Perang Nalar
Aku masih berdiri di ambang pintu, bagian depan kamar kos yang dijadikan ruang tamu ini sebagian tertutup oleh badan pemilik kos yang masuk terlebih dulu.
Kedua polisi mendekat ke arahku, aku tahu dari kelebatan bayangan mereka yang terdeteksi dari sudut mata ini.
Keduanya melihat ke arah telunjukku. Aku yakin saat ini mereka juga melihat hal yang sama dengan apa yang sedang aku lihat.
Sebuah T-shirt warna hitam dibentangkan di kursi plastik pendek.
Kedua polisi dan pemilik kos, serta laki-laki yang masih memegang hammer yang mengintip di sela bahu dua polisi ini menatapku dengan heran.
“Bapak bilang tadi berapa lama Mitha sudah hilang?” ulangku menegaskan apa yang mereka berdua tadi informasikan.
“Kurang lebih sebulan,” jawab Pak Danang dengan cepat. Telinga ini menangkap nada heran yang kental dari suara laki-laki berkumis itu.
“Dan itu adalah T-shirt saya yang baru saja saya lepas sebelum keluar menemui Bapak tadi,” jelasku dengan suara gemetar.
Karena ....
Karena dalam otak ku sekarang ini sedang terjadi perang nalar antara logika dan fakta yang seolah bertabrakan saling membunuh.
Bagaimana juga caraku tadi masuk ke ruang tamu kamar kos Mitha jika sesaat tadi, dengan mata kepala ku sendiri, aku melihat pintu ini terkunci dan juga digembok.
Aku terus menatap T-shirt itu, sama sekali nggak ingin melihat ekspresi wajah-wajah orang lain yang berdiri di sekitar ku ini. Karena dengan tanpa melihat langsung saja aku sudah dapat membayangkan kira-kira bagaimana wujud ekspresi wajah mereka.
Aku berdiri dengan kaku seolah ada lem kuat khusus sandal dan lantai yang membuat kaki ini tak bergeser sedikit pun dari ambang pintu.
Pak Danang berjalan mendekat ke T-shirt yang masih kutunjuk. Dan setelah telinga ini menangkap suara yang ditimbulkan akibat jepretan kamera telepon genggam, polisi berkumis itu mengambil T-shirt warna hitam ku dan mencium baunya, mungkin untuk mengkonfrontasikan baunya dengan keteranganku tadi.
Sesaat aku terngiang pada apa yang dikatakan oleh Mitha sebelum aku keluar dari kamar kos ini.
“Yudha, tinggalin aja kaosmu yang itu. Letakan di kursi itu! Heh! Taruh yang rapi! Jangan diuwel-uwel!” celotehnya riuh.
Nalarku kembali bertabrakan dengan dashyat dan sayangnya dalam otak ini tak ada tim penyelamat nalar yang bisa menjabarkan kejadian yang nggak masuk akal ini.
Pak Danang menjauhkan T-shirt hitam ku dari hidungnya.
“Adi, ini memang baru diletakkan di sini,” simpulnya dengan wajah yang juga ... bingung.
Pak Adi menoleh dan menatap rekan kerjanya itu dengan ekspresi tak percaya. Ia juga bergeming di tempat ia berdiri di sekat televisi layar datar yang diletakan di lemari pendek minimalis di depan jendela.
Pak Danang kembali mendekatkan T-shirt warna hitam milik ku ke hidungnya.
“Iya, baunya masih fresh. Kalau sudah satu bulan yang lalu diletakkan di sini, baunya tidak akan seperti ini,” ujar Pak Danang menegaskan.
Kini pemilik kosan ini yang menoleh ke arah ku dengan cepat, lalu ia mengalihkan pandangannya dengan cara yang sama ke arah dua polisi itu secara bergantian.
“Pak, nggak mungkin Mas Yudha ini bisa meletakkan kaosnya di kamar Mbak Mitha sebulan yang lalu. La, wong dia baru seminggu ini sewa kamar depan,” bantah Pak Handoko.
Seketika Pak Danang makin menjauhkan T-shirt. Tangannya pelan-pelan turun. Dan wajahnya mungkin mirip dengan kondisi wajahku yang saat ini pasti sedang terlihat bingung mendekati linglung.
