LNCrawler

Malam Pengantin.

Madu Untuk Suamiku — gooddreamer.id · All chapters

Malam Pengantin.

“Bagaimana saksi, SAH!” ucap Pak penghulu sebagai wali untuk menikahkan, sepasang insan.

“SAH!” jawab beberapa orang saksi secara bersamaan.

Lalu Pak penghulu memimpin doa.

...

“Tidak apa-apa, Mas Bram, pasti bisa menjaga kamu dengan baik,” ucap seorang wanita berumur 37 tahun, bernama Kartika. Wajah wanita itu terlihat sangat pucat dan tubuhnya tampak lemas. Ia memeluk mempelai wanita dengan senyum tipis penuh ketulusan dan haru.

“Tapi Mbak, rasanya Mas Bram, masih belum mau menerima saya,” balas seorang wanita bernama Ananda Putri, usianya baru menginjak 22 tahun.

“Nanti dia juga bakal sayang dan perhatian sama kamu. Cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Percayalah pada saya.” Kartika kembali tersenyum menenangkan wanita yang ada di depannya.

“Yang penting kamu harus sabar dan jangan menyerah. Mas Bram, dia pria yang lembut dan baik. Saya sudah mengenalnya sejak lama, dan saya sudah menghabiskan waktu bersamanya selama 7 tahun terakhir.”

“Baik Mbak, semoga saya bisa melalui semuanya.”

“Maafkan saya, ya, Nan. Karena saya, kamu harus mengalami hal seperti ini.”

“Saya juga berterima kasih pada Mbak. Karena Mbak mau menolong saya,” balas Nanda.

“Ya, sudah sekarang kamu pergi dengan, Mas Bram. Dia pasti sudah menunggu di luar.”

“Mbak ...!” ucap Nanda dengan lirih.

Kartika bergumam, menunggu Nanda melanjutkan ucapannya.

“Apa Mbak tidak apa-apa?”

“Tentu saja, jangan khawatirkan saya. Kamu memiliki tugas yang berat, kamu harus bisa menaklukkan hati, Mas Bram.”

“Kalau Mas Bram memperlakukan kamu dengan buruk, jangan sungkan untuk cerita dengan saya.”

“Mbak,” ucap Nanda lagi seraya memeluk Kartika dan menangis.

Kartika menghela napasnya dan mengelus pundak Nanda dengan pelan.

“Sudah jangan menangis dan segera temui Mas Bram.”

Nanda mengusap air matanya lalu ia keluar dari kamar.

Setelah Nanda keluar, gantian seorang pria masuk menemui, Kartika.

Pria itu langsung memeluk Kartika dengan erat.

“Sayang! Apa aku harus melakukannya? Apa aku harus benar-benar tinggal berdua dengannya?” ucap seorang pria bernama Abraham, usianya sama seperti Kartika, 37 tahun.

Abraham yang biasa dipanggil dengan sebutan Bram.

“Mas, kita sudah membicarakan ini sebelum pernikahan kamu. Dan kita sudah mendiskusikannya selama 2 tahun terakhir.”

“Nanda adalah wanita pilihanku, dia wanita yang baik.” Untuk terakhir kalinya, Kartika meyakinkan sang suami.

Bram menghela napasnya, ia mengecup sekilas kening Kartika lalu keluar dari kamar dan menghampiri, Nanda.

Bram menatap wanita itu untuk sesaat lalu ia berjalan lebih dulu tanpa sepatah kata pun. Nanda mengikutinya dari belakang dan mereka berdua masuk ke dalam mobil.

...

Setelah sampai rumah, Nanda membersihkan diri, menghapus sisa riasan pengantinnya lalu segera mandi.

Sementara Bram masih saja diam, sikapnya terlalu dingin pada wanita yang baru saja ia nikahi.

20 menit berada di kamar mandi, Nanda keluar dengan pakaian lengkap. Kini giliran Bram yang harus membersihkan dirinya.

Dia masih bersikap dingin pada istrinya tersebut.

Nanda menghela napasnya dan duduk di pinggiran tempat tidur, seraya memainkan ujung-ujung kuku jarinya. Ia gugup dan gelisah bercampur menjadi satu.

Wanita itu juga merasa kecil hati, takut dirinya tidak diterima oleh, Bram. Seorang pria yang baru saja menjadi suaminya.

Nanda kembali teringat perbincangannya dengan Kartika. Wanita itu berdiri dari tempat duduknya lalu ia membuka tasnya dan memakai piama pemberian Kartika tadi.

“Malam ini kamu pakai ini, Mas Bram pasti suka melihatmu,” ucap Kartika seraya memberikan piama tidur satin yang terlihat sangat seksi.

“Apa saya harus memakainya, Mbak? Tapi saya malu.” Wajah Nanda tampak merah merona, ketika melihat piama pemberian, Kartika.

