Tidak Mungkin
“Tidak mungkin!!”
Seketika suara ku meninggi.
Kedua orang laki-laki berseragam polisi yang berdiri di depanku terkejut. Tapi, keduanya juga terlihat dengan cepat menguasai keterkejutannya.
“Itu tidak mungkin terjadi, Pak. Bapak-bapak ini jangan mengatakan yang tidak-tidak!” Suaraku mulai merendah.
Tiba-tiba aku merasa geli. Karena menurutku apa yang baru saja mereka katakan itu terasa sangat lucu. Tapi, aku menyimpan rasa geli ku dengan tidak menunjukkan dengan jelas di wajah ini pada kedua orang laki-laki berseragam coklat-coklat yang tengah memandangku dengan bingung.
“Tidak mungkin Mitha telah menghilang beberapa saat lamanya, Pak.
Wong baru saja ia masuk ke dalam kamar,” jelasku dengan antusias.
Kedua laki-laki polisi itu menatapku dengan heran, lalu sekilas mereka saling pandang dengan tatapan yang tak dapat ku mengerti maknanya.
“Kami telah menerima berita hilangnya Paramitha sebulan yang lalu, Mas,” sanggah salah satu dari polisi itu.
Aku mendesah kesal ... dalam hati. Tapi, aku menyalurkan kekesalan itu dengan mengarahkan pandangan ke tulisan nama yang tertempel di dadanya.
“Pak Danang,” bacanya pelan.
“Saya akan bersikeras bahwa itu adalah hal yang sangat tidak mungkin terjadi, Pak,” balasku bersikukuh.
Rekan kerja Pak Danang menatapku dengan tajam.
“Kita bisa menjelaskan lebih lanjut tentang informasi yang baru saja kami sampaikan, Mas. Atau Mas ... mas siapa tadi? Maaf ...,” ucap rekan Pak Danang itu kembali mengulangi pertanyaan awalnya.
“Saya Yudha,” sebutku pelan.
“Nah! Atau Mas Yudha ini bisa langsung menemui keluarganya,” sarannya menengahi aku dan Pak Danang.
Sekilas aku membaca tulisan nama yang tertempel di dadanya.
“Ya, itu saran yang bagus, Pak Adi,” ucapku nggak tulus.
Aku teringat ketika Mita memintaku untuk menemui keluarganya dan aku menolak. Em ... bukan menolak sih sebenarnya, aku hanya belum siap.
“Oke, Mas Yudha, sekarang kami akan segera mengecek kamar Mbak Mitha. Ayo, Mas Yudha bisa ikut mengantar kami!” ajaknya datar.
Tanpa mengangguk tanda setuju, aku bergegas dengan antusias berjalan ke arah kamar kos Mitha yang ada di bagian belakang kos-kosan ini. Langkahku seolah lebih lebar dan lebih tegas dari langkah-langkah kedua polisi ini.
Kami bertiga melewati gang yang ada di bagian ujung kos-kosan ini. Melewati beberapa kamar yang masih diperuntukan untuk penyewa laki-laki dan berhenti di pintu teralis.
Pak Danang meminta izin pada seorang penghuni kos yang sedang duduk di depan kamarnya untuk masuk ke dalam area kos khusus putri ini.
Teman sekosan Mitha itu mempersilahkan dengan ramah, tapi kemudian ia masuk ke dalam kamarnya.
Pak Danang membuka pintu teralis itu dan kami mengikutinya masuk.
“Yang mana kamar Mbak Mitha, Mas Yudha?” tanya Pak Adi yang berjalan beriringan denganku.
“Itu, Pak!” seruku bersemangat.
Aku menunjuk pada sebuah kamar yang tak jauh dari pintu teralis tadi. Aku berjalan dengan antusias karena sebentar lagi kedua polisi ini akan mengerti bahwa apa yang mereka sampaikan di awal salah.
Gimana enggak?
La wong, baru saja aku dan Mitha bercanda di dalam ruang tamunya.
Pak Danang yang berjalan paling depan sudah sampai pintu kamar Mitha berdiri sambil memegang-megang handle pintu.
“Bener ini ‘kan, Mas Yudha?” tanya polisi berkumis itu sambil menoleh ke arahku.
“Ya, Pak!” seruku sambil menelisik wajahnya yang membuatku heran. Ia terlihat seperti sedang bingung.
Aku dan Pak Adi sampai di depannya.
