Kontraksi
Siang itu, terdengar suara rintihan dari kamar Utari dan Bima. Utari yang saat ini hamil besar, dan mendekati kelahiran mulai sering mengalami kontraksi di perutnya.
Sementara, Lastri yang saat itu sedang mencuci langsung meninggalkan cuciannya. Kemudian ia berlari ke kamar nyonya-nya.
Begitu membuka pintu, Lastri melihat nyonya-nya duduk di sisi ranjang sembari memegangi perutnya.
Terlihat darah di selangkangan Utari, Lastri pun panik melihat itu.
“Akh! Sakit ... Lastri, tolong aku. Panggil Mas Bima, cepat,” ucap Utari, begitu melihat Lastri berada tengah pintu.
Tanpa menjawab Lastri berlari ke arah ranjang, lalu duduk di samping nyonya-nya sembari merangkul Utari.
“Nyonya! Nyonya tidak apa-apa? Ya Allah ada darah. Itu tandanya Anda mau melahirkan, lebih baik saya panggil Mang Udin dulu. Tunggu sebentar, ya,” panik Lastri, dan langsung bergegas keluar.
Lastri berlari ke arah depan, sembari berteriak.
“Udin! Mang Udin! Cepat kemari, Mang,” teriak Lastri di teras, kebetulan ia melihat Mang Udin berada di pos satpam.
Pria yang kini berumur 35 tahun itu seketika menoleh, dan berlari ke arah Lastri. Kemudian menanyakan, sebenarnya apa yang terjadi.
“Ada apa, Lastri? Teriak-teriak begitu, takutnya nanti mengganggu istirahat Nyonya,” tanya Mang Udin, sembari mengingatkan.
“Sudah jangan banyak bicara, sekarang siapkan mobil. Nyonya mau melahirkan, kita tidak punya waktu menunggu Tuan Bima. Lebih baik, kita bawa Nyonya Utari ke rumah sakit,” ucap Lastri dengan memerintah.
Mang Udin mendengar itu seketika panik, ia langsung berlari ke arah garasi mobil. Tidak lama ia masuk ke dalam mobil, yang biasa ia pakai untuk mengantar Utari maupun Mbok Sum bila ke pasar atau hal penting lainnya.
Sementara itu, Lastri telah kembali ke kamar Utari. Sesaat ia berniat menyiapkan perlengkapan kelahiran bayi, tetapi ia tidak tahu di mana nyonya-nya meletakkan perlengkapan bayi itu.
Ketika Lastri sedang mencari-cari perlengkapan bayi itu, tanpa ia tahu kalau saat ini Utari sudah tidak kuat merasakan sakit di perutnya.
“Kamu mau ngapain, Lastri?! Di mana Mas Bima, kenapa dia belum ke mari juga? Aku sudah tidak tahan dengan rasa sakit di perutku, hiks, tanya Utari sembari menahan rasa sakit di perutnya, kali ini dengan posisi berdiri.
Bahkan terlihat Utari sedang menangis, karena ia tidak kuat menahan sakit di perutnya.
“Sa--saya ... sedang mencari perlengkapan bayi, Nyonya. Karena sebentar lagi kita akan ke rumah sakit, tentu yang dibawa adalah perlengkapan bayi setelah Anda melahirkan anak Anda,” jawab Lastri cepat.
“Tidak perlu, karena aku sudah menyiapkannya. Itu di sana, di samping lemari ada koper bawa,” ucap Utari, dengan menunjuk koper di samping lemari.
Mendengar itu, Lastri langsung melangkah cepat kemudian mengambil koper itu. Saat Lastri berniat membawa keluar, tiba-tiba Mang Udin datang menawarkan bantuan.
“Biar saya yang membawa ini, kamu papah saja Nyonya ke mobil. Apa bisa, Lastri?”
“Iya, aku bisa. Ya sudah, bawa ini ke mobil.”
Sepeninggal Mang Udin, Lastri mulai merangkul Utari dan mengajak keluar kamar.
“Nyonya! Ayo, kita ke mobil sekarang. Biar Mang Udin yang mengantar Nyonya ke rumah sakit, karena kalau menunggu Tuan Bima takutnya Nyonya semakin kesakitan,” ajak Lastri.
“Hati-hati, Nyonya,” sambung Lastri.
Utari tidak kuasa bicara lagi, ia hanya bisa pasrah saat Lastri memapahnya keluar kamar. Ia pikir ada benarnya ucapan Lastri tadi, percuma saja ia menunggu suaminya pulang, karena ia tidak bisa menjamin bayinya keluar cepat atau lama nanti.
