Pasrah Dalam Perasaan
“Mas, saat bertemu dengannya nanti tolong bersikap dengan baik, ya. Tolong lakukan yang terbaik demi aku,” ucap Kartika, mengingatkan kembali suaminya, agar memberikan kesan baik pada, Nanda.
Mereka bertemu di rumah sakit, karena Nanda menemani ayahnya, sedangkan Kartika harus mendapatkan perawatan di rumah sakit. Ia tidak bisa lama-lama melepaskan infus. Hidupnya kini hanya bergantung dari infus yang tentunya cairan infus tersebut sudah dimasukkan obat.
“Iya, aku paham. Kamu tidak perlu mengulang-ulang kata yang sama.” Bram menghela napasnya.
Setelah menempuh perjalanan 20 menit, mereka sampai di rumah sakit. Bram mengantar istrinya lebih dulu ke ruangan inap VVIP yang biasa digunakan Kartika.
Perawat pribadi Kartika langsung memasang infus dan memasukkan obat biasa yang digunakan. Setelah dirinya lebih tenang, Kartika menghubungi, Nanda. Tidak butuh waktu lama hanya sekitar 5 menit, Nanda tiba.
“Ayo, kalian saling kenal. Nanda ini Mas Bram, calon suami kamu. Mas, bawa Nanda keluar. Kalian harus saling mengenal dulu.”
“Ingat perkataanku, Mas. Jangan terlalu dingin padanya,” bisik Kartika.
Bram tidak punya pilihan lain dan mengikuti perintah sang istri.
“Kita ke kantin rumah sakit saja,” ucap Bram melirik Nanda seraya berlalu melewatinya.
Sebelum keluar Kartika menyemangati, Nanda dan tersenyum pada gadis itu.
...
Nanda menyeruput minumannya dan sesekali melirik, Bram. Situasinya benar-benar terlihat suram. Bram yang hanya diam saja dan terus melihat Nanda, membuat gadis itu merasa risih.
Cukup lama keduanya saling diam.
“Apa kau sudah memikirkan dengan matang untuk menikah denganku? Menikah dengan pria yang sudah memiliki istri!” Akhirnya Bram buka suara, ekspresi wajahnya masih dingin.
“Saya tidak punya pilihan lain. Saya melakukannya demi pengobatan ayah saya.”
Bram menghela napasnya dengan berat. “Jadi kamu terpaksa melakukannya. Apa kau memiliki kekasih?”
Nanda menggelengkan kepalanya dengan cepat sebagai jawaban, kalau dirinya tidak memiliki kekasih.
“Lalu apa kau memiliki seorang pria yang kau sukai?”
“Saya tidak punya waktu untuk menyukai pria, saya juga tidak sempat untuk memikirkan hal tersebut. Karena pikiran saya hanya fokus pada ayah saya.”
“Perjanjian apa yang kau lakukan pada istri saya?” tanya Bram.
“Saya hanya disuruh untuk melayani Anda sebagai seorang istri dan sebagai balasannya Mbak Kartika akan membiayai semua pengobatan ayah.”
“Kamu harus tahu, saya setuju menikah denganmu bukan karena keinginan saya. Saya juga terpaksa, mungkin ini akan menjadi permintaan terakhir istri saya.”
“Lalu, saya sangat mencintai Kartika. Begitu besar rasa sayang saya padanya. Mungkin wanita mana pun tidak akan bisa menggantikan posisinya di hati saya. Apa kamu tidak keberatan dengan hal itu?” Bram harus melihat sejauh mana keyakinan Nanda untuk menikah dengannya.
“Kita memiliki alasan masing-masing. Anda demi menuruti keinginan terakhir Mbak Kartika dan saya demi kelangsungan hidup ayah,” balas Nanda.
“Baiklah, saya tidak ingin kamu menuntut nafkah batin dari saya, karena saya hanya memberikan nafkah batin itu hanya untuk Kartika seorang. Saya harap kamu tidak keberatan, karena kita sama-sama paham tujuan terlaksananya pernikahan ini.”
Nanda hanya diam, dan Bram menganggap kalau Nanda setuju dengan syarat darinya. Setelah itu Bram beranjak dari duduknya dan pergi meninggalkan, Nanda begitu saja.
Nanda menghela napasnya. Memangnya apa yang ia harapkan. Cinta dan kasih sayang dari pria yang akan menjadi suaminya?
Dia sudah mendapatkan penolakan dari awal. Lagi pula itu tidaklah penting. Tujuan dia rela menjadi madu bukan karena cinta, tapi karena terpaksa.
....
“Apa wanita itu pilihanmu?” Deliana yang baru datang langsung terlihat marah pada, Kartika.
Deliana adalah mama Abraham.
“Dasar licik, kau pasti mempengaruhi Bram, lagi. Sudah sekarat begini pun kau masih saja licik! Dasar wanita jalang!” pekik Deliana.
“Sebelum menyebut saya jalang, sebaiknya Mama berkaca dengan benar.”
