MISI TERSELUBUNG
Jagad seperti tersadar melihat kemarahan di mata gadis di depannya. Lalu dia pun mulai melembut. Ditariknya kembali tangannya yang masih terulur. Senyum yang bagi Raya seperti ejekan itu pun perlahan hilang dari bibir pemuda itu.
“Maaf, bukan maksudku ….”
Pemuda itu sepertinya langsung mengerti bahwa gadis yang ada di hadapannya begitu murka dengan kalimat yang dia ucap sebelumnya.
“Baiklah, kalau gitu aku ulangi yang tadi ya? Aku Jagad, boleh kenalan kan?” Kali ini sikapnya terlihat lebih manis. Raya pun mendadak gugup dibuatnya. Namun dia sadar bahwa tidak benar menerima uluran tangan pria yang bukan mahram baginya.
Setelah berhasil mengembalikan degup jantungnya ke keadaan normal, Raya segera menangkupkan kedua tangan di dada sambil menundukkan kepala. Setelahnya, justru tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.
Jagad menautkan kedua alis keheranan. Dia pikir sikap lembutnya akan membuat gadis di depannya itu berubah sikap untuk menerima perkenalan yang ditawarkannya dengan suka cita. Rupanya perkiraannya salah. Raya justru makin jelas menunjukkan bahwa dirinya tidak ingin disentuh.
Jagad bukannya tak pernah mendengar bahwa seorang gadis muslimah yang sebenarnya pasti tak akan mau bersentuhan dengan lawan jenis yang bukan mahram. Namun, gadis-gadis di sekelilingnya selama ini, walau mengaku beragama islam dengan pakaian tertutup dan memakai kerudung, tetap mau saja berjabat tangan dengannya. Bahkan terkadang ada yang sangat senang berdempetan jika sedang duduk dengannya. Lalu, apa istimewanya gadis di depannya ini dengan mereka?
Sejujurnya Jagad merasa sedikit tersinggung dengan sikap Raya, karena biasanya dialah yang dikejar-kejar para gadis selama ini. Bukan sebaliknya seperti ini.
Jika bukan karena ibunya menjanjikan padanya sesuatu yang amat sangat diinginkannya, tak mungkin rasanya Jagad bersusah payah mencari cara untuk mendekati gadis berpakaian tertutup dengan sikap aneh di depannya itu.
[Mama mau kamu nanti menikah dengan wanita seperti ini.]
Isi pesan whatsapp ibunya di hari sebelumnya, disertai dengan sebuah video seorang gadis duduk di tengah-tengah ibu-ibu kajian. Saat Jagad memutar video itu, tampak dalam layar ponselnya gadis itu sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-quran dengan suara sangat merdu. Meski begitu, wajahnya yang menunduk menekuri kitab tidak bisa dilihat jelas oleh Jagad.
[Memangnya dia itu siapa, Ma?] balasnya. Bukan lantaran penasaran dengan sang gadis, tapi Jagad lebih tertarik dengan tujuan ibunya mengirimkan video itu.
[Kalau kamu berhasil mendapatkan calon menantu yang seperti itu untuk Mama. Mama akan bujuk papa kamu agar mau membantu mendanai rencana bisnis yang kamu bilang waktu itu.]
Mata Jagad langsung berbinar membaca balasan dari ibunya. Bagaimana tidak? Bertahun-tahun perdebatan dirinya dengan sang ayah hanya berkutat pada persoalan itu-itu saja. Sejak lulus SMA, jagad lebih suka bergaul dengan teman-temannya yang bekerja dibanding mereka yang melanjutkan kuliah ke perguruan tinggi.
Alhasil, anak sulung dari tiga bersaudara itu pun lebih cenderung ingin bekerja dibanding menyelesaikan pendidikannya. Walau pada akhirnya Jagad menyelesaikan juga kuliahnya dengan IPK yang memuaskan, hal itu tak lantas membuat ayahnya bangga padanya.
Ayahnya yang seorang dokter dan selama ini telah berjuang menyisihkan penghasilannya demi pendidikan anak-anaknya, tentu kecewa karena setelah lulus, Jagad tetap saja menghabiskan waktunya sekehendak hati. Hari demi hari hubungannya dengan sang ayah pun hanya diwarnai dengan pertengkaran dan perdebatan tanpa akhir mengenai maslah masa depan anak sulungnya itu.
Beruntung, ibunya selalu berusaha menjadi penengah di antara keduanya. Walaupun sifat dua pria yang sama-sama keras itu tak mudah untuk disatukan.
“Saya ... Raya.” Meski awalnya ragu, akhirnya Raya menyambut baik juga perkenalan yang lebih bersahabat dari sebelumnya itu. Raya pikir tidak ada salahnya memperkenalkan diri pada seseorang yang belum tentu punya niatan buruk padanya.
