LNCrawler

Nalar Goncang

Mendadak Indigo — gooddreamer.id · All chapters

Nalar Goncang

Pak Danang menghela napas dalam.

“Aku baru mau tanya apa ada yang menyaksikan atau minimal mendengar pembicaran Masa Yudha dan Mbak Mitha waktu itu,” ujar Pak Danang.

Sepertinya ia memilih untuk mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya daripada harus menjawab apa yang ditanyakan pemilik kos.

Jujur saja, semua orang yang berdiri di depan kamar Mitha ini, termasuk aku, nggak ada yang wajahnya terlihat penuh pencerahan. Semua bingung mendekati semrawut kalut.

Pak Adi menghela napas dalam.

Aku menebaknya, mungkin hanya itu yang dapat ia lakukan untuk mengkanalisasi kebuntuan.

“Begini saja, Mas Yudha. Mas bisa menyimpan nomor saya, nanti kalau ada beberapa hal yang diingat dan perlu disampaikan pada kami, Mas bisa langsung menghubungi kami,” sarannya sambil merogoh saku celananya.

Kemudian, ia mengeluarkan telepon genggamnya.

“Kami juga akan menyimpan nomor kontak Mas Yudha. Jika nanti ada hal yang membutuhkan klarifikasi atau bantuan lain, kami akan menghubungi Mas,” lanjutnya datar.

Aku mengangguk pelan. Lalu, menyebutkan deretan angka dari rangkaian nomor kontakku. Lalu, Pak Adi mengirimkan pesan dummy agar nomornya masuk ke aplikasi perpesanan di telepon genggam ku.

Kini Pak Danang yang menyela keheningan dengan helaan napas panjangnya.

“Masalah ini akan kami selidiki lebih lanjut untuk menindaklanjuti laporan kehilangan dari pihak keluarga. Mungkin beberapa saat ke depan kami akan membutuhkan bantuan dari orang-orang di kosan ini untuk memberikan keterangan lebih lanjut.” Pak Danang mengucapkan kalimat standarnya.

Tapi, tak urung, aku dan tiga orang yang lain menganggukkan kepala.

“Kami akan cukupkan sampai di sini, kami pamit dulu,” sambung Pak Danang santun.

Kami juga mengangguk untuk menanggapi pungkasan kalimat salah satu polisi itu.

Kemudian, keduanya berjalan ke arah pintu teralis.

Pak Handoko menepuk bahuku, ia mengikuti kedua polisi itu sampai di dekat pintu teralis. Ia berbicara sejenak pada kedua pria berseragam coklat-coklat itu. Sedangkan, laki-laki yang bersamanya berjalan ke depan pintu kamar Mitha.

Kemudian, Pak Handoko kembali ke arah ku.

“Pintunya biar kembali di gembok ya, Mas Yudha. Biar barang-barangnya aman. Nanti biar keluarga Mbak Mitha datang mengambilnya,” info pemilik kosan tanpa ku minta.

Aku tak mengangguk, pun tak menjawab. Aku mengikuti arah pandangan mata pemilik kos yang menatap ke arah laki-laki yang mengiringinya. Dan laki-laki itu seolah tanggap dengan bahasa tanpa kata itu.

Ia mengangguk, merogoh sakunya dan mengeluarkan beberapa paku. Lalu, ia menyegel kamar kos Mitha dengan paku-paku itu.

Tetangga kos Mitha yang dari tadi hanya diam sambil memperhatikan para laki-laki di sekitarnya tiba-tiba melambaikan tangan.

“Mas, bentar ya. Saya harus segera berangkat kerja,” pamitnya kemudian kabur ke kamarnya sebelum aku menjawab.

Pak Handoko menyentuh pundak ini, mengajak ku untuk kembali ke kos depan.

Aku mematuhinya dan kemudian berjalan dengan langkah gontai ke arah pintu teralis. Sesekali kepala ini menoleh ke pintu kamar Mitha dengan berjuta tanya dalam kepala. Dan aku selalu kembali menunduk saat jutaan tanya itu seolah memberatkan kepala ini.

Kami berjalan melalui gang di ujung kosan, kembali melewati beberapa kamar yang diperuntukkan untuk penyewa laki-laki.

“Mas Yudha minum dan makan saja dulu! Nanti, kalau pikirannya sudah jernih, bisa dilanjutkan lagi, em ... kalau butuh teman ngobrol, saya ada di samping, Mas,” saran Pak Handoko lembut.

