Pukulan-pukulan Menggemaskan
Sorot mata Sena seperti mengeluarkan sinar laser. Lalu pria ini tanpa ragu melayangkan pukulan-pukulan ke tubuh Tanya yang berbadan dua. Pria yang tempramen tidak berpikir demikian. Pria ini hanya melampiaskan emosinya bahkan membuat Tanya sulit untuk bernapas. Pria ini meninggalkan jejak tangan pada tubuh wanita ini.
“Pa, Pa, cukup,” mohon Tanya dengan suara parau dan bulir-bulir air yang tidak berhenti mengalir.
“Kamu mau aku melakukan apalagi? Kamu mau tanya apalagi?” tanya Sena sengit karena beban pikiran yang membuatnya seperti ini. Nasib ratusan karyawan di tangannya.
“Cukup, Pa. Mama minta maaf. Mama salah.” Tanya memohon ampun mengatupkan telapak tangan.
“Belum. Ini belum cukup untuk membuatmu berhenti menanyakan hal tidak penting. Suami pulang disambut dengan hangat bukan pertanyaan yang tidak penting dan bertubi-tubi,” ucap Sena masih menjambak rambut Tanya berwarna hitam.
Entah apa yang merasuki sampai membuat Sena tidak ragu memukul Tanya tanpa tedeng aling-aling untuk menghentikannya dan tanpa ingat kalau ada Nata bersama mereka. Tangannya masih dililit kain merah tujuannya tidak mau tangannya terluka, tetapi ada perasaan dan tubuh yang terluka karena sikapnya.
Sena melayangkan pukulan ke tubuh wanita ini tanpa persetujuan.
“Auw, Pa. Sakit! Cukup!” Tanya berteriak walaupun begitu Sena tidak akan berhenti sebelum emosinya reda, tidak ada yang bisa Tanya lakukan selain mencengkram tangannya pada sudut tempat tidur.
“Apanya yang cukup? Belum. Aku belum selesai. Asal kamu tahu aku tidak akan berhenti sebelum kamu berlutut meminta maaf.” Sena merekatkan ikatan kain merah yang kendor.
Bulir-bulir air memenuhi pelupuk matanya, Tanya tidak sanggup, tetapi ada Nata yang harus dilindunginya. Wanita ini harus jadi ibu yang kuat di rumah ini, hanya wanita ini yang bisa melindungi keluarga ini. Tanya membalik badan dan mengambil sikap berlutut tepat di depan Sena yang siap untuk memukulinya, tetapi Sena mengerutkan kening dan menatap iba. Seolah ada malaikat yang merasuki tubuhnya dan berubah jadi baik.
“Bangun, aku sudah cukup melihatmu berlutut. Jangan ulangi lagi kesalahan yang sama. Aku tidak segan-segan untuk melakukan hal yang sama.” Sena memperingatkan Tanya tidak ingin istri yang pria ini sayangi terluka terus.
Sebentuk tangan memegang lengan Tanya membantunya berdiri dan melingkar di pinggangnya berusaha memeluk erat walaupun ada penolakan dari Tanya. “Papa tidak akan melakukan hal seperti ini kalau Mama bisa mengerti keadaan yang sedang Papa hadapi. Ini juga tidak mudah untuk Papa,” kata Sena meminta Tanya untuk tidak melakukan hal yang membuatnya marah, tetapi tidak terdengar permintaan maaf.
Sena melepaskan pelukannya dan menempatkan tangannya di pipi Tanya menyeka air mata yang dibuatnya. “Ingat, Ma. Jangan lakukan hal bodoh lagi,” ucap Sena juga ingin melindungi keluarganya, tetapi caranya yang salah.
Telapak tangan yang lebar menyentuh lembut pipi Tanya. Mata mereka bertemu dalam satu titik yang sama, napas mereka beradu dengan kondisi Tanya yang belum stabil bahkan untuk berdiri saja. Sorot mata suaminya tajam seperti mengeluarkan sinar laser. Wanita ini ingin rasanya keluar dari rumah ini dengan lari sekencang mungkin, tetapi ada Nata yang mengurungkan niatnya.
“Ingat Ma. Jangan lakukan hal yang sama lagi. Papa tidak mau terjadi hal serupa lagi. Kalau Mama tidak bisa membantu setidaknya bisa diam saja. Papa risih mendengar suaramu yang berisik,” ucap Sena sedikit pun tidak memikirkan perasaan istrinya.
