Janin yang Tak Diharapkan
Di dalam kamar yang cukup luas, dengan desain mewah terdengar suara seseorang sedang memuntahkan isi perutnya tepatnya di kamar mandi.
Sementara di depan cermin terlihat seorang pria yang kini sedang merapikan jas-nya, sembari menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Pria tampan itu bernama Bima Mahendra, kini usianya 21 tahun masih tergolong muda. Bima adalah pria ambisius sekaligus pemilik dari restoran mewah di kota Jakarta Selatan.
Bima bukan lagi seorang pria single, melainkan dia seorang suami dari wanita cantik dengan tubuh proporsional bernama Utari Putri.
Pernikahan Bima dan Utari masih bisa dihitung dengan jari, karena mereka masih baru menikah. Jika dihitung-hitung usia pernikahan mereka menginjak hampir dua bulan.
Bima yang saat ini sedang bersiap ke kantor, dan melihat keadaan restoran. Tiba-tiba ia mendengar suara istrinya di kamar mandi sedang memuntahkan isi perutnya. Tentu sebagai pria yang sangat mencintai Utari, Bima langsung khawatir. Tanpa membuang waktu, iapun berlari ke kamar mandi.
Pintu yang sebelumnya tertutup, seketika dibuka kasar oleh Bima. Karena ia ingin memastikan sang istri baik-baik saja, tetapi Bima lihat malah sebaliknya. Terlihat Utari sangat lemah, bahkan wanita itu hampir pingsan dan jatuh ke lantai kalau saja Bim tidak cepat menangkap kemudian memeluk tubuh Utari.
“Sayang! Kamu tidak apa-apa, buka matamu” tanya Bima terlihat panik.
Utari sesaat membuka matanya perlahan, lalu menatap wajah suaminya.
“Perutku sakit, mual dan kepalaku pusing sekali, Mas. Aku seperti mau pingsan,” jawab Utari dengan suara lemahnya.
Bima mendengar itu langsung membopong Utari keluar dari kamar mandi. Lalu membawa Utari ke arah ranjang, dengan perlahan Bima membaringkan sang istri di atas ranjang mewah. Kemudian Bima menyelimuti tubuh sang istri.
Melihat Utari masih menutup mata, perasaan Bima dibuat ketakutan sendiri. Takut bila istrinya kenapa-napa, maka ia tidak tahu apa yang akan terjadi pada hidupnya nanti.
“Utari terlihat sangat lemah sekali, aku harus cepat menelepon dokter sekarang juga,”gumam Bima, tidak lama ia pun mengambil ponselnya di atas nakas.
Drrrtt
Dokter Arifin
Selama beberapa menit Bima menunggu sambungan telepon terhubung, tentu dengan perasaan cemas.
Tatapannya tidak lepas dari wajah sang istri, yang terlihat menahan sakit.
Begitu sambungan telepon terhubung, Bima tidak segan lagi langsung meminta Dokter Arifin untuk datang ke rumahnya.
“Hallo selamat pagi, Pak Bima. Ada apa Anda menelepon saya”tanya ramah Dokter Arifin, yang memang telah menjadi dokter keluarga Bima beberapa tahun belakangan ini.
“Hallo, Dok. Bisa datang ke rumah saya, istri saya tiba-tiba mau pingsan. Tubuhnya sangat lemah, saya takut dia kenapa-napa” pinta Bima dengan nada cepatnya.
“Baik, saya akan ke rumah Anda. Kebetulan saat ini saya ada di jalan, niatnya mau ke rumah sakit. Tapi,
saya akan ke rumah Anda dulu, Pak Bima” jawab Dokter Arifin.
“Terima kasih, tolong cepat, ya, Dok.”
“Iya, saya usahakan”
Setelah selesai bicara, Bima mematikan sambungan telepon lalu menyimpan ponsel di dalam saku celananya. Tiba-tiba ia mendengar suara rintihan dari bibir Utari.
“Mas, kepalaku pusing sekali,” ucap Utari sembari memegangi kepalanya.
“Sabar, ya, Sayang. Aku sudah menghubungi Dokter Arifin, sebentar lagi Dokter akan datang” jawab Bima menenangkan, dengan ikut menyentuh dan sedikit memijit kepala Utari.
Bima bangkit, lalu melangkah keluar dari kamarnya. Ia langsung berteriak cukup keras, pada asisten rumah tangganya bernama Lastri.
“Lastri! Lastri!” teriak Bima dari lantai 1.
“Iya, Tuan. Ada Apa, ya, Tuan?” tanya Lastri wanita yang saat ini berusia 25 tahun, dan telah bekerja di keluarga Mahendra selama 2 tahun.
“Bawa air hangat dalam baskom, sama handuk kecil! Jangan lupa, buatkan teh hangat. Cepat, lakukan sekarang lalu bawa ke kamarku,” perintah Bima cepat.