Begitu sampai di luar, Mang Udin sigap membukakan pintu. Sementara Lastri membantu Utari masuk ke dalam mobil, setelah melihat nyonya-nya duduk dengan benar, meskipun dalam keadaan tidak tenang.
Lastri ikut masuk, dan duduk di samping Utari. Sementara Mang Udin telah duduk di balik kursi kemudi, tidak lama supir keluarga Mahendra itu mulai melajukan mobil menuju rumah sakit.
Di tengah perjalanan, Utari yang tidak ingin melahirkan sendirian mulai mencari tasnya. Lastri yang mengerti langsung mengambilkan tas nyonya-nya.
“Di mana tasku, apa kamu membawanya Lastri? tanya Utari masih dengan memegang perutnya yang terasa mulas, dan tidak nyaman.
“Iya, saya membawanya. Ini, Nyonya.”
Setelah menerima tasnya, Utari langsung membuka tas, kemudian mengambil ponselnya.
Drrrtt
Suamiku
Utari menaruh ponsel di telinganya, sembari menunggu sambungan telepon itu terhubung pada suaminya. Ternyata, Bima suaminya di kantor sedang melakukan rapat dengan para karyawan-nya.
“Hallo, ada apa? tanya Bima dingin.
Ya, semenjak Utari hamil Bima selalu bersikap dingin pada Utari. Meskipun terkadang berbeda dengan tindakannya, yang selalu memperhatikan keadaan dan kesehatan sang istri, dan itu tanpa
sepengetahuan Utari tentunya.
“Ma--mas ....”
“Susul aku ke rumah sakit, karena aku mau melahirkan.”
“Apa kamu tega melihatku melahirkan anakmu sendirian, susul aku, ya, Mas,” harap Utari, dengan suara memelas.
Bima yang saat itu berpura-pura dingin, dan tidak peduli pada Utari seketika panik. Memang benar ia tidak suka, dengan kehadiran anak dalam kandungan istrinya. Tapi, tidak dengan Utari. Ia sangat mencintai istrinya, ia takut terjadi hal buruk pada istrinya.
“Apa! Kamu akan melahirkan, sekarang kamu di mana?
“Aku ada di jalan, Mas. Mungkin sebentar lagi aku sampai di rumah sakit, kamu susul saja aku, ya,” jawab Utari, dan langsung mematikan sambungan telepon.
Di kantorSetelah panggilan telepon terputus, Bima yang saat ini berada di ruang rapat semakin panik, takut kalau hal tidak-tidak terjadi pada Utari katanya masih berada di jalan.
Kenapa teleponnya mati, apa Utari baik-baik saja di jalan? Ya Allah, semoga saja istriku tidak apa-apa, doa Bima dalam hatinya.
Bima tidak lagi menghiraukan presentasi yang dilakukan salah satu karyawannya, ia lebih memilih keluar dengan terburu dan membuat para karyawannya bertanya-tanya kenapa dengan bos mereka.
Hanya membutuhkan waktu hampir lima menit, akhirnya Bima telah masuk ke dalam mobilnya. Tanpa membuang waktu, ia langsung melajukan mobil sedan itu, menuju ke rumah sakit di mana Utari biasanya periksa kandungan.
Selama dalam perjalanan tidak hentinya Bima diliputi dengan perasaan tidak tenang.
Tunggu aku, Sayang.
Aku yakin, kamu pasti baik-baik saja. Karena aku tidak mau kehilanganmu. Aku tidak peduli anak itu lahir dengan selamat atau tidak, yang terpenting bagiku adalah keselamatan kamu, batin Bima.
Mobil yang dikendarai Bima terus melaju dengan kecepatan tinggi, sementara di rumah sakit Utari yang baru datang langsung mendapatkan perawatan intensif dari pihak rumah sakit.
Apalagi saat Utari dalam perjalanan tadi, ia telah lebih dulu menghubungi dokter kandungan yang biasa memeriksa kandungannya.
Lastri dan Mang Udin setia menunggu di luar, tepatnya di luar ruang dokter kandungan yang biasanya memeriksa keadaan Utari. Meskipun keduanya hanyalah pekerja di keluarga Mahendra, tetapi keduanya saat ini merasa ikut khawatir apalagi nyonya mereka dalam keadaan akan melahirkan seperti saat ini.