Go Home, Shanien
Keadaan di day-care sudah cukup sepi ketika Shanien datang menjemput Gemi. “Lho, Bu Shanien?”
Shanien mengernyitkan dahinya samar ketika dia melihat guru pembimbing Gemi kebingungan melihatnya. “Iya, Bu?” tanyanya.
“Tadi Gemi sudah dijemput oleh om-nya. Katanya sudah bilang ke Bu Shanien, makanya saya mengizinkan.” Shanien langsung terdiam begitu mendengar apa yang dikatakan oleh pendamping Gemi. Shanien menghela nafasnya.
“Bu, bisa tidak, kalau bukan saya yang menjemput Gemi, jangan diizinkan anaknya dibawa.”
Shanien mendesah lelah dan menyugar rambutnya. Dia sudah membelah kemacetan Jakarta, dengan harapan kalau rasa lelahnya ini akan berganti dengan lega ketika dia melihat Gemi.
Nyatanya, tidak sesuai harapannya.
“Maaf, Bu. Tapi, tadi Gemi juga langsung senang saat melihat om-nya. Saya tidak tega kalau harus menyelanya.” Ada raut wajah menyesal di pendamping Gemi, membuat Shanien tidak tega untuk memarahinya.
“Baiklah. Terima kasih, ya, Bu. Saya izin pulang dulu.”
Shanien mendengar wanita paruh baya itu kembali meminta maaf yang dijawab anggukan olehnya. Lalu, Shanien masuk ke mobilnya sambil menghela napas. Dia bingung, apakah dia harus menjemput Gemi sekarang atau nanti saja. Masalahnya, Shanien paling menghindari kediaman orang tuanya. Jujur, setelah apa yang terjadi beberapa tahun yang lalu, kembali ke rumah orang tuanya adalah hal yang paling dia hindari.
Ponselnya berdering ketika Shanien sedang melamun, yang membuat dia langsung tersentak karenanya. Dia segera mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelepon. Ternyata ibunya. “Halo, Ma?” tanyanya ketika sudah menggeser ikon hijau di layar ponselnya.
“Sha, Gemi di rumah.”
Shanien memejamkan matanya dan menghela napas. “Iya. Felix yang menjemputnya tadi?”
“Iya. Mama yang menyuruhnya, bukan Felix sendiri.” Kanaya Adyatma, ibunya, terdengar sangat berhati-hati ketika mengatakannya. Mungkin, Kanaya tahu kalau Shanien tidak suka anaknya dijemput seperti itu tanpa ada konfirmasi dengannya dulu. “Sha?”
“Iya, Mama? Aku masih di sini.”
“Ayo pulang. Kamu tidak mau menjemput anak kamu?” Sudah Shanien duga. Ini adalah rencana ibunya agar dia bisa pulang ke tempat yang selama ini dia hindari.
“Gemi diantarkan ke apartemenku saja, Ma—”
“Mama tidak mau. Papa kamu juga tidak akan mau. Felix akan Mama bilang untuk tidak mengantarkan Gemi. Pilihannya satu; kamu yang menjemput anak kamu sendiri.” Kini ibunya menjadi tegas. Mungkin Kanaya sudah bingung, harus memakai cara apalagi agar anaknya mau pulang ke rumahnya.
Shanien menghela napas. Dia memijat pangkal hidungnya. “Baiklah. Aku akan ke sana. Tapi, aku tidak janji akan cepat sampai, Jakarta macet.”
“Iya, Mama tunggu, ya.” Shanien tidak tahu kalau ibunya tersenyum di seberang telepon sana.
***
Namanya adalah Shanien Adyatma. Ayahnya bernama Alastair Adyatma dan ibunya Kanaya Wijaya. Dari nama belakang kedua orang tuanya, semua orang bisa menyimpulkan bahwa
Shanien berasal dari keluarga yang terpandang di Indonesia. Sayangnya, Shanien tidak lagi bisa memakai kedua nama belakang keluarganya untuk mendapat privilege yang mungkin kata orang lain adalah hal yang patut dia dapatkan.
Sejak dia memiliki masalah dengan ayahnya Gemi—mantan suaminya—Shanien resmi menarik diri dari keluarganya. Dia tidak pernah menyebutkan nama belakangnya dan memanfaatkannya untuk kemudahan hidupnya.
“Hai.” Ibunya, Kanaya Wijaya, tersenyum ketika membukakan pintu untuk Shanien. “Ayo, masuklah. Anak kamu baru saja makan, sekarang sedang bersama Felix.”
