanya di masa lalu. Hal itu pulalah yang membuat gadis dengan dagu belah itu sedikit menjaga jarak dengan lawan jenisnya. Beberapa pria yang pernah berniat mengajaknya berhubungan lebih jauh pun sempat dia tolak.
Perlahan Bu Rahmi ikut mendudukkan diri di sisi ranjang, menunggu Raya merapikan tas di nakas samping pembaringan.
“Ibu sudah makan?” tanya Raya, mencoba mengalihkan perhatian sang ibu padanya.
“Belum. Ibu nungguin kamu. Kita makan sekarang yuk?" ajak wanita yang masih nampak ayu di usianya yang sudah hampir kepala lima itu.
Raya langsung mengangguk, lalu bangkit dan menggandeng tangan Bu Rahmi usai menata sejenak rambut hitam panjang lurusnya.
“Kamu lagi mikirin apa?” tanya Bu Rahmi melanjutkan rasa penasarannya saat keduanya telah sama-sama duduk di meja makan kayu yang sudah sangat kuno.
Pertanyaan itu membuat Raya menautkan kedua alis. “Mikirin apa, Bu?”
“Kamu tidak bisa berbohong pada ibumu ini, Ra. Ibu lihat belakangan ini kamu seperti sedang banyak pikiran. Ibu sering perhatikan kamu melamun, kayak tadi itu.” Bu Rahmi terlihat sedikit mengulas senyum.
Bibir Raya langsung mengatup rapat mendengar perkataan ibunya. Bagaimanapun juga, wanita yang sedang duduk di depannya itu adalah orang yang telah melahirkannya. Tentu saja dia bisa merasakan apa yang tengah dirasakan olehnya sepandai apapun dia berusaha menutupi.
“Nggak kok, Bu. Raya hanya sedang mikirin materi yang besok mau Raya kasih ke anak-anak TPA,” kilahnya.
Bu Rahmi hanya tersenyum simpul mendengar jawaban itu. Dia tahu pasti bahwa Raya sedang menyembunyikan sesuatu karena tidak ingin dirinya ikut berpikir.
“Ya sudah kalau gitu. Ayo makan dulu. Nanti saja dipikirkan kalau perutmu sudah kenyang," ucap Bu Rahmi tanpa sedikitpun melepaskan senyum dari bibirnya. Raya mengangguk seiring tangannya yang cekatan mengambilkan nasi untuk ditaruh di piring sang ibu.
***
“Astaghfirullah!”
Raya terbangun dari tidur saat mimpi buruk lagi-lagi menghantui. Ini bukan kali pertama dia memimpikan hal seperti itu. Raya bahkan seperti sudah hafal jam berapa dia terbangun dengan leher penuh peluh.
Perceraian orang tuanya sepertinya begitu mempengaruhi kehidupannya. Walau tak bisa mengingat secara detail peristiwa itu, tapi hari-harinya yang tanpa ayah sedari kecil membuatnya merasa bahwa perceraian adalah hal yang sangat menakutkan baginya.
Beberapa menit kemudian, dia memutuskan untuk turun dari tempat tidur dan langsung melangkah menuju kamar mandi. Sudah menjadi rutinitas Raya melakukan shalat malam selama ini. Mimpi buruknya beberapa waktu terakhir, kini seolah menjadi alarm untuknya saat menjelang dua rakaatnya.
Rakaat demi rakaat dilakukannya dengan khusyu’. Titik-titik air mata mulai luruh begitu dia menengadahkan dua tangan memohon ampunan dari Sang Maha Kuasa.
“Apa yang harus kulakukan, Ya Allah? Mimpi-mimpi buruk itu begitu nyata. Aku takut menikah. Aku tak ingin mengalami nasib yang sama seperti ibu." Mulutnya tak henti berceloteh menumpahkan semua hal yang dirasakannya pada pencipta-Nya.
Raya mulai sesenggukan mengiringi tiap bait yang dia ucapkan. Tanpa sadar, seseorang tengah memperhatikannya dari celah pintu kamar yang sedikit terbuka.
Telapak tangan Bu Rahmi menutup rapat mulutnya, berusaha agar tak sedikit pun keluar suara dari sana. Dia tak menyangka bahwa apa yang dialaminya dulu ternyata berdampak pada kehidupan Raya. Rasa bersalah sontak menyeruak dalam dada. Hingga tiba-tiba dia merasa pandangan matanya lambat laun menjadi gelap. Sedetik kemudian dia sudah tak ingat apapun lagi.
"Ibuuu!”
Gegas Raya bangkit usai mendengar bunyi gedebug dari arah belakangnya. Gadis itu berlari ke arah pintu dengan panik. Hatinya semakin tak karuan kala melihat tubuh Bu Rahmi sudah terbujur lemas di lantai depan kamar.
“Ya Allah, Ibuu. Ibu kenapa? Buu!" teriaknya.