Mengabaikan Utari
Sejak memutuskan mempertahankan janin di dalam rahimnya seminggu yang lalu, Utari tidak hentinya berusaha untuk terus meyakinkan Bima suaminya agar bisa menemaninya menjalani kehamilannya selama 9 bulan ini.
Namun, keinginan dan harapan Utari hanya tinggal harapan. Karena Bima tetap bersikeras, tidak mau menerima kehadiran anak dalam kandungan Utari.
“Ayolah, Mas, maafkan aku, ya. janji setelah anak ini lahir, aku akan membuangnya.”
“Kalau untuk menggugurkan kandungan ini. Aku sama sekali tidak berani, Mas. Aku takut dipenjara, dan takut dosa,” ucap Utari dengan nada memelas.
“Tidak! Aku tetap tidak mau, kamu mempertahankan anak dalam kandunganmu itu!”
“Kalau kamu ingin mengandungnya selama 9 bulan, silahkan. Tapi, jangan harap kamu mendapatkan semua perhatianku,” tegas Bima, setelah itu ia pergi keluar dari kamarnya.
Utari hanya bisa menangis, tetapi ia sama sekali tidak menyalahkan suaminya. Melainkan ia menyalahkan anak dalam kandungannya, karena hadir disaat tidak tepat.
‘Hiks ... semua gara-gara kamu, suamiku marah dan tidak mau memperhitungkan aku. Awas saja saat kamu lahir nanti, akan kusiksa habis-habisan kamu’ marah Utari, sembari menyentuh perutnya yang masih terlihat rata.
***
Hari-hari terus berlalu, dan terus ganti bulan. Kini kandungan Utari telah menginjak usia 7 bulan, selama itu pula Utari terlihat sehat. Hampir semua makanan ia makan, seperti ia juga tidak pernah merasa ngidam apapun. Karena semua keinginannya, telah terpenuhi di dalam rumah.
Meskipun Bima telah mengatakan tidak akan memperhatikan Utari. Tapi, tanpa sepengetahuan Utari istrinya pria itu selalu berbelanja semua kebutuhan ibu hamil.
Dari susu hamil, buah-buahan segar dan makanan bergizi Bima selalu memastikan yang terbaik buat Utari.
Hanya Lastri yang mengetahui semuanya, seperti malam ini. Sepulang dari kantor, Bima tadi mampir membeli martabak telur. Makanan kesukaan istrinya, setelah membuka pintu utama. Ia langsung berjalan ke dapur seperti biasanya, lalu meminta Lastri memanggilkan istrinya untuk makan martabak itu.
“Lastri! Ini ada martabak telur untuk istriku, sekarang panggil dia dan suruh makan. Tapi, jangan bilang dari saya. Apa kamu mengerjakan? pinta Bima, sembari mengulurkan keresek berisi martabak.
“Iya ... saya mengerti, Tuan,” jawab Lastri, setelah menerima buah tangan dari Bima untuk istrinya.
Lastri mulai menata martabak itu di dalam piring, lalu menyiapkan susu hamil. Setelah itu ia menaruhnya di meja makan, kemudian ia berjalan ke arah kamar nyonya-nya.
Kini, kamar Utari dan Bima telah pindah ke lantai bawah. Agar memudahkan Utari untuk berjalan, tanpa harus naik turun tangga ke kamarnya.
Lastri mulai mengetuk pintu, kemudian memanggil Utari.
Tok ... tok ... tok!
Utari yang sedang berbaring di atas ranjang, mulai miring lalu duduk sebentar. Kemudian berjalan ke arah pintu, dengan sedikit mengomel.
Ih! Siapa, sih, yang mengetuk pintu. Ganggu orang mau tidur saja, kesal Utari, dengan mata yang terlihat mengantuk.
Cekelek!
“Lastri! Kenapa malam-malam begini kamu mengetuk pintu kamarku, ini sudah malam tah?!” tanya Utari dengan nada kesalnya.
“Maaf, Nyonya. Saya tadi dari luar karena lapar. Jadi, saya pergi membeli martabak. Apa Nyonya mau makan martabak, yang saya beli,” jawab Lastri dengan kebohongannya.
Utari merasa kalau di rumahnya banyak makanan, lalu kenapa Lastri tidak makan makanan di rumah?
“Kamu ini! Masakan di meja makan kan banyak, lalu kenapa membeli martabak? Kalau kamu seperti itu, gajimu habis buat jajan saja, omel Utari.
“Hehe ... itu karena ingat, Nyonya.”
“Nyonya Utari kan suka banget sama namanya martabak telur, makanya saya belikan buat Nyonya. Hitung-hitung malam ini, saya sedang mentraktir Anda,” ucap Lastri, sembari cengengesan.
