Kepalanya Bertanduk
Kehidupan pernikahan tidak seperti layaknya taman bermain dengan rumput hijau. Kehidupan pernikahan banyak lika-liku di dalamnya. Menikah bukan hanya mencintai pasangan melainkan mencintai dua keluarga yang berbeda. Awal pernikahan memang terlihat baik-baik saja, tetapi semakin bertambah umur pernikahan tentu sepasang manusia hatinya tidak akan baik-baik saja. Begitu pun dengan keluarga mereka di mana Tanya berusaha meredam emosinya sebelum saatnya akan meledak. Wanita ini masih menjalankan tanggung jawabnya sebagai seorang istri.
Wanita ini melipat selimut sembari menepuk pundak suaminya. “Pa, bangun sudah siang. Mau pergi ke kantor tidak?” tanya Tanya menepuk lengan Sena yang masih nyaman memeluk guling alih-alih Tanya yang dipeluk karena berbadan dua.
Sena menggeliat seperti bayi yang baru bangun tidur. “Jam berapa ini Ma?” tanyanya lembut sembari mengucek mata yang masih ingin mengajaknya memejam.
“Setengah tujuh. Papa siap-siap dulu. Mama mau siapkan sarapan,” kata Tanya berjalan satu langkah di depan, tetapi sebentuk tangan lain menarik tangannya membuat Tanya duduk tepat di samping Sena.
“Nanti dulu,” ucapnya manja menghentikan Tanya untuk menyiapkan sarapan sembari mengelus perut Tanya yang sudah membesar.
“Iya-iya. Papa mau apa?” tanya Tanya menanggapi sikap manja Sena.
“Kapan aku bisa bertemu dengannya? Lama sekali rasanya,” ucap Sena tidak sabar ingin bertemu dengan anak yang dikandung Tanya.
“Sabar ya. Papa kangen berat ini ya. Sabar ya, Mama juga tidak sabar menunggu kedatangannya supaya Nata ada teman bermainnya,” ucap Tanya membuat Sena teringat dengan anak pertama nya.
“Nata sudah bangun?” tanya beranjak dari kasur padahal masih ingin memberikan kenyamanan padanya.
“Belum. Nanti Mama akan membangunkannya setelah Papa berangkat ke kantor. Papa mandi dulu, Mama siapkan sarapan ya,” ucap Tanya mengulas senyum. Aroma tubuh Sena bahkan sudah melekat dapat tercium walaupun hanya dua langkah di depan. Sikap Tanya membuat Sena tidak berhenti bersikap manja.
Tanya hanya menyiapkan dua piring dan tertata rapi di piring sayur dan lauk pauk. Sementara Sena iseng pergi ke kamar Nata yang tidak jauh dari ruang makan untuk membangunkannya.
“Papa, jangan,” panggil Tanya manja mengingatkan Sena.
Sena mengangguk. “Aku hanya mau menciumnya,” lirih Sena membuat Tanya mengumbar senyuman manis yang membuat Sena jatuh cinta, benar-benar jatuh cinta.
“Banyak sekali hari ini Mama masak. Dalam rangka apa? Apa Papa melewatkan hari penting?” tanya Sena menarik kursi lalu duduk nyaman.
“Tidak dalam rangka apa-apa. Mama hanya ingin masak banyak saja. Papa mau membawa bekal?” tanya Tanya berharap Sena mau membawanya.
“Ma, Papa terkadang makan siang dengan klien atau justru melewatkan makan siang dan berakhir makan malam di rumah denganmu.” Cara Sena menolak secara halus karena dia malu membawa bekal ke kantor. Tanya lagi-lagi mengulas senyum mendengar perkataan Sena yang membuat hatinya nyaman.
Sena menghabiskan makanan di piring selain enak juga membuat perasaan Tanya senang. “Ma, Papa berangkat dulu. Telepon aku kalau Nata sudah bangun,” pesan Sena.
“Jadi hanya kalau Nata bangun saja. Mamanya tidak boleh telepon,” kata Tanya cemburu dengan sikap Sena yang berbagi cinta, tetapi Tanya meledeknya.
“Maaf, Papa lebih mementingkan Nata. Jaga diri di rumah kalau ada apa-apa hubungi Papa,” pesannya lagi diiringi kecupan manis di kening Tanya. Sena melingkarkan lengannya di pinggangnya lalu salah satu tangan yang lain menyentuh lembut pipi Tanya yang mungil.