“Apa saya perlu mengirim cermin yang besar, agar Mama bisa melihat sifat jahat Mama!” balas Kartika sarkasme.
“Kau! Benar-benar keterlaluan! Lihat saja, aku akan membalasmu!”
Kartika mendesis dan tersenyum menyeringai. “Memangnya apa yang bisa Mama lakukan padaku? Aku sekarat begini saja, Mama tidak bisa berbuat apa-apa.”
“Selama aku masih hidup jangan harap bisa menyentuh Mas Bram. Dia hanya milikku!” Kartika menatap tajam Mama mertuanya.
Deliana selalu kalah bila berhadapan dengan menantunya ini, dia selalu berakhir dipermalukan.
Tidak ingin memancing emosi Kartika, Deliana lebih memilih pergi.
***
Hari pernikahan Bram dan Nanda semakin dekat. Bram berpura-pura menjadi pria lajang agar bisa mendapatkan restu dari ayah Nanda. Pria paruh baya itu tentu saja senang, ketika tahu ada pria yang ingin menikahi putrinya. Tidak satu pun dari keluarga Nanda yang tahu kalau Bram sudah mempunyai istri. Kartika mengatur semuanya agar pernikahan Bram dan Nanda terlihat sebagai pernikahan yang diakui oleh Negara. Padahal pernikahan ini hanya pernikahan siri.
Selama sebulan Kartika menyiapkan acara pernikahan. Lalu, selama sebulan itu Kartika meminta Bram agar bisa lebih dekat dengan Nanda, tapi Bram selalu bersikap dingin. Nanda tidak mempermasalahkannya. Bagaimanapun sikap yang ditunjukkan oleh, Bram dia tidak peduli sama sekali.
Setelah acara resepsi sederhana selesai, Bram langsung membawa Nanda ke kota. Rumah yang akan ia tempati dengan Bram pun Kartika yang menyiapkannya.
Bukan hanya biaya pengobatan, semua hutang Nanda sudah dibayar oleh, Kartika.
Kecuali pada kerabat yang telah mengambil sekolah TK Nanda. Kartika sengaja tidak mengambil kembali TK tersebut, ia berniat akan membangun sekolah TK yang lebih bagus di kota.
Nanda sungguh tidak menyangka, kalau Kartika mengetahui semua tentang hutangnya.
“Bagaimana Mbak mengetahuinya?” tanya Nanda penuh tanda tanya.
“Aku sedang mencari istri untuk suamiku, tentu saja aku harus memeriksa latar belakangmu. Semua yang kamu lakukan membuat aku semakin yakin kalau kamu memang wanita yang tepat.”
“Saya sangat berterima kasih padamu, karena mau menjadi istri kedua bagi Mas Bram. Satu-satunya cara saya membalas hanya dengan uang yang saya miliki.”
“Nanda, ingat pesan saya. Jangan terlalu sakit hati pada Mas Bram, kalau dia belum bisa menerimamu. Seiring berjalannya waktu dia pasti akan menerima kehadiran kamu.”
“Kamu hanya perlu bersikap baik padanya, lama-kelamaan dia pasti luluh. Jangan menyerah untuk mendapatkan hatinya.” Kartika menggenggam tangan Nanda seraya tersenyum lebar.
Nanda tidak bisa berkata-kata, ia hanya tertunduk dalam diam.
“Jangan takut, Nan. Mbak akan selalu ada di saat kamu butuh.”
“Mbak kenapa bisa sekuat ini? Aku jadi iri pada Mbak.”
Kartika kembali tersenyum. “Aku sudah lama sakit, dan terbaring lemah seperti ini, selama 3 tahun. Lepas infus pun bertahan hanya 2 hari saja.”
“Aku tidak punya pilihan lain, selain mencari wanita yang tepat untuk Mas Bram. Karena dia sedikit kolot soal wanita.”
“Dulu saja, saya yang mengejar-ngejarnya dan menyatakan perasaan lebih dulu.” Kartika teringat bagaimana perjuangannya mendapatkan hati seorang Bram.
“Pertama saya ditolak, tapi saya tidak menyerah dan tidak gentar sedikit pun. Saya terus maju dan membuktikan padanya kalau saya memang pantas berada di sisinya.”
“Tapi ternyata, tidak seperti yang saya harapkan. Saya tidak bisa menepati janji. Saya tidak bisa membuatnya bahagia, malahan saya membuatnya terus bersedih dengan kondisi saya yang seperti ini.”
“Jadi kamu juga harus seperti saya, pantang menyerah untuk mendapatkan hati Mas Bram.” Kartika berceloteh dengan panjang lebar.
Nanda hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Berpura-pura kalau ia akan melakukan seperti apa yang dikatakan oleh, Kartika.
Untuk apa berjuang mendapatkan hati pria itu, dia sudah jelas-jelas ditolak. Tidak perlu membuang energi dan perasaan. Biarlah semua berjalan sesuai alur dan arus.