“Sampeyan yakin ya, Pak Handoko?” tanya Pak Danang dengan suara yang mencerminkan keseriusan.
Aku menoleh ke arah pemilik kos yang masih berdiri di dekatku. Ia mengangguk tanpa ragu.
“Saya yang kasih kunci kamarnya sendiri,” jawab pemilik kos dengan menyakinkan.
Pak Danang tercekat sesaat. Tapi, kemudian ia menghela napas dalam. Lalu, ia kembali meletakkan T-shirt hitam yang ada di tangannya ke kursi pendek itu. Kebingungan belum terurai dari wajahnya.
“Tadi pagi Kamu sudah masuk ke sana juga?” sela Pak Adi sambil menunjuk ruang di sebelah ruang depan.
Aku menggeleng.
“Saya selalu hanya duduk di sini,” jawabku lemah.
Pak Adi mengangguk pelan, lalu ia masuk ke dalam kamar kos Mitha. Dan dia disusul oleh rekan kerjanya.
Aku yang penasaran meminta izin pada pemilik kos untuk mengikuti kedua polisi itu.
Kamar Mitha yang ada di balik sekat itu terlihat rapi. Baik kasur yang diletakkan tanpa ranjang, rak plastik dan juga pernak-pernik khas cewek yang tertata di meja yang ada di dekat lemari plastik.
Aku mendekat ke meja dengan pernak-pernik berbentuk dan berwarna estetik itu. Dan kali ini aku harus kembali heran karena tempat ini diselimuti debu yang menebal.
Aku menghela napas berat karena itu artinya tempat ini memang sejak lama tidak terjamah.
Pun ketika aku ikut-ikutan mengecek kamar mandi yang ada di sudut kamar ini, kamar mandi berukuran dua kali satu setengah meter ini mendukung tanda-tanda bahwa sudah lama lantai kamar mandi ini tidak basah.
Sesaat aku teringat dengan penghuni lain kos putri yang tadi sempat kulihat ketika kami baru masuk dari pintu teralis.
Tanpa mengatakan apapun pada dua orang polisi yang mungkin masih mencari sesuatu yang tak ku mengerti itu, aku lebih dulu keluar dari kamar kos Mitha.
Pemilik kos dan laki-laki yang tadi bersamanya seolah bisa membaca apa yang ada di pikiran ini atau ... dua orang ini hanya ingin tahu apa yang akan kulakukan.
Dengan langkah lebar dan gerakan cepat aku berjalan menuju kamar yang tertutup dengan meninggalkan sedikit celah.
Aku mengucap salam sebagai permintaan agar penghuni kamar ini segera menongolkan kepalanya di ambang pintu.
Tak berselang menit, permintaanku itu terkabul. Tetangga kos Mitha itu membuka pintu dengan menyetorkan ekspresi penuh tanya.
“Em ... Mbak, maaf mengganggu. Apa Mbak kenal penghuni kos di kamar itu?” ucapku sambil menunjuk kamar kos yang baru saja aku tinggalkan.
“Oh, Mitha. Ya, kenal, Mas. Tapi, kenal-kenal gitu aja,” jawabnya setelah melongok arah yang kutunjuk.
Gadis ini menatapku dengan pandangan yang membuat otak ini tergelitik.
“Mbaknya terakhir ketemu atau lihat Mitha kapan ya?” tanyaku seolah memulai penyelidikan.
Kening gadis itu berkerut, ekspresi wajahnya berganti menjadi mode berpikir keras.
“Kayaknya udah lama, Mas. Sebulan lalu apa ya? Em ... pastinya saya nggak ingat,” jawabnya ragu.
Hatiku mencelos ... kecewa.
Gadis itu kembali menatapku dengan tatapan yang tak ku mengerti.
“Ada apa ya, Mbak?” kejarku penasaran
“Em ... Masnya yang sering saya lihat di depan kamar kos Mitha ya?” tanyanya seolah sedang mencocokkan informasi.
Aku mengangguk.
“Kenapa memangnya, Mbak?” desakku menuntut jawaban.
Gadis itu mengedikkan bahu dengan wajah sungkan.
“Hem ... saya heran saja, kenapa Masnya sering di situ dan ... maaf ... em ... kayak ngomong sendiri, gitu,” jawabnya dengan hati-hati.
Hah?!!