Mereka ingin melakukan hal lebih dari ini, tetapi mereka menghentikan ketika mendengar suara langkah kaki berjalan mendekati mereka. “Papa,” panggil suara Nata lembut mendekati Sena yang sigap menggendong Nata.
“Oh, Nata sudah bangun? Iya, Nak. Papa mau berangkat kerja. Nata main sama Mama dulu. Nata mau Papa belikan apa?” tanya Sena ingin membahagiakan keluarganya terutama Nata.
Nata menggeleng. “ Pulang saja,” katanya lirih mengucek mata.
“Iya, Papa akan pulang cepat. Nata temani Mama. Jangan buat Mama kesusahan karena ada adik Nata di perut Mama,” pesan Sena lalu Nata mengangguk.
Tidak ada yang berbeda dari sikap Sena hari ini, bahkan hari-hari sebelumnya juga sama. Sena masih pria yang sama yang membuat Tanya jatuh cinta, pria yang sama yang bertanggung jawab untuk kehidupan keluarganya, dan pria yang sama yang Nata panggil sebagai Papa.
Kehidupan di perusahaan yang dibangunnya berbeda dengan kehidupan rumah tangganya. “Apa yang terjadi? Kenapa semua ponsel dan telepon kantor berdering?” tanya Sena pada salah satu karyawan.
“Pak, harga pakan ayam terus naik. Lalu,” ucapnya terhenti karena takut membuat Sena marah padanya.
“Lalu apa? Bukannya kemarin masih naik dan kita bisa menjual harga telur.” Wajahnya memerah.
“Pak, kita tidak bisa menjual telur lagi,” ucap sekretarisnya datang membawa data yang ada.
Wajahnya terlihat jelas memerah, peluh membasahi keningnya walaupun dengan suhu ruangan yang mampu membuat pinguin pindah ke sini, dan terlihat jelas kalau emosi meraung-raung.
“Bagaimana bisa kita tidak bisa jualan lagi? Hubungi beberapa broker untuk menjual sebisanya kita keluar barang. Tidak-tidak, cari tahu kenapa harga pakan terus meroket,” perintah Sena pada sekretarisnya yang tidak memberikan sedikit pun untuk bernapas.
“Iya, Pak,” jawabnya berlalu dari ruangan Sena.
Perusahaan di bidang peternakan yang Sena bangun dengan susah payah, bahkan menikmati keuntungannya saja baru lima tahun semenjak dia menikah. Namun, perusahaan ini terancam bangkrut dan harus merumahkan beberapa karyawan. Sedih, kecewa, marah, bahkan tidak mau melampiaskannya bagaimana.
“Kenapa, kenapa ini bisa terjadi? Tidak-tidak ini hanya mimpi saja.” Sena mencubit tangannya dan merasakan sakit menandakan kalau ini kenyataan yang terjadi.
Suasana kaos terjadi di kantor dengan ponsel dan telepon kantor yang tidak berhenti berdering. Pelanggan minta telurnya diambil karena mereka juga tidak bisa menjual dengan harga murah yang diberikan. Lalu ada beberapa pabrik yang menagih pembayaran pakan. Sena menggaruk kepalanya walaupun tidak terasa gatal. Wajah yang sebelum sampai kantor terlihat cerah sekarang mendung menyelimutinya.
“Aku tidak mampu kalau merumahkan mereka. Mereka sangat berjasa dengan perusahaan ini. Aku juga tidak mau perusahaanku bangkrut seperti ini.” Sena dilema berada di segala kemungkinan yang mengharuskan dia mengambil keputusan.
Detik ini kepalanya berkonde dengan beban pikiran yang ada membuatnya pusing tujuh keliling. Bagaimana kehidupan keluarganya nanti? Apa ada biaya untuk melahirkan anak kedua mereka? Bagaimana dengan sekolah Nata nanti? Banyak pikiran yang berkecamuk di dalam kepalanya.
Ponsel pria ini bergetar panggilan masuk dari seseorang yang membuatnya tidak ingin menjawab. “Halo, Pak. Iya saya akan membayarnya. Saya tahu Pak. Bapak tidak perlu khawatir, saya tidak akan melarikan diri. Ya, Pak.” Sena terus menjawab ya pak tanpa ada jawaban membela diri sampai panggilan telepon berakhir. Pria ini mencengkram cukup kuat lalu mengayunkan sesuatu beradu dengan lantai granit di ruang kerjanya.
Apa yang terjatuh dan pecah terdengar di ruangan Sena?