LNCrawler

Emosi Bima

Lara Hati Rayna — gooddreamer.id · All chapters

Emosi Bima

Bima belum bisa mengontrol emosinya, ia masih masih marah pada Utari. Meskipun saat ini sang istri dalam keadaan lemah, ia tidak peduli.

“Aku tidak mau tahu, bagaimanapun caranya kamu harus menghilangkan janin yang ada di dalam perutmu. Apa kamu mengerti, Utari?!” pinta Bima, dengan nada memaksa.

“Tapi, Mas, aku takut melakukannya,” jawab Utari sembari menangis.

“Itu urusanmu, karena sedari awal kita menikah aku sudah sering kali memperingatkanmu untuk minum pil itu. Tapi, apa? Kamu lupa, dan mengabaikan apa yang kukatakan. Sekarang aku hanya mau, kamu melenyapkan janin itu sebelum dia tubuh besar dalam perutmu. Jadi lakukan saja permintaanku ini, paham!” tegas Bima masih emosi, sembari membuang resep dari Dokter Arifin tadi ke lantai.

Lalu Bima terlihat mengambil tas kerjanya, kemudian keluar kamar tanpa mencium dan berpamitan pada Utari.

Melihat sikap suaminya yang berbeda, membuat Utari sedih dan terlihat ia semakin menangis. Hingga suara tangisannya terdengar sampai bawah, Lastri yang kebetulan sedang menyapu lantai seketika berlari ke lantai atas untuk memeriksa keadaan nyonya-nya.

Betapa terkejutnya, saat Lastri masuk ke dalam kamar Utari yang ia lihat wanita muda darinya itu sedang memukuli perutnya sendiri sembari menangis.

“Hiks ... gara-gara kamu Mas Bima marah padaku, gara-gara kamu juga Mas Bima mengabaikan aku.”

“Kenapa, sih, kamu datang tiba-tiba dalam perutku? Padahal aku sama Mas Bima sama sekali tidak mengharapkanmu, cepat pergi kamu. Aku tidak sudi memiliki anak seperti kamu, keluar dari perutku sekarang. Keluar! gumam Utari, sembari memukuli perutnya dan suaranya yang cukup keras itu di dengar oleh Lastri.

Sebagai wanita dewasa, dan pernah menikah. Tapi, baru seumur jagung pernikahannya ia telah ditinggalkan oleh suaminya. Karena suaminya lebih memilih selingkuhannya, dari pada dirinya. Sejak saat itu ia trauma menjalin hubungan dengan pria lagi. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke kota, dan mencari pekerjaan.

Mendengar ucapan nyonya-nya, Lastri langsung mengerti arti dari ucapan Utari. Tentu Lastri tidak akan membiarkan nyonya-nya menyesali perbuatannya di kemudian hari, ia berusaha mendekati nyonya-nya dan memberikan sedikit nasehat.

“Nyonya, jangan seperti ini. Nanti perut Anda sakit, itu juga tidak baik buat kandungan Nyonya,” ucap Lastri sembari menangkap kedua tangan Utari, agar tidak digunakan untuk memukuli perut Utari lagi.

Utari seketika mendongak, dan menatap wajah Lastri dengan tatapan tidak suka.

“Tahu apa kamu, Lastri! Biarkan saja kandunganku ini bermasalah, karena aku juga tidak suka janin ini hadir dalam perutku!”

“Gara-gara janin ini, Mas Bima marah padaku. Gara-gara janin ini juga, Mas Bima mengabaikan aku. Aku harus mengeluarkan janin ini dari perutku, aku tidak mau janin ini ada di perutku,” ucap Utari, terus memukuli perutnya sendiri. Setelah tadi ia berhasil melepaskan tangannya, dari genggaman Lastri.

Utari tidak hentinya memukuli perutnya sendiri, dan Lastri tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak lama, karena seringnya pukulan di perut Utari. Wanita muda itu langsung mengeluh kesakitan dalam perutnya.

“Akh! Perutku ... perutku sakit banget, Lastri. Aaa ... sakit!! teriak Utari sembari memegangi perutnya, tidak lama ia pun pingsan.

Nyonya! Nyonya! Bangun, Nyonya, jangan membuat saya takut, gumam Lastri panik, seraya menggoyang tubuh nyonya-nya.

Beberapa saat Lastri mencoba membangunkan nyonya-nya, tetapi tidak mendapatkan respon akhirnya ia memilih menghubungkan Bima yang saat ini dalam perjalanan ke kantornya.

Drrrtt

Tuan Bima

Di jalan, di mana Bima saat ini sedang mengendarai mobilnya. Tiba-tiba ia mendengar suara ponselnya yang berbunyi, sesaat ia mengabaikannya telepon itu. Ia pikir kalau telepon itu dari istrinya Utari, karena ia yakin kalau istrinya pasti akan membahas tentang janin itu, ia sama sekali tidak mau.