“Mas Yudha tadi bilang baru saja ketemu Mbak Mitha, ‘kan?” tanyanya menegaskan.
Aku mengangguk tanpa ragu.
“Lha ini?!” serunya dengan wajah bingung.
Mata ini terarah pada sesuatu yang ada dalam genggaman tangannya.
Hah?!!
Kenapa pintu kamar itu mendadak tergembok sih?
Dengan cepat aku bergerak ke depan pintu itu untuk menyambar gembok dari tangan Pak Danang. Gerakan cepatku membuat polisi berkumis itu bergeser ke samping.
Heh?!
Kok bisa sih?!!
Aku menarik-narik gembok yang memang terlihat tidak menunjukkan tanda-tanda telah terbuka. Lalu, menggerak-nggerakan handle pintu.
“Pak! Tunggu, Pak! Saya yakin sekali, saya baru saja memasuki ruangan ini!” seruku setengah panik.
Pak Danang mengangkat telapak tangannya, mengarahkan ke arahku. Sedangkan, Pak Adi sedang mendekatkan wajahnya ke jendela kaca untuk mengintip isi kamar.
“Sabar, Mas Yudha!” saran Pak Danang sambil mengusap-usap punggungku.
“Kita sudah menghubungi pemilik kos, dia sedang berjalan ke sini,” ucap Pak Adi menimpali
Jantungku berdetak di luar kenormalannya, keringat dingin mulai membasahi kening ini. Pun telapak tangan ini mendadak basah.
Di ujung ucapan Pak Adi, seorang laki-laki berjalan melewati pintu teralis. Ia diikuti oleh seorang laki-laki yang membawa hammer di tangannya.
Aku mendadak linglung seolah seseorang yang tiba-tiba membawa lari sebagian otak ini.
Pemilik kosan sekian pintu itu sampai di dekat kami. Ia memandangiku yang melihatnya dengan bengong.
“Mas Yudha!” tegur Pak Danang.
Aku tersadar kalau aku berdiri tepat di depan pintu yang otomatis menghalangi dua orang laki-laki yang baru datang ini.
Aku bergeser ke samping memberi ruang pada dua laki-laki ini yang kemudian mereka berdua menganggukan kepalanya dengan santun ke arah ku.
Aku ingin membalasnya dengan cara yang sama, tapi leher ini terasa kaku.
“Kapan terakhir Pak Handoko bertemu atau melihat Mbak Mitha?” celetuk Pak Adi yang masih berdiri di dekat jendela kamar ini.
Laki-laki paro baya yang mengenakan peci hitam itu mengerutkan kening, matanya juga ikut memicing. Ekspresi wajahnya terlihat sedang berjuang keras untuk memanggil memori yang mungkin sedang tersangkut di salah satu neuron otaknya.
“Wah! Saya nggak ingat tepatnya kapan, Pak. Kayaknya sudah agak lama. Sebulan apa ya?” ucapnya ragu.
“Apa kamar ini disewa per bulan atau per ...?” sela Pak Danang yang berdiri lebih dekat dengan pemilik kos ini.
“Tergantung penyewa sih, Pak. Tapi, Mbak Mitha sudah bayar untuk tiga bulan ke depan waktu itu,” jelas Pak Handoko singkat.
Ia melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan tadi, menarik-narik gembok dan menggerak-nggerakan handle pintu ke atas dan ke bawah.
Ia diam sejenak, lalu melangkah mundur. Kemudian dengan gerakan isyarat, ia mengkode laki-laki yang tadi mengikutinya.
Laki-laki itu dengan segera menghantamkan hammernya pada engsel gembok. Dan tanpa harus menunggu lama, gembok itu sudah terlepas dari rangka pintu bersama engsel-engselnya sekalian. Lalu, ia mencongkel bagian samping handle pintu. Dan itu pun dengan mudah dapat ia atasi.
Laki-laki itu melangkah mundur untuk memberikan privilege pembukaan pintu pada pemilik kosan.
Pak Handoko berganti posisi dengan laki-laki yang merusak pengunci-pengunci pintu itu.
Aku bergeser mendekat ke pintu dengan tergesa ingin segera ikut masuk ke dalam kamar itu.
Pintu dibuka dengan pelan oleh pemilik kosan.
“Agh!” Mataku terbelalak melihat sesuatu yang menjadi janggal setelah apa yang diinformasikan oleh kedua polisi tadi.
Satu tangan ini terangkat dengan sedikit gemetar, jariku menunjuk satu arah.