Merasa diingatkan kalau memang dirinya suka dengan namanya martabak, akhirnya Utari menyetujui keinginan Lastri.
“Baiklah, sekarang di mana martabak itu? Aku harus cepat memakannya, karena aku sudah mengantuk. Karena sebentar lagi Mas Bima juga mau pulang, aku takut pas enak-enak makan dia datang,” tanya Utari sembari melangkah ke ruang makan.
Begitu sampai di meja makan, martabak itu sudah tersaji di atas meja lengkap dengan susu hamilnya.
Merasa apa yang Utari lihat sungguh menggugah selera, tanpa berbicara lagi ia langsung duduk. Kemudian menikmati setiap suapan di dalam mulutnya.
Sementara Utari sedang makan martabak telur yang dibelikan Bima, itu pun tanpa sepengetahuan Utari. Tiba-tiba Bima melangkah, dari ruang tengah.
Bima sedari tadi sengaja sembunyi, karena tidak ingin kehadirannya diketahui oleh sang istri. Tapi, saat melihat Utari sudah makan hampir separuh martabak di dalam piring itu, barulah ia pura-pura melangkah ke arah kamarnya dan Utari. Utari mendengar kehadiran suaminya seketika langsung menoleh, ia pun menawarkan agar suaminya makan malam.
“Mas! Mas Bima kamu sudah pulang, Mas sudah makan belum? Kalau belum biar Lastri hangatin makanannya, Mas duduk di sini saja biar aku temani makan, ya,” tanya Utari beruntun.
“Tidak perlu, aku sudah makan! Lebih baik aku tidur saja, kalau kamu makan. Makan sana, biar anak dalam kandunganmu itu cepat keluar, jawab Bima dengan kata dinginnya. Utari menaruh gelas berisi susu, yang tinggal separuh itu di atas meja. Lalu ia melangkah pelan ke arah suaminya, ia tidak mau terus-menerus berperang dingin.
“Mas ... jangan marah terus, ya, apa tidak capek marah begini terus? Apalagi dengan kata-kata sama setiap harinya. Ini sudah 7 bulan, lho. Tinggal 2 bulan lagi, setelah anak ini lahir. Aku janji akan merawat tubuhku, dan wajahku agar kita bisa pergi jalan-jalan. Atau pergi bulan madu lagi, aku akan memuaskanmu dengan milikku lagi.”
“Aku akan turuti keinginan Mas Bima, apapun itu. Sekalipun harus memakai pengalam, agar aku tidak hamil. Akan kulakukan, yang terpenting Mas Bima tidak mengabaikan aku lagi,” ucap Utari, dengan nada menggoda.
Sebagai pria normal, dan haus akan belaian kasih sayang. Bima merasa tidak sabar, harus menunggu sang istri sampai selesai melahirkan.
“Kamu bohong, mana mungkin aku bisa menyentuhmu setelah kamu melahirkan. Tetap saja aku harus menunggu lama lagi, setelah masa nifas kamu selesai,” jawab Bima, setelah itu ia masuk ke kamar lebih dulu.
Bima tahu, meskipun saat ini Utari hamil besar ia masih bisa menggali istrinya. Tapi, ia tidak mau melakukan itu. Karena ia, benar-benar membenci anak dalam kandungan Utari. Jadi, selama ini ia terus menahan hasratnya dan setia menunggu istrinya sampai melahirkan.
Utari mendengar itu, hanya bisa terdiam. Ia memukul kepalanya sendiri, karena ia baru sadar soal jawaban suaminya.
Ah! Kamu memang bodoh, Utari. Mana mungkin kamu bisa langsung berhubungan dengan suami kamu, setelah melahirkan. Ada-ada saja, kamu dan Mas Bima masih harus menunggu 36 hari. Hampir dua bulan lebih enaknya, pantas saja kan, Mas Bima marah, batin Utari setelah menutup pintu kamar, dan menguncinya.
Begitu Utari selesai menutup pintu, ia melihat Bima telah berbaring di ranjang. Tanpa melepaskan sepatu, dan kaos kakinya. Dengan penuh kelembutan, ia membuka sepatu itu dan juga kaos kakinya.
Melihat Bima telah tertidur, Utari mulai menyelimuti tubuh suaminya. Ketika sampai di atas dadanya suaminya, pandangannya jatuh pada wajah Bima.
Cup!
Utari memberikan kecupan singkat, di bibir Bima. Sementara, karena ulah Utari itu Bima menahan mati-matian dirinya agar tidak tergoda oleh ulah istrinya.
Sial! Kamu harus tetap tenang, jangan sampai terpancing oleh ulah Utari. Lebih baik kamu tidur, dan lupakan ciuman kecil istrimu itu, Bima, batin Bima, mengingatkan dirinya sendiri.