LNCrawler

Pengakuan Harry

Lingkaran Setan — gooddreamer.id · All chapters

Pengakuan Harry

Lengang sejenak di antara mereka. Sementara hanya deru napas mewakili pembicaraan keduanya. Sedetik memahami keheningan itu, mata Harry berotasi mengelililingi ruangan dan kemudian berhenti tepat di mata Ivan. Keduanya saling melihat untuk waktu yang tidak sebentar, tidak seorang pun di antara keduanya yang mau mengerjap. “Aku sudah melakukan kesalahan yang besar, Pendeta. Aku melukai beberapa orang yang tidak pernah bersalah atas kehidupanku. Aku sangat tidak yakin akan membawa semua bayangan dan rekam jejak kesalahan itu sampai ke pemakamanku.”

Tepat sekarang pembicaraan antara aku dengannya menuju inti persoalan, kegundahan yang membuatnya datang kemari, batin Ivan. Beban kesalahan, dosa, yang diumpat dalam dirinya. Perasaan malu akibat perbuatan buruk yang sudah terpendam terlalu lama. Ajaibnya, Harry mampu menyadari itu di sisa-sisa umurnya.

“Apakah ini bersifat rahasia? Kau menjamin itu?” kata Harry.

“Sebagian besar mungkin iya.” Dengan santai Ivan menjawab.

“Aku tidak suka dengan jawaban mungkin. Kau tahu. Hampir semua orang juga tidak suka itu,” cecar Harry. Dia masih merasa dirinya belum mendapatkan kepastian.

“Jelasnya ada pengecualian-pengecualian lain untuk membuka pembicaraan ini,” kata Ivan.

“Soal apa itu?”

“Bila kemungkinan kau akan mengutarakan semua dosa-dosamu padaku, dan aku merasa yakin kalau kau akan menyakiti dirimu sendiri atau bahkan orang lain, maka sifat kerahasiaan itu akan batal. Saat itu terjadi, aku wajib mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi dirimu sendiri dan orang lain itu. Atau dalam arti lain, prinsip kerahasiaan itu batal karena aku juga butuh bantuan dari pihak lain.”

“Sepertinya rumit.”

“Kurasa tidak,” Ivan membujuk.

“Dengar, Pendeta, aku telah melakukan beberapa perbuatan yang buruk, tapi, yang satu ini seakan menghantui pikiranku sekian tahun. Aku perlu membicarakan ini dengan seseorang, tapi tidak ada orang yang mampu mendengar itu. Tidak ada tempat lain yang bisa aku datangi selain gereja ini. Bila aku memberitahumu mengenai sebuah perbuatan kriminal yang kejam yang pernah aku lakukan beberapa tahun silam, apa kau mau berjanji tidak akan memberitahu siapa pun tentang hal ini?”

“Apa janji itu penting?”

***

Kiki segera mencari informasi tentang Lembaga Permasyarakatan Kanto, kemudian dalam beberapa detik dia berhasil mengakses dan mendapatkan informasi mengenai kehidupan yang mengharukan dari seorang laki-laki bernama Harry Kazuya. Dia mempunyai riwayat dijatuhi hukuman selama dua belas tahun pada tahun 2004 karena telah terindikasi melakukan tindakan asusila. Status terkini; tahanan.

“Dia ada di kantor suamiku,” gumam Kiki sambil jarinya lihai memencet tombol.

Dijatuhi hukuman selama tujuh tahun pada tahun 1994 terduga usai melakukan penyerangan seksual di Kyoto. Dan dibebaskan tahun 2001.

Dijatuhi hukuman selama dua puluh dua tahun pada tahun 1982 untuk tindakan penganiayaan seksual di Yamaguchi. Lalu dibebaskan pada tahun 1990.

Harry reputasinya tercatat sebagai pelaku kekerasan seksual di Yamaguchi, Kyoto, dan Chiba.

“Sosok monster,” gumam Kiki pada dirinya sendiri. Beberapa foto dalam arsip Harry yang tertpampang dalam situs Web Lembaga Permasyarakatan Kanto menampilkan seorang laki-laki yang terlihat lebih muda, badannya jauh lebih berisi dan segar, rambut klimis. Kiki dengan sigap meringkas riwayat kejahatan Harry dan segera mengirimkan ke Ivan melalui surel. Kiki tidak mencemaskan keselamatan suaminya, melainkan dia hanya ingin agar monster itu segera enyah dari kantor suaminya.