Aku kembali mengangguk tanpa kata.

Entah, semua diksi mendadak enggan keluar dari mulut ini. Padahal berjuta kata berjubel dalam otak. Hanya saja mereka berkumpul dan tersusun menjadi kalimat tanya.

Kami bertiga sampai di deretan kamar kos yang berada paling depan. Dan salah satunya adalah kamar yang baru kusewa selama seminggu.

“Mari, Mas,” pamit laki-laki yang masih setia memegang hammer mengikuti pemilik kosan yang juga melakukan hal yang sama.

Aku juga hanya membalas dengan anggukan kepala dan tarikan senyum terpaksa di bibir.

Dan kini, tinggalah aku sendiri, menggelesot di ambang pintu kosan.

Badai pertanyaan menerjang otak begitu aku diam sendiri.

Selama seminggu ini, sebelum kedatangan kedua polisi itu, aku dan Mitha menghabiskan waktu bersama. Seperti apa yang biasa dilakukan sepasang kekasih, kami bercanda ria untuk membalas waktu lama yang kami jalani dengan terpisah.

Dan satu jam lagi adalah waktu makan siang. Biasanya kami akan pergi dari kosan ini mencari penyumpal lambung.

Aku menggerakkan pergelangan tangan ini untuk memastikan waktu yang sebentar lagi biasanya kami temu siang.

Satu menit berlalu.

Mata ini memantau pergerakan jarum jam analog yang melingkar di pergelangan tangan ini.

Jarum jam menandai waktu yang bergulir dengan cepat, meskipun untuk saat ini, aku merasa sangat lama.

Tiga puluh menit berlalu.

Aku makin tak sabar.

Aku melipat kedua kaki, lalu melingkarkan kedua tangan di lutut ini. Jam tetap terpantau, tapi kedua kaki ini mulai bergerak-gerak. Bosan!

Jarum jam kembali bergerak memperdengarkan detak dari detik waktu. Dan dua puluh lima menit berlalu.

Jantung ini mulai berdetak tak menentu.

Lima menit lagi, biasanya Mitha akan muncul dari balik gang yang tadi kulalui. Ia akan menyetorkan senyum cerianya begitu bayangannya masuk ke jarak rekam mata ini.

“Yudha!” Begitu panggilnya riang.

Aku menunggu. Juga berharap ia akan muncul dari tempat yang sama agar aku bisa mengkonfirmasi kegoncangan nalar yang baru saja kualami.

Aku berencana akan membawa Mitha pada pemilik kosan, mas-mas yang bawa hammer dan tentu saja akan mempertemukannya dengan tetangga Mitha yang sempat mengataiku dengan ina inu.

Aku pastikan mereka akan segera mempercayaiku alih-alih mengikuti info dua orang polisi yang ... moon maap ... sedikit merusak pagi indah ku hari ini.

Ah ... baru kali, lima menit ini terasa begitu lama. Jam bergerak sama seperti pergerakannya lima puluh lima menit yang lalu. Tapi, tarikan jarum jam di lima menit terakhir ini seolah ada tarikan ke arah lain yang menghalangi jarum di jam analog itu untuk bergeser normal.

Satu menit berlalu ... akhirnya.

Jantung ini berpacu makin kencang. Sekencang ketika aku menunggunya di kencan pertama kami.

Dan ... dua menit berlalu.

Aku berdiri, menggerak-gerakkan kaki satu per satu ke depan dan belakang untuk sekadar menekan laju pacu jantung yang mulai ugal-ugalan.

Tiga menit terlampaui.

Napas ini mulai sesak menyusul detak jantung yang bandel nggak bisa dibilangin untuk tidak berdetak terlalu cepat. Mendadak aku merasa berada di musim panen penyakit.

Keringat dingin mulai membasahi dahi, kening dan telapak tangan.

Empat menit berlalu.

Aku mulai melompat-lompat kecil. Mungkin ... jika seseorang di sekitar kosan ini yang sedang memperhatikanku, mereka akan mengira aku mulai memiliki kelakuan tak wajar. Tapi, aku tak peduli. Karena jika satu menit lagi berlalu, aku akan melihat senyum cantik Mitha.

Dan ... akhirnya menit terakhir berlalu.

Dan ....