Setuju Menjadi Yang Kedua
Sehari sebelum Kartika pulang ke rumah, Bobby mendatangi Kartika di ruangan inapnya. Hanya butuh sehari baginya mencari informasi tentang, Nanda.
"Saya sudah mendapatkan semua informasi tentang wanita itu," ucap Bobby.
"Bicaralah, saya siap mendengarkan."
"Dulunya dia memiliki sekolah TK biasa di daerah perkampungan. Tetapi, sekolah TK tersebut sudah diambil alih oleh kerabatnya." Bobby mulai menceritakan kisah tentang keluarga dan kehidupan, Nanda.
Dua tahun yang lalu ibu Nanda mengidap kanker dan harus segera dioperasi. Nanda terpaksa meminjam uang kepada kerabatnya, namun ia tidak bisa membayar sekaligus. Akhirnya kerabat Nanda meminta sekolah TK tersebut sebagai bayaran atas hutang-hutang Nanda, tetapi gadis itu tetap bisa mengajar di sana. Lima bulan setelah operasi, ibu Nanda meninggal dunia. Masalah tidak sampai di situ saja, tidak lama setelahnya, giliran sang ayah yang harus mendapatkan perawatan. Dinyatakan sakit ginjal dan harus melakukan cuci darah. Awalnya hemodialisis dilakukan sebulan sekali, namun kondisi yang semakin parah mengharuskan sang ayah melakukan dialisis menjadi seminggu dua kali. Tabungan dan tanah habis sudah terjual untuk biaya rumah sakit. Harta satu-satunya tinggal lah rumah yang mereka tempati saat ini.
Bobby memberikan satu berkas pada Kartika, berkas yang berisikan data akademik, Nanda.
"Ternyata dia gadis yang pintar. Dia wanita yang cocok untuk Mas Bram."
"Tapi bukankah dia menolak untuk menikah dengan Pak Bram?" balas Bobby.
"Saya akan membuatnya menerima tawaran yang saya berikan. Bobby, kamu tahu kan, kenapa saya menunjuk kamu untuk mengurus rumah sakit ini? Saya melakukannya karena begitu mempercayaimu."
"Kamu yang paling tahu bagaimana saya berjuang untuk mendapatkan rumah sakit ini dan membuatnya menjadi sebesar ini. Sekarang saatnya kamu membalas kebaikan yang saya berikan padamu." Kartika menatap Bobby dengan serius.
Bobby siap mendengarkan setiap perintah dari, Kartika.
Kartika mulai membicarakan hal penting, seketika Bobby membulatkan matanya setelah mendengar perintah itu.
"Tapi Bu, itu melanggar kode etik!"
"Kalau begitu kamu atur saja bagaimana caranya agar tidak ketahuan!" Sekali lagi perintah Kartika mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
"Baiklah, saya mengerti."
"Lalu bagaimana dengan perkembangan penelitian kalian? Sudah sejauh mana obatnya berkembang?"
"Kami masih berusaha. Maaf Bu, untuk saat ini kami hanya bisa memberikan obat anti nyeri saja. Sangat sulit menciptakan obat untuk menyembuhkan kanker."
"Saya sudah menghabiskan banyak uang untuk penelitian kalian!" Kartika ingin marah, tapi apa daya kondisinya yang begitu lemah membuatnya tidak bisa bersuara dengan keras dan lantang.
"Sekali lagi saya meminta maaf, tapi semua orang yang terlibat telah berusaha dengan keras dan bekerja dengan sungguh-sungguh."
"Sudahlah, kamu kembali saja bekerja. Aku sudah merasa lelah." Kartika yang sedari tadi terbaring di ranjang pasien, kini memejamkan matanya.
Moodnya menjadi tidak bagus dan tidak ingin melihat, Bobby.
Bobby pun berpamitan lalu ia keluar dari ruangan, Kartika. Setelah kepergian Bobby, Ratih masuk ke dalam kamar, tentu saja untuk menemani, Kartika.
