Bekas Telapak Tangan
Benda pipih yang selalu dalam genggaman tangan dan menjadi alat komunikasi pecah seketika. Sena dengan tempramennya yang tidak bisa dikontrol berhasil meloloskan benda pipih ini. Lalu pria ini mengambil kasar dan menempatkannya di meja.
Pria ini mengusap wajah kasar kala bulir-bulir air membasahi keningnya. “Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, tetapi aku tidak memiliki jalan keluarnya. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku tidak mau merumahkan mereka. Mereka juga membutuhkan pekerjaan, apa yang harus aku katakan pada mereka,” ucap Sena terdengar mencemaskan karyawan-karyawannya. Sekarang bukan saatnya untuk diam bahkan menghindar dan kabur juga akan membuat keluarganya menunggu.
Roda pikiran pria ini diajak berpikir berat hari ini. Pria ini memikirkan bala bantuan yang siap membantu, tetapi tidak ada.
“Aku harus minta bantuan siapa ini? Tidak ada yang bisa membantuku. Aku tidak mungkin minta bantuan Papa dan Mama. Kalau mereka tahu bisa membuat mereka sakit,” keluh Sena merasa tidak ada seseorang yang berada di sisinya.
Berjalan mondar-mandir sudah pasti tidak menemukan solusi dan hanya membuat kakinya lelah tidak hanya dengan pikiran, tetapi juga dengan beban tubuhnya. Sena berdiri di depan kaca berukuran besar yang memperlihatkan karyawan-karyawannya menerima telepon. Pandangannya kosong dan tidak bisa dipungkiri masalah ini mendadak baginya.
Sena hanya bisa mengingat seseorang yang selalu bersamanya sampai akhir, seseorang yang dengan setia menemaninya, dan seseorang yang membuatnya jatuh cinta setiap hari. Tanpa disadari Sena memegang bibirnya yang lembut mengingat apa yang dia lakukan dengan Tanya membuat perasaannya tenang. Rasa manis masih terasa dan sulit dilupakan.
“Sial, kenapa aku memikirkan hal sensual. Aku tidak bisa begini dan di sini terlalu lama. Lebih baik aku mencari tempat yang tenang,” ucap Sena mengambil ponsel dengan layar yang hancur untung saja memakai pelindung layar.
“Pak,” panggil sekretaris yang melihat Sena melangkah ke lobi.
“Iya,” jawab Sena terlihat suasana hatinya tidak baik-baik saja.
“Bapak mau ke mana? Saya bisa temani.” Sekretarisnya tidak ingin bosnya melakukan di luar nalar.
“Aku mau pulang. Suasana di sini membuatku tidak bisa berpikir dengan jernih. Mereka. Aku tidak tahu lagi dengan mereka gimana baiknya. Aku bersikeras tidak mau merumahkan mereka. Kalau harus dilakukan katakan saja pada mereka, aku akan mencari mereka ketika keadaan perusahaan sudah membaik,” jelas Sena dengan berat hati melangkah keluar dari kantor.
Pikirannya terbagi-bagi, bahkan saat ini tidak tahu harus ke mana dia pergi untuk mencari ketenangan semata. Tangannya dengan cepat memutar setir mobil ke arah rumah, Sena melajukan mobilnya. Tujuan Sena pulang ke rumah setidaknya pria ini bisa menemukan ketenangan walaupun Nata pastinya berisik. Wajar saja anak seumurannya mencari perhatian dari orang dewasa dengan tumbuh kembangnya.
Tanya mematikan kompor karena mendengar suara seseorang mendorong pagar besi. “Siapa? Papa? Ada apa pulang lagi? Belum ada setengah hari berada di kantor. Makan siang saja belum. Apa yang terjadi?” tanya wanita ini dengan jantung berdegup kencang hal buruk pasti terjadi. Tidak sabar melihat keadaan suaminya, Tanya buru-buru membuka pintu dan Sena berdiri tepat di depannya hanya berjarak satu jengkal. Hembusan nafas mereka beradu ditambah dengan tatapan kosong yang ditunjukkan Sena.
“Nata sudah bangun belum?” tanya Sena membuka pembicaraan dengan pertanyaan yang tidak dibutuhkan jawabannya oleh Tanya.
“Belum. Kok sudah pulang? Belum ada setengah hari di kantor.” Tanya berusaha mencari tahu untuk memuaskan dahaga keingintahuannya apa yang terjadi dengan suaminya atau apa yang terjadi di kantor.
Sena memegang
remote televisi dan melihat siaran yang tidak ingin ditonton, tetapi matanya tertuju ke sana.
