LNCrawler

PEMUDA MISTERIUS

Cinta Sejagat Raya — gooddreamer.id · All chapters

PEMUDA MISTERIUS

Dengan susah payah Raya membopong tubuh Bu Rahmi, membawanya masuk ke dalam bilik yang ada di sebelah kamarnya. Setelah membaringkan tubuh lemah itu, Raya segera membuka mukena dan menggantinya dengan jilbab instan. Diambilnya minyak angin yang biasa diletakkan Bu Rahmi di atas nakas, lalu mulai diusapnya hidung sang ibu dengan bebauan itu.

Walau bukan pertama kali melihat ibunya pingsan, tapi tetap saja Raya tak bisa menyembunyikan kepanikannya. Kondisi wanita paruh baya yang memang sering sakit-sakitan itu membuat tubuhnya terlihat semakin lemah. Hanya saja kali ini, Raya sangat terkejut karena sang ibu pingsan di depan kamarnya. Apalagi jam di dinding saat itu masih menunjuk ke angka tiga dini hari.

Tangannya begitu terampil mengusap leher dan kening Bu Rahmi dengan minyak angin. Kemudian beranjak turun memijat bagian tangan dan kaki. Biasanya sang ibu akan segera sadar setelah dia melakukan hal itu selama ini.

Dugaan Raya tak meleset. Bu Rahmi mulai membuka mata beberapa menit kemudian. Raya pun segera mengambil air putih yang biasa disiapkan ibunya di dalam kamar.

"Minum dulu, Bu," ujarnya lembut.

Tangan kanannya memegang gelas yang berisi air, sedangkan tangan kiri membantu sang ibu untuk menopang punggung agar bisa duduk. Bu Rahmi segera meminum beberapa teguk dengan susah payah.

“Sudah, Ra. Ibu tidak apa-apa," ucap Bu Rahmi sembari mendorong pelan gelas dengan tangannya. Raya pun segera tahu bahwa ibunya ingin dia mengembalikan benda itu ke tempatnya semula.

“Ibu kenapa sampai pingsan lagi? Sepertinya sudah lumayan lama kan ibu jarang pingsan?” tanya gadis itu lembut. Suhu tubuh Bu Rahmi normal saat Raya memijit pergelangan kakinya. Biasanya itu bukan kondisi yang mengkhawatirkan.

“Enggak apa-apa, Ra. Tadi ibu nggak sengaja terbangun dan mau ambil air hangat di dapur. Tapi tiba-tiba kok kepala ibu pusing pas sampai depan kamar kamu,” jelasnya terdengar meyakinkan. Bu Rahmi sepertinya tak ingin putrinya tahu kalau tadi dia sempat  mendengar lantunan doa Raya tanpa sengaja.

Raya mengangguk dan percaya saja apa yang dikatakan ibunya. “Ya sudah kalau gitu, Ibu tidur lagi aja ya? Raya mau latihan untuk mengisi tilawah besok.”

“Memangnya kamu diundang kajian dimana, Ra?” Bu Rahmi tampak mengerutkan dahi. Seingatnya sudah agak lama Raya tak cerita bahwa dirinya diminta untuk ikut membantu mengisi tilawah di sebuah pengajian.

“Di Masjid Raya, Bu. Ada kajian ibu-ibu di sana. Ustazah Saliha yang ngajakin Raya."

“Oh, ya sudah. Kalau gitu ibu mau istirahat lagi saja. Nanti kalau ibu ketiduran, tolong bangunkan subuh ya?”

Raya mengangguk, lalu menarik selimut dan menutupi tubuh ibunya hingga sebatas dada. Setelah itu dia pun mencium kening wanita itu untuk kemudian melenggang keluar dari kamar.

Air mata mulai membasahi pipi Bu Rahmi saat tubuh Raya menghilang di balik pintu. Wanita itu seolah ikut merasakan apa yang sedang digundahkan oleh anaknya. Siapa sangka, akibat dari cinta butanya dengan sang suami di masa lalu menyisakan trauma tersendiri di hati dan pikiran putrinya saat ini.

Namun bagaimanapun, Bu Rahmi tetap bersyukur memiliki Raya. Sejak SMP, anaknya itu bahkan jarang bersenang-senang seperti remaja seusianya. Hal itu pulalah yang membuatnya kuat meski dengan kondisi tubuh begitu lemah digerogoti penyakit dan puluhan tahun berjuang hidup tanpa sosok lelaki di sampingnya.

Saat ini tujuan hidup Bu Rahmi hanya satu, yaitu melihat putrinya hidup bahagia bersama dengan pasangan hidup terbaiknya.