“Malu kenapa? Mas Bram kan, sudah jadi suami kamu. Kamu malah dapat pahala loh, kalau menyenangkan hati suami kamu.” Kartika tersenyum lebar melihat wajah Nanda yang tersipu.

“Tapi Mbak –“

“Sudah jangan tapi-tapi, katanya kamu mau berusaha memikat hati, Mas Bram.” Kartika menyela perkataan, Nanda.

Nanda menghela napasnya ketika kata-kata Kartika terngiang-ngiang di telinganya.

Setelah memakai pakaian pemberian Kartika, ia kembali duduk di pinggiran tempat tidur menunggu Bram selesai mandi. Perasaannya masih gugup dan gelisah.

Tidak lama setelahnya Bram keluar dari kamar mandi. Ketika melihat Nanda, ia terdiam sejenak. Memperhatikan istri barunya dengan saksama. Bram berjalan mendekat dan semakin mendekat.

Nanda masih duduk diam di posisinya, kepalanya sedikit mendongak melihat wajah, Bram.

Bram mengernyitkan dahinya, masih fokus melihat istri keduanya.

“Pakaian apa yang kamu kenakan ini? Apa kamu berusaha menggodaku? Jangan mengharapkan apa-apa dariku.”

“Ganti pakaian kamu dengan pakaian yang lebih sopan, lalu temui aku di meja makan, ada sesuatu yang harus kita bahas,” celoteh Bram dengan dingin dan datar.

Melihat Bram yang sudah keluar dari kamar, wanita muda itu menghela napasnya dengan berat.

“Sudah aku duga, cara seperti ini tidak akan berhasil,” gumamnya, lalu ia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang terlihat lebih sopan. Lalu menyimpan piama tidurnya.

Bram sudah menunggu di meja makan, dengan dua lembar kertas yang ada di atas meja. Nanda menarik kursi lalu duduk di sana.

“Baca dan tanda tangani surat itu,” ucap Bram, ekspresi wajahnya masih sama, datar dan dingin.

Nanda membaca isi tulisan tersebut.

“Mas, apa maksudnya ini?” bibir Nanda bergetar dan sorot matanya tersirat rasa kekecewaan.

“Ingat, kita menikah karena permintaan dari Kartika. Bukan karena aku ingin. Seperti yang aku katakan dari awal, hati, perasaan, cinta dan jiwa raga ini hanya milik Kartika, istriku.”

Kini mata Bram terlihat memerah, bibirnya bergetar tidak mampu berucap, tapi ia harus mengatakan apa yang ingin dikatakannya.

“Bila Kartika tidak berumur panjang, di saat itu juga kita tidak perlu melanjutkan hubungan ini. Aku mau menikah denganmu untuk memenuhi permintaan terakhirnya. Jadi tanda tangani surat perjanjian itu.” Mata Bram tertuju pada kertas yang ada di atas meja.

“Hanya sebagai jaga-jaga kalau kau tidak akan menolak, ketika aku meminta berpisah.”

“Mas! Apa kamu harus seperti ini! Ijab kabul yang kamu ucapkan tadi tidak main-main, pernikahan kita bukan bercanda, Mas!” Pipi Nanda sudah basah karena air matanya sudah keluar.

“Dari awal aku tidak pernah serius dengan pernikahan atau pun denganmu. Jadi tanda tangani saja surat itu.”

“Dari awal kamu juga tahu kalau kamu tidak akan bisa masuk ke hatiku. Dari awal kamu juga tahu, kalau aku terpaksa menikah denganmu!”

Nanda terdiam, badannya terasa dingin. Yang dikatakan Bram memang benar. Dari awal dia sudah mengira tidak akan punya harapan.

Kalau bukan karena Kartika yang meyakinkannya dan demi ayahnya, maka Nanda tidak akan menikah dengan Bram dan tidak mau menjadi istri kedua dari pria ini.

Kalau bukan karena suatu hal yang mendesak dan genting, Nanda tidak akan membuat kesepakatan dengan Kartika, untuk menikahi suaminya.

“Kau pun menikah denganku karena terpaksa, kan? Jadi aku rasa kau tidak masalah dengan perjanjian ini!”

Nanda menghela napasnya, ia mengambil pulpen yang sudah tersedia. Lalu menandatanganinya.

Bram juga menandatangani kertas yang satunya, masing-masing dari mereka memegang selembar surat perjanjian.

“Simpan surat itu dengan baik.” Bram langsung berdiri dan pergi meninggalkan, Nanda.

Wanita itu masih duduk diposisinya, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya, menahan agar suara tangisnya tidak terdengar. Air matanya keluar dengan deras, punggungnya juga terlihat bergetar.

Padahal sebelumnya ia sangat yakin dengan keputusannya dan tidak berharap banyak dengan pernikahan ini. Tapi ketika tahu akan diceraikan bila Kartika tidak berumur panjang, ternyata membuatnya begitu sakit hati.