LNCrawler

Fakta Kontra Logika

Mendadak Indigo — gooddreamer.id · All chapters

Fakta Kontra Logika

Mulutku auto mangap-mangap bergerak-gerak nir kata.

Menyadari itu, aku menelan ludah, tapi cairan pengisi rongga mulut itu entah ke mana sirna.

“E- em ... Mbak ... yakin?” ucapku menegaskan.

Otak ku menolak apa yang dikatakan tetangga kamar kos Mitha ini karena aku memiliki ingatan nyata bahwa aku bercakap-cakap dengan kekasihku, Mitha.

Tapi, sayang sekali, anggukan kepala tanpa ragu wanita ini mencederai ingatanku.

“Mbak nggak salah lihat?” desak ku dengan berharap jawaban yang berbeda.

“Yakin banget, Mas. Saya sampai heran sendiri di sini. Tapi, mau negur juga takut,” jawabnya kembali tanpa ragu.

Dan itu menyesakkan hatiku.

Ia menatapku lekat, pandangannya masih menyisakan sorot tanya.

Ah ... apa dalam kepalanya masih ada pertanyaan tentang sesuatu yang berlawanan dengan apa yang tersimpan dalam ingatan ini.

“Apa Masnya baik-baik saja?” ceplosnya meloloskan apa yang ada dalam pikirannya.

Heh?!

Aku tercekat.

Nggak menyangka pertanyaan yang mendiskreditkan kewarasan ku itu terceplos dengan leluasa dari mulutnya.

Otak ku langsung melakukan perlawanan, mengiringi hati ini yang teriris perih.

“Apa menurut Mbak saya terlihat tidak baik-baik saja?” balas ku dengan nada yang agak hambar semi sengak.

Seketika tetangga kos Mitha itu mengangkat kedua telapak tangannya di depan dada ala tentara yang sedang ditodong senjata.

“Maksudku bukan gitu, Mas? Maaf. Saya hanya khawatir Masnya kenapa-kenapa,” revisinya dengan nada cepat.

Aku mengembuskan napas dalam.

Revisi pertanyaannya sedikit memberikan rasa ces di hati ... jadi agak dingin. Derajat perih dalam hati ini menurun.

Aku nggak memberikan tanggapan ucapan dia yang terakhir. Aku memilih mengkonfrontasikan apa yang dalam ingatan ku dengan residu ingatan yang mengendap dalam otaknya.

“Maaf, Mbak. Pas Mbak lihat saya itu, pintu kamar Mitha terbuka nggak?” tanyaku lebih lanjut.

Dan sekali lagi ... dia menggelengkan kepala.

Deg!

Jantung ku kembali mencelos.

Fakta kontra logika kembali beradu dalam benak.

Apa yang terjadi seminggu terakhir ini dan apa yang berlangsung tadi pagi, serta T-shirt hitam yang baru saja terlihat di kamar Mitha yang ternyata terkunci, diputar dengan cepat seperti slide power point yang berganti dengan cepat daam otak.

“Mas,” panggil tetangga kos Mitha menghentikan kelebatan slide-slide dalam otak ini.

Aku menoleh dan menatapnya lekat.

“Waktu Mas berdiri di kamar itu, Mas lihat ada saya yang perhatiin dari sini nggak?” tanyanya dengan level kekepoan yang menggelitik telinga.

Aku terhenyak karena nggak menyangka bakal diserang balik dengan pertanyaan yang sama sekali nggak terlintas dalam benak.

Kening ini pasti terlihat berkerut karena saat ini aku sedang berusaha berpikir keras mengingat apa yang terjadi ketika aku bersama Mitha selama seminggu ini. Tapi, setelah beberapa saat, usaha otak ini nggak menemukan hasil dan itu membuat kepala ini menggeleng pelan.

Gimana aku harus mengingat keberadaan orang di sekitar kamar Mitha? Selama seminggu ini, mata ini hanya berada dalam jarak pandang yang berisi Mitha, Mitha dan Mitha.

Wanita ini menyerukan kata oh panjang. Wajahnya yang semula full sorot tanya berganti dengan ekspresi kepahaman.

Melihat itu aku ingin protes. Karena aku yakin apa yang ia pahamkan itu pasti tidak sesuai apa yang kupahami. Tapi, aku menahan diri untuk melancarkan protes karena saat ini pun nalar ku belum mampu menyelesaikan perselisihan dalam otak ini.

Pemilik kosan dan laki-laki yang mengikutinya mendengarkan obrolan kami. Ekspresi wajah mereka terlihat ruwet. Mungkin wajah-wajah ini akan terlihat beberapa level di bawah kebingungan di wajahku.

Aku mengalihkan pandangan ke arah pintu kamar kos Mitha saat satu per satu dari dua orang polisi itu keluar dari pintu itu. Mereka berdua berjalan ke arah ku dan sepertinya akan segera napak tilas apa yang baru saja aku lakukan pada tetangga kos Mitha ini, interogasi.

“Wah ... maaf ini Mbak, kami kami mau tanya-tanya. Em ... sudah berapa lama Mbak tinggal di kamar ini?” Itu pertanyaan tersamar dari interogasi kedua polisi itu.

Aku memilih menyingkir karena mendadak kepala ini berdenyut-denyut pelan saat semua yang kontra logika ini tak dapat kupecahkan.

Aku berjalan pelan dan duduk menggelesot di samping pintu kamar Mitha.

Aku mencoba meredakan kegaduhan dalam otak ini dengan menghadirkan apa yang terjadi akhir-akhir ini antara aku dan Mitha.

Sebelum akhirnya aku memutuskan untuk datang di kota ini sebuah pesan dari Mitha yang dititipkan pada Jenar sampai kepadaku.

“Telepon genggamnya rusak, Yud. Makanya, ia nitip pesan. Kalau bisa Kamu harus datang ke kotanya. Emergency katanya.” Itu pesan yang Jenar itu sampaikan.

Dan karena merasa bersalah telah terlalu sibuk dalam pekerjaanku, akhirnya di akhir project ku, aku membeli tiket untuk memenuhi permintaannya.

Dan kami berkomunikasi dengan perantaraan Jenar yang kami berdua percayai.

“Nanti Kamu akan dijemput di stasiun, Yud.” Itu yang Jenar katakan sebelum ia menjabarkan di mana alamat kos Mitha dan semua pernak-pernik yang berhubungan dengan kedatanganku.

Maklum, ini pertama kali aku datang ke kota ini.

Dan akhirnya, hari, tanggal dan jam yang ditunggu tiba.

Setelah sehari semalam kereta panjang yang bergerak di atas reel ini membawaku, akhirnya aku melihat senyum Mitha yang sudah enam bulan ini tak kulihat.

Terakhir aku melihat senyumnya ketika enam bulan yang lalu ia mengunjungi kotaku.

Aku berjalan ke arahnya dengan senyum lebar untuk membalas senyumnya yang merekah indah.

Mitha melambai-lambaikan tangan dengan ceria seperti yang biasa ia lakukan ketika bertemu denganku.

“Aaa ... akhirnya datang juga!” serunya riang.

Gadis itu mengatupkan dua tangan dan melompat-lompat kecil untuk menyalurkan gerak hatinya, paduan antara gemas dan senang.

Aku berhenti selangkah di depannya, menatap wajah cantik itu, mengusap puncak kepalanya dan memuarakan kerinduan ini dengan memeluknya.

Aku merasakan tubuhnya yang hangat dan energi kegembiraannya yang auto merembet dalam hatiku.

“Aku bawa telepon genggam baru untukmu, kalau besok lagi telepon genggamnya rusak, langsung kasih tahu aku ya!” pintaku lembut.

“Ya.” Ia mengangguk pelan dalam pelukanku.

Aku menjauhkan tubuhnya untuk melepas pelukanku.

“Hadiahnya mau dilihat sekarang?” tanyaku lembut.

Ia menggeleng pelan.

“Nggak nanti aja di kosan,” balasnya manja.

“Oke, kalau gitu, ayo kita ke kosan! Hem ... untung aku sudah pesan kamar, jadi bisa langsung berbaring,” gumam ku lirih.

Mitha tersenyum sambil menggandeng tanganku. Lalu, kami berjalan beriringan dengan bahagia mencari angkutan umum.

Eh!

Mendadak aku terkejut saat ada sesuatu yang terlintas dalam otak.

Aku kembali memutar ulang kejadian seminggu yang lalu itu, tapi dengan mencoba memutarnya dengan sangat pelan. Lalu, aku berusaha membuka keadaan yang secara tak sadar ikut terekam dalam ingatan ini.

Aku seolah sedang menggerakkan kamera ingatanku pada orang-orang yang berada di stasiun itu.

Deg!

Jantung ini mencelos ketika berhasil menangkap ekspresi orang-orang itu ketika menatap kami berdua.