***

Raya sengaja memilih becak motor sebagai kendaraan untuk membawanya ke Masjid Raya yang ada di pusat kota siang itu. Seniornya di Sekolah Madrasah dulu, Ustazah Saliha sudah menunggunya di sana bersama dengan beberapa ibu-ibu peserta kajian yang sudah datang.

“Terima kasih ya, Pak,” ujar Raya seraya menyerahkan dua lembar uang pecahan sepuluh ribu pada si abang becak. "Kembaliannya ambil saja," lanjutnya.

“Wah, ini kebanyakan, Mbak Raya.” Lelaki berkulit legam itu terlihat sungkan menerima uang yang disodorkan oleh Raya.

“Tidak apa-apa, Pak. Rezeki dari Allah. Nanti jangan lupa jemput Saya ba’da Ashar, ya?” pintanya kemudian.

“Baik, Mbak Raya. Terima kasih banyak. Saya doakan semoga banyak rezekinya,” ucap si abang becak itu seraya berlalu.

Raya mengaminkan doa itu dalam hati. Pak Ahmad memang sudah seringkali mengantarnya jika kebetulan Raya perlu tumpangan ke tempat yang sedikit jauh dari rumahnya. Tiap kali Raya membayar jasanya, lelaki itu tak pernah lupa mendoakan rezeki untuknya. Mungkin berkat doa itu juga, Raya dan ibunya tak pernah kekurangan selama ini. Walau tak bisa juga dikatakan berlebih.

***

Raya bersiap meninggalkan masjid usai kajian yang diisi oleh Ustazah Saliha selesai. Setelah menyalami satu per satu jamaah, Raya pun terlihat berjalan beriringan dengan beberapa diantara mereka menyeberangi pelataran masjid. Banyak diantara ibu-ibu itu yang membawa kendaraan sendiri, hingga kini tinggal Raya saja yang harus berjalan sampai di jalan raya depan kompleks peribadatan itu.

Setelah beberapa menit berlalu, gadis itu masih terlihat berdiri mematung di pinggir jalan. Sesekali kepalanya kepalanya menoleh ke kanan dan kiri, memperhatikan kalau kalau Pak Ahmad sudah sampai di tempat itu.

Karena belum melihat kendaraan yang menjemputnya datang, Raya pun mulai mendudukkan diri di bangku beton yang sengaja dibangun untuk para jamaah yang menunggu di depan masjid.

Di tengah kegelisahannya itu, tiba-tiba seseorang duduk di sebelahnya. Gerakannya yang cepat membuat Raya sedikit kaget hingga refleks beringsut menggeser posisi duduknya.

“Astagfirullah!” Raya hampir memekik saat seseorang yang ternyata berjenis kelamin laki-laki itu meletakkan sebuah tas ransel dengan sedikit kasar di antara keduanya..

Menyadari bahwa dia sedang duduk bersama lawan jenis, Raya pun segera menggeser posisi duduknya agar lebih menjauh. Namun dia sedikit keheranan karena setiap kali badannya bergerak, pemuda yang dia taksir usianya tak beda jauh dengannya itu juga ikut menggeser posisi duduknya.

Raya yang mulai sedikit kesal pun kemudian menoleh. Cukup lama diperhatikannya pemuda itu hingga tak sadar Al-Quran kecil di tangannya terlepas dari pegangan. Gadis itu lalu beristighfar berulang kali sembari memalingkan wajah saat melihat pemuda itu malah menatapnya dengan pandangan aneh.

Kesal dengan tingkah sang pemuda, Raya memberanikan diri untuk kembali menatap ke arahnya. Siapa sangka ternyata pemuda itu malah semakin menatapnya tajam. Beberapa detik kemudian, pandangan mereka pun saling mengunci tanpa suara.

Raya kembali beristighfar usai memalingkan wajahnya dengan cepat. Rasanya dia begitu menyesal harus mengotori matanya dengan wajah pemuda yang menurutnya cukup menawan itu. Mukanya pun sontak memerah karena malu. Hingga pada akhirnya, Raya tak tahan untuk segera bangkit dan mulai berjalan menjauh.

Beruntunglah Pak Ahmad yang sejak tadi ditunggunya, mulai terlihat dari kejauhan dengan becak menuju ke arahnya.

“Maaf, Mbak Raya, saya telat jemputnya. Tadi bannya bocor," katanya dengan sungkan.

“Tidak apa-apa. Kita jalan sekarang ya, Pak." Dengan cepat gadis itu bergerak mendekati becak motor Pak Ahmad.

Dengan setengah melompat, Raya pun langsung masuk ke dalam becak, berharap Pak Ahmad segera melajukan kendaraannya meninggalkan tempat itu. Jantungnya berdebar cepat teringat tatapan mata pemuda misterius di depan masjid yang datang dengan tiba-tiba dan mengagetkannya tadi.