Interogasi
Ivan Stefanus, seorang Pendeta Lutheran yang berusia tiga puluh tujuh tahun. Sejak kecil, dia dibesarkan di distrik kecil—Kanto—dan dididik di sekolah yang tidak jauh dari gereja. Dalam pengakuan masyarakat umum, dia dikenal cukup populer sebagai pendeta yang sangat peduli dengan masalah jemaatnya. Oleh karena itu, dia sangat dikagumi. Dan gerejanya selalu ramai. Ditambah lagi dengan fasilitas konsultasi pribadi yang dia berikan.
Dia menikah dengan Kiki, dan sekarang pernikahannya sudah berjalan delapan tahun lalu. Angka yang fantastis. Dan pernikahan mereka dikaruniai dua anak laki-laki. Topik khotbahnya Minggu lalu adalah tentang memaafkan: kondisi agung Tuhan yang tidak mengenal batas dan legawa untuk memaafkan segala kesalahan manusia; tidak peduli seberapa besar dosa-dosa itu.
“Bukankah kau minggu lalu memberikan khotbah tentang pentingnya pemaafan bagi manusia?” tanya Harry.
“Dari mana kau tahu?” tanya Ivan.
“Dari salah seorang jemaatmu,” jawab Harry.
Membicarakan dosa-dosa, yakni dosa-dosa Harry Kazuya begitu nista, kejam, tidak bisa dipercaya, dan bahkan luar biasa mengerikan sampai terlihat tidak bisa dimaafkan meskipun khotbah Ivan minggu lalu terdengar sangat lugas dan menyentuh hati para jemaatnya. Track Record kejahatannya terhadap sesama manusia sudah dimungkinkan akan membuat dirinya mendekam di neraka dan menderita selama-lamanya. Dalam situasi ini, dia merasa bahwa hidupnya sangat berantakan dan begitu mengenaskan, Harry mengira bahwa dirinya sendiri tidak akan pernah bisa dimaafkan; meskipun begitu, dia masih ada rasa penasaran.
“Ada beberapa orang dari rumah singgah yang juga pernah ke sini. Aku juga pernah beberapa kali mengadakan kebaktian di sana,” kata Ivan. Mereka berdua berada di salah satu sudut ruang kerja khusus Pendeta, agak sedikit menjauh dengan meja tulis. Sosok teman baru yang duduk di lounge chair yang sandarannya agak melorot ke bawah itu sambil berbincang. Tidak jauh dari tempat mereka, gemercik petikan palsu kayu bakar berkobar di tengah perapian palsu.
“Tempat ini lumayan juga,” sahut Harry. “Penjara yang selama ini kutempati, kalah jauh.” Harry berfisik ringkih, polesan kulit pucat menyertai tubuhnya yang memang khas orang-orang yang usai lama mendekam di tempat-tempat gelap. Lutut-lututnya yang kurus dan setiap tulangnya terlihat menonjol itu saling menyentuh, dan tongkat putihnya yang lebih kuat daripada kedua kakinya menggeletak di atas pahanya.
“Di mana alamat penjara itu?” Ivan memulai dengan nada santai sambil memegang cangkir tehnya.
“Tidak tentu. Beberapa bulan di Yamaguchi, beberapa tahun kemudian di Kyoto, bebas dan dipenjara lagi di wilayah penjara Chiba, setelah itu aku dipindah dan ditampung di Lembaga Permasyarakatan Kanto. Sekarang aku seperti orang cacat yang harus dituntun ke sana ke mari, aku berada di bawah saran dan perintah pengurus lembaga.”
“Kau dijatuhi hukuman sebab telah melakukan perbuatan apa?” tanya Ivan, tidak sabar untuk mengetahui lebih banyak perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan oleh Harry Kazuya yang kiranya hal itu yang membuatnya bersikukuh untuk datang ke gereja. Perbuatan kriminal? Penyelundupan narkoba atau konsumennya? Genosida? Terosisme? Bisa jadi semuanya. Sementara di sisi lain, Harry adalah koruptor pajak. Tetai, dengan tubuh yang ringkih dan terlihat jelas tidak berdaya itu, dia tidak terlihat seperti seseorang yang mampu melukai orang lain. Mungkin dia adalah broker ilegal, atau orang yang hanya bekerja di balik layar.
“Jelasnya, banyak sekali perbuatan keji yang aku lakukan, Pendeta. Aku sama sekali tidak sanggup mengingatnya seluruhnya.” Harry prefer untuk tidak membalas tatapan mata. Karpet di lantai menjadi pusat sorotan matanya. Ivan meneguk tehnya dan menatap kliennya itu dengan cermat. Sesekali berselang beberapa detik, Harry akan menundukkan kepala sedikit ke sebelah kanan. Hanya anggukan singkat, selepas itu diikuti sentakan lehernya yang membetulkan posisi kepalanya semula.