Shanien masih memakai setelan kerjanya yang rapi, wajahnya lelah, tapi dia mencoba untuk tidak membuat ibunya merasa bersalah karena dirinya harus kembali menghadapi macet dan sampai ke rumah orang tuanya.
“… it’s blue! …”
“… Om salah, ini harusnya merah …”
Shanien bisa mendengar suara cempreng Gemi dan suara Felix saling bersahut-sahutan. Shanien kemudian melihat anaknya berada di ruang keluarga bersama adiknya. Baju Gemi sudah ganti dan wajahnya terlihat segar—yang berarti ibunya memandikannya tadi.
“Gemi.” Shanien memanggil sang anak, yang membuat Gemintang langsung menolehkan kepalanya. Gemi bersorak senang melihat ibunya sudah pulang. Dia berlari, meninggalkan mainannya dengan Felix dan segera memeluk ibunya. “Mama!” serunya.
Shanien langsung mensejajarkan tingginya dengan Gemi. “Kamu ini, kalau mau pergi ke rumah Oma, kasih tahu Mama dulu.” Shanien tahu kalau tidak ada gunanya juga dia mengatakan hal itu pada Gemi. Toh, Gemi ini anak yang manut-manut saja kalau dibawa ke manapun.
“Mama, tadi Oma membuatkan floss roll. Enak banget! Nanti kita bawa pulang, ya, Ma!”
Shanien tersenyum dan menganggukkan kepalanya sambil mengusap rambut sang anak. “Gemi sudah mandi, ya?” tanyanya. Dia mencium parfum yang sangat segar dari Gemi.
“Iya. Oma juga yang memandikan Gemi.”
Shanien mengernyitkan dahinya. “Gemi ‘kan sudah bisa mandi sendiri.” Tangannya tidak berhenti mengusap rambut sang anak dengan penuh kasih sayang.
“Kalau di sini, kata Oma, Gemi boleh manja-manja ke Oma, Opa, dan Om Felix.” Gemi membela dirinya. Ucapan Gemi yang kelewat polos, membuat Kanaya dan Felix tertawa kecil.
“Gem, ayo main lagi sama Om.” Felix berseru ketika Papanya, Alastair Adyatma, menghampiri mereka.
Felix mengerti kalau ayah dan ibunya ingin berbicara dengan sang kakak. “Sha.” Alastair menyapanya. “Baru pulang, ya?”
Shanien tersenyum kecil dan menganggukkan kepalanya. “Iya, Papa. Papa sehat?”
“Sangat sehat. Mama kamu sedang doyan sekali membuat salad. Setiap hari Papa disuruh makan salad.” Alastair terlihat begitu lelah, mungkin karena faktor usianya. “Sini, ayo makan bersama kami.”
Shanien tahu kalau hubungannya dengan orang tuanya sebenarnya tidak ada masalah. Tapi, dirinya saja yang menarik diri. Lagi-lagi, Shanien menarik diri dari keluarganya sendiri. Dan dia tahu, selama empat tahun ini, orang tuanya mencoba agar membuat dia kembali.
Sayangnya, Shanien belum bisa.
“Kamu baik-baik saja, bukan? Tidak ada masalah?” tanya Alastair ketika mereka sudah berada di meja makan bersama dengan Kanaya. Shanien menatap ayahnya. Kemudian, dia mengangguk.
“Sha.”
“Iya, Mama?”
Kanaya mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Shanien. “Pulanglah. Pintu rumah kami terbuka lebar untuk kamu dan Gemi. Mama tidak mau melihat kamu banting tulang seperti ini, Sha. Kamu bisa tinggal dengan nyaman di sini. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan biaya hidup kamu dan Gemi.” Kanaya lagi-lagi mengeluarkan mantra yang selama empat tahun ini selalu dia ucapkan.
Shanien hanya bisa tersenyum menjawabnya, “Mama, Gemi menjadi tanggung jawab aku. Aku juga sudah dewasa, tidak mungkin aku akan hidup berpangku tangan saja.”
“Tapi, tidak seperti ini juga. Kamu hidup seolah kamu dibuang oleh keluarga kamu sendiri.”
Alastair menimpali. “Ayah Gemi juga …” Alastair sempat melirik istrinya ketika dia akan mengatakan hal itu, dia tahu ini topik yang cukup sensitif. “… dia juga mengirimkan uang untuk Gemi tiap bulannya, bukan? Kata Felix, kamu tidak pernah memakainya.”
“Karena, Papa, aku tidak mau menggantungkan hidupku dan Gemi pada orang yang sudah meninggalkan kami.”