Emosi Sena masih meledak-ledak bahkan sulit untuk diredakan. Hanya solusi untuk perusahaan yang bisa meredakan emosinya. Tanya yang tidak tahu sama sekali masalah perusahaan harus menerima imbas dari semuanya.
“Papa hanya mau Mama mengerti. Itu saja. Keuangan perusahan sedang tidak baik-baik saja,” ucap Sena sekali lagi lalu mengusap wajahnya kasar. Roda-roda pikirannya diajak berpikir keras. Bahkan ketika tubuhnya ingin istirahat sebentar. Pria ini berjalan mondar-mandir sedangkan wanita yang diyakini istrinya merasakan luka dalam pernikahan mereka.
Wanita ini merasa tidak adil baginya harus menerima ini di saat dirinya sedang mengandung. Sewajarnya wanita yang sedang mengandung dijadikan ratu di rumah bukan seperti ini menerima pukulan-pukulan. Ekor mata wanita memeriksa apa emosi suaminya sudah reda lalu mendelik cepat menyadari suaminya mengalihkan perhatian.
“Jadilah istri yang baik dan diam di rumah. Papa tidak akan berbuat sejauh ini kalau Mama tidak memulainya. Papa harap Mama mengerti. Papa sayang dengan Mama dan juga Nata,” kata Sena berdiri di depan wanitanya dengan tangan berada di pinggang. Sementara wanita ini tidak bisa diam saja diperlakukan tidak adil baginya.
Wanita ini membuka ingatan manis tentang kebersamaan mereka selama ini. Tanya juga rela meninggalkan apa yang menjadi miliknya hanya untuk menikah dengan Sena. Kalau saja wanita ini mengikuti kata hati kecilnya untuk meninggalkan Sena mungkin saja wanita ini bersanding dengan pria sepadan dengannya.
Ingatan itu justru membuat tangisnya pecah dan Tanya hanya bisa menelan bulat-bulat apa yang sudah Sena lakukan. Wajahnya memang tidak terluka sedikit pun karena mungkin saja Sena tidak mau menyakiti wajah yang membuatnya jatuh cinta. Namun, sekujur tubuh yang tertutupi pakaian yang dikenakan terdapat bekas sabetan. Dengan perutnya membesar saja sudah sulit untuk berjalan, apalagi menahan rasa perih sekujur tubuhnya.
“Papa tahu Mama melakukan semua tanpa pamrih hanya untuk Papa. Mama berusaha menjadi istri dan mama yang baik untuk Nata. Apa Papa tahu kekurangan bumbu dapur kalau tidak Mama yang cari sendiri? Mama tidak mau meminta karena tidak seharusnya membebankan.” Tanya spontan mengatakannya karena akan menjadi beban tersendiri untuknya.
Sena yang berdiri lima langkah di depan Tanya menatap tajam dengan sorot mata pembunuh bayaran. Semua yang ada dalam kehidupan Sena berubah mendadak entah salah satu alasannya karena masalah perusahaan atau ada alasan dibalik ini semua.
“Lalu apalagi yang Mama keluhkan?” tanyanya mendadak sopan memanggil Tanya dengan panggilan seharusnya.
“Mama tidak mengeluh, hanya saja jangan memukul Mama untuk alasan di perusahaan. Papa tidak bisa membawa-bawa masalah kantor ke rumah. Seharusnya Papa selesaikan sendiri dengan karyawan-karyawan di kantor. Mama yang tidak tahu apa-apa kena getahnya,” jawab Tanya dengan suara yang meninggi.
“Papa bisanya apa? Hanya bisa membuat anak saja. Itu yang bisa Papa lakukan. Mengurus perusahaan saja tidak becus. Selama ini Mama hanya menerima uang bulanan yang cukup untuk makan. Berlibur? Kapan kita pernah berlibur atau sekadar makan malam di luar rumah.” Tanya mengeluarkan uneg-unegnya karena dia tidak mau menjadi beban sementara sedang mengandung. Tanya memegang erat perutnya merasakan sakit yang masih bisa ditahannya.
Rencana jahat untuk mengakhiri pernikahannya menggedor-gedor roda pikirannya, tetapi wanita ini tidak akan melakukannya sekarang. Tanya yakin semua butuh persiapan, semua butuh waktu ketika saatnya tiba. Sekarang yang bisa wanita ini lakukan adalah melihat sejauh mana suaminya akan memperlakukan ketidakadilan ini bagi wanita ini.
Sedangkan Sena menatap seperti mata seorang pemburu yang bertemu dengan mangsanya dan siap untuk menerkam. Terpancar ketakutan dari mata Tanya. Apa yang akan dilakukan Sena lagi?