GADIS PENAKUT?
Pak Ahmad segera mengangguk dan mulai menyalakan mesin becak motornya. Saat kendaraan roda tiga itu melaju, entah kenapa Raya tergerak kembali untuk melihat ke arah pemuda tadi. Sontak dia langsung membuang muka karena ternyata orang tadi masih menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
‘Siapa dia? Mau apa?’ Raya bertanya dalam hati. Wajah tadi begitu asing baginya. Sepertinya Raya belum pernah berjumpa sebelumnya, apalagi mengenalnya. Tapi kenapa sikap pemuda itu seolah menyiratkan bahwa dia sudah mengenal Raya?
Sepanjang perjalanan menuju rumah, perasaan Raya menjadi gundah gulana. Tak pernah dia merasakan hal seperti itu sebelumnya. Beberapa pria yang kebetulan dia kenal tak ada yang seberani itu menatapnya. Apalagi semenjak dia dikenal oleh orang-orang di sekitarnya sebagai sosok gadis alim dengan pakaian tertutup.
Raya sampai beberapa kali memegangi dadanya. Sungguh dia tak mengerti dengan apa yang sedang dirasakannya saat itu. Seorang pemuda jangkung, mungkin tingginya lebuh dari 180 sentimeter, berambut rapi sedikit bergelombang, kulit bersih, garis wajah tegas dengan sorot mata tajam tapi tak terkesan seram.
"Astaghfirullah." Raya segera mengusap wajahnya. Rupanya dia masih saja memikirkan pemuda yang ditemuinya tadi, hingga tak sadar jika ternyata dia sudah ada di depan pintu rumah.
"Kenapa kamu, Ra? Kok pucet gitu wajahmu?" Bu Rahmi menyambutnya keheranan dari balik pintu.
"Nggak apa-apa kok, Bu," jawabnya sembari mencium punggung tangan sang ibu. "Raya ke belakang dulu ya, gerah," lanjutny. Tak ingin mendapatkan pertanyaan lebih banyak lagi dari ibunya, gadis itu pun segera berlalu.
Usai membersihkan diri, Raya langsung menghampiri Bu Rahmi yang sedang terlihat sibuk di dapur.
"Ibu lagi ngapain sih? Sini biar Raya aja yang masak."
Dengan cekatan gadis itu mengambil alih baskom berisi sayuran yang sudah dicuci dari tangan sang ibu. Dia melanjutkan pekerjaan ibunya, sementara Bu Rahmi segera mendudukkan diri di atas kursi pendek dekat kompor yang selalu dipakainya jika sedang tak kuat berdiri.
“Tadi pas kamu pergi, bu Hajjah Syamsiah ke sini. Katanya besok sore kamu jadi diminta mengajar anak-anak TPA di Masjid Al-Falah, Ra," kata Bu Rahmi seraya menatap anak gadisnya yang sedang sibuk di depannya.
“Iya, Bu. Raya masih inget kok jadwal di sana. Alhamdulillah kalau jadi.”
Masjid Al Falah adalah masjid di kompleks perumahan sebelah.
“Kamu nggak capek kan, Ra? Kalau capek, sesekali bisa menolak permintaan mereka. Kan kamu juga butuh istirahat.” Bu Rahmi membelai lembut kepala Raya yang sedang duduk berjongkok di lantai. Kompor di rumah itu memang hanya diletakkan di sebuah bekas meja yang kaki-kakinya sudah dipotong pendek. Jadi baik Raya maupun ibunya biasanya akan duduk di bangku kecil atau berjongkok saja di lantai saat sedang memasak.
“Nggak capek, Bu. Raya malah seneng kok."
"Iya sudah kalau gitu. Ibu cuma mau kamu juga jaga kesehatan. Jangan terlalu capek kesana kemari." Bu Rahmi menghela nafas sejenak sebelum akhirnya melanjutkan. "Maafin ibu ya? Harusnya ibu bisa menyekolahkanmu sampai Perguruan Tinggi hingga kamu bisa meraih cita-citamu menjadi guru, Ra. Tapi nyatanya ibu hanya mampu membiayaimu sampai tamat SMA saja." Wajah wanita paruh baya itu terlihat begitu nelangsa.
"Mengajar ngaji itu kan juga sama aja dengan menjadi guru, Bu. Insyaallah Raya dapat pahala juga dari Allah." Raya menoleh sebentar pada sang ibu, lalu mengembangkan senyum manis di bibirnya. Selalu seperti itu, Bu Rahmi yang merasa bersalah karena tak bisa memberikan apa-apa pada anak gadisnya, sementara Raya tidak ingin melihat ibunya bersedih. Jadi sebisa mungkin dia selalu berusaha terlihat bahagia di hadapan Bu Rahmi.
