Berniat Menggugurkan Kandungan
Mobil yang dikendarai Bima baru saja berhenti di lobi salah satu rumah sakit bernama Modern Hospital, ternyata rumah sakit itu tempat bertugas Dokter Arifin, tidak lain dokter keluarga Mahendra.
Bima dengan terburu turun, lalu berlari ke arah belakang kemudian membuka pintu mobil. Sesaat ia meraih tubuh Utari istrinya, tidak lama ia membopong Utari lalu membawanya masuk ke dalam rumah sakit.
“Sini, biar aku gendong Istriku, ucap Bima pada Lastri, saat asisten rumah tangganya sedari rumah setia memeganginya Utari.
Lastri hanya menurut, lalu mengikuti tuannya masuk ke dalam rumah sakit. Ketika sampai di dalam, Bima terlihat berbicara dengan seorang suster.
“Di mana ruang Dokter Arifin, cepat katakan?!” tanya Bima dengan tidak sabar.
“Oh, mari, saya antar keruang Dokter Arifin,” jawab suster ramah, saat mengetahui kalau di depannya ada pasien.
Ternyata ruang Dokter Arifin tidak jauh dari pintu masuk, jadi sedikit memudahkan Bima membawa Utari ke ruangan Dokter Arifin.
Suster terlihat mengetuk pintu, tidak lama langsung membukanya sembari melaporkan pada Dokter Arifin.
“Selamat pagi, Dokter. Ada seseorang yang sedang mencari Anda, dengan seorang pasien,” ucap suster, seraya memberikan ruang pada Bima masuk ke dalam.
Dokter Arifin yang semula duduk, dengan memeriksa beberapa data pasiennya. Seketika menatap depan, ia sangat terkejut karena melihat Bima di ruangannya.
“Pak Bima! Anda datang ke mari, kenapa dengan Bu Utara?
“Saya tidak tahu, Dokter. Kata asisten saya, Utari habis memukuli perutnya. Setelah itu, Utari pingsan,” jawab Bima jujur.
“Oh, tolong baringkan Bu Utari di sini. Biar saya periksa keadaannya, semoga tidak ada apa-apa pada Bu Utari, dan janin di dalam kandungannya,” harap Dokter Arifin.
Namun, berbeda dengan pemikiran Bima. Pria itu, malah menginginkan janin itu hilang dari perut istrinya.
Setelah beberapa saat memeriksa, Dokter Arifin meminta suster di sampingnya memanggil Dokter Sasa untuk datang ke ruangannya. Untuk membantu memeriksa keadaan Utari, sebab Dokter Sasa adalah dokter anak dan ibu hamil.
“Maaf Pak Bima, apa boleh saya memanggil Dokter Sasa. Karena beliau adalah dokter ibu dan anak,” ucap Dokter Arifin cepat.
“Silahkan, yang terpenting Utari selamat dan tidak apa-apa dengan dirinya. Aku tidak peduli tentang janin itu, aku hanya ingin istriku selamat,” jawab Bima, jujur memang tidak menginginkan kehadiran janin di rahim istrinya.
“Baik, kalau begitu saya meminta suster untuk memanggil Dokter Sasa dulu,” ucap Dokter Arifin, dengan tatapan sulit diartikan.
Dokter Arifin memanggil suster, lalu memberikan perintah.
“Sus, tolong pergi ke ruangan Dokter Sasa suruh ke mari saja. Kamu pasti tahu kan tugas kamu, cepat lakukan sekarang,” pinta Dokter Arifin.
“Baik, Dokter.”
***
Dokter Sasa baru saja selesai memeriksa keadaan Utari, terlihat istri Bima itu juga sudah sadar dari lima belas menit yang lalu. Kini Dokter Sasa mulai serius memberikan pengarahan baik pada Bima maupun Utari, yang sebentar lagi akan menjadi orang tua baru.
“Baiklah, saya sudah memeriksa keadaan Ibu. Sekarang waktunya saya memberikan pengarahan, dan pengertian. Saat Ibu berada di rumah, apalagi dalam situasi hamil muda seperti ini,” ucap Dokter Sasa sedikit panjang.
Bima yang memang tidak menginginkan kehadiran janin di dalam rahim Bima, mulai menyanggah ucapan Dokter Sasa.
“Tunggu, Dokter. Saya ingin bicara serius dengan, Anda.”
“Boleh ... silahkan saja, Pak,” jawab Dokter Sasa dengan senyum ramahnya.
Di dalam ruangan itu, seketika hening baik Utari dan Dokter Arifin sangat paham apa yang akan dikatakan oleh Bima pada Dokter Sasa. Tetapi, mereka hanya bisa diam saja.
“Begini, Dokter. Saya sangat paham dengan apa yang akan Anda ucapan pada saya. Tapi, saya tidak mau mendengar itu. Saya hanya mau, Anda membantu saya untuk menggugurkan kandungan di dalam rahim istri saya.”
“Karena sama sekali tidak menyukai kehadiran janin itu, saya masih ingin menikmati masa pengantin baru. Bukan malah direpotkan kehadiran seorang anak, di tengah-tengah kami,” ucap Bima tanpa rasa takut, dengan apa yang ia katakan saat ini.
Ucapan Bima tadi, benar-benar membuat Dokter Sasa marah besar. Selain permintaan Bima akan membuat kariernya sebagai dokter hancur, ia juga akan memiliki berdosa besar.