Setelah suara Harry itu berhenti, kemudian ruangan disulap menjadi senyap. “Apa lagi yang membuatmu menahan ucapanmu, Harry?”
“Aku menderita toksoplasmosis. Penyakit ganas yang menyerang otakku, sangat mematikan, tidak bisa diobati.”
Ivan tercenung.
“Apabila aku punya banyak uang, aku mungkin bisa melawannya. Dengan perawatan rutin, kemoterapi, yang masih bisa memperpanjang umurku mungkin sampai beberapa bulan ke depan, bahkan memungkinkan untuk setahun. Tapi ini sudah akut. Aku sudah lama membiarkan penyakit ini mengganggku waktuku, tanpa penanganan sewajarnya. Aku tidak pernah merasakan diomeli dokter hanya karena tidak rutin minum obat, atau yang lain. Aku pasti mati beberapa bulan lagi.” Harry mengerutkan dahinya dan badannya agak sedikit condong, lalu mengurut pelipisnya. Napasnya tersengal, terlihat berat. Seluruh tarikan-tarikan tubuhnya terlihat kesakitan.
“Aku turut berduka tentang penyakitmu.” Ivan menyadari bahwa mengatakan demikian sesungguhnya tidak memberikan kepuasan sama sekali buat Harry.
“Persetan sama kepala ini!” Harry memekik. Kedua tangannya masih mencengkeram hebat kepalanya, kedua matanya masih terus terpejam rapat. Dia tengah berusaha melawan rasa nyeri yang menyerang kepalanya secara tiba-tiba itu. Meskipun gejala demikian sudah biasa terjadi, namun rasa sakitnya tidak bisa ditawar sama sekali; tetap terasa sakit. Harry belum mampu melanjutkan pembicaraan lagi. Seolah-olah menjelaskan bahwa jika dia bergerak sedikit saja, kepalanya akan semakin pening. Ivan mengamatinya dengan tidak berdaya sambil menggigit bibir bagian bawahnya. Berselang beberapa menit, rasa nyeri itu mereda, dan Harry menarik napas panjang dan bersandar. Dia tampak terkulai lemas. “
“Maaf,” ucap Harry.
“Kapan pertama kali kamu dinyatakan mengidap toksoplasmosis?”
“Aku tidak tahu tepatnya. Mungkin sudah sekitar dua bulan yang lalu. Kepalaku mulai sering pusing, kulitku mulai terlihat memar-memar, pendengaranku agak terganggu sejak di Chiba. Mungkin daripada kau yang hidup tenang di bawah bangunan ini, yang memutuskan iya atau tidak untuk melibatkan diri dengan masalah klienmu, kau tidak bisa membayangkan kalau dulu aku kesakitan tanpa ada bantuan perawatan sama sekali. Setelah aku dibebaskan dan di bawa ke sini, mereka baru membawaku ke Rumah Sakit Kanto. Aku menjalani serangkaian tes, aku mendapat pemeriksaan. Dan aku menceritakan gejala-gejala yang kerap aku alami. Kemudian setelah beberapa pemeriksaan, aku divonis mengidap penyakit itu.” Harry menghirup napas kuat-kuat, dan setelah dadanya menolak terlalu banyak udara, dia mengembus, dia berhasil menyunggingkan senyuman pertamanya di hadapan Ivan.
“Mungkin aku merasa kalau kau pernah bertemu dengan orang-orang yang sama sepertiku.” Harry tersendat. “Mereka yang tengah sekarat.”
“Terkadang. Tapi itu merupakan bagian dari pekerjaanku.”
“Dan kukira, orang-orang yang tengah dalam kondisi seperti itu mau tidak mau mengalami kecenderungan untuk menjadi lebih serius tentang masalah Tuhan, kehidupan setelah mati, dan sebagainya.”
“Betul. Seperti burung yang beterbangan di awan, ketika dia mampu merasakan bahwa angin-angin yang menyertainya merubah auranya sebab akan datangnya hujan, mereka akan dengan cepat kembali ke sarang. Tapi bagaimana denganmu sendiri, Harry? Kau percaya Tuhan itu ada? Apakah kau juga percaya dengan adanya kehidupan setelah mati?”
“Relatif. Atau bisa dibilang situasional. Ada kalanya aku percaya, ada kalanya juga tidak. Bahkan ketika aku mencoba untuk berusaha percaya pada Tuhan, masih ada sedikit keraguan yang menegur kepercayaanku. Mungkin sangat mudah buatmu untuk percaya kepada Tuhan sebab kau memiliki kehidupan yang mudah dan bahagia. Lain cerita jika denganku.”
“Kau hendak menceritakan seluruh kehidupanmu padaku?”
Harry menimbang. “Entahlah. Tidak juga.”
“Lantas kenapa kau ke sini?”