Awal Pertemuan
"Nan, ini terakhir kali Ayah cuci darah, ya. Ayah capek, dan ... Ayah sudah pasrah, Ayah tidak mau membebani kamu terus," ucap seorang pria paruh baya yang merupakan Ayah, Nanda.
"Ayah, jangan bicara begitu. Nanda masih bisa cari biaya untuk cuci darah. Ayah satu-satunya yang tersisa dalam hidup, Nanda." Nanda menggenggam tangan Ayahnya, sebelum pria itu masuk ke ruangan hemodialisis.
"Ayah pasti bisa hidup sehat asalkan cuci darah secara rutin. Ayah, jangan khawatir." Nanda tersenyum sekilas, lalu Wanto masuk ke dalam ruangan dialisis ditemani oleh perawat.
Nanda duduk menunggu sampai proses dialisis selesai. Ia menghela napasnya dengan panjang, tatapan matanya kosong menerawang melihat ke depan.
Tidak jauh dari posisinya ada Kartika yang memperhatikannya.
"Sudah dua bulan ini, aku sering melihatnya. Dalam Minggu ini saja dia sudah datang dua kali," bisik Kartika pada seorang perawat yang menemaninya.
"Sepertinya sakit ginjal yang diderita orang tuanya cukup parah. Makanya sampai dialisis 2 Minggu sekali," ucap Ratih.
Kartika dapat melihat kegundahan hati gadis itu. Dia sudah beberapa kali melihat bagaimana, Nanda merawat Ayahnya hanya seorang diri.
Dari perhatian yang dia berikan, dapat dilihat bagaimana Nanda sangat menyayangi Ayahnya.
Nanda mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang, wanita itu menarik napasnya dengan berat, sebelum panggilan teleponnya dijawab.
"Halo Bude. Bude tidak repot, kan?" Ternyata Nanda menghubungi kerabatnya.
"Maaf Bude, apa Nanda bisa pinjam uang. Untuk biaya cuci darah Ayah.”
Wajah Nanda terlihat murung dan ia kembali menghela napasnya. Lalu sambungan telepon terputus.
Ternyata kerabatnya tersebut tidak bisa meminjamkan uangnya pada Nanda.
Kartika melajukan kursi rodanya, mendekati Nanda yang tengah bersedih.
Sudah beberapa kali Kartika memperhatikan wanita itu.
"Jangan sedih, kalau ayah kamu melihat anaknya sedih begini, dia pasti akan sedih juga," ucap Kartika.
Nanda seketika meluruskan pandangannya, melihat siapa yang mengajaknya berbicara.
Ketika pandangan mereka bertemu, Kartika tersenyum tipis.
"Apa sakit yang diderita ayah kamu parah?"
"Bisa dibilang begitu, bila ayah tidak cuci darah sesuai jadwal." Sorot mata Nanda terlihat putus asa.
Tiga hari ke depan ia harus membawa ayahnya kembali ke rumah sakit untuk dialisis, tetapi uangnya sudah tidak mencukupi. Biaya dialisis ini saja, dia sudah meminjam uang pada saudaranya yang lain.
"Saya selalu memperhatikan kamu, setiap kali saya melihatmu di rumah sakit ini. Apa kamu satu-satunya keluarga ayahmu, apa tidak ada yang lain? Karena saya perhatikan selalu kamu yang menemani beliau ke rumah sakit."
"Saya putri satu-satunya, dan ibu saya sudah tidak ada. Itu sebabnya hanya saya yang selalu menemani ayah berobat."
"Berapa umur kamu?"
"22 tahun."
"Nama kamu siapa? Apa kamu bekerja?"
"Nama saya Nanda, saya guru TK. Kalau boleh saya tahu kenapa Mbak penasaran dengan saya?"
Kartika tersenyum lalu menggenggam tangan Nanda. Berjarak beberapa meter perawat Kartika hanya memperhatikan, sepertinya ia tahu apa yang ingin dilakukan oleh, Kartika.
"Saya bisa membantu kamu untuk membantu biaya pengobatan ayah kamu."
Nanda membulatkan matanya, dia merasa kaget. Orang yang tidak dikenal mendekatinya dan menawarkan bantuan.
