Meet Shanien Adyatma, Everyone
Setelah semuanya usai, kita bisa membicarakan ini lagi. Shanien tersenyum getir ketika mendengar suara yang ada di kepalanya. Suara yang persis sama seperti pria yang dulu selalu mengisi hari-harinya. Pria yang menjadi penguatnya, tapi juga menghancurkannya di saat yang bersamaan.
“Setelah semuanya? Bahkan, kita berakhir sebelum semuanya usai.” Shanien berbisik. Dia mengusap satu foto kecil, di mana ada dirinya dan pria itu di sana. Tidak ada senyum di antara keduanya di foto itu. Seharusnya, momen pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi semua orang. Tapi tidak bagi mereka. Itu menjadi momen di mana mereka berdua didewasakan oleh keadaan.
“Aku merindukan kamu.” Shanien hanya bisa mengatakan itu ketika dia sedang sendirian dan ketika dia tahu kalau mereka tidak akan pernah kembali bersatu. Shanien menutup buku diarinya dan berharap bahwa dirinya tidak pernah lagi tergoda untuk membuka diari tersebut. Lagipula, tidak ada apapun yang akan berubah dengan dirinya yang membuka buku itu. Pernikahannya tidak akan terselamatkan, dan dia maupun pria itu sudah tidak bertemu lagi—tidak akan pernah bisa.
“Mama!”
Shanien terkejut dengan seruan itu. Dia segera mengusap air matanya dan menarik napas perlahan. Dia membalikkan badannya, menatap pintu kamarnya yang tertutup. Astaga, dia lupa bahwa dia harus pergi bekerja, dan sebelumnya dia harus memastikan anaknya sudah sarapan.
“Iya, sebentar!” serunya lagi. Shanien Adyatma tinggal di sebuah apartemen studio yang letaknya berada di Jakarta Selatan. Untuk ukuran apartemen studio, memiliki dua kamar adalah hal yang nyaris mustahil. Tapi, Shanien berhasil mendapatkan apartemen dengan dua kamar—walaupun tetap saja sempat—meski dia harus mengeluarkan dana lebih.
“Mama, aku lapar!” Dan menjadi single parents di usia dua puluh enam tahun adalah hal yang sulit. “Sebentar, Gemi.” Gemintang Adiratna Soedjatmiko, adalah nama putrinya yang kini berusia tiga tahun.
Gemintang, atau yang biasa dipanggil Gemi, adalah salah satu kekuatan Shanien untuk tetap hidup di dunia ini.
Pengalamannya selama ini … terlalu pahit. Hingga dia terkadang sering kali berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Tapi, kalau dia berpikiran sependek itu, bagaimana nasib Gemi?
“Mama lama sekali di kamarnya!” Anaknya masih sangat berantakan. Rambutnya basah tidak karuan karena memaksa ingin mandi sendiri. Handuknya juga melilit asal di tubuhnya. Lantai yang basah dari arah kamar mandi menuju kamar Shanien, adalah bukti bahwa anaknya ini juga tidak mengeringkan kakinya dulu.
“Gemi, Mama sudah bilang, bukan? Kalau sehabis mandi, keringkan dulu kakinya.” Shanien ingin sekali marah, tapi anaknya ini terlalu lucu dan polos untuk ia marahi begitu saja.
“Gemi lapar.” Gemintang tidak mendengarkan ucapan ibunya, karena urusan perutnya lebih penting. Salah Shanien juga yang bangun kesiangan dan alhasil, dia keteteran. Dia harus bekerja pagi ini, lalu menitipkan Gemi ke day care, dan dia juga tidak boleh melewatkan sarapan mereka.
“Iya, Mama akan membuatkan kamu sarapan.” Shanien terlebih dahulu mengusap lantai yang basah dengan kain pel. Keselamatan dirinya dan putrinya ini menjadi yang paling penting dibandingkan dengan dirinya yang akan telat bekerja.
Setelah memastikan lantai sudah kering, Shanien mengangkat anaknya agar mau menggunakan bajunya. Ini adalah kegiatan yang cukup menyita waktu, karena Gemintang jarang sekali menurut dan mau diam saja ketika dipakaikan baju.
“Gemi, duduk dulu sebentar. Mama harus memakaikan kamu—”
Gemi malah tertawa-tawa karena melihat wajah kesal ibunya. Dia memilih untuk membaringkan tubuhnya ke kasur, sehingga kasur Shanien basah. “Aku mau berlama-lama bersama Mama.”