Pasti dari Utari, aku tidak akan mengangkatnya. Aku merasa kesal, kenapa dia bisa hamil. Sementara aku sudah sering mengingatkan, kalau aku tidak ingin memiliki anak dulu. Tapi, kenyataannya apa?

Sekarang dia hamil, dan aku tidak suka, gumam Bima, sembari fokus mengendarai mobilnya. Namun, suara dering ponselnya itu tidak kunjung berhenti.

Hati Bima mulai tidak tenang, ia takut kalau hal buruk terjadi pada wanita yang ia cintai. Apalagi saat ia mengingat wajah pucat, dan keadaan Utari cukup lemah tadi.

Tanpa membuang waktu Bima menghentikan mobilnya, setelah itu ia mengambil ponselnya yang berada di saku celananya.

Sesaat Bima melihat nama di layar ponselnya, ternyata bukan nomer ponsel sang istri. Ia pun semakin dibuat takut, oleh keadaan Utari.

Lastri? Kenapa dia meneleponku, apa dia mau mengabarkan keadaan Utari? tanya Bima pada dirinya

sendiri.

Merasa penasaran, dan ingin tahu kenapa Lastri menghubunginya? Akhirnya ia langsung menekan tombol hijau, untuk menerima sambungan telepon.

“Hallo, Lastri! Ada apa kamu meneleponku, apa istriku ---”

Belum selesai Bima bertanya tentang istrinya, Lastri telah lebih dulu mengabari tentang keadaan Utari saat ini pada tuannya.

“Tuan Bima cepat pulang, Tuan.”

“Nyonya! Nyonya Utari, Tuan?

“Kenapa dengan Utari, katakan dengan jelas Lastri?! tanya Bima tidak sabaran.

“Nyonya Utari saat ini pingsan, Tuan. Tuan Bima cepat pulang, karena tadi Nyonya memukuli perutnya sendiri. Saya takut Nyonya kenapa-napa, Tuan,” lapor Lastri terdengar khawatir, dan juga panik.

Bima mendengar kabar tentang istrinya, langsung mematikan sambungan telepon dengan Lastri. Ia mulai menyalakan kembali mesin mobil, tidak lama ia mengendarai mobil menuju rumahnya kembali.

Mobil yang dikendarai Bima melaju dengan kecepatan tinggi, ia hampir tidak mempedulikan tentang keselamatan dirinya sendiri. Karena dalam benaknya saat ini adalah keadaan istrinya.

Kamu pasti baik-baik saja kan, Sayang. Tunggu aku, sebentar lagi aku sampai di rumah, batin Bima kalut.

Sepuluh menit kemudian, akhirnya mobil yang dikendarai Bima samping di pelataran rumahnya. Setelah mobil berhenti, Bima bergegas keluar. Tidak lama, ia langsung berlari ke dalam rumah kemudian berlari terus ke arah kamarnya.

Brakk!

Pintu kamar dibuka dengan kasar oleh Bima, ia melihat Utari terbaring dengan menutup mata.

Sementara Lastri setia menunggu di samping ranjang.

Bima yang tidak ingin kenapa-napa dengan keadaan Utari, tidak lagi berpikir untuk menelepon Dokter Arifin. Ia lebih memilih langsung membawa Utari ke rumah sakit.

“Tuan! Tuan sudah datang, lihatlah keadaan Nyonya. Tadi Nyonya Utari memukuli perutnya, setelah itu pingsan,” lapor Lastri untuk kedua kalinya setelah di dalam telepon tadi.

Tanpa menjawab, Bima mulai mengangkat tubuh mungil sang istri. Ia membopong Utari keluar, Lastri yang paham mengikuti langkah tuanya.

Dengan langkah cepat, Bima menuruni setiap anak tangga sampai keluar rumah. Begitu sampai di depan, tepatnya di samping mobil. Lastri yang sigap langsung membuka pintu, lalu ia masuk ke dalam mobil lebih dulu.

“Tuan, dudukkan Nyonya di sini. Biar saya yang memangku Nyonya Utari,” ucap Lastri, dan langsung disetujui oleh Bima.

Setelah memastikan keadaan istrinya terbaring dengan benar, Bima langsung menutup pintu. Kemudian ia melangkah cepat ke arah pintu samping kemudi, lalu masuk dan duduk di kursi kemudi.

Sesaat Bima menatap ke belakang, lalu ia mulai mengendarai mobil ke rumah sakit. Hatinya benar-benar tidak tenang, apakah semua itu berkaitan dengan janin di dalam rahim istrinya.

Aku benar-benar tidak menginginkan janin itu di dalam rahimmu, Sayang. Tapi, melihatmu seperti ini membuat hatiku dilema, batin Bima sembari fokus mengendarai mobil menuju ke rumah sakit.