Setelah empat puluh lima menit pembicaraan yang tersendat-sendat dan progres yang begitu lambat, Ivan mulai jenuh dengan pertemuan ini. Harry tidak memperlihatkan gerak-gerik obsesinya pada Tuhan, dan karena persoalan Tuhan adalah kajian keahlian Ivan, hal itu kelihatannya tidak cukup signifikan yang bisa dia lakukan. Ivan bukan ahli bedah otak. Atau seseorang dengan sekantung lowongan pekerjaan dengan gaji yang menjanjikan.

Sebuah dering notifikasi pesan muncul di layar komputernya. Dua deringan mungkin artinya ada seseorang yang akan konsultasi. Sementara kalau tiga kali, pertanda pesan berasal dari meja resepsionis. Ivan bersikap seolah tidak mempedulikannya. Harapnya, dia bisa segera pulang dan merebahkan punggungnya di ranjang mewahnya.

“Buat apa kau perlu tongkat itu?” nada suaranya terdengar ramah.

Harry meringkuk. Matanya kembali memancarkan ingatan masa kelamnya. “Penjara yakni tempat yang brutal.”

“Aku kerap kali ikut terlibat dalam pergumulan itu. Kepalaku sering terluka. Dan aku mengira, itu yang menjadi penyebab penyakit ini tanggal menggerogoti isi kepalaku sekarang.” Harry merasa bahwa hal itu adalah sesuatu yang lucu dan dia tengah menertawai leluconnya sendiri.

Budaya sopan santun, Ivan menyumbang tawa kecil, lantas berdiri, dan berjalan ke arah meja tulisnya. “Aku akan memberimu kartu namaku. Kau bisa meneleponku kapan saja. Kau akan selalu diterima di sini.” Ivan mengambil sepucuk kartu nama yang khas dimiliki oleh seorang kelas menengah dan dilanjutkan lirikannya ke layar monitor komputernya. Empat, sudah terhitung, empat putusan bersalah sudah pernah jadi riwayat kelamnya di pengadilan, dan semuanya adalah tindak pidana seksual. Ivan kembali ke kursinya dan menyerahkan kartu nama itu pada Harry, lantas kembali duduk.

“Penjara paling keras menyingkapi seorang pemerkosa, bukan begitu, Harry?”

“Sangat keras dan kasar. Brutal kalau istilahku.” Harry meng-iyakan. “Aku tidak ingat berapa kali aku pernah dihajar. Mungkin karena terlalu sering,” imbuhnya.

“Begini Harry, aku tidak terlalu tertarik membicarakan hal ini. Aku masih punya beberapa pertemuan lain yang harus aku hadiri. Kalau kau masih sangat perlu dan ingin berkunjung lagi, silakan, telepon aku sebelumnya. Dan aku mengundangmu buat hadir di kebaktian kami hari minggu berikutnya.” Ivan tidak yakin bahwa dia serius dengan ajakan itu, namun suaranya terkesan tulus.

Dari saku jaket kulanya, dirogohnya sepucuk kertas terlipat. “Kau pernah dengar kasus rumit Furuya Satoru?” tanya Harry sambil menyerahkan sepucuk kertas itu pada Ivan.

“Tidak pernah.”

“Salah satu alumnus SMA Kanto, didakwa bersalah karena dianggap telah membunuh pada tahun 1995. Simpang siur berita masyarakat mengatakan dia telah membunuh pemandu sorak SMA Knato, mayatnya hingga kini belum ditemukan.”

Ivan membuka lipatan kertas itu pelan-pelan. Tampilan di dalamnya adalah sebuah salinan artikel pendek dari surat kabar Yamaka, tertanggal hari Sabtu kemarin, Ivan memindai isinya dengan cepat lantas memperhatikan foto polisi Furuya Satoru. Bagi Ivan, tidak ada yang istimewa, hanya eksekusi rutin biasa di Kanto yang melibatkan terdakwa lain yang bersikukuh bahwa dirinya tidak bersalah. “Eksekusi itu akan dilakukan hari Rabu ini,” ucap Ivan.

“Kuberitahu sesuatu ya, Pendeta, bahwa orang-orang berseragam itu telah menanggalkan baju narapidana kepada orang yang sebetulnya tidak bersalah. Mereka salah menangkap pelakunya. Anak itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan pembunuhan gadis itu.”

Ivan mendongak cepat. “Bagaimana kau bisa tahu hal itu?”

“Tidak ada bukti. Secuil bukti pun tidak bisa ditemukan dengan jelas yang menandakan dia pelakunya. Polisi-polisi itu memutuskan dialah pelakunya, merepresi dia dan kemudian memaksanya mengaku, dan sekarang, dengan bukti yang sangat kurang itu, mereka hendak membunuhnya. Itu salah, Pendeta, salah besar.”

“Harry, kau mengetahui suatu hal yang sangat penting seperti itu, bagaimana kau bisa…”