Memastikan
Sebuah suara dari seberang mengagetkan dirinya.
"Ivan, ini Dr. Shigeaki," ujar Kiki lewat interkom.
Ivan menimpali, "Terima kasih," dan dia berhenti sejenak untuk menenangkan pikiran. Lalu dia kembali mengangkat gagang teleponnya.
Seperti budaya biasa, memulai percakapan dengan sedikit obrolan basa-basi, tapi sadar bahwa dokter itu adalah orang yang sibuk, dia bergegas pada poin masalah.
"Sejujurnya begini, Dr. Shigeaki, aku membutuhkan bantuanmu, tapi bila menurutmu ini terlalu rumit dan kemungkinan tidak menarik perhatianmu untuk sedikit meluangkan waktu luangmu, bilang saja. Bahwa kami mendapat seorang tamu ketika kebaktian kemarin, seorang narapidana yang sedang dalam proses pembebasan. Dia sekarang tinggal di sebuah rumah singgah daerah Chiba, dan pikirannya benar-benar sedang rumit. Dia sempat ke sini tadi pagi, baru saja pulang sebetulnya, dan berdasarkan pengakuan dia tadi, kalau sekarang dia tengah mengidap penyakit yang cukup parah. Dia pernah diperiksa di Rumah Sakit Kanto,” tutur Ivan.
"Bantuan apa yang kau butuhkan, Ivan?" tanya Dr. Shigeaki.
"Kalau kau sedang tergesa-gesa, kita bisa sambung nanti,” balas Ivan yang merasa tidak enak.
"Tidak, Ivan. Teruskan saja,” kata Dr. Shigeaki.
"Baiklah. Nah, orang ini mengatakan dirinya telah didiagnosis mengidap toksoplasmosis. Katanya sih, parah, kemudian dia mengatakan segala hal dengan keputusasaan, seolah-olah dia tidak akan terselamatkan. Aku ingin tahu bahwa kau bisa memeriksa kebenaran hal ini. Di sini aku tidak sedang meminta informasi rahasia lho, kau mengerti, kan? Aku tahu dia bukan pasienmu, juga aku tidak berniat melanggar prosedur medis untuk hal ini. Bukan itu yang aku minta. Kau mengerti, kan?"
"Dari uraian panjangmu tadi, kau terlihat seperti meragukan sesuatu. Mengapa kau seperti meragukannya? Kenapa dia mengaku menderita toksoplasmosis kalau sebenarnya tidak?" Dr. Shiegaki bernada curiga.
"Dia penjahat kambuhan, Dokter. Sepanjang hidupnya banyak dihabiskan di dalam penjara, jadi kemungkinan dia tidak yakin di mana letak kebenaran. Dan aku tidak mengatakan bahwa aku meragukannya. Kejadian dua kali di kantorku dia mengerang karena sakit kepalanya kambuh, terlihat mengenaskan. Ironis dan iba sekali aku melihatnya. Aku hanya menegasikan apa yang sudah dikatakannya padaku. Hanya itu."
Sunyi-senyap. Hanya terdengar gesekan-gesekan antara jari tangan dan kulit kepala. Seolah-olah dokter itu sedang memburu kecemasannya barangkali ada yang menguping pembicaraan mereka. "Aku belum bisa mencari tahu lebih detail, Ivan. Apa kau tahu dokter yang menanganinya?"
"Aku tidak tahu,” kata Ivan.
"Kalau begitu, siapa nama orang itu?” balas Dr. Shigeaki.
"Harry Kazuya,” kata Ivan sambil melirik sekilas ke belakang, khawatir kalau ada yang mendengar.
"Baiklah. Beri aku waktu sekitar dua jam,” balas Dr. Shigeaki.
"Terima kasih, Dokter." Napas Ivan kali ini terlihat begitu lega.
Ivan mematikan telepon kemudian kembali ke Kanto. Dia kembali melanjutkan ringkasan fakta itu:
Bella mulai menghilang pada Jumat malam, tertanggal 4 Desember 2002. Sebelum kejadian itu, dia bersama teman-teman perempuannya berjalan-jalan di satu-satunya mal di Kanto pada suatu malam. Setelah filmnya selesai, mereka berempat—termasuk Bella—makan piza di restoran mal tersebut. Saat memasuki restoran, para gadis itu berbincang sebentar dengan dua anak laki-laki, salah satu di antaranya adalah Hiro Akada. Setelah makan piza, mereka meluncur ke rumah salah satu gadis itu dan menonton acara televisi sampai larut malam. Sebelum meninggalkan restoran, Bella sempat permisi sebentar ke toilet. Setelah itu, ketiga temannya yang lain tidak pernah melihatnya lagi.“Tanggal empat Desember, malam hari di sebuah mal bersama beberapa teman. Setelah itu terpisah ketika gadis itu pergi ke toilet,” gumam Ivan. Mencatat beberapa hal yang penting.