“Ba--baik, Tuan.”
Saat Bima telah kembali ke dalam kamarnya dan menemani Utari, di dapur terlihat Lastri sedang melakukan apa yang diperintahkan oleh tuannya tadi.
Lastri mulai melangkah, dan berniat menaiki anak tangga menuju lantai atas. Namun, langkah Lastri terhenti saat ia mendengar suara bel berbunyi.
Siapa yang datang, ya, gumam Lastri, setelah ia menaruh nampan di atas meja. Kini ia berjalan cepat ke arah pintu utama.
Cekelek!
“Oh, Dokter Arifin. Mari silahkan masuk, seperti biasanya Anda bisa langsung ke kamar Tuan dan
Nyonya,” ucap ramah Lastri, yang sudah mengenal Dokter Arifin.
“Terima kasih, Mbak Lastri,” jawab Dokter Arifin, lalu mulai melangkah menuju kamar Bima dan Utari.
“Sama-sama, Dokter,” jawab Lastri, dan langsung mengikuti langkah Dokter Arifin.
Dokter Arifin adalah dokter keluarga, dan telah biasa datang ke rumah ini. Jadi, Lastri yang cukup lama bekerja telah sangat paham bila tiba-tiba dokter datang saat itu juga ia meminta Dokter Arifin langsung ke kamar tuan dan nyonya-nya.
***
Dokter Arifin telah selesai memeriksa keadaan Utari dua menit yang lalu, kini ia sedang menulis resep obat. Sementara Bima sedari tadi penasaran dengan keadaan Utari, tidak bisa membendung rasa ingin tahunya.
“Dokter! Kenapa dengan istri saya, kenapa dia mengeluh pusing dan terlihat lemah? tanya Bima tidak sabaran.
Bukannya menjawab Dokter Arifin malah tersenyum hangat, membuat Bima kini terlihat bingung.
“Kenapa Anda tidak menjawab pertanyaan saya, dan sekarang malah Anda tersenyum? tanya Bima beruntun.
“Istri Pak Bima tidak apa-apa, Bu Utari pusing dan terlihat lemah karena saat ini istri Anda sedang mengandung. Hal itu sudah biasa dialami oleh ibu hamil, selama awal kehamilan. Tolong di jaga, ya, Pak.
Ini ada resep yang harus Pak Bima tebus. Di situ ada vitamin saja, dan obat pengurang mual. Bisa diminum kalau memang mual, tapi, kalau tidak mending tidak dikasihkan. Terpenting vitamin ibu hamilnya saja yang diberikan,” jelas Dokter Arifin, sembari memberikan resep ke Bima. Seketika membuat Bima sangat terkejut.
Degh!
Utari hamil! Kenapa bisa, bukankah aku sudah memperingatkan dia agar tidak hamil dulu? Sekarang malah hamil, dan membuat rencana yang telah kususun hancur begitu saja, batin Bima marah, karena saat ini ia masih belum mengharapkan kehadiran seorang anak di rahim sang istri.
Saat Bima sedang melamun, dengan wajah datarnya. Dokter Arifin yang telah selesai melaksanakan tugasnya, mulai berpamitan.
“Pak Bima! Pak Bima, saya mau pamit karena saya masih ada pekerjaan yang harus saya kerjakan, pamit Dokter Arifin.
“Silahkan ... terima kasih untuk semuanya, Dok, jawab Bima, sembari memberikan amplop untuk Dokter Arifin.
“Sama-sama, Pak Bima. Kalau begitu saya permisi dulu,” izin Dokter Arifin.
“Iya, Dokter, silahkan.”
Sepeninggal Dokter Arifin, tatapannya langsung ke arah sang istri. Sementara Utari yang berada di atas ranjang, mulai ketakutan saat melihat tatapan tajam dari suaminya. Utari yakin, kalau saat ini Bima pasti akan memarahi dirinya.
“Kenapa kamu bisa hamil, Utari?! Bukankah aku sudah memperingatkanmu, untuk minum pil pengaman itu. Apa kamu tidak meminumnya, hah?! tanya Bima dengan kemarahan, tepat di sampingnya.
“Ma--maafkan aku, Mas. Aku lupa minum pil itu,” jujur Utari dengan menunduk.
“Kenapa kamu bodoh sekali, Utari?! Jujur aku masih belum mengharapkan anak itu di rahimmu, aku masih memiliki banyak rencana buat kita.”
“Aku masih ingin menghabiskan waktu berdua, layaknya pengantin baru, mengajakmu jalan-jalan keluar negeri. Aku masih ingin berbulan madu denganmu. Tapi, kalau seperti ini keadaanmu. Semua yang kurencanakan hancur sudah, aku benar kecewa padamu,” marah Bima. Utari mendengar itu hanya bisa menangis, ia tahu kesalahannya. Semua telah menjadi bubur, ia pun saat ini tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis menyesali semuanya.