Mertuaku Malaikat Tak Bersayap
Sena hanya bisa mendengus kesal dan merasa geram dengan istrinya. Pria ini mengepal tangannya hingga memerah. Rasa cinta pria ini masih terlalu besar sehingga tidak ingin melukai wajah istrinya bagaimanapun juga wajah Tanya yang mampu membuat pria jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan wanita yang dicintainya.
Mereka tidur di kamar yang sama dan di tempat tidur yang sama. Keduanya saling memalingkan badan seolah tidak mau saling melihat karena emosi yang tersimpan dalam diri mereka tidak bisa dicegah. Bagi Tanya sulit untuk tidur apalagi sambil menahan tendangan dari anak yang dikandungnya juga menahan luka yang belum kering. Menangis dalam diam dengan hanya bulir-bulir air mata yang menetes di pipi perlahan wanita ini menyekanya. Tangis seorang wanita yang sakit hati tidak mampu terbendung lagi hingga matahari menyapa.
Terik matahari menyapu ke seluruh ruangan termasuk ke kamar mereka. Kamar di mana menjadi saksi bisu apa yang telah dilakukan Sena.
Wanita ini beranjak dari kasur sembari melipat selimut. “Hari ini masak apa ya? Di kulkas masih ada bahan makanan apa saja?” tanya wanita ini berjalan perlahan karena perutnya yang semakin membesar dan berat badannya yang semakin naik.
“Oh, itu bisa dimasak. Ada telur juga. Nata bisa aku buatkan telur dadar. Semoga saja suka.” Tanya perlahan mengambil sayur di kulkas menempatkannya di baskom lalu mencucinya bersih. Aroma masakan Tanya menusuk indra penciuman Sena yang sedang tidur memberikan mimpi indah. Entah dengan wanita mana Sena bermimpi mendapatkan kenikmatan yang tidak bisa dibandingkan.
“Sudah bangun dari tadi? Maaf membuatmu bangun lebih cepat.” Tanya melihat Sena berdiri di ambang pintu kamarnya. Perkataan seperti kemarin tidak terjadi sesuatu.
“Papa baru saja bangun. Masak apa hari ini? Sepertinya wangi.” Sena bertanya seolah semalam tidak terjadi apa pun, hanya dianggap angin lalu baginya.
“Mama masak mi goreng, goreng tahu dan tempe, lalu masak sayur sop. Masih ada tulang ayam di kulkas.” Tanya menjelaskan seolah semalam tidak terjadi apa-apa. Padahal luka di tubuhnya belum sepenuhnya mengering.
“O. Papa mau dibawakan sayur sop dan mie goreng,” katanya berlalu dari hadapan Tanya berjalan menuju kamar mandi.
Helaan napas terasa berat karena Tanya takut untuk apa yang terjadi semalam akan terulang lagi. Wanita ini tidak bisa bersikap biasa saja setelah apa yang dilakukan Sena terlebih mereka tinggal di atap yang sama.
“Ada apa dengannya? Bersikap biasa saja. Apa dia tidak ingat apa yang sudah dilakukan pada istrinya?” tanya wanita ini masih tidak percaya dengan sikap yang ditunjukkan oleh Sena. Bersikap biasa saja bukanlah yang ingin dilihat Tanya pagi ini.
Sayup-sayup terdengar suara tangis Nata sementara Tanya masih sibuk menggoreng tahu. “Biar Papa saja yang menggendong Nata,” kata Sena melangkah ke kamar Nata.
“Cepat sekali mandinya,” kata Tanya heran.
Terdengar dengan jelas karena pintu kamar Nata terbuka lebar kalau Sena menenangkan anaknya yang menangis. Tidak biasanya Nata bangun pagi hari biasanya bangun pukul 09.00 atau beberapa menit setelah Sena berangkat kerja.
“Nata mau apa? Mandi? Nata mandi sama Papa? mau?” tanya Sena menenangkan Nata lalu keluar dari kamarnya.
Tanya menatap heran pada sosok suaminya yang cekatan menenangkan Nata. “Papa saja yang mandikan Nata,” ucapnya membuat Tanya menoleh sampai tidak terlihat bayangannya.
“Dia sadar tidak sih?” tanyanya bergumam karena masih tidak percaya dengan apa yang terjadi semalam berharap hanya mimpi buruk, sayangnya bukan mimpi buruk.
Sena berangkat ke kantor dengan tas bekal yang selalu dibawanya. “Papa berangkat dulu,” ucapnya mengecup kening Tanya walaupun Sena tidak tahan melihat bibir Tanya yang merah merona.