***
"Apa ayah saya harus tinggal di rumah sakit? Apa keadaannya semakin parah?" Nanda terlihat cemas dan panik, ketika Dokter yang menangani ayahnya mengatakan kalau sang ayah harus mendapatkan perawatan maksimal. Karena apabila tidak segera ditangani akan berdampak sangat buruk bagi sang ayah.
Nanda semakin kacau ketika Dokter mengatakan kalau ada obat yang harus dibeli segera dan harganya tidaklah main-main. Obat tersebut sangat langka, karena harganya yang cukup mahal, rumah sakit tidak menyediakan obat tersebut. Lalu, ketika dibutuhkan pihak rumah sakit harus membelinya di luar.
"Obatnya harus segera di masukkan ke dalam tubuh pasien. Kami harus menerima biayanya lebih dulu. Kami hanya mengikuti sesuai prosedur rumah sakit," ucap Dokter menjelaskan pada, Nanda.
"Baiklah Dok, saya akan segera mencari biayanya."
"Kalau bisa besok obatnya harus segera dibeli, karena kita harus memesannya dulu dan tidak langsung sampai di saat itu juga."
"Saya mengerti, akan saya usahakan. Tapi sebelum itu, tolong berikan perawatan yang maksimal untuk ayah saya!"
"Merawat pasien adalah tugas kami, anda tidak perlu memohon seperti ini, karena kami akan melakukan yang terbaik untuk pasien," balas sang Dokter.
Setelah mendapatkan penjelasan tentang kondisi ayahnya, Nanda keluar dari ruangan Dokter.
Ia terduduk dengan lemas di luar ruangan.
Dari mana lagi dia bisa mendapatkan uang. Ia sudah mendapatkan pinjaman dari semua kerabatnya, dan tidak mungkin ia meminjam lagi pada mereka. Karena hutang yang lama saja masih menumpuk. Di tengah pikirannya yang kacau, Nanda teringat dengan Kartika.
Ia langsung berdiri dan berjalan menuju lift. Tentu saja tujuannya untuk mendatangi, Kartika. Kartika tersenyum tipis ketika melihat Nanda mendatangi ruangannya.
"Apa tawaran Mbak tempo hari masih berlaku?" ucap Nanda berterus terang tanpa basa-basi.
"Tentu saja."
"Tempo hari Mbak menawarkan banyak uang untuk saya, Mbak tidak bercanda, kan? Dan berjanji akan memberikan uang tersebut pada saya."
"Saya tidak pernah menarik kata-kata saya. Tapi sebelumnya, apa yang membuat kamu berubah pikiran?"
"Karena saya membutuhkan uang untuk membeli obat. Dokter mengatakan kalau kondisi ayah saya memburuk dan membutuhkan obat untuk ginjalnya."
"Apa saya bisa mendapatkan uang itu sekarang?" tanya Nanda seperti tergesa-gesa.
"Berapa yang kamu butuhkan? Sebutkan saja, saya akan langsung memberikannya padamu!"
"Mbak serius akan memberikannya begitu saja tanpa perjanjian ataupun saksi!"
Kartika tersenyum. "Memangnya kamu mau kabur dengan uang yang saya berikan, sementara kondisi ayah kamu sedang tidak baik. Saya percaya kalau kamu memang membutuhkan uang untuk biaya pengobatan orang tua kamu. Jadi katakan saja berapa nominalnya, saya akan langsung bayar kepihak rumah sakit."
"Terima kasih, Mbak. Lalu apa yang harus saya lakukan selain menikah dengan suami, Mbak?"
"Tentu saja melakukan kewajiban sebagai seorang istri. Yang saya inginkan adalah memastikan kalau suami saya mendapatkan wanita baik di sisinya. Saya yakin kamu adalah wanita baik."
"Tapi sebelum itu saya ingin memberitahumu, suami saya sangat dingin. Tapi kalau sudah saling mengenal, dia itu pria yang begitu baik dan perhatian." Kartika sedikit menjelaskan tentang sifat Bram.
"Lalu sebenarnya dia tidak ingin menikah dengan wanita lain. Tapi saya memaksanya."
