Paksaan Poligami
"Mas Bram!" ucap Kartika, ketika suaminya sudah pulang dari kantor.
"Kartika! Kamu di rumah, kenapa tidak bilang padaku kalau hari ini keluar dari rumah sakit." Bram terlihat senang, karena sang istri berada di rumah, walaupun ia tahu keberadaan istrinya di rumah tidak bisa bertahan lama.
"Sengaja mau bikin kejutan. Kata Andra, Mas tidak singgah ke rumah sakit dan memilih pulang ke rumah dulu."
"Wajah kamu terlihat lebih cerah hari ini, apa kamu mendapatkan obat yang cocok?" Bram mendekati istrinya dan memeluk istrinya dengan erat.
"Tidak juga, karena mendapatkan perawatan rutin, makanya keadaanku lebih baik, tapi seperti biasa, kondisi seperti ini tidak akan bertahan lama."
"Aku sangat merindukanmu, Sayang." Bram tersenyum lebih lebar, tangannya mulai mengelus pipi sang istri yang begitu sangat ia cintai.
"Aku juga merindukanmu, Mas."
"Maaf, dua hari ini aku tidak bisa menjengukmu," ucap Bram merasa sedikit bersalah.
"Tidak apa-apa, Mas juga punya tanggung jawab untuk mengelola perusahaan."
"Sayang!" Bram menatap istrinya dengan lekat, Kartika hanya bergumam pelan menanggapi sang suami yang menyebut namanya dengan begitu lembut penuh kasih sayang.
Detik berikutnya Bram mencium bibir istrinya yang tampak pucat, ciuman lembut dan hangat, ciuman suatu kerinduan yang mendalam.
Tidak berlangsung lama, Bram langsung menarik wajahnya dari Kartika.
"Mas mandi dulu, karena ada yang ingin aku bahas."
"Baiklah, kamu sebaiknya jangan terlalu lama berdiri. Tidur saja di ranjang, aku takut kamu akan pingsan."
Kartika menuruti perintah suaminya. Kartika masih terlihat begitu lemah, ia tidak bisa berdiri terlalu lama, atau ia akan kelelahan dan akhirnya akan pingsan.
Wanita itu merebahkan dirinya di atas ranjang sambil menunggu suaminya selesai mandi.
Ia terus tersenyum sambil menyentuh bibirnya.
Walaupun keadaan sakit parah seperti ini, Bram tidak pernah sekalipun berpaling darinya. Malah rasa sayang dan perhatiann pria itu semakin besar.
Kartika yang dulu begitu cantik dan rupawan, harus merelakan keelokan rupanya karena penyakit yang ia derita. Tapi, Bram tidak mempermasalahkan rupa sang istri yang mulai menghitam efek obat dan rambut yang hampir habis. Sebisa mungkin Bram selalu bersikap romantis, tapi satu yang tidak bisa ia lakukan. Sudah tiga tahun ia tidak bisa merasakan tubuh istrinya. Yang bisa ia lakukan hanya ciuman singkat.
Tidak butuh waktu lama, Bram sudah selesai mandi dan langsung menghampiri istrinya.
"Jadi apa yang ingin kamu bahas?" Bram duduk tepat di samping Kartika, tangannya menggenggam Kartika dengan penuh kasih sayang.
Kartika menunjukkan ponselnya dan memperlihatkan satu foto wanita. Tentu saja wanita itu, Nanda. Raut wajah bahagia tadi seketika berubah menjadi muram, Bram melepaskan genggaman tangannya.
"Sudah berapa kali aku mengatakan, kalau aku tidak akan berpoligami." Bram menatap Kartika dengan sendu.
"Mas, kita sudah membahas ini sejak lama. Bagaimanapun aku akan mencari wanita sebagai penggantiku. Dia wanita yang baik, aku yakin dia bisa menjaga dan menyayangimu dengan sepenuh hati."
"Sayang, tapi aku tidak bisa. Aku tidak bisa mencintai wanita lain selain kamu!"
"Aku paham, itu sebabnya biar aku yang mencari wanita untukmu. Aku tidak ingin kamu menikah dengan wanita pilihan mama kamu."
"Gadis ini, dia tidak memiliki ambisi. Dia dari pedesaan, dia mau menikah dengan Mas demi ayahnya yang sedang sakit saat ini."
"Dari mana kamu tahu kalau dia wanita baik dan tidak memiliki ambisi?" Bram menatap istrinya dengan lekat.
"Awalnya dia menolak dengan tegas, walaupun aku mengatakan kamu itu pria sukses, aku bisa memberikan apa pun yang dia mau dan dia menolak semua kemewahan yang aku tawarkan."