"Kita tidak saling kenal, kenapa tiba-tiba Mbak ingin menawarkan bantuan kepada saya? Apa Mbak membutuhkan sesuatu dari saya?" Nanda langsung paham, sebab tidak ada yang gratis di dunia ini. Kartika pasti punya niat lain.
"Kamu cepat tanggap, ya. Langsung bisa menebak kalau saya mengharapkan sesuatu dari kamu."
"Dengarkan saya baik-baik. Saya tidak sembarangan meminta bantuan pada kamu. Saya sudah beberapa kali memperhatikan kamu, bagaimana kamu menjaga dan merawat ayah kamu. Walaupun yang saya lihat hanya sekilas. Tapi saya sangat yakin, bahwa kamu adalah anak dan wanita yang sangat baik."
"Saya bisa melihat bagaimana kamu begitu tulus menjaga ayah kamu. Saya adalah seorang Dokter, saya sudah banyak melihat bagaimana sikap seorang anak ketika merawat orang tuanya yang sakit."
"Ada yang penyabar seperti kamu dan ada yang kejam, ada juga yang bersikap masa bodoh," celoteh Kartika.
"Jadi apa yang Mbak inginkan dari saya?" Dengan perasaan was-was Nanda siap mendengarkan keinginan, Kartika.
"Sebelum saya mengatakannya, ada satu hal yang ingin saya pastikan lebih dulu."
"Kamu masih single? Atau kamu sudah punya pacar? Atau kamu sedang dekat dengan seorang pria?"
"Saya tidak punya pacar dan saya tidak punya waktu untuk dekat dengan pria mana pun. Karena saya harus menjaga ayah."
Kartika memejamkan matanya sesaat dan menghela napasnya.
"Saya bisa membiayai semua pengobatan ayah kamu, saya juga bisa membayar perawat untuk menjaga ayah kamu setiap saat. Lalu yang saya inginkan dari kamu ... maukah kamu menikah dengan suami saya?" Kartika merasa tegang, cemas, ia berharap gadis yang ada di depannya mau menerima tawarannya.
Nanda sungguh tidak menyangka kalau wanita ini menginginkannya sebagai istri kedua bagi suaminya. Benar-benar tidak terpikirkan sama sekali oleh, Nanda. Ia masih diam, mencoba berpikir sejernih mungkin. Kartika pun diam, dengan sabar menunggu jawaban dari, Nanda.
"Bagaimana? Kamu bisa pikirkan dengan baik-baik dan matang,” ucap Kartika.
"Kenapa Mbak ingin suami Mbak menikah lagi?"
Kartika kembali tersenyum. "Seperti yang kamu lihat. Kondisi saya sangat buruk. Hidup saya tidak lama lagi. Sudah dua tahun saya mencari wanita yang tepat untuk suami saya, tapi belum juga ketemu."
"Sebelum meninggalkannya, saya harus memastikan kalau dia mendapatkan wanita yang baik."
"Suami saya sangat kaku, dan sedikit tidak enakkan kalau dekat dengan wanita. Tapi dia pria yang sangat penyayang."
"Saya takut, setelah kepergian saya, dia akan mendapatkan wanita yang salah."
"Itu sebabnya saya ingin memberikan wanita yang terbaik untuknya, sebagai pengganti saya."
"Coba kamu pikirkan lagi, umur saya sudah tidak lama lagi. Jadi kamu tidak perlu merasa tersaingi. Apalagi keadaan saya sekarat seperti ini, saya sudah tidak bisa melayaninya lagi sebagai seorang istri." Kartika terus mengoceh mengutarakan keinginannya.
"Permintaan Mbak benar-benar konyol. Anggap saja kita tidak pernah membahas masalah ini," balas Nanda.
"Bagaimana saya bisa menikahi pria yang sudah memiliki istri, apalagi istrinya sedang sakit. Di saat seperti ini, suami Mbak harusnya selalu berada di samping, Mbak. Bukannya menikah lagi dan hidup dengan wanita baru," ucap Nanda lagi.
"Saya tidak memaksa kamu. Saya hanya ingin meminta bantuan kamu dan saya membayar atas bantuan kamu." Kartika masih berharap kalau Nanda berubah pikiran dan memikirkan ulang permintaannya.
"Maaf, saya tidak bisa." Nanda menolak dengan begitu tegas.