Shanien memutar bola matanya malas. “Tidak bisa, Mama harus bekerja, Gemi.”
Gemi menggelengkan kepalanya dan berguling-guling di kasur, sambil memainkan juga handuk yang dia pakai. Tamatlah kasur Shanien. Setelah ini pekerjaan Shanien bertambah karena dia harus mengganti sprei kasurnya.
“Gemi, Mama akan benar-benar telat.” Shanien menghela nafasnya. Gemi akhirnya pasrah saja ketika ibunya menarik tangannya dan akhirnya dia selesai dipakaikan baju. Shanien kini menyisir rambut anaknya yang tebal dan mengikatnya menjadi satu kunciran kecil.
“Rambutku bagus, ya, Ma?” tanya Gemi.
Shanien tersenyum mendengarnya. Dia mengangguk. “Sangat bagus.”
“Tapi, rambut Gemi … beda dengan rambut Mama.” Untuk anak usia tiga tahun, kalimat-kalimat yang diucapkan Gemi sudah cukup lancar, walaupun terkadang tersendat-sendat.
“Oh iya?” Walaupun sudah begitu telat, tapi Shanien dengan terapi mendengarkan setiap ucapan anaknya. Dia selalu suka mendengar anaknya berceloteh—karena dia tidak memiliki banyak waktu di rumah. Apalagi berinteraksi dengan Gemi.
“Iya. Rambut Mama ujungnya keriting.”
“Iya, Gemi, rambut kamu sangat mirip dengan rambut ayah kamu.”
“Gemi mirip Ayah?”
Shanien tersedak air liurnya sendiri ketika Gemi mengatakan hal itu. Astaga, hanya satu kalimat pertanyaan sederhana saja, jika menyangkut soal pria itu, selalu saja Shanien gemetar bukan main. “Mama?” tanya Gemi ketika dia tidak puas dengan ibunya yang tidak menjawab pertanyaannya.
Tapi, Shanien tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya tersenyum.
***
“Jadi anak baik, ya. Ingat apa kata Mama?”
“Mama selalu sayang pada Gemi karena Gemi anak yang baik.” Gemi menimpali dengan senyuman menggemaskannya dan dia kemudian berlari menuju pendampingnya di day care.
Shanien memang memilih jasa day care dibandingkan ART atau baby-sitter. Pertama, menurutnya lebih simpel saja jika dia menitipkan anaknya di sini. Kedua, anaknya akan lebih bebas bergaul, tapi juga tetap diawasi dan dijaga dengan baik. Ketiga, apartemennya sangat sempit. Shanien tidak bisa membayangkan jika dia harus menampung satu orang lagi di sana.
“Bu, saya titip Gemi.” Ibu pendamping Gemi tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Dari raut wajahnya, Shanien tahu bahwa wanita paruh baya itu sangat tulus menyayangi anaknya. “Gemi anak yang pintar dan baik, saya senang menjaga dia, Bu.”
Shanien mengangguk. Untungnya, Tuhan masih berbaik hati untuk mengirimkan anak baik padanya setelah apa yang dia alami dalam hidupnya. Shanien pamit pada pendamping Gemi dan berjanji bahwa dia akan menjemput Gemi setelah dia pulang dari kantor.
Shanien lalu melanjutkan perjalanannya menuju gedung kantornya yang berada di Kuningan, Jakarta Selatan. “Mbak Shanien.” Shanien mengangguk dan membalas sapaan dari resepsionis gedung kantor itu.
Shanien tidak sempat berbasa-basi karena dia sudah begitu telat. Dia yakin manajernya akan memarahi dia setelah dia sampai di mejanya.
“Shanien?”
Shanien memejamkan matanya, mendengar lelaki yang menjadi manajernya selama dia dua tahun bekerja di sana. “Iya, Pak?” tanyanya sambil membalikkan badannya. Dia menjaga raut wajahnya agar tidak terlihat masam di depan Josua Subagjo, sang manajer.
“Baru sampai? Apa kamu terkena traffic?”
Shanien mengangguk. “Iya. Tadi cukup macet dan … saya harus mengantar anak saya dulu.”
Josua hanya menghela nafasnya. “Jangan dibiasakan telat.”
“Baik, Pak.” Shanien mendumel dalam hati, jika dia tidak memiliki anak, dia juga akan selalu tepat waktu.