“Prok! Prok!”
“Wah ... memangnya Anda memiliki uang sebanyak apa, Tuan? Hingga meminta saya untuk menggugurkan janin yang tidak bersalah itu dari perut istri, Anda. Lalu apa Anda tidak bisa membayangkan konsekuensi setelah melakukan itu, Tuan? tanya Dokter Sasa, dengan menatap tajam Bima di depannya.
Dokter Sasa sangat geram, dengan niat Bima yang ingin menggugurkan anaknya sendiri.
“Anda ini seperti bukan manusia saja, kalau Anda pernah lihat berita atau melihat di sekitar Anda, pasti Anda akan paham.”
“Begini, ya, Pak! Atau Tuan! Anda ini termasuk orang yang sangat beruntung, karena Allah telah memberikan rezeki yang besar pada Anda dan istri Anda. Rezeki anak dalam rahim istri Anda, karena belum tentu wanita yang telah berkeluarga akan diamanahkan anak di tengah-tengah mereka.”
“Anda ini termasuk orang beruntung. Jadi tolong, rawat hingga janin itu lahir ke dunia. Sungguh alasan Anda tadi sangatlah tidak masuk akal, hanya karena Anda ingin menikmati masa pengantin baru Anda ingin melenyapkan anak Anda sendiri.”
“Apa yang Anda niatkan itu dosa besar, dan Anda bisa juga di penjara. Sementara saya, bila saya membantu Anda, maka karier saya sebagai seorang dokter akan hancur saat itu juga. Saya juga bisa masuk penjara. Jadi, saya ingatkan terima anak itu. Karena anak dalam rahim istri Anda itu adalah anugerah Allah,” ucap Dokter Sasa panjang, tentu saja dengan penolakannya.
Sementara Bima yang mendengar itu hanya bisa terdiam, ia seperti ditelanjangi oleh ucapannya sendiri.
Sebab saat ini, ia merasa seperti pria egois, dan hanya mementingkan perasaannya sendiri. Tanpa memikirkan perasaan orang lain.
Selama ini Bima merasa kalau dirinya itu hebat, kaya raya dan mampu membayar orang lain seperti saat ini yang ia lakukan pada Dokter Sasa. Namun, itu hanya pemikiran dangkalnya saja, karena tidak semua orang menuruti keinginannya.
Beberapa saat meresapi ucapan wanita di hadapannya, Bima tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi.
Karena semua yang dikatakan Dokter Sasa semuanya benar.
Setelah tidak mendapatkan jawaban dari Bima, Dokter Sasa mulai melanjutkan ucapannya yang sempat terhenti tadi.
“Anda mulai sadar kan, sekarang saya lanjutkan ucapan saya setelah memeriksa keadaan istri Anda tadi.”
“Janin yang ada di dalam rahim Bu Utari baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Janin di rahim Bu Utari sangat kuat. Jadi, saya hanya akan memberikan vitamin dan penguat kandungan.”
“Untuk Bu Utari, Anda harus lebih banyak menyayangi tubuh Anda. Terutama janin dalam perut Anda, ya. Karena Anda adalah wanita yang beruntung, telah dipilih Allah untuk melahirkan seorang anak ke dunia nanti.”
“Dari pada saya. Selama hampir 7 tahun menikah dengan suami saya, sampai saat ini saya masih belum dikaruniai seorang anak.
“Saya sangat tahu bagaimana rasanya, menginginkan seorang anak. Anda yang baru saja menikah, lalu diberikan rezeki besar seperti ini jaga, rawa dan sayangi. Jangan sia-siakan anak di dalam rahim Anda lagi, ya, kasihan,” nasehat Dokter Sasa dengan nada sedih, saat mengingat apa yang ia alami saat ini. Utari, dan Bima saling memandang dengan tatapan arti. Setelah itu, keduanya dikejutkan karena ucapan Dokter Sasa.
“Biar keadaan Bu Utari semakin membaik, lebih baik Anda menginap di sini satu atau dua hari di sini. Biar kami bisa memantau keadaan Anda,” sabung Dokter Sasa. Utari yang mendengar cerita sedih Dokter Sasa, akhirnya mengangguk. Ia lebih memilih mendapatkan perawatan agar dirinya dan janin di dalamnya perutnya semakin sehat. Ia tidak mau ada hal buruk pada janinnya.
“Baiklah, Dokter. Saya akan mengikuti nasehat Dokter, saya opname di sini saja. Biar keadaan saya lebih baik, dan janin saya semakin sehat,” jawab Utari, dengan senyum canggung.
Sementara Bima mendengar jawab Utari, ia langsung memilih keluar. Hanya Lastri yang sedari tadi berdiri di dekat pintu, setia menunggu keadaan nyonya-nya. Utari yang melihat suaminya pergi, hanya bisa menghela napas panjang. Tapi ini demi dirinya sendiri, dan anaknya. Maka ia tetap pada keputusannya, ia akan melahirkan anak dalam kandungannya.
Meskipun tanpa izin dari suaminya.
Maafkan aku, Mas. Kali ini, aku tidak bisa menuruti keinginan Mas Bima. Aku takut dosa besar, bila mengikuti keinginanmu. Bukannya aku sayang sama anak ini, bukan? Aku hanya akan melahirkannya dia, lalu membuangnya agar kita bisa bersama-sama menikmati bulan madu kita yang kedua, batin Utari, dengan rencananya.