"Baiklah, tapi kalau kamu berubah pikiran. Kamu bisa menemui saya. Saya dirawat dilantai tiga, nomor kamar 101." Sebelum pergi Kartika tersenyum, lalu ia menggerakkan kursi rodanya, menghampiri Ratih yang sedari tadi menunggunya.
"Apa Ibu memintanya menjadi istri kedua bapak?" tanya Ratih sambil mendorong kursi roda Kartika.
"Benar. Padahal saya sudah memberikan tawaran yang cukup bagus."
"Dia menolak karena kasihan melihat saya. Tidak ingin melihat saya sendiri ketika sedang sakit seperti ini." Kartika tersenyum lebar, mengingat kembali ucapan, Nanda.
Ia berpikir Nanda adalah wanita yang tepat untuk suaminya. Seorang wanita yang begitu peduli dan menyayangi orang tuanya. Sudah pasti suatu saat nanti ia juga akan merawat suaminya dengan baik. Itu pun kalau Nanda bersedia menjadi istri kedua.
Ketika sudah sampai ruangannya, Kartika menghubungi seseorang dan menyuruhnya untuk datang.
Tidak butuh waktu lama, 15 menit kemudian orang yang dihubunginya tadi datang. Kartika meminta Ratih untuk keluar, sebab ada pembahasan penting yang ingin dibicarakan oleh, Kartika.
"Bagaimana keadaan Ibu hari ini?" tanya orang tersebut, seorang pria bernama Bobby, ia merupakan Dokter ahli kandungan sekaligus Direktur rumah sakit, di mana Kartika dirawat.
Rumah sakit ini memiliki nama 'Kartika' mirip dengan namanya. Sebab Kartika lah pemilik rumah sakit tersebut. Ia mempercayai Dokter Bobby untuk mengelola rumah sakit semenjak ia jatuh sakit seperti ini.
"Hari ini aku terasa baik-baik saja, bukan hanya itu saja, saat ini aku sedikit merasa lebih tenang dan juga bahagia." Kartika terus tersenyum, membuat Bobby penasaran, apa gerangan yang membuat Kartika begitu senang.
"Aku sudah menemukan calon istri untuk Mas Bram. Setelah dua tahun mencari, akhirnya aku menemukan satu kandidat yang pas." Kartika tahu Bobby penasaran, itu sebabnya ia membagikan kabar bahagia. Ya, menurut Kartika, menemukan wanita seperti Nanda adalah hal yang membuatnya begitu senang.
"Saya pikir Ibu sudah menyerah, ternyata masih saja mencari calon istri untuk, bapak."
"Coba kamu cari tahu tentangnya, lalu laporkan pada saya. Tentang kehidupan sehari-harinya. Ayahnya pasien hemodialisis, saya rasa proses dialisisnya masih berlangsung. Coba kamu cek, nama wanita itu Nanda."
"Apa dia setuju menjadi istri kedua, bapak?"
"Dia menolak dengan tegas. Tapi saya harus bisa membuatnya menuruti keinginan saya. Itu sebabnya kamu cari tahu dulu informasinya. Setelah itu saya akan melakukan sesuatu agar dia mau menerima tawaran saya."
Bobby tahu betul sikap keras Kartika. Bobby tidak bisa memberikan pendapatnya walaupun ia ingin sekali mengutarakannya. Kartika tipe wanita yang kuat, tegas. Apa yang diinginkannya harus terpenuhi, apa yang ditugaskan olehnya harus dilaksanakan. Seperti itulah sifat, Kartika.
Mendapat penolakan dari Nanda, akan membuatnya semakin gencar untuk mendapatkan wanita itu. Apa pun caranya, ia harus bisa menjadikan Nanda sebagai istri kedua bagi suaminya.
Perintah Kartika sudah jelas, dan Bobby segera keluar dari ruangannya. Ia harus menjalankan perintah tersebut. Pertama yang dia lakukan adalah mencari informasi pasien yang melakukan hemodialisis hari ini. Dengan begitu ia bisa mendapatkan data dan semakin memudahkannya untuk mencari informasi lainnya tentang, Nanda.
"Maaf, Nak. Tapi aku harus bisa menjadikanmu sebagai pendamping untuk suamiku," gumam Kartika.