LNCrawler

Kebohongan yang Sempurna

Luka Pernikahan — gooddreamer.id · All chapters

Kebohongan yang Sempurna

Erly berusaha mencuri nafas lalu menghirupnya dalam-dalam supaya mertuanya tidak tahu apa yang dirasakan. Untuk saat ini wanita ini hanya ingin menyimpannya sendiri. Bahkan berbagi cerita dengan mertuanya pun enggan dilakukannya. Wanita ini juga berusaha mengatur sikapnya supaya tidak terlihat kalau menata kebohongan yang sempurna. Apakah harus melakukan ini pada mereka yang selalu baik? Tanya tidak tega melakukannya, tetapi demi keluarganya harus melakukannya. Sekali lagi wanita ini melakukannya bukan karena Sena. Bahkan, sekarang pun Tanya tidak peduli. Cinta? Ya masih cinta. Sayang? Ya masih sayang, tetapi dalam batas tertentu saja dan semua dilakukan untuk Nata.

“Tidak terjadi apa-apa Ma. Baik-baik saja kok. Mama tidak perlu cemas,” jawab Tanya yang berhasil menata kalimat sederhana dan berhasil mengatakan.

Percaya? Tentu saja tidak, Mama Lena tidak semudah itu untuk percaya perkataan Tanya walaupun tidak diragukan kebenaran dalam setiap perkataannya.

“Mama senang mendengarnya kalau kamu baik-baik saja,” balas beliau sambil mengernyitkan dahi memikirkan kalau Tanya pasti tidak berbohong.

“Yuk, Ma. Kita duduk di sini saja,” ajak Tanya untuk mengobrol di ruang televisi. Sambil meletakkan nampan yang terdapat dua cangkir teh hangat yang mampu menemani obrolan ringan mereka.

“Mau Mama bantu?” tanya beliau menawarkan diri melihat Tanya sulit duduk di sofa sambil memegang perutnya.

“Tidak perlu, Ma. Tanya akan berusaha sendiri. Tanya harus bisa dong tanpa bantuan orang lain,” ucap Tanya membuat Mama Lena yakin kalau dia tidak berbohong. Tidak ada untungnya juga berbohong.

Mama Lena tidak tahu apa kalimat awal percakapan ini. “Bagaimana dengan Nata? Apa dia lahap ketika makan?” tanya Mama Lena memandangi Nata yang sedang asyik bermain.

“Nata lahap makannya walaupun terkadang sulit sekali membuka mulutnya kalau makanan tidak dia sukai,” jawab Tanya menjelaskan apa yang terjadi.

“Sabar. Semua ada waktunya. Nanti Nata juga pasti akan mau makan makanan yang tidak dia sukai,” saran Mama Lena membuka mata Tanya memberinya harapan.

“Terima kasih, Ma,” kata Tanya membuat mertuanya mengernyitkan dahi lagi.

“Terima kasih untuk apa Tanya?” tanya Mama Lena tanda tanya.

“Mama selalu membantuku. Padahal aku bisa saja menghubungi Sena.” Tanya menjelaskan alasannya karena tidak banyak menantu bertemu dengan menantu yang baik seperti mereka.

“Mama senang bisa membantu kalian berdua. Nata juga tidak rewel dan membuat susah kita. Kamu jangan merasa beban. Mama melakukan semuanya untukmu dan Nata.” Mama Lena memberitahu kalau beliau melakukannya secara tulus. Beliau hanya ingin melihat mereka berdua bahagia mendapatkan Sena sebagai kepala keluarga. Mama Lena tahu betul bagaimana perangai anak laki-lakinya.

Mama Lena meniup perlahan secangkir teh dirasa masih panas untuk diminum secara langsung. Beliau juga sambil memikirkan keadaan Tanya yang tidak mau memberitahu sama sekali. Beliau tidak mungkin meletakkan kamera pengintai hanya untuk tahu apa yang terjadi di rumah ini.

“Papa sehat ‘kan Ma?” tanyanya menanyakan pertanyaan basa-basi, tetapi ingin tahu juga keadaaan papa mertua nya.

“Papa baik-baik saja. Tidak tahu mau pergi ke mana tadi. Mungkin sama teman-temannya. Biarkan saja, semakin tua mungkin semakin bosan dan tidak ada yang dikerjakan juga,” jelas Mama Lena.

Tanya bisa mengerti keadaan mereka kalau saja dia bertemu dengan Sena bukan seperti dirinya sekarang. Mungkin saja keadaan mereka jauh lebih baik dari sekarang.

“Kamu akan merasakan seperti Mama, Tanya. Semakin tua rasanya hanya ingin bermain dengan cucu saja. Mau melakukan apa-apa malas rasanya.” Mama Lena membicarakan tentang kehidupannya yang tidak lagi muda.