Jemari pria ini tidak berhenti memindah acara televisi yang tidak menarik perhatiannya. Wajar saja karena acara televisi di siang hari hampir terisi dengan berita yang salah satunya tentang harga pakan ayam yang meroket.
“Pa, ada apa kok pulang cepat? Sesuatu terjadi di kantor? Papa baik-baik saja ‘kan?” tanya Tanya memberondong pertanyaan yang membuat Sena membisu. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya membuat rasa penasaran yang menghampiri Tanya semakin besar.
“Pa, Papa baik-baik saja ‘kan? Papa mau makan apa? Mama siapkan.” Tanya bersikeras mengulik untuk mendapatkan jawaban meredakan dahaga akan rasa penasarannya.
Lagi, Sena terdiam justru sibuk mengganti siaran televisi yang tidak memuaskan matanya untuk melihat. Sebaliknya Tanya melangkah ke dapur untuk membuat makanan kesukaan Sena untuk memancingnya berbicara.
“Ada apa sebenarnya? Kenapa suasana hatinya mendadak berubah secepat itu sejak kembali dari kantor? Aku harus cari tahu dari siapa? Sekretarisnya? Apa aku memiliki nomor teleponnya?” tanya wanita ini mengajukan pertanyaan di mana jawabannya hanya Sena yang tahu. Wanita ini tidak kehabisan akal untuk bertanya.
“Pa, mau makan tidak? Ini enak loh.” Tanya mencoba merayu berharap mendapatkan balasan manis.
“Pa,” panggil Tanya meninggikan suaranya karena merasa tidak dihargai. Sena melakukan bukan tanpa alasan.
Sena berpindah tempat melangkah menghampiri Tanya yang berdiri di depan kulkas. Sena menatap tajam dengan mata hampir keluar begitu membuat Tanya menelan ludah.
Sena tanpa ragu mengayunkan pukulan ke wajah wanita ini. Telapak tangan yang lembut, telapak tangan yang beberapa jam lalu memeluk Tanya dengan erat, dan telapak tangan sebagai kepala keluarga menampar pipi Tanya yang mungil. Masih terlihat jelas bekas telapak tangan yang membuat pipinya memerah.
“Dari tadi Papa diamkan saja karena kepala Papa pusing. Papa berharap pulang ke rumah bisa mendapatkan ketenangan. Ini malah mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang menyudutkan Papa. Seharusnya kalau Papa diam saja jangan terus mengajukan pertanyaan yang tidak penting. Mama tahu tidak kenapa Papa pulang?” tanya Sena dan Tanya hanya menatap dengan air mata yang menggenang sebelum akhirnya akan tumpah juga.
“Mama tahu tidak?” tanya Sena meninggikan suaranya naik satu oktaf.
“Ti-tidak tahu. Ma-maaf, kalau Mama salah,” jawab Tanya gugup.
“Makanya kalau tidak tahu, tidak usah sok sibuk tanya-tanya. Pertanyaan tidak penting. Papa pusing karena perusahaan terancam bangkrut. Mama tahu tidak alasannya karena apa?” tanya Sena lagi membuat Tanya lagi-lagi menelan ludah.
“Ti-tidak tahu. Mama tidak tahu,” jawa Tanya bibirnya gemetar.
“Papa bisa memberitahu Mama kalau terjadi hal buruk di kantor. Mama tidak akan bertanya terus,” ucapnya membela diri dan menegur sikap Sena yang baginya keterlaluan. Baru pertama kali ini Sena menampar Tanya.
“Apa? Maksud Mama apa? Papa salah? Lalu apa kalau Papa memberitahu Mama bisa membantu keuangan perusahaan? Tidak! Mama tidak bisa membantu.” Sena tempramental dan terlanjur kesal.
Sebentuk tangan menjambak rambut Tanya dan membuatnya sulit bergerak dengan perut yang membesar. “Sini, Papa kasih tahu supaya tidak asal tanya-tanya terus,” kata Sena menjambak rambut dan menariknya ke kamar.
Sebuah kain merah yang cukup tebal dililitkan di tangan Sena. Tanya memindai sekitar kamarnya untuk memastikan benda yang bisa digapai untuk melawan Sena, tetapi tidak ada.
Tidak ada ampun, Sena tanpa sungkan melayangkan pukulan dengan kain merah yang dililitkan di tangannya. Pria ini melayangkan pukulan sembari menjambak rambut wanita ini.
“Pa, lepaskan. Mama tidak bisa bergerak. Sakit Pa. Jangan lakukan,” mohon Tanya pada Sena yang tidak berhenti dengan sabetan kain merah.
Apa yang Sena lakukan? Sejahat itukah Sena sampai berani melukai Tanya?.