"Tapi akhirnya dia datang karena kondisi ayahnya yang semakin parah dan membutuhkan banyak biaya. Dia hanya ingin, aku menjamin semua biaya pengobatan ayahnya."
"Bukankah sudah jelas kalau dia tidak memiliki ambisi?" celoteh Kartika.
"Mas aku mohon, kali ini kamu harus mau menikah dengan wanita pilihanku. Aku sungguh tidak rela kalau kamu menikah dengan wanita pilihan mama."
"Ini permintaan terakhir dariku, Mas. Aku hanya ingin memastikan ada wanita baik di sisi kamu sebelum aku benar-benar pergi dari dunia ini." Sorot mata Kartika terlihat teduh dan putus asa.
"Tapi Sayang, apa aku bisa berbuat adil padamu?"
"Apa lagi yang aku harapkan, Mas. Waktuku tidak lama lagi. Sekarang aku tidak membutuhkan apa pun lagi, saat ini aku hanya pasrah menunggu ajal menjemput."
"Berhentilah berbicara seperti itu. Kamu tidak akan pergi ke mana-mana," balas Bram dengan raut wajah sedih.
"Mas kamu itu pria normal, sudah hampir tiga tahun kamu tidak merasakan belaian wanita. Jadi sebelum wanita pilihan mama datang dan merayumu, bukankah lebih baik kamu menikah dengan wanita pilihanku!" Tidak pantang menyerah Kartika terus membujuk suaminya.
Bram menghela napasnya dengan berat.
Sebaiknya kali ini ia mengalah dan mengikuti keinginan istrinya. Dari pada harus terperangkap dengan jebakan mamanya sendiri.
Semenjak Kartika sakit, mamanya selalu minta Bram untuk menikah lagi. Mamanya bahkan rela menjebak anaknya sendiri agar bisa menikah dengan wanita pilihannya. Untung saja Bram tidak mudah tergoda, hingga lolos dari perangkap orang tuanya sendiri.
"Mas bagaimana?" tanya Kartika membuyarkan lamunan, Bram.
"Baiklah aku akan menurutinya," jawab Bram dengan berat hati.
Kartika seketika tersenyum dan mengelus pipi sang suami, lalu ia mengecup sekilas bibir suaminya.
"Ketauhilah Mas, yang aku lakukan saat ini demi kebaikan kamu dan demi kebaikanku. Karena wanita itu tidak akan menyingkirkan aku dari kehidupan, Mas."
"Aku hanya ingin Mas melihatku sesekali di rumah sakit, seperti itu saja sudah cukup bagiku."
"Maafkan aku, Sayang!" ucap Bram lirih.
"Yang meminta maaf itu seharusnya aku. Aku tidak bisa menjadi istri yang baik bagi kamu. Aku sudah melalaikan tugasku sebagai pasangan kamu, Mas," balas Kartika.
"Kamu sudah melakukan yang terbaik. Bagiku, kehidupan kamu sudah segalanya bagiku." Bram kembali memeluk istrinya.
"Jadi kapan Mas bisa bertemu dengannya?" Kartika melepaskan dirinya dari pelukkan, Bram.
"Apa aku harus bertemu dengannya?"
Kartika tersenyum sekilas. "Tentu saja Mas harus bertemu dengannya, baik Mas dan Nanda harus saling melihat wajah masing-masing, kan?"
Bram kembali menghela napasnya dengan berat. "Minggu ini aku tidak ada pertemuan penting, jadi kamu atur saja."
"Terima kasih Mas, karena kamu mau menuruti keinginanku."
Lagi, Bram kembali menghela napasnya.
Kartika memang bersusah payah mencarikan wanita untuk sang suami, bersikap ikhlas dengan semuanya, tapi ia yakin istrinya itu merasakan sakit pada hatinya. Istri mana yang rela suaminya menikah lagi dengan wanita lain.
Tapi demi keinginan terakhir dari sang istri ia harus menuruti permintaan, Kartika. Selama hidup berumah tangga dengan Kartika, wanita itu tidak pernah meminta sesuatu yang mewah pada suaminya. Ini akan menjadi permintaan pertama dan terakhir Kartika pada sang suami.
Kartika mulai memejamkan matanya. Bram memiringkan tubuhnya memperhatikan setiap inchi wajah istrinya.
Tidak pernah terpikirkan olehnya akan berbagi hati dengan wanita lain. Sungguh ia tidak ingin jatuh hati pada wanita mana pun selain istrinya.
'Aku janji akan tetap menjaga hati ini hanya untukmu seorang,' batin Bram dan tangannya membelai lembut pipi Kartika yang sudah tertidur dengan lelap.