“Mama masih energik kok. Menggendong Nata juga masih kuat,” puji Tanya supaya mertuanya tidak berkecil hati.

“Terima kasih untuk pujiannya Tanya walaupun Mama mendengarnya tidak,” sambat Mama Lena memecah tawa keduanya.

“Mama jangan begitu. Benar kok kalau Mama masih energik, serius. Tanya tidak bohong,” pujinya lagi sama sekali tidak bermaksud meledek Mama Lena.

Raut wajah kebahagiaan terpancar dari wajah Mama Lena, kerutan di wajahnya seolah perlahan menghilang menyatukan dengan kulitnya yang lembut.

Tanya menatapnya sembari tersenyum membuat beliau salah tingkah. “Ada apa Tanya?” tanya Mama Lena salah tingkah.

“Tidak papa. Aku hanya beruntung saja mendapatkan mertua seperti Mama. Untungnya Sena tidak memiliki Kakak atau Adik. Aku tidak mau berbagi dengan mereka.” Tanya berhasil menyembunyikan kebohongan di awal cerita.

“Kamu ini pintar sekali memuji,” balas Mama Lena.

“Ma, Ma,” panggil Nata berjalan selangkah demi selangkah karena telapak kakinya belum menapak benar ke lantai.

“Iya. Ada apa Sayang?” tanyanya membuka pelukan untuk anak kesayangannya.

“Makan. Ma,” pinta Nata yang merasa lapar.

“Nata mau makan? Mama ambil dulu di sana. Nata tunggu di sini sama Nenek ya.” Tanya menunjukkan meja makan pada Nata kalau dia perlu mengambil di sana. Lalu dibalas dengan senyuman manis memperlihatkan giginya yang belum tumbuh.

“Nata sini sama Nenek.” Beliau menggendong Nata lalu menempatkan dalam pakuannya.

“Tanya, Mama tidak ingin kamu kesusahan di rumah ini sendiri. Kalau Mama tidak datang. Beritahu apa pun itu kalau kamu merasa kesulitan sekalipun Sena yang memperlakukanmu,” resah Mama Lena karena hati kecilnya berkata lain untuk perkataan Tanya.

“Iya, Ma. Tanya baik-baik saja. Tanya pasti akan menghubungi Papa atau Mama kalau mengalami kesulitan.” Tanya mengatakan dengan tenang supaya tidak ada keraguan di mata Mama Lena.

“Kamu tahu kalau Mama akan tetap membela kamu sekalipun Sena yang benar,” bela Mama Lena karena merasa anaknya beruntung mendapatkan Tanya yang terima apa adanya.

“Iya, Ma. Sudah ya Tanya baik-baik saja.” Tanya duduk tidak jauh dari beliau untuk meminta Nata dalam pangkuannya.

“Nata, ini makanannya. A….” Tanya menyuapkan makanan lembut pada Nata yang tidak sabar. Sedikit demi sedikit makanan tersebut habis dilahap Nata.

“Pintar cucu Nenek. Mau lagi?” tanya Mama Lena.

“Tanya buatkan lagi,” pinta Mama Lena, tetapi dibalas dengan menggeleng.

“Tidak, Ma. Cukup. Ini nanti Nata masih mau minum jus,” jelasnya karena tidak mau terlalu banyak makanan yang masuk justru membuat perut Nata kesakitan.

“A, iya. Mama terlalu bersemangat melihat Nata lahap makannya,” sahut Mama Lena.

Sesal terlintas jelas dalam pikiran Tanya karena sudah mengatakan yang tidak seharusnya. Tanya hanya tidak mau gara-gara ini keluarga ini jadi menjauh.

“Maafin Tanya, Ma. Tanya tidak bermaksud berbohong. Ya, Sena yang memukul Tanya. Sena melakukannya, Ma,” lirihnya semoga tidak terdengar Mama Lena yang sedang bermain dengan Nata. Sementara Tanya mencuci peralatan makan milik Nata.

Tarikan napas yang terasa berat, tetapi harus bertahan untuk mereka.

Terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah, mereka pikir Papa Elang.

Pria ini memegang kenop pintu tak lama daun pintu terbuka lebar.

“Mama di sini?” tanya Sena terkejut melihat Mama Lena ada di rumahnya.

Refleks Sena melihat di mana Tanya berdiri dengan tatapan tajam seolah sinar laser keluar dari matanya. Mendadak keringat dingin keluar membasahi tubuhnya terlihat jelas di kening. Ketakutan menghampirinya. Lalu Mama Lena mengernyitkan dahi memiliki tanda tanya besar di kepalanya. Ada apa dengan mereka?