***
Sore itu sesuai jadwal, Raya telah bersiap untuk mengajar TPA di masjid kompleks perumahan sebelah yang letaknya tidak terlalu jauh. Gamis warna biru laut dan jilbab lebar warna senada adalah pilihannya kali itu. Usai berpamitan, Raya pun mulai berjalan kaki menyusuri jalanan sepanjang kompleks menuju ke lokasi.
Sepuluh menit berjalan kaki, sampailah dia di Masjid Al Falah. Senyumnya mulai melebar saat menapakkan sepasang kaki kurusnya di pintu masuk pelataran.
Masjid tersebut adalah salah satu masjid favorit Raya. Meski bangunannya tak terlalu besar, tetapi halamannya yang asri membuat Raya selalu betah berlama-lama di tempat itu.
Seperti biasa jika sedang berada di tempat itu, Raya selalu menyempatkan diri untuk berkeliling di sekitar taman samping masjid usai anak-anak TPA membubarkan diri. Hanya terlihat beberapa anak yang masih belum meninggalkan masjid. Dari halaman Raya bisa melihat mereka masih mengobrol dan beraktifitas di dalamnya.
“Hai, kamu Raya, kan?” tanya sebuah suara.
Seketika Raya menoleh mendengar namanya disebut.
Jantungnya serasa hampir copot saat kemudian dia melihat seseorang sedang berdiri sangat dekat dengannya. Raya yakin dia tak mengenal pemuda di depannya itu, tapi ingatannya masih sangat tajam untuk tahu bahwa orang itu adalah orang yang sempat dilihatnya di Masjid Raya pusat kota di hari sebelumnya.
"Kenapa dia ada di sini?" Dahi Raya sontak mengernyit seiring tanya yang tiba-tiba mengganggu pikirannya. Kakinya pun refleks bergerak mundur menjauhkan jaraknya dengan pemuda itu.
Kekagetannya bahkan membuat gadis itu tak berani mengangkat wajah lagi di detik berikutnya. Saat sadar, Raya malah memilih berbalik untuk kemudian melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
“Tunggu!” teriak si pemuda. Tapi hal itu sama sekali tak membuat Raya urung. Dia malah menambah kecepatan langkahnya, seraya terus beristighfar berkali-kali dalam hati.
“Kenapa lari sih? Aku cuma pengen ngobrol lho,” ucap pemuda itu sedikit berteriak.
Raya yang sudah beberapa meter menjauh dari pemuda itu pun berhenti, lalu membalikkan badan. Matanya membelalak kala melihat ternyata dia kini malah berjalan mendekat ke arahnya.
“Kamu nggak biasa ngobrol sama orang ya? Kenapa lari begitu sih? Di dalam tadi aku perhatiin kamu enjoy aja bicara sama anak-anak itu,” kata pemuda itu dengan tenang seraya menunjuk ke anak-anak yang masih berada di dalam masjid. Senyumnya yang begitu menawan membuat hati gadis itu berdesir aneh. Raya seolah tersihir, karena mendadak saja tangannya ikut maju saat pemuda itu mulai mengulurkan tangan kokohnya.
"Kenalin, aku Jagad. Kamu Raya kan?"
Namun belum sempat kedua telapak tangan itu bertemu, Raya buru-buru menariknya kembali.
"I-ya, Anda siapa?"
Pemuda itu justru tertawa mendengar pertanyaan Raya yang terbata.
"Ternyata selain penakut, kamu juga agak … sori, susah dengar ya?" Mata pemuda bernama Jagad itu memicing, memindai gadis di depannya dari atas ke bawah. Sementara tangannya yang urung disambut oleh Raya, masih tampak tak goyah pada posisinya.
Mendengar ucapan bernada mengejek itu, mata Raya sontak melotot. Selama ini dia memang tak pernah takut pada siapapun, apalagi jika dia tahu dia ada di posisi yang benar.
"Maaf, maksudnya gimana ya?" Tak ingin dicap penakut lagi, Raya mendadak mendongak dan kini justru terlihat menantang tatapan mata pemuda di depannya.
Jagad makin melebarkan senyum melihat reaksi Raya.
"Lhoh kenapa? Aku nggak salah kan? Aku udah bilang tadi nama aku Jagad. Masih nanya lagi kamu siapa?"
"Jangan sembarangan kalau bicara ya? Saya nggak Budheg. Jadi tolong jangan bicara seenaknya!"