"Pernikahan kalian terjadi karena keinginan saya, jadi saya mohon kamu bisa memakluminya kalau dia belum bisa menerima kamu sepenuhnya," ucap Kartika.
Nanda tersenyum kecut. Apa itu artinya aku maupun dia terpaksa melakukan pernikahan ini?
"Apa saya boleh meminta satu persyaratan?" ucap Nanda.
"Apa pun yang kamu inginkan, katakan saja, jangan ditahan, supaya kita sama-sama enak dan tidak ada salah paham dikemudian hari."
"Ketika pernikahan nanti, jangan beritahu ayah saya, kalau calon suami saya sudah beristri, dan jangan mengatakan saya melakukan pernikahan ini karena terpaksa demi pengobatan ayah."
"Kalau ayah mengetahuinya dia pasti akan menolak pengobatan dan memaksa untuk pulang ke rumah."
"Baiklah, kita akan merahasiakannya. Lalu apa lagi keinginanmu?" tanya Kartika.
"Saya ingin Mbak menepati janji agar ayah saya mendapatkan pengobatan yang optimal." Nanda kembali mengingatkan Kartika akan janji yang pernah diucapkan oleh wanita itu.
"Mau saya beritahu satu hal yang sangat penting!"
"Nama rumah sakit ini 'Kartika' persis seperti nama saya. Karena saya pemiliknya, jadi walaupun saya meninggal, ayah kamu tidak akan terlantar dan beliau akan tetap mendapatkan perawatan yang terbaik."
"Jadi kamu tidak perlu memikirkan biaya obat atau segala macam. Saya akan meminta perawat khusus untuk menjaga ayah kamu selama 24 jam. Jadi kamu tidak perlu khawatir." Kartika tersenyum lebar pada wanita muda yang ada di depannya.
Nanda tercengang, ia tidak mengira kalau Kartika adalah pemilik rumah sakit ini. Pantas saja wanita itu menawarkan banyak uang dan bantuan padanya. Walaupun terduduk lemah di kursi roda, uangnya akan terus mengalir tanpa dia harus bekerja keras.
"Jadi bagaimana, kamu sudah setuju dengan pernikahan ini?" tanya Kartika untuk memastikan.
"Saya setuju, Mbak juga pasti merasa begitu sakit di sini." Nanda menunjuk dadanya, mengisyaratkan kalau sakit pada perasaan jauh lebih menyakitkan dari pada merasakan sakit fisik.
"Saya sudah siap dan ikhlas." Kartika tersenyum, membuat Nanda terenyuh.
"Kamu juga harus janji akan tetap berada di sisi suami saya, walaupun dia mengabaikan kamu, dia perlu waktu agar bisa menerimamu. Lalu satu hal lagi yang saya minta darimu ...."
Kartika menghela napasnya sebelum melanjutkan perkataannya. "Ibu mertua saya bukan orang baik, kamu harus hati-hati padanya, jangan mau dihasut olehnya. Itu sebabnya saya rela mencari istri untuk suami saya."
"Saya tidak ingin Mas Bram menikahi wanita pilihan ibu mertua. Karena dia punya niat jahat ingin menyingkirkan saya dan mengambil alih rumah sakit ini."
"Saya membangun rumah sakit ini dengan susah payah, dan tidak ingin jatuh ke tangan orang yang salah."
"Jadi apa pun yang dia katakan nanti jangan mempercayainya," celoteh Kartika memberikan peringatan.
"Baiklah, saya akan waspada terhadap beliau. Lalu apalagi yang harus saya lakukan?"
"Tidak ada. Secepatnya saya akan mempertemukan kamu dengan suami saya. Dia pria yang tampan." Kartika kembali tersenyum, setengah menggoda, Nanda.
"Kamu tidak akan menyesal menikah dengannya," ucapnya lagi.
"Saya harap begitu. Saya berharap tidak menyesali atas keputusan yang sudah saya ambil." Nanda hanya tersenyum kecut.
Antara yakin dan tidak, apakah keputusan yang ia ambil sudah tepat? Ia tidak punya alasan untuk menolak, karena pengobatan ayah jauh lebih penting dari pada perasaannya.