Setelahnya, Raya pun segera membalikkan badan dan berjalan terburu-buru meninggalkan tempat itu. Kini, tinggal Jagad yang mematung di tempatnya, menyaksikan Raya yang berjalan semakin menjauh. Kali ini, dia tak punya niat untuk mengejar gadis itu lagi.
“Apa hari ini aku terlihat menakutkan?” tanya pemuda itu dalam hati, seraya menunduk memindai seluruh penampilan yang menurutnya tak kurang suatu apa hari itu. Dia merasa ekspresi Raya tadi terlalu berlebihan. Gadis itu bersikap seolah dirinya adalah momok yang wajib dihindari.
Meski begitu, Jagad tetap menarik kedua sudut bibirnya ke atas mengingat kejadian tadi. Sepertinya, hari ini cukup baginya memperkenalkan diri pada Raya. Dia begitu yakin masih punya banyak kesempatan untuk mencari tahu lebih jauh tentang gadis itu. Otaknya mulai bekerja. Dibanding harus susah-susah mencari wanita seperti yang diinginkan ibunya itu, lebih baik orang itu saja yang dikejarnya.
Setelah sosok Raya hilang dari pandangan, Jagad segera berbalik pergi meninggalkan pelataran masjid. Apa yang dibuntutinya sedari tadi sudah pergi, jadi dia tidak punya alasan lagi untuk berlama-lama di tempat itu.
"Hari ini kamu bisa bersikap acuh padaku, Raya. Tapi aku yakin, tak berapa lama lagi pasti kamu yang akan mengejar-ngejarku."Jagad tak henti tersenyum sambil terus melangkah menuju motor sport yang diparkirnya tak jauh dari masjid.
***
“Ngelamun apa kamu, Ra?” tanya sang ibu, melihat putrinya duduk diam sendirian di bale-bale bambu teras rumah mereka.
Bu Rahmi mulai ikut mendudukkan diri di sebelah Raya, lalu menyenggol bahu kurus anak gadisnya itu dengan nada menggoda.
Meski sedang sakit-sakitan, tapi selama ini Bu Rahmi memang tetap berusaha untuk menjadi ibu sekaligus sahabat yang baik bagi anaknya. Selagi dia merasa tubuhnya baik-baik saja, maka dia akan berusaha membuat Raya nyaman selama berada di rumah.
“Eh, Bu. Enggak, kok. Siapa yang ngelamun?" kilahnya. Lagi-lagi tak ingin membuat ibunya cemas memikirkannya. "Oh ya Bu, Raya lagi mikir mau bawa ibu periksa lagi ke dokter."
Meski bukan itu yang sebenarnya sedang dia pikirkan, tapi tidak sepenuhnya Raya berbohong dengan ucapannya. Belakangan ini dia memang sedang giat menabung agar bisa membawa ibunya berobat ke dokter.
“Periksa apa lagi? Ibu kan sudah sehat, Ra. Lebih baik uangnya kamu simpan saja untuk keperluan kamu nanti. Kamu tahu sendiri kan kalau Ibu sudah tidak bisa lagi ikut bantu kerja kamu. Jadi daripada buang-buang uang ....”
“Ibu bicara apa, sih?” potong Raya cepat. “Tidak ada uang yang terbuang sia-sia kalau untuk kepentingan Ibu. Raya akan melakukan apapun agar Ibu bisa sembuh lagi.”
Tidak akan ada anak yang tega membiarkan ibunya terus-terusan kesakitan. Begitu juga dengan Raya. Meski wanita paruh baya itu mengatakan kalau dirinya baik-baik saja, sebagai anak satu-satunya tentu Raya sangat paham kalau itu hanyalah alibi semata. Raya sangat tahu bahwa sesungguhnya sang Ibu tak pernah mau menyusahkan dirinya.
“Ibu baik-baik saja. Kamu lihat sendiri, kan? Penyakit ibu sudah tidak pernah kambuh lagi sekarang.” Bu Rahmi berucap sambil menyunggingkan senyum sumringah.
Beberapa waktu belakangan, Bu Rahmi memang jarang mengeluh sakit. Namun pingsan kemarin sempat membuat Raya sedikit khawatir.
Selain asam lambung, sudah sejak lama Bu Rahmi juga memiliki riwayat sesak nafas dan darah tinggi. Selama ini mereka hanya mampu memeriksakannya di puskesmas terdekat. Dalam hati, Raya ingin sekali bisa memeriksakan ibunya itu ke dokter spesialis. Namun tiap kali Raya mengutarakan niatnya itu, Bu Rahmi selalu merasa dirinya hanya akan lebih merepotkan putrinya saja kalau sampai harus berurusan dengan rumah sakit.
“Sudah ah, ibu jangan banyak alasan. Uang tabungan Raya sudah cukup kok untuk membawa ibu berobat kali ini. Jadi Ibu jangan menolak, ya?” bujuk Raya dengan penuh kasih. "Raya ingin ibu segera sembuh," bisik gadis itu seraya merangkul sayang bahu sang ibu.
“Kalau Ibu tidak bisa sembuh, bagaimana?”