LNCrawler

KEGELISAHAN RAYA

Cinta Sejagat Raya — gooddreamer.id · All chapters

KEGELISAHAN RAYA

Dengan cepat Raya menarik tubuh ibunya dalam pelukan. Dia tak ingin mendengar hal menyedihkan lainnya lagi yang keluar dari mulut wanita itu. Bagi Raya, semua ucapan yang keluar dari seseorang itu sama dengan sebuah doa. Jika yang terucap adalah kebaikan, maka itu akan menjadi doa yang baik untuknya. Begitu juga sebaliknya.

Demi menghindarkan ibunya dari ucapan kurang baik, Raya memilih untuk membungkam wanita yang telah melahirkannya itu dengan cara memeluknya erat.

“Kita punya Allah, Bu. Dia yang menciptakan segala penyakit. Maka kita harus yakin juga bahwa Dia telah menyediakan obatnya. Allah punya semuanya, asal kita mau berdoa dan berikhtiar." Raya mencoba membuat ibunya berpikir lebih positif. Raya selalu yakin bahwa jiwa yang baik akan berpengaruh terhadap kondisi fisik seseorang, karena apa yang dirasakan oleh tubuh dipengaruhi juga oleh pola pikir orang tersebut.

“Tapi Ibu sudah sering merepotkan kamu, Ra,” lirih Bu Rahmi dengan kepala menunduk. Sering dia merasa menjadi Ibu paling tak berguna karena tidak bisa mencukupi kebutuhan hidup anak semata wayangnya itu. Raya yang justru berperan menjadi tulang punggung keluarga selama beberapa tahun belakangan. Wanita itu jadi semakin merasa bersalah saat putrinya selalu bersikeras untuk membawanya berobat ke dokter, yang dia tahu pasti membutuhkan biaya yang tak sedikit.

“Siapa bilang? Raya malah jauh lebih merepotkan ibu selama ini. Dari kecil kan ibu sudah sangat repot membesarkan Raya. Jadi sekarang, tugas Raya gantian merawat ibu. Ibu nggak boleh nolak, ya? Demi Raya, Bu. Pliss."

Raya masih ingat betul bagaimana perjuangan Bu Rahmi  membesarkannya seorang diri. Walau saat itu masih ada kakek dan neneknya, namun tak banyak yang bisa dilakukan oleh pasangan yang sudah renta itu.

Biayanya selama beberapa tahun bersekolah di Madrasah tidak bisa dikata murah untuk ukuran single parent seperti Bu Rahmi. apalagi dengan pekerjaannya yang serabutan. Tapi berkat kegigihannya, wanita itu bisa melewatinya dengan baik.

Raya sering berpikir bahwa sifat kerja kerasnya itu menurun dari ibunya. Walau dia tahu bahwa betapapun usaha keras yang dia lakukan saat ini, belum bisa membalas semua jasa dan pengorbanan yang telah diberikan oleh wanita paruh baya itu untuknya.

Dalam duduknya, Bu Rahmi diam-diam mengingat kembali masa di mana dirinya masih bebas bergerak dengan tubuh masih sehat dan bugar. Barangkali jika dia masih bisa sembuh, Raya tak harus bekerja sendirian seperti sekarang ini. Tiba-tiba tekadnya untuk kembali sehat menggelora kembali.

“Baiklah kalau gitu, ibu nurut aja kata kamu, Ra,” ucapnya akhirnya. Dalam hati yang paling dalam, tentu dia menginginkan dirinya sehat kembali seperti dulu. Dia sangat ingin sembuh dan hidup normal seperti para tetangga seusianya yang masih lumayan energik.

“Nah, gitu dong Bu. Kalau begitu, kita istirahat dulu aja yuk. Besok Raya akan antar ibu ke rumah sakit."

“Loh, kok besok? Kenapa harus buru-buru sih, Ra?” Bu Rahmi terlihat kaget mendengar penuturan Raya. Dia mengira rencana untuk membawanya berobat itu masih sekadar ancang-ancang saja. Namun siapa sangka kalau ternyata Raya sudah mempersiapkan segala sesuatunya.

“Ya iya, Bu. Lebih cepat kan lebih baik. Pokoknya ibu harus cepet sembuh. Oke?”

Tak sadar Bu Rahmi pun menitikkan air mata. Dengan lembut, tangan yang sudah mulai keriput itu mengusap pucuk kepala Raya. Sebelah tangannya lagi mencoba untuk menyapu bulir bening yang terus luruh tak bisa dibendung di pipinya. Dia sangat bersyukur karena Sang Maha Pencipta telah memberikan anugerah yang sangat sempurna seperti putrinya.