“Nata, Papa berangkat kerja dulu,” pamitnya pada Nata sambil mencubit pipi Nata yang menggemaskan.
Tidak terlihat lagi bayangannya, tetapi dari jauh terlihat sosok melambaikan tangan ke arah Tanya dan Nata. Sambil berteriak memanggil Nata yang terlihat girang melihatnya. Seorang malaikat dengan wujud mertuanya yang baik dan sayang pada Tanya dan Nata.
“Nata, Nata,” panggil Mama Lena yang ikut girang melihat Nata yang melonjak minta turun dari gendongan Tanya.
“Nata tidak boleh turun. Tuh Nenek ke sini kok.” Tanya berusaha menenangkannya.
“Sena baru saja berangkat, Tanya?” tanya Mama Lena mengambil Nata dari gendongannya sembari memberikan tas kecil.
“Iya, Ma. Ini apa Ma?” tanyanya tidak bermaksud kurang ajar karena rasa penasarannya.
“Mama masak lebih banyak dan Papa minta untuk diberikan untukmu dan Nata. Ada buah kesukaan Nata juga,” jawab Mama Lena memberitahu.
Tanya mengulas senyum manis dan menatap beliau. “Terima kasih, Ma. Mama selalu baik sama aku dan Nata,” balas Tanya mengucapkan terima kasih. Apa pun diberikan mertuanya karena sayang pada mereka berdua.
“Mama, masuk yuk Ma,” ajak Tanya karena mau merapikan kamar Nata dan ruang televisi di mana Nata sering bermain di sana.
“Papa, apa kabarnya Ma?” tanyanya karena mertuanya terlalu baik untuknya.
“Papamu baik-baik saja. Itu ada di rumah sebentar lagi mau pergi. Bosan katanya,” jawab Mama Lena.
“Kita sampai Nata. Kita main boneka sini sama Nenek,” ajak Mama Lena bermain bersama Nata. Tanya merasa cukup tenang karena Mama Lena di rumah. Dia bisa mengerjakan pekerjaan rumah tanpa sesekali melihat apa yang sedang dilakukan Nata. Dia tidak mau menggunakan jasa
baby sitter karena tidak mau ada orang asing di rumah ini.
“Ma, Tanya tinggal mencuci dulu ya,” pamitnya ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaan lainnya.
“Iya. Hati-hati jalannya. Nata main sama Mama, kamu tidak perlu cemas,” kata Mama Lena asyik bermain dengan Nata.
Tanya salah satu menantu yang beruntung mendapatkan mertua seperti mereka. Mereka sangat baik padanya juga Nata berharap akan baik juga dengan anak kedua yang dikandungnya. Mertuanya sayang seperti pada anaknya sendiri, bahkan lebih besar. Kedatangan Mama Lena bahkan Sena tidak tahu.
Sesekali Mama Lena menyuapkan buah apel yang dipotong dadu kecil-kecil supaya Nata bisa mencernanya. “Nata, ini apel kesukaanmu,” kata Mama Lena menyuapkannya.
“Enak? Manis? Nata suka?” tanya beliau dan dibalas Nata dengan senyuman manisnya.
“Kamu mirip sekali dengan Mamamu yang tidak lepas dengan senyumannya,” puji Mama Lena.
Tanya berdiri di dekat mesin cuci menunggu sepuluh menit setelah diberi pewangi pakaian. Pikiran buruk datang menyapanya. Ya pikiran buruk untuk bercerai dari Sena, tetapi dengan cepat Tanya menepisnya.
“Tidak, tidak. Aku tidak bisa melakukannya sekarang. Anggap saja bukan dia lelah dengan pekerjaan di kantor atau ada masalah di kantor yang aku tidak tahu,” kata Tanya masih membela diri dengan anggapan ini hanya sementara saja.
Kain merah yang terikat di tangan Sena mengingatkan Tanya akan perlakuannya. Ingatan buruk tersebut tidak bisa dilupakan karena pertama kalinya Tanya diperlakukan seperti itu. Mama Lena yang sedikit sensitif tentang rumah tangga mereka berjalan mendekati Tanya yang melamun.
“Tanya,” panggil Mama Lena menepuk pundak Tanya membuat lamunannya buyar.
“Mama, sebentar lagi selesai kok. Kita bisa ngobrol-ngobrol dan bermain sama Nata,” kata Tanya membuat alibi kalau dia baik-baik saja. Mama Lena mencengkram pundak Tanya memastikan kalau baik-baik saja.
“Apa yang sedang terjadi? Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu terluka?” tanya Mama Lena membuat Tanya berada di posisi yang membingungkan.