Sebelum meninggalkan mall, dia sempat menelepon ibunya dan berjanji seperti biasa untuk tidak pulang sebelum tengah malam, di mana itu menjadi batas pulangnya seperti biasa. Lalu dia menghilang. Berselang satu jam, teman-temannya menjadi prihatin dan mulai menghubunginya setelah sempat wara-wiri ke toilet dan menjelajahi sudut mal termasuk ke restoran piza yang sempat mereka singgahi sebelumnya. Dua jam kemudian, BMW merahnya ditemukan di tempat dia meninggalkannya di lapangan parkir mal. Mobil itu terkunci. Tidak ada perlawanan sama sekali, tidak ada jejak yang mencurigakan, suasana senyap, bersih. Keluarga dan teman-temannya panik, kemudian pencarian pun dikerahkan.“BMW warna merah,” gumam Ivan lagi. Semakin lihai menemukan kata-kata kunci.
Aparat penyelidik—Polisi—secara sigap mencurigai adanya konspirasi atau semacam permainan kotor dan mengorganisir pencarian besar-besaran untuk menemukan Bella. Ribuan relawan dan berhari-hari, berminggu-minggu sesudahnya, seluruh populasi kota dan kabupaten digeledah habis-habisan. Tidak ditemukan apa pun. Nihil. Kamera-kamera yang dipasang di setiap sudut mal terlalu jauh letaknya, gambarnya tidak jelas, dan tidak bisa membantu apa-apa. Tidak seorang pun yang memberi kesaksian telah melihat Bella meninggalkan mal dan berjalan menuju mobilnya. Hajime Stefa menawarkan imbalan besar untuk informasi, dan ketika jumlah itu ternyata tidak efektif, dia menaikkan tarifnya.“Berari ini benar-benar kasus besar. Menyita banyak perhatian. Bahkan sampai muncul desas-desus isu,” kata Ivan.
“Kau benar,” sahut Kiki yang tiba-tiba muncul di belakangnya.
“Jangan keterlaluan dengan tiba-tiba muncul di belakangku,” kata Ivan.
“Kau saja yang terlalu serius mempelajari kasus itu. Jangan terlalu diambil pikir,” kata Kiki.
Sementara Ivan kembali mempelajari kasus penculikan itu.
Petunjuk pertama tentang kasus tersebut muncul pada tanggal 16 Desember, dua belas hari usai Bella dinyatakan hilang. Dua kakak-beradik sedang memancing di sebuah gasung di Sungai Merah, yang dikenal sebagai Hateruma, ketika salah seorang dari mereka menginjak dan menemukan kantong plastik. Ternyata di dalamnya berisi kartu keanggotaan sasana olahraga Bella. Mereka menggali lumpur dan pasir dan menemukan kartu lain—kartu pelajar Bella yang dicetak oleh SMA Kanto. Salah seorang kakak-beradik itu mengenali namanya karena berita yang gencar beredar, dia lantas segera mendatangi kantor polisi di Kanto.“Jadi kabar itu beredar setelah satu minggu lebih gadis itu tidak ditemukan,” kata Kiki.
“Juga barang bukti identitas dari gadis itu,” timpal Kiki.
“Ya! Bukannya itu petunjuk yang berharga?” tanya Kiki.
“Kenapa kau jadi ikut-ikutan serius juga?” kata Ivan.
Kesulitan untuk mencari dalih, Kiki pun memilih diam dan agak menjauh dari Ivan.
Hateruma berjarak sekitar enam puluh kilometer di sebelah utara perbatasan kota.
Para penyelidik dari kepolisian, yang dipimpin oleh Detektif Yuval Bonjamin membuat keputusan untuk merahasiakan penemuan kartu keanggotaan sasana olahraga dan kartu pelajar Bella. Menurut mereka, strategi yang lebih tepat adalah dengan menemukan mayat korban terlebih dahulu. Mereka melakukan pencarian yang melelahkan, namun sia-sia. Belum ada yang ditemukan. Pihak berwenang diminta tetap bersiaga.Sementara penyelidikan berlangsung, Detektif Bonjamin menerima sebuah petunjuk baru yang tanpa melibatkan nama Furuya Satoru. Dia tidak membuang-buang waktu. Berselang dua hari, dia bersama rekan detektifnya, Yoshio Edogawa, menghampiri Furuya saat meninggalkan sebuah klub olahraga. Beberapa jam kemudian, tiga detektif lain menghampiri pemuda bernama Tatsuya Kimura, yang merupakan teman dekat Furuya. Tatsuya pergi ke kantor polisi dengan sejumlah pertanyaan dari pihak penyelidik. Dia tidak tahu-menahu tentang kasus hilangnya Bella Stefa, dan tidak merasa prihatin sedikit pun, meski sejujurnya dia merasa gugup ketika dipaksa datang ke kantor polisi.“Oke. Sudah ada informasi terkait penyelidik kasus ini. Kita catat nama-nama penting, sekiranya kita membutuhkan ini nanti,” kata Ivan, tampak dia seperti semakin bersemangat.
“Bukan kita, tapi kau,” sahut Kiki dengan ketus. Dia masih berat untuk membiarkan suaminya itu ikut campur dalam masalah itu. Masalah dari orang asing yang tidak jelas identitasnya, ditambah lagi dengan status orang itu yang merupakan mantan narapidana.