“Ibu kenapa malah nangis sih?” tanya Raya kemudian.

Bu Rahmi menggelengkan kepala. “Enggak, ibu hanya terlalu bahagia. Ibu nggak tau kalau nggak punya kamu dalam hidup ibu, Ra."

“Ibu bisa aja. Udah ah yuk tidur, Bu."

Raya pun bangkit. Tangannya terulur ke arah sang ibu, membantu wanita itu untuk bangkit dari tempat duduknya. Sejak setahun belakangan Bu Rahmi memang sering kesulitan bergerak. Saat duduk terlalu lama, dia memerlukan bantuan untuk menopang tubuhnya saat ingin kembali berdiri.

***

Saat ibunya masih terlelap, seperti biasa Raya telah bangun untuk menunaikan dua rakaat shalat sunnahnya.

Gelisah tidurnya malam ini sedikit berbeda. Jika biasanya dia terbangun karena mimpi buruk tentang masa lalu dan kekhawatiran akan jodohnya, kali ini Raya justru bermimpi indah dengan pemuda bernama Jagad yang telah dua kali ditemuinya itu.

“Ya Allah. Jika perasaan ini salah, maka hilangkanlah semua rasa ini dari hatiku. Tapi jika perasaan ini berasal darimu, maka buatlah hatiku kuat untuk menanggungnya agar terhindar dari zina. Aku tidak ingin kecintaan pada makhluk-Mu melebihi kecintaanku pada-Mu. Jika pria itu baik untukku maka dekatkanlah, dan jika dia tidak baik untukku maka jauhkanlah. Aku berserah diri pada-Mu ya Allah. Hanya Engkau Sang Maha membolak-balikkan hati manusia. Maka tetapkanlah hatiku dalam ketaatan beribadah kepada-Mu.”

Raya menyudahi doa dengan bershalawat. Hal yang biasanya selalu bisa menghilangkan segala kegundahan hatinya selama ini.

Raya merasa sedikit lebih tenang usai menunaikan dua rakaat shalat sunnahnya. Meski begitu, bayangan pemuda bernama Jagad itu belum sepenuhnya bisa pergi dari pikirannya. Ditariknya nafas dalam untuk kemudian dihembuskannya secara perlahan. Langkahnya kembali menuju ranjang kali ini sedikit berbeda. Sejenak seolah ada yang berbisik padanya bahwa mimpinya pasti akan lebih indah jika bisa bertemu lagi dengan pemuda itu.

Raya bergidik menyadari hal yang ada dalam pikirannya sendiri. Gegas ditariknya selimut untuk menutupi tubuh sampai ke dada. lalu dilantunkannya doa-doa untuk kemudian mulai memejamkan mata.

***

Di sebuah rumah cukup besar di dalam sebuah kompleks perumahan elit pusat kota, seorang pemuda terlihat sedang gelisah dalam pembaringannya.

Sudah sejak beberapa jam yang lalu dia tertidur, namun gestur tubuhnya menandakan bahwa tidurnya tak bisa memberi kenyamanan beristirahat.

Jagad berulang kali mengubah posisi tidur dengan mata terpejam, seolah dia tetap beraktifitas dalam tidurnya. Peluh bercucuran padahal AC di kamar itu tak pernah dimatikan saat dia sedang berada di dalam kamar.

Terekam jelas dalam ingatan, bagaimana ekspresi wajah Raya yang ketakutan berlari dari kejarannya. Lalu sejurus kemudian, terlihat dia sedang sangat marah karena merasa direndahkan. Jagad juga tak bisa lupa bagaimana cara gadis itu menunduk saat dia menatapnya tajam.

Segala gerak-gerik gadis yang baru dikenalnya itu tiba-tiba membuatnya begitu resah. Kenapa begini? Tentu saja Jagad tak ingin itu terjadi. Bagaimanapun juga, niatnya mendekati Raya hanya demi mencapai keinginannya sendiri. Bukan untuk jatuh cinta.

Beberapa menit kemudian terlihat sepasang mata di bawah naungan alis tebal itu terbuka. Nafasnya sedikit tersengal kala tiba-tiba dia teringat siapa yang baru saja ditemuinya di dalam mimpi. Singkat, namun begitu nyata baginya.

"Raya …," gumam pemuda itu kemudian.