Satu Bukti Dari Ingatan
Ingatan ini memaparkan dengan jelas bagaimana ekspresi orang-orang yang melihat ku bersama dengan Mitha di stasiun kereta api itu. Ekspresi wajah mereka terlihat aneh.
Ya.
Kenapa aku baru sadar sekarang jika tatapan mereka begitu aneh?
Ah!
Betapa naifnya aku saat itu ketika mengartikan tatapan mereka sebagai tatapan iri dengki karena tak mampu. Menurutku, mereka menatap aku dan Mitha dengan tatapan cemburu karena kami berdua bergandengan dengan mesra dan saling menatap dengan sorot mata penuh kasih.
Sebentar!
Kalau begitu apa yang dilihat oleh orang-orang itu? Ah! Sayang sekali karena aku nggak mungkin melacak keberadaan orang-orang itu untuk mengkonfirmasi apa yang mereka lihat.
Mendadak ada satu hal yang berkelebat, melintas dalam pikiran ini yang seolah ter-
highlight dengan warna menyala.
Hadiah!
Ya. Aku ingat aku memberikan telepon genggam baru pada Mitha. Aku ingat sekali gadis itu menerimanya. Percakapan singkat itu aku paksakan untuk kembali diperdengarkan di telinga ini.
“Mitha, jangan lupa telepon genggamnya!” seruku nyaring.
Saat itu aku baru saja meletakkan tas punggungku begitu baru saja masuk di kamar sewa ku yang berada di depan.
“Iya, makasih ya, Sayang,” balasnya lembut.
“Wih! Giliran dikasih hadiah aja manggilnya sayang,” celotehku datar.
Mitha tertawa terbahak. Aku masih ingat bagaimana kedua bahunya berguncang-guncang. Juga bagaimana tawa itu membuat kedua lesung pipitnya terbentuk.
“Ya, udah. Aku ke kamar dulu, ya. Istirahat aja dulu, kita ngobrol nanti,” ucapnya sebelum berjalan ke kamarnya yang ada di belakang ke sini.
“Ya, nanti aku datang ke kamar mu kalau sudah nggak capek,” balasku ketika itu.
Dan aku ingat dengan baik bagaimana setelah itu aku meluruskan kaki dan meregangkan pinggang yang sudah semalaman duduk bergoyang-goyang di dalam kereta api.
Aku terperanjat begitu ingatan itu ditayangkan pari purna dalam benak.
“Pak! Pak Danang! Pak Adi!” seruku nyaring.
Seketika dua orang polisi yang masih bertanya-tanya dengan tetanga kos Mitha itu menoleh dengan bersamaan.
Aku melambaikan tangan pada mereka. Em ... maaf. Bukan bermaksud nggak sopan, tapi aku terburu ingin membuktikan sesuatu.
Mereka berdua mendekat. Tapi, bukan mereka saja, baik pemilik kos, laki-laki yang bersamanya dan juga tetangga kos Mitha ikut bergerak mendekat dengan wajah kepo level seratus delapan puluh derajat.
Aku nggak mempedulikan apa yang ada dalam pikiran tiga orang non polisi itu yang mungkin akan memandangku tambah aneh. Apalagi tetangga kos Mitha ini.
“Ada apa Mas Yudha?” tanya Pak Danang sebelum sampai di depan ku.
“Saya ingat sesuatu, Pak!” seruku melaporkan juga tanpa menunggu keduanya sampai di depanku.
“Apa itu Mas?” sambung Pak Adi begitu mereka berhenti di depan ku.
Ketika orang yang tak resmi kupanggil itu menggerak-nggerakkan kepalanya di celah bahu dua polisi ini untuk bisa langsung melihat wajahku.
“Begini, Pak,” ucapku membuka kisah.
“Seminggu yang lalu, ketika saya datang, saya memberikan hadiah telepon genggam pada Mitha,” lanjutku terburu.
Kemudian, aku menyebutkan merek telepon genggam itu, identifikasi box, isi box yang menyertainya dan kutambah dengan informasi detail tentang tas kertas bawaan dari toko seluler di mana aku membeli telepon genggam itu.
Lalu, aku menjelaskan secara singkat di mana dan kapan aku memberikan telepon genggam itu.
“Jika saat itu Mitha membawanya ke kamar ini, saya ingin tahu apa hadiah yang ku bawa itu berada di kamarnya?” tanyaku dengan maksud minta izin untuk masuk.
Kedua polisi itu saling berpandangan. Sedangkan, ketiga warga negara lain yang hanya mengikuti dua polisi itu ekspresi wajahnya seperti pelajar yang sedang mengerjakan soal matematika level profesor.
Salah satu dari dua polisi itu mengangguk. Lalu, ia mempersilahkan aku mengikutinya.
“Saya tadi seperti melihat itu, Mas Yudha,” ucap Pak Adi lirih.
Deg!
Jantungku kembali berada dalam level mencelos.
Kaki-kaki ini tergesa mengejar langkah Pak Adi yang dengan cepat kembali masuk ke kamar mita. Kali ini ia tidak berhenti di ruang depan. Ia langsung masuk ke ruang tengah dan menuntunku ke lemari plastik berwarna putih.
Ia membuka salah satu pintu lemari itu. Lalu, matanya dengan cepat mencari lokasi yang mungkin telah terekam dalam ingatannya.
“Ini!” tunjuknya pada sebuah tas kertas yang tersimpan dengan rapi di salah satu rak dalam lemari itu.
Duar!
Ribuan petasan seperti dibakar dalam jantungku saat ini. Jantung ini berada dalam level kelojotan.
Aku mengenali tas kertas itu, juga ketika Pak Adi mengeluarkan box telepon genggam itu. Apalagi ketika laki-laki itu membuka tutup box warna putih itu dan memperlihatkan isinya.
Laki-laki itu terlihat terkejut, tak beda dengan ku. Demikian juga Pak Danang dan tiga orang peserta tak resmi dalam ruang ini.
“Hii!” celetuk tetangga Mitha sambil mengusap-usap tangannya dengan gerakan cepat.
Sepertinya ia merinding.
“Weh! Kok aneh ya?!” seru pemilik kos dengan ekspresi bingung-bingung heran.
“Wah!” seru laki-laki yang memegang hammer.
Aku melihat tangannya tambah erat menggenggam alat yang digunakan untuk mencongkel gembok kamar ini beberapa saat lalu.
Pak Adi segera menutup box telepon genggam itu, memasukan box itu ke dalam tas kertas dan meletakan tas kertas itu ke dalam posisinya semula. Kemudian, ia memungkasi aksinya dengan menutup pintu lemari plastik itu.
“Kita keluar saja dulu!” instruksinya dengan ekspresi wajah yang tak ku mengerti.
Ketika orang yang berstatus ikut-ikutan segera mendahului langkah kedua polisi itu dan aku menjadi orang terakhir yang keluar dari kamar itu.
Kami berlima berdiri di depan kamar Mitha seolah kami grup belajar pelajar.
“Mas Yudha, apalagi yang diingat?” tanya Pak Danang lebih lanjut.
Aku tertegun. Dan pasti saat ini aku terlihat bingung.
Aku bisa pastikan pada semua orang yang berada di sini bahwa ekspresi bingung ku bukan karena nggak ada yang kuingat, sebaliknya, ingatan tentang semua yang terjadi selama seminggu ini di kosan ini berkelebat-kelebat sangat cepat dalam benak ini. Aku bingung ingin mencomot salah satu dari kelebatan ingatan ini untuk diutarakan.
“Sebentar!” interupsi Pak Adi dengan penuh ketegasan.
“Mas Yudha benar-benar ingat bahwa telah memberikan hadiah itu pada Mbak Mitha di kamar depan?” tanya Pak Adi sangsi.
Aku mengangguk tanpa ragu.
“Saya ingat sekali, Pak. Soalnya ketika itu saya baru datang dan badan saya capek sekali. Mitha sendiri yang membawa tas kertas berisi telepon genggam itu ke kamarnya,” jawabku dengan sangat yakin.
Pak Adi tertegun. Wajahnya masih terlihat sangsi. Tapi, ia sendiri terlihat terperosok dalam kebingungan.
Pak Danang menepuk bahuku pelan.
“Terus gimana caranya Mas Yudha bisa meletakkan hadiah itu di kamar Mbak Mitha? Dia ‘kan nggak punya kunci?” sela Pak Handoko menikung